My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Martabak Keju


__ADS_3


Malam ini Tasya duduk di bean bag yang ada di balkon kamar Al. Diana bilang kalau sedang sendiri dia harus banyak bicara. Dan Tasya memiliki anaknya yang bisa diajak bicara.


Diana juga bilang kalau anak dalam kandungannya itu berdetak, dia hidup dan ada. Jadi seharusnya dia tidak tidak boleh merasa sendiri. Dia bisa mengajak anaknya untuk diajak bicara banyak hal.


Tasya mengusap perutnya yang sedih terlihat sedikit membuncit. "Sayang dingin gak? Tapi Mama lagi mau di luar, sayang kalau dingin telepati aja sama Mama ya? Sambil nunggu papa pulang sayang.


Tasya terkekeh, meskipun belum bisa merespon perkataan ibunya dari dalam sana, ternyata ini menyenangkan. Ada perasaan hangat dalam dirinya ketika dia menyentuh sang anak dari luar perutnya seperti ini. Seolah sang anak juga senang dan membuat Tasya tersenyum karenanya.


"Kamu nanya ya Papa kemana?"


"Papa itu lagi kerja, papa kamu dokter yang hebat sayang. Papa bisa sembuhin orang banyak. Nanti kalau kamu lahir dan sakit bisa diobatin papa sama mama juga. Tapi papa kamu dokter paling hebat."


"Papa kamu juga perhatian, dia sayang sekali sama kita. Kayanya kamu harus tau, Sayang. Kalau papa itu adalah orang paling perhatian yang mama punya. Papa gak pernah marah atau bentak mama. Papa juga gak pernah mukul mama. Papa baik banget."


"Jadi kalau kamu udah lahir, kamu pasti bangga punya papa. Walaupun nanti kamu malu punya mama kaya mama tapi kamu punya papa yang hebat," lanjut Tasya.


Tanpa sadar sedari tadi Al sudah pulang dan mendengarkan percakapan itu. Awalnya dia tersenyum apalagi Ibunya bilang Tasya mulai membaik, tapi memang masih banyak hal yang dia pikirkan sampai bicara seperti itu.


Perlahan Al berlutut di samping bean bag dan mengusap perut istrinya dengan lembut. "Kata siapa baby bakalan malu punya Mama kaya Tasya Aurell?"


Al menciumi perut Tasya dan tersenyum ke ar


ah istrinya. "Mamanya baby itu juga hebat, dia dokter dan wanita terkuat yang pernah papa temuin. Jadi kenapa dia harus malu?"


"Maksud aku –"


"Kamu mama yang nantinya akan selalu dia banggakan, Sayang." Al kembali mencium perut Tasya, setelah itu dia mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Aku bawa martabak keju kesukaan kamu, mau?" Tawar Al.


Mendengar martabak keju membuat Tasya mengangguk cepat, dia suka sekali makanan itu. "Mau tapi kamu bersih-bersih dulu ya."

__ADS_1


"Iya, Sayang. Jangan terlalu lama di luar ya? Aku mandi dulu."


"Iya, Mass." Tasya kembali tersenyum tipis.


Tapi perlu diketahui, senyum setipis itu sudah membuat perasaan Al membaik. Seharian dia tidak fokus dan terus bertanya pada ibunya tentang keadaan Tasya. Dia takut kalau istrinya semakin parah semenjak kejadian semalam.


Tapi Ibunya selalu berusaha meyakinkan kalau Tasya baik-baik saja. Dia diperingatkan untuk lebih hati-hati dalam bicara. Karena dokter Lizabeth pun bilang jangan sampe Tasya merasa kalau dirinya tidak dianggap normal oleh lingkungan sekitarnya.


Jadi meskipun sakit mereka harus bersikap biasa saja dan menganggap Tasya sama. Karena sesungguhnya hanya mereka yang bisa mensuport Tasya sejauh ini. Apalagi Tasya sedang berjauhan dengan Radit.


.


.


.


Setelah selesai mandi, Al seperti biasa akan membuatkan susu untuk Tasya. Kali ini dia bawa bersama dengan martabak keju kesukaan istrinya. Tapi sebenarnya ini Al yang mau sih. Entah kenapa dia ingin makan martabak keju.


Namun tiba-tiba Tasya mual dan segera menutup beserta hidungnya. "Kok wanginya aneh banget sih, Mas kamu beli di mana?"


Al mencium wangi aroma martabak itu, tidak ada yang salah kok. Ini wanginya ya sama seperti martabak keju pada umumnya. "Martabak biasa kok, Sayang. Wanginya enak kok?"


Tasya menggeleng tak mau, malah Al yang kini mencoba martabak itu. "Enak, kamu harus cobain ini enak."


Tasya tetap menggeleng dan menjauhkan tubuhnya dari Al. "Gak mau bau banget ihh, mual. Kamu kok jadi suka martabak keju?"


Al nampak berpikir dia juga tidak tau kenapa dia ingin sekali makan martabak keju, dia malah seperti senang sekali telah mendapatkannya. "Enak, Sayang. Kamu kenapa sih gak biasanya nolak. Biasanya habis dua box."


"Gak mau huekk." Tasya turun dari kasur dan berlari ke arah wastafel. Dia tidak sanggup lagi dengan bau martabak itu.


Huuekk ... Hueekk


Al yang melihat itu langsung berlari dan memijat tengkuk Tasya. Ahh dia tau, apa ini bawaan bayi yang aneh-aneh ya? Biasanya kan begitu. Tapi kenapa martabak juga yang Tasya hindari. Tadinya Al ingin membuat senang istrinya, tapi malah membuat Tasya mual begini.

__ADS_1


Hueekk ...


"Pelan-pelan, Sayang. Yaampun itu perut kamu kosong begitu. Gak ada yang bisa dimuntahin."


Ada 5 menit mereka diam di sana. Setelah dirasa tidak mual lagi Tasya mencuci mulutnya. Dengan sigap Al mengelap bibir Tasya dengan tissue. Dia jadi tidak tega melihat istrinya muntah begini. "Maaf ya?"


"Gapapa, gak salah. Kamu aja ya yang makan. Tapi jauh-jauh aku mual banget beneran."


Ya kalau begini mau bagaimana lagi, Al juga memang sangat ingin makan martabak. Akhirnya Tasya diam di kasur sambil minum susu dan Al diam di sofa menikmati martabaknya.


Tasya keheranan melihat Al yang tumben sekali menikmati martabak keju yang selalu dia bilang eneg. "Itu kamu lapar atau suka, Mas?"


"Aku pingin banget makan martabak keju, Sayang. Di rumah sakit kebayang terus legitnya gimana, enak."


Tasya mengernyitkan dahinya. "Kamu ngidam?"


Al terdiam, benar juga. Apa dia mengidam ya? Bahkan tadi kepalanya sangat pusing dan perasaannya tidak karuan karena ingin makan martabak.


Tapi memang bisa ya dia ngidam? Kenapa bukan Tasya saya yang mengidam, dia jadi malu menghadapi istrinya sendiri yang kini tertawa karena mengetahui dirinya mengidam.


"Jangan ketawa ... "


"Hahahahaha ... Kamu ngidam lucu banget. Kamu sih bucin sama aku jadi kamu ngidam kan. Gimana rasanya?" Tanya Tasya menggoda Al.


Al menghela napasnya, jatuh harga dirinya kalau begini. Bagaimana kalau Angkasa, Yoda, Monik dan Belva tau dia mengidam. Pasti Al diledek habis-habisan. "Ya gitu, Sayang. Uring-uringan pingin martabak. Gak ada yang buka lagi siang hari."


Tasya tertawa lagi mendengar penuturan Al. Sampai se-begitunya kah Al ingin martabak keju? Lucu sekali. "Kamu harusnya bilang ke aku kalau ngidam, jadi kita cari bareng-bareng. Tukeran, istri yang cariin kepinginan suami yang ngidam," ucap Tasya.


"Sayang puas banget ledekin aku iya?" Al mengelap tangannya dan kini menghampiri Tasya. Digelitikinya perut istrinya itu pelan. Membuat Tasya tertawa karena geli. Mereka berdua kini tertawa dan saling menatap.


Melihat Tasya tertawa seperti itu Al senang, ya walaupun dirinya malu diledeki oleh istrinya sendiri.


Artinya mempercepat penyembuhannya dan Tasya bisa melakukan aktivitasnya kembali dengan normal. Al sangat senang kalau itu terjadi.

__ADS_1


__ADS_2