
Setelah mengetahui kehamilan Tasya, mereka langsung memeriksakan kehamilan Tasya ke dokter kandungan. Lucu sekali, mereka seorang dokter tapi ke dokter juga.
"Jadi ada keluhan apa, Dokter Tasya?" Tanya Dokter Arin.
"Tadi dia pingsan, Dok. Saya sudah mengecek keadaan dan kadar Hcg dalam darah, ini hasilnya." Al meyerahkan surat lab ke arah Dokter Arin.
"Wah selamat ya, Dokter Al dan Dokter Tasya. Saya ikut senang mendengarnya. Jadi, apa ada yang ingin dikonsultasikan atau USG?" Tanya Dokter Arin.
"Iya, kami ingin melihat anak kami," ucap Al seraya menggenggam tangan Tasya di bawah sana.
"Baik kalau begitu saya persiapkan alat dulu ya, Dokter Tasya. Sekarang boleh berbaring dulu di brankar."
"Terima kasih, Dokter Arin." Tasya tersenyum ke arah Dokter Arin. Setelah itu dengan di bantu Aku dia berjalan ke arah brankar dan membaringkan dirinya di sana.
Tasya terus menggenggam tangan Al. Ini pertama kali untuknya, perasaannya campur aduk kalau boleh jujur. Mereka akan memiliki anak saja itu masih membuat Tasya berada di awan. Apalagi sekarang mereka akan memeriksakan sang bayi untuk pertama kalinya.
"Mas, anak kita sehat kan pastinya?" Tanya Tasya sedikit cemas, dia stress beberapa Minggu ini dan kurang memperhatikan pola makan, jujur saja dia takut.
"Pasti baik-baik aja, dia seperti Mamanya. Dia akan selalu kuat," ucap Al seraya mengecup kening istrinya lama.
Tak selang beberapa lama dokter Arin masuk, dia sudah lengkap dengan handscoon dan juga sudah mencuci tangannya lebih dahulu agar lebih steril. "Apa ada keluhan akhir akhir ini, Dokter Tasya?" Tanya Dokter Arin.
"Tidak ada, Dok. Baru tadi saya pingsan dan mengetahui kalau saya hamil," ucap Tasya jujur.
"Akhir-akhir ini sedang banyak pekerjaan, ya? Atau ada banyak hal yang dipikirkan?" Tanya Dokter Arin.
__ADS_1
"Lumayan, Dok."
"Ah baik kalau begitu saya izin singkap bajunya sebatas dada ya, Dok," ucap Dokter Arin.
Tasya mengangguk dan semakin mengeratkan genggaman pada Al. Sementara Al dengan perhatian mengusap punggung istrinya agar lebih tenang.
Dokter Arin mengambil ultrasound gel dan menaruh nya di alat transducer, setelah itu perlahan dia menelusuri area perut Tasya seraya mengotak Atik alas USGnya.
"Akhir-akhir ini apa merasa lebih sensitif, Dok?" Tanya Dokter Arin.
Ya percakapan ini penting, selain menunggu janinnya terdeteksi, ini juga akan memberikan informasi detail untuk dokter agar tau bagaimana cara penanganan tepat dan memberikan solusi terbaik untuk kehamilan.
Tasya menatap ke arah Al, tentu kalau ditanya Tasya pasti akan menjawab tidak, tapi kan yang bisa memperhatikan detail ya suaminya, yang sehari-hari bersamanya.
"Sepertinya iya, Dok. Sensitif sekali," ucap Al.
Tuhkan Tasya tidak merasakan tapi Al yang merasakan. Ya menurut Al begitu, setiap pagi dia bisa mendadak tidak mood, malamnya bisa menangis tiba-tiba, belum lagi tadi saat dia emosi melihat bunga dan coklat di mejanya. Sensitif sekali bukan.
Tasya dan Al mendengarkan dengan seksama, mereka ini orang tua muda. Penting bagi Meraka tau lebih detail mengenai kandungan dari ahlinya langsung dan memang ternyata masih banyak yang belum mereka ketahui.
Dokter Arin tersenyum saat sudah mendapati posisi janin yang masih berukuran kecil sekali seperti kacang merah. "Nah ini adeknya sudah ketemu."
Tasya dan Al menatap ke arah monitor, terlihat di sana ada sesuatu yang bergerak sebesar kacang merah dan itu menggemaskan sekali, Tasya sampai terharu melihatnya. "Mass, anak kita."
Al mengangguk-menganggukkan kepalanya seraya menciumi punggung tangan istrinya. Ada perasaan berdesir dalam darah mereka apalagi Tasya. Seketika dia dan anaknya terkoneksi dan detak jantung mereka saling bertautan. Perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Usianya masih 3 Minggu, di usia sekarang ini masih sangat rentan untuk keguguran. Oleh sebab itu jangan terlalu kelelahan ya, Dok. Kontrol pola makan dan emosinya, jangan terlalu stress."
__ADS_1
Dokter Arin kembali menggeser Alan itu dan menjelaskan beberapa hal. "Mungkin ini agak sensitif, tapi apa Dokter Al dan Dokter Tasya rutin melakukan hubungan intim?"
Wajah mereka bersemu merah, mereka sama-sama saling menatap. Mereka tidak pernah menceritakan privasi itu kepada siapapun, tentu masih tabu untuk mereka.
"Tidak apa-apa, saya bisa jaga privasi kok," goda Dokter Arin.
"Lumayan, Dok."
"Dalam seminggu bisa berapa kali?" Tanya Dokter Arin.
"Tiga sampai empat!" Jawab mereka bersamaan.
Dokter Arin mengulum senyumnya, ya tidak salah sih. Bahkan memang sangat normal untuk pengantin baru atau pasangan muda seperti mereka kalau melakukannya tiap hari. Tapi mungkin memang malu saja mengatakannya.
"Ohh cukup sering rupanya, kalau begitu dikurangi sedikit ya, Dok. Mungkin sampai usia janin sudah kuat, ya sekitar 3 bulan. Yang tadinya 4 kali mungkin bisa seminggu sekali."
"Karena masih rentan dengan hentakan kuat dan guncangan. Sehingga terkadang mengakibatkan keguguran."
Tasya menganggukkan kepalanya. "Baik, Dok. Saya mau tanya, Dok. Pernah ada kasus keguguran tapi tidak perlu kuretasi, itu karena memang sudah keluar sendiri janinnya tanpa sadar, itu bentuk janinnya bagaimana ya Dok sampai tidak sadar?" Tanya Tasya.
"Keguguran dini biasanya bisa menimbulkan keram beberapa kali bahkan sering dan kalau sampai mengeluarkan darah yang sangat banyak atau gumpalan darah, itu berarti keguguran. Bentuknya seperti gumpalan darah begitu."
Mendengarkan penjelasan dokter Arin membuat Tasya dan Al lebih waspada. Ini kehamilan pertama Tasya, jadi mereka akan melakukan yang terbaik untuk anak mereka pastinya. Tidak ada satu nasehat pun yang mereka lewatkan, bahkan Al menanyakan apa saja yang dibutuhkan Tasya selama kehamilan untuk 9 bulan kedepan.
Setelah keluar dari ruangan dokter Arin, Tasya terus memandangi photo USG anaknya ya g masih sangat kecil. Apalagi tadi dokter memperdengarkan denyut jantungnya. Membuat Tasya sampai menangis karena memang janin dalam tubuhnya ini hidup, dia hidup.
Belum lagi dokter mengatakan kalau anaknya baik-baik saja, mungkin hanya Tasya yang harus mengurangi stress dan rutinitasnya. Mendengar itu tentulah Al bicara kalau mereka harus memikirkan tentang asisten rumah tangga, tapi padahal sebenarnya Tasya tidak terlalu membutuhkannya.
__ADS_1
Bahkan tadi di dalam sana, Tasya tidak banyak bicara, justru Al lah di sini yang banyak bertanya mengenai hal-hal tentang kehamilannya. Dia sangat excited dengan kehamilan Tasya dan tentunya membuat Tasya tersenyum seraya mengusap perutnya.
"Kamu akan jadi anak yang paling beruntung, Sayang karena Papa kamu Aldo Prayoga," ucap Tasya dalam benaknya.