
Pukul 2 siang Tasya dan Al sudah sampai di tempat tujuan. Tidak salah juga kota ini dijuluki kota seribu masjid. Karena banyak masjid yang mereka jumpai di sepanjang jalan.
📍The Lombok Lodge
Tasya melihat ke sekeliling kamar yang mereka pesan, dia merasa puas karena fasilitas di sini lengkap. Dari mulai kamar mandi, balkon, kolam renang pribadi, pemandangan laut dan lain-lain.
Tasya memeluk Al dengan erat, membuat Al terkekeh melihat tingkah istrinya itu. "Kamu suka kamarnya, Sayang?"
Tasya mengangguk antusias. "Suka, aku suka banget kamarnya. Makasih, Mas. Aku sayang banget-banget sama kamu."
"Aku juga sayang sama kamu, Baby." Al tersenyum lalu mengecup bibir Tasya dengan lembut, membuat Tasya kini malah tersipu karena malu.
Perjalanan di kapal memakan waktu yang sangat lama. Jadi mereka memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum menjelajahi kota ini. Tasya sudah lebih dulu mandi dan sekarang sedang sibuk bermain ponsel di kasur, sementara Al dia sedang membersihkan dirinya.
Sesekali Tasya tertawa karena teman-temannya yang menggoda mereka berbulan madu, padahal mereka sedang tidak melakukan apa-apa. Ah tuh kan Tasya jadi merindukan Monik, Belva, Angkasa dan Yoda. Padahal baru beberapa hari mereka tidak bertemu.
Al keluar hanya dengan menggunakan training dan bertelanjang dada sembari mengusak rambutnya yang masih basah. Sepertinya Tasya terlalu asik dengan ponselnya sampai tidak menatap ke arahnya. Merasa cemburu, Al pun duduk di samping Tasya dan mengambil ponsel gadis itu, setelahnya dia memeluk Tasya posesif.
Tasya terkekeh lalu membalas pelukan suaminya itu dengan hangat. "Ishh manjanya."
"Fokus sama aku aja, kita lagi quality time, Baby," ucap Al lembut.
"Tadi Belva nanya, boleh nyusul gak? Makanya aku balesin," ucap Tasya menjelaskan.
"Kamu jawab apa?" Tanya Al yang kini menatap ke arah Tasya.
"Aku jawab boleh lah, kan bisa liburan bareng," jawab Tasya polos.
"Aishh, Sayang. Kita kan mau bulan madu, kalau mereka nyusul apa bedanya sama liburan biasa?" Al mencium-ciumi bibir istrinya gemas, membuat Tasya menahan napasnya karena serangan tiba-tiba.
__ADS_1
"Itu hukuman kamu karena jawab kaya gitu. Mau berduaan aja," jelas Al.
Demi apapun kalau hukuman yang Al berikan seperti itu Tasya rela deh melanggar apapun. Kenapa setelah menikah Al malah jauh lebih manis dibandingkan saat mereka tunangan kemarin? Ada sisi lain dari Al yang baru Tasya ketahui sekarang, padahal mereka sudah berteman sejak kecil.
"Mau aku suruh mereka kesini ah," ucap Tasya setengah menggoda Al, otomatis Al menatap tajam ke arahnya.
"Tasya Aurell ..."
"Ya kalau hukumannya dicium aku mau lah, kan bagus. Jadi aku mending melanggar aturan aja, Mas biar dapet cium dari kamu banyak-banyak."
Tanpa aba-aba Al kini langsung mencium bibir Tasya dengan lembut yang membuat gadis itu seketika terdiam. Lagi dan lagi saat Al melakukan ini padanya dia tidak bisa berkutik. Apalagi saat suaminya itu menyesap bibirnya seperti sebuah permen, Tasya kini mulai paham cara mainnya, tanpa ragu dia membalas ciuman pria itu dan mempraktekan seperti apa yang Al lakukan padanya.
Keduanya larut dalam permainan yang mereka ciptakan, lalu saat keduanya sama-sama kehabisan oksigen Al pun melepaskan pagutan keduanya. "Tanpa kamu langgar aturan aku pasti cium. Jangan nakal."
Tasya terkekeh lalu mengusap bibir Al dengan lembut, napasnya masih belum beraturan. "Kamu suka cium aku, jadi jangan salahin aku kalau jadi suka dicium."
"Udah aku bilang, kalau kamu jadi milik aku gak akan satu hari pun terlewat buat cium kamu. Karena udah punya aku," jelas Al.
"Kan kemarin juga aku punya kamu, tapi kata kamu nanti aja kalau udah sah." Tasya mengikuti gaya bicara Al sewaktu mereka belum menikah, membuat Al terkekeh dibuatnya.
Tasya tersenyum mendengar perkataan Al ada benarnya juga. Kalau mereka sering melakukannya dulu pasti rasanya tidak seperti seistimewa sekarang. Ya memang beruntung dia memiliki suami seperti Al.
.
.
.
Sesuai permintaan Al, Tasya mematikan data ponselnya dan memilih untuk menikmati keindahan pantai yang kini ada di depannya. Iya di sini memang ada private beach yang disediakan hotel, jadi hanya ada beberapa orang pengunjung hotel saja yang berada di sini.
Tasya dan Al menikmati makanan yang sudah disediakan di sana, mereka juga tidak lupa mengabadikan beberapa photo di kamera yang Al bawa dan mereka juga membuat beberapa video timelapse untuk nanti dipamerkan kepada teman-temannya. Apalagi suasana di sini sejuk dan sudah menjelang sore. Cocok untuk melihat sunset.
__ADS_1
Al memeluk Tasya dari belakang sambil sesekali mencium bahunya yang sedikit terbuka akibat model bajunya. "Mas, pikirin 10 tahun ke depan kita nanti ke sini lagi, terus bawa anak kita. Pasti lucu."
"Gak perlu nunggu 10 tahun, kalau nanti dia lahir dan mau langsung ke sini juga aku turutin," jawab Al santai.
"Tapi- Awww!" Pekik Tasya saat seseorang menabrak mereka dari belakang sana.
"E-eh sorry, gak sengaja," ucap seorang wanita yang otomatis membuat keduanya berbalik.
"Aruna?" Tanya Al tak percaya.
"Loh kalian di sini juga? Maaf tadi aku gak liat, gak nyangka bisa ketemu kalian di sini," ucap Aruna basa-basi.
"Iya," jawab Al singkat.
"Wah seru kayanya kalau trip bareng, kalian ada rencana mau kemana? Kali aja bisa bareng," ucap Aruna ramah.
"Di kamar sampe gumoh," jawab Tasya sambil tersenyum penuh arti. Jujur saja itu membuat Aruna sedikit kesal, karena menurutnya Tasya sangat sinis.
Al menghela napasnya, dia sudah tau nih kalau begini artinya Tasya sudah kesal. Tapi tidak enak juga kan kalau mereka langsung pergi begitu saja.
"Oh gitu, y-yaudah selamat nikmatin bulan madu kalian ya, mungkin lain kali bisa trip bareng," balas Aruna selembut mungkin.
Tasya sedikit tersenyum, lalu memutar bola matanya malas. Kenapa juga bisa ada Aruna di tempat ini? Terlalu kebetulan kalau dia bilang hanya sedang berlibur. Bukan berburuk sangka tapi ... Ah sudahlah Tasya mendadak badmood melihat perempuan yang selalu gencar mendekati suaminya itu.
"Mas ayok kita ke sana aja, biar deket sama sunsetnya. Nanti bikin video yang CIUMAN gitu loh!" Ucap Tasya menegaskan kata ciuman di sana.
Aruna kaget sih mendengar itu, sementara Al menelan air liurnya dengan susah payah. Agak lucu sebenarnya Tasya mode cemburu begini. Tapi salah-salah kalau Al salah menyikapi bisa jadi mereka yang bertengkar. Tidak akan lucu kalau mereka bertengkar saat bulan madu.
"Aku dan Tasya ke sana dulu ya," pamit Al yang kini sudah diseret paksa oleh Tasya menjauh dari perempuan bernama Aruna itu.
Tasya memajukan bibirnya, membuat Al kini menatap fokus ke arahnya. Dia harus apa kalau sudah begini? Pasti mood gadis itu sudah buruk. "Jangan dimajuin gitu bibirnya."
__ADS_1
"Lagian dia ngapain sih di sini, gak mungkin kalau kebetulan doang. Aku curiga nih dia ngikutin kita," ucap Tasya pelan.
Al menghela napasnya. "Udah jangan dipikirin, ini quality time kita berdua dan gak boleh ada yang ganggu. Al langsung memeluk Tasya dan menciumi pipinya agar gadis itu tidak marah. Karena mengembalikan mood Tasya adalah hal yang terpenting untuk saat ini dibandingkan harus memikirkan Aruna yang tiba-tiba ada di sini.