
Tasya menundukkan kepalanya dan duduk di tepi, kalau emosinya seperti ini rasanya dia pusing sekali. Belum lagi dia harus mengontrol diri, kan tidak lucu kalau dia kambuh di saat seperti ini. Tasya terus memegangi kepalanya, kenangan buruk itu seakan teringat kembali, di saat Lidya ibunya menolak kehadirannya, di saat ibunya ingin dia lenyap dan di saat dia yang harus melawan sang ayah sampai terserang jantung dan meninggal. Semuanya terasa nyata di dalam pikirannya.
Sesekali dia menarik napasnya panjang agar tidak ada yang menguasai dirinya. Dia terus menutup telinganya karena takut bisikan-bisikan yang selalu membuatnya kalap hadir kembali, rasa takut, kecewa, amarah, menyatu dalam waktu yang bersamaan.
Namun Tasya terkesiap saat Al datang dan memeluk tubuhnya. Karena panik Al langsung menangkup pipi Tasya dan menatapnya lamat. "Kenapa? Ada yang kerasa? Ada yang ganggu kamu lagi?"
Pertanyaan itu pasti adalah hal pertama yang Al tanyakan, karena dia takut kalau pembicaraan tadi membawanya kembali ke masa lalu. Tasya menggeleng, tapi meskipun begitu Al tetap panik karena melihat wajah Tasya yang pucat.
"Atur napas, tenang. Jangan pikirin apa-apa yang buat kamu stress. Lupain aja masalah tadi, oke?" Ucap Al seraya memeriksa keadaan Tasya. Meskipun bukan ahli jiwa tapi sebagai dokter umum Al juga paham kalau memeriksa pasien yang mengalami kekambuhan.
"Aku mau pulang," pinta Tasya.
"Nanti kita pulang, kamu tenangin diri kamu dulu. Coba apa yang kamu rasain sekarang?" Tanya Al yang tetap fokus memantap Tasya dan memberikan seluruh atensinya pada gadis itu.
"Aku pusing, cuma itu aja. Gak ada suara-suara yang ganggu kamu lagi?" Tanya Al memastikan.
Tasya menggeleng, dia memang tidak kambuh. Tapi ya memang cukup memancing juga kalau soal pembahasan seperti ini. Masalahnya ya memang sangat sensitif, terakhir bertemu dengan Lidya saja dia masih tidak bisa menerima wanita itu. Saat melihatnya justru rasa kebencian itu semakin bertambah. Kalau saja Al tidak memaksanya karena harus meminta izin menikahi Tasya, dia juga tidak akan mau menemui Ibunya di penjara.
"Ada aku, udah jangan dipikirin. Mau jalan-jalan lagi?" Tanya Al.
"Aku mau pulang, obatnya ada di rumah," ucap Tasya perlahan.
__ADS_1
"Kamu butuh obat?" Tanya Al.
Tentu butuh, di saat seperti ini dia harus minum obat agar tidak benar-benar kambuh. Sekarang bukan hanya tentang dirinya, tapi ada Al yang harus dia perhatikan, ada pekerjaan dan pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Jadi Tasya perlahan mengangguk.
Dia juga masih berusaha mengontrol dirinya, walaupun dengan susah payah. Percayalah, menjadi pengidap gangguan kejiwaan seperti Tasya yang produktif itu sangat susah. Susah untuk dia jalani.
Karena memang Tasya butuh obat, Al mengiyakan ajakan Tasya untuk pulang. Mereka juga sempat pamit, Radit yang melihat kondisi Tasya jadi merasa bersalah karena membahas ini. Tapi untungnya sekarang lebih dewasa, dia jadi tidak ada acara marah sampai mendiamkan Radit. Beruntung memang Tasya memiliki Al yang menjadi self controlnya.
.
.
.
Tasya meminum obat dan airnya setelah itu dia mengatur napas agar obatnya lebih cepat bekerja. Al sedikit tenang kalau Taya sudah meminum obatnya, pasalnya jika telat sedikit saja sudah pasti Tasya akan down dan intershipnya jadi terganggu.
Di saat seperti ini Al memang harus paham dan sigap, karena kalau bukan dia yang bergerak, siapa lagi? Sekarang Tasya sudah menjadi tanggung jawabnya. Belum selesai perkara Bella, sekarang ditambah lagi dengan rencana Radit yang akan membawa Ibunya, pasti itu hak yang berat untuk Tasya jalani.
Perlahan Al membawa Tasya dalam pelukannya, berbaring seperti ini rasanya membuat Tasya nyaman, apalagi sembari menikmati euforia setelah minum obat. Rasanya perasaan dia sedikit jauh lebih baik.
"Mas, aku gak mau Mama di sini," ucap Tasya jujur.
Al terdiam, selayaknya dia harus bisa bijak menghadapi Tasya dan pikirannya. Jika menurutnya ada yang tidak sesuai dia tentu harus meluruskannya secara perlahan. "Kenapa hm?"
__ADS_1
"Aku masih gak bisa, mau sekeras apapun aku berusaha gak bisa."
"Sayang, dalam hidup memang terkadang ada hal-hal di mana orang melakukan kesalahan. Tapi, bukan berarti kita mengutuk orang itu selamanya, iya kan?"
"Tapi kamu tau kan gimana mama perlakuin aku dulu?" Tanya Tasya.
"Tau, aku tau. Aku juga kesal saat itu, cuma Mama udah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Kehilangan kalian itu pasti pukulan terberat seorang Ibu, belum lagi kehilangan Chandra dan Papanya, yang terakhir beliau dipenjara. Pasti selama itu Mama udah memikirkan apa-apa yang menjadi kesalahannya," ucap Al.
Memang benar sih, tapi tetap saja ada yang mengganjal rasanya di hati Tasya. Masih perlu banyak waktu untuk menerima semua dengan lapang dada dan Tasya belum bisa melakukan itu.
"Kalau aku gak bisa maafin Mama kamu nyesel gak nikah sama aku yang rewel kaya gini?" Tanya Tasya.
"Kenapa jadi nyesel, Sayang. Kita udah kenal dari kecil, kenapa mikir kaya gitu, aku gak suka. Jangan mikir kaya gitu lagi. Kamu selalu tau kan kalau kamu adalah hal yang paling aku syukuri di dunia ini? Jadi jangan bilang kaya gitu lagi, Tasya." Al mencium bibir Tasya sekilas. Tapi mungkin bicaranya jadi ngelantur juga karena obat, jadi Al memaklumi.
"Mas, tapi aku gak mau ketemu dia ya kalau emang Abang tetep mau bawa dia ke sini. Aku gak mau."
Al menghela napasnya, setelah itu dia tersenyum ke arah Tasya dan mengangguk perlahan. "Jangan dipaksain, kita emang harus mengikuti waktu untuk tau apa-apa aja yang bisa memperbaiki keadaan. Sekarang mungkin belum ada jawabannya. Kalau kamu pikirin dari sekarang gak akan ada habisnya. Yang ada hanya bikin kamu pusing sendirian. Jadi sekarang lebih baik kamu tidur."
Memang sepertinya apa yang Al katakan benar, dia memang perlu tidur. Matanya juga sudah terasa berat sekali karena obat dan tidak butuh waktu lama Tasya bisa memejamkan matanya. "Jangan tinggalin aku."
"Iya gak akan. Tidur ya, aku jagain sampai kamu bangun lagi nanti." Al memeluk Tasya erat, kalau boleh jujur di sini Al yang lebih khawatir jika Tasya dalam posisi seperti ini. Dia selalu takut karena memang Tasya selalu membuatnya khawatir dari hal-hal kecil sejak dulu.
Masalah magh dan asma yang dia idap, imunitas tubuh yang kurang baik, masalah skizofrenia. Bahkan ketika Tasya murung sedikit saja sebenarnya sudah membuat Al panik, sebesar itu memang pengaruh Tasya di kehidupannya.
__ADS_1
Tasya sudah tertidur lelap, napasnya juga sudah mulai teratur. Perlahan Al turun dan mengambil peralatan dokternya untuk memeriksa keadaan Tasya. Dia masih tidak bisa tenang sebelum memastikannya sendiri. Tapi syukurnya dia baik-baik saja. Jadi Al bisa bernapas lega dan berharap saat Tasya bangun nanti keadaannya sudah jauh lebih baik. Karena tentu besok dia juga harus kembali bertugas di rumah sakit.