My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Luapan Emosi


__ADS_3


Terhitung sudah satu bulan Tasya bekerja di rumah sakit, seperti biasa pagi ini akan ada bunga dan juga coklat di mejanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Viko.


Dengan kesal Tasya memasukannya ke tong sampah. "Mas cukup ya aku udah cape banget serius!"


Jujur sebulan ini dia selalu menghindari Viko tapi rasanya pria itu semakin berani. Semakin maju dan menganggu rutinitas Tasya. Meskipun Al selalu bilang padanya untuk biasa saja, tapi tetap bagi Tasya ini tidak bisa. Dia tidak pernah baik-baik saja ketika Viko melakukan ini.


"Sayang ... " Al memegang kedua lengan Tasya.


Mendengar panggilan lembut itu membuat Tasya meluluh dan menatap ke arah Al. Dia tau Al juga cape pasti, tapi kenapa dia bisa setenang ini?


"Kita di sini kerja, selagi bisa dihindari yaudah. Kita harus profesional, gak mungkin kita pindah pekerjaan sama-sama dalam waktu dekat, benar, kan?"


"Aku cape, aku cape berurusan terus sama Viko. Kamu pikir deket sama dia gak bikin aku kepikiran masalah lama? Soal dia gimana ke aku dan gimana waktu dia hampir aja renggut apa yang paling aku jaga? Aku stress kalau kamu mau tau."


Al mengangguk paham, dia memeluk Tasya setelahnya. Dia tau apa yang Tasya rasakan tapi kalau begini juga di luar kuasanya. Dia tidak bisa berbuat banyak. "Aku tau, aku tau kamu cape, aku tau kamu lelah. Tapi ada beberapa hal yang gak bisa kita atur di dunia ini, Sayang. Termasuk ini."


Tasya hanya diam seraya mengatur napasnya, pagi-pagi begini sudah sensitif sekali perasaannya. Hatinya sudah dipenuhi dengan perasaan tidak enak.


"Udah ya, sekarang harus senyum lagi. Masa nanti pasiennya dicuekin?" Ucap Al.


"Aku gak mood, Mass ..."


"Ingat janji dokter kita, ingat janji kamu ke aku untuk tetap percaya apapun yang terjadi semuanya akan seperti biasa, akan baik-baik aja."


Tasya menghela napasnya sebentar lalu mengangguk, sebentar lagi juga rumah sakit sudah penuh pasien pasti, dia harus bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Pinter, selamat kerja sayang." Al mengecup bibir Tasya sekilas lalu keluar dari ruangan istrinya.


Al benar, dia harus kembali bekerja. Karena di kamus seorang dokter tidak ada namanya tidak mood. Semuanya harus dia lakukan dengan senang hati.

__ADS_1


Tasya memulai pekerjaannya dengan baik, melayani beberapa pasien dan terkadang ke ruang UGD saat mereka kekurangan dokter. Pokoknya dia sangat produktif untuk mengalihkan pikirannya.


Tapi alih-alih melupakan, kini saat dia berjalan di depan lorong malah berpapasan dengan Viko. Tasya berusaha menghindar namun Viko menarik tangannya. "Mau kemana?"


"Lepasin, jangan kurang ajar!" Ucap Tasya setengah berbisik.


"Masih aja galak, kamu lupa gimana dulu aku bisa ngejar kamu? Ya karena sikap kamu yang kaya gini, menarik."


"Vik, ini di rumah sakit jadi tolong bersikap dengan layak sebagai sesama pegawai."


"Sesama pegawai berarti bisa kita bicara? Ngobrol beberapa hal dan minum kopi, oh lupa kamu gak bisa minum kopi karena lambung, susu strawberry?"


Tasya menatap tajam ke arah Viko, maunya apa sih pria ini? "Gak tertarik dan tolong lepasin aku!"


"Semakin kamu berontak malah akan semakin lama kamu di sini, bicara sebentar aja. Aku cuma kangen kamu."


Tasya menghela napasnya, tapi dia menyerah akhirnya dia ikut dengan Viko ke taman belakang rumah sakit. Tasya duduk di bangku taman dan Viko membawakannya susu strawberry kaleng kesukaan Tasya.


"Gak perlu, mau ngomong apa?" Tanya Tasya.


"Karena aku gak nyaman, karena aku gak pernah nyaman selama ada kamu di sini," jawab Tasya jujur.


"Padahal dulu kamu bilang aku tempat ternyaman kamu dalam segala hal." Viko terkekeh lagi dan meminum americanonya.


Tasya menghadapkan dirinya pada Viko dan menatap pria itu dengan heran. "Kamu sadar gak sih sama apa yang kamu lakuin sekarang? Kamu sadar gak sih kalau kita udah lama berakhir?"


Viko tersenyum dan membalas tatapan Tasya. "Pernah ada kata putus di antara kita? Kalau ada pun apa aku menyetujui kita putus, Sya?"


"Gila ya kamu!" Maki Tasya.


"Ya memang, bahkan kamu harus tau seberapa gilanya aku waktu kamu menikah dengan Al," ucap Viko tegas.

__ADS_1


Tasya tak habis pikir, kenapa seolah dia yang salah di sini? Kenapa Viko seolah menempatkan dirinya di tempat paling menyakitkan, padahal semua ini dia yang memulai, dia yang lebih dulu menghancurkan hatinya.


"Kamu inget gak siapa yang lebih dulu khianatin hubungan kita, Vik? Kamu inget gak apa yang bikin kita kaya sekarang? Lupa?" Tasya tidak peduli ini masa lalu atau bukan, mereka tidak pernah sempat bicara soal ini dan mungkin jika dibicarakan Tasya bisa bebas dari Viko.


"Kalau saat itu kamu gak pergi dan memaafkan aku, aku bakalan tinggalin Bella kok, Sya. Kamu tau secinta apa aku sama kamu, tapi apa? Kamu gak memberi aku kesempatan sedikit pun."


Cukup ini sudah tidak bisa Tasya terima, Tasya berdiri namun Viko menahan pergelangan tangannya dan berdiri tepat di hadapan Tasya. "Mau kemana?"


"Gak penting aku dengerin omongan kamu yang seenaknya."


"Seenaknya apa, aku benar kan?"


"Vik, emang kamu pikir dengan kamu ninggalin Bella waktu itu aku masih mau kamu? Kamu pikir dengan kamu ninggalin Bella aku bakalan kasih kesempatan buat kamu setelah kamu tidur sama wanita murahan itu yang rela nyerahin tubuhnya cuma untuk balas dendam sama hal yang gak pernah aku lakuin?!"


"Aku gak pernah tau niatnya buat balas dendam sama kamu, Sya!" Balas Viko yang kini terpancing emosinya.


Tasya tersenyum pongah. "Dan kalau kamu gak tau alasan dia deketin kamu karena dendam emang kamu pantes tidurin dia? Engga Vik! Kamu itu menjijikan! Aku benci banget sama kamu!" Tasya melepaskan tangannya dari Viko dengan keras namun tidak bisa, cekalannya begitu kuat.


"Aku khilaf, Sya. Kamu pikir hubungan jarak mudah? Aku banyak takutnya, aku kesepian, aku cuma punya Bella pada waktu itu dan–"


"Dan kamu tidur sama dia saat kamu kesepian jauh dari aku tanpa kamu pikirin aku di sini juga ngerasain hal yang sama. Udah cukup ya, Vik! Aku sama kamu itu gak ada hubungan apa-apa, kita cuma dua orang yang pernah saling jatuh cinta di masa lalu dan belum mengerti apa itu cinta. Sekarang aku punya Al."


"Gak ada yang tau kamu selingkuh sama Al juga atau gak."


Plakk ....


Satu tamparan Tasya daratkan di pipi Viko. "Jaga mulut kamu, aku sama Al itu sahabat dulu. Kita saling jatuh cinta waktu KKN, saat aku udah lepas dari kamu. Aku rasa udah cukup ya, Vik. Aku harap. Kamu gak ganggu hidup aku lagi."


"Satu lagi. Aku pernah secinta itu sama kamu, aku pernah sebahagia itu punya kamu dalam hidup aku, tapi itu dulu. Beberapa tahun yang lalu, sekarang buat aku kamu gak lebih dari sekedar cowok berengsek yang bisa seenaknya datang ke kehidupan aku dan merusak kebahagian aku."


"Seburuk itu, Sya?"

__ADS_1


"Lebih buruk dari apa yang kamu pikirkan!"


Tasya melepaskan tangannya dari Viko, namun baru saja dia melangkahkan kakinya tubuhnya sudah ambruk dan pingsan. Semuanya menggelap, dia tidak bisa melihat apa-apa lagi.


__ADS_2