My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Rumah Baru


__ADS_3


"Wihh, bisa dong nanti kita nongkrong di sini, lebih leluasa," kata Angkasa.


"Iya, kalau di rumah Monik mulu gak enak sama emaknya," timpal Yoda.


"Bisa diatur," balas Al sembari mengacungkan jempolnya.


Di sisi lain Tasya, Monik dan Belva sedang menyiapkan beberapa cemilan di dapur. Mereka tidak menyangka saja kalau bocil mereka ini sudah menjadi Ibu rumah tangga sekarang.


"Sya, gimana rasanya anuan?" Tanya Belva penasaran sembari memperhatikan Tasya yang sedang menggoreng kentang.


"Anuan?" Tanya Tasya yang emang pada dasarnya dia tidak konek.


"Anu anuan, kan kalau udah jadi suami istri anuan," ucap Monik.


Tasya semakin mengerutkan keningnya, apa sih yang mereka maksud. Tasya benar-benar tida mengerti. "Apasih to the point aja kek jangan pake bahasa isyarat."


"Malam pertama," kesal Belva, memang Tasya ini kalau lemotnya kumat malah menyebalkan.


"Oh itu, ya gak gimana-gimana. Masa harus gue jelasin?"


"Enak?"


"Ishhh!!!" Tasya merona ditanya seperti itu, dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan mereka karena menurut Tasya ya tabu saja menceritakan hal seperti itu.


"Al mainnya lembut?" Tanya Monik yang tidak kehabisan akal.


"Iya, kalian tau sendiri dia gak berani nyakitin gue. Kalian pernah baca novel romance terus ada adegan malam pertamanya? Nah itu gue ngalamin kaya gitu."


"Jadi lo di ... Paksa? Dipecut gitu-gitu?" Tanya Belva tak mengerti, ya karena dia membaca novel bergenre psyco.


"Ih gila, kita beda genre. Maksud gue kaya novel romantis aja gak romance psyco. Ya gitulah pokoknya, masa harus dijelasin. Mending kalian nikah dulu," jawab Tasya enteng.


Belva dan Monik tertawa, ternyata susah juga memancing Tasya sekarang. Biasanya gadis itu akan bicara panjang lebar kalau dipancing. Tapi kali ini dia benar-benar menjaga privasinya dengan Al.

__ADS_1


Setelah beres mereka berkumpul di ruang tengah, masih belum dibereskan sih. Tadi Al bilang biar mereka saja yang menata rumah mereka sendiri. Jadi mereka mengikuti kemauan dua sejoli itu saja.


Berbincang sambil ngemil, apalagi yang mereka lakukan kalau sedang berkumpul begini. Ditambah mereka memang masih menganggur karena menunggu intership, jadi ya tidak memiliki jadwal atau kesibukan tersendiri.


"Siap-siap mingdep kita pemilihan wahana, kita harus satu RS kalau bisa. Koneksi harus cepet, laptop baru kalau bisa biar ga ngelag pas war wahana," peringat Angkasa sembari memakan kentang goreng kesukaannya.


"Sumpah gue deg-degan, soalnya se Indo anjir yang rebutan. Gue gak boleh kalah cepet!" Tekad Monik.


"Terutama lu sih Al sama Tasya, yakali baru nikah LDR," ucap Yoda.


"Tapi kalau gak sewahana kita mau ngajuin banding kok. Kita juga gak mau pisah, bukan karena udah nikah aja, tapi kalian tau sendiri gue gak bisa jauh dari Al," ucap Tasya yang kini memajukan bibirnya.


Al yang gemas langsung saja memeluknya dan mengecup bibir Tasya berkali-kali. "Jangan dimaju-majuin gitu bibirnya bisa gak? Iya nanti kita banding kalau gak bareng."


"Ekhm mon maap bapak dan ibu bisa tau tempat sedikit gak?!" Kesal Monik.


"Au ya anjirtt, mentang mentang sah," sungut Belva.


Tasya dan Al terkekeh melihat teman-temannya emosi. Ya gimana? Mereka kan pasangan muda, wajar saja kalau itu menjadi kebiasaan baru yang mereka sukai.


.


.


.


Rumah ini belum lengkap isinya, Al bilang kalau mereka besok akan belanja dan membuat rumah isinya sesuai mau Tasya. Karena dia mau kalau Tasya nyaman di rumah mereka sendiri.


"Mas nanti aja ya beresinnya, cape. Liat aku udah keringetan," ucap Tasya sembari mengipas-ngipas wajahnya.


"Iya, Sayang. Kasiannya istri aku cape." Al akhirnya menyalakan AC agar membuat Tasya lebih segar.


Al duduk di samping Tasya lalu menciumi pipi istrinya itu. "Gemes."


"Mas aku keringetan loh, main ciumin aja. Bau, belum mandi," protes Tasya yang menjauhkan dirinya dari Al. Entah kenapa dia merasa tidak pede sekarang dalam keadaan seperti itu di depan suaminya.

__ADS_1


"Kamu mau gimana pun tetep wangi. Sayang," panggil Al.


"Hm?" Sahut Tasya sembari melirik ke arah Al.


"Rumah ini gak sebesar rumah orang tua kita, gapapa, kan? Nanti kalau ada rezekinya kita renovasi sesuai yang kamu mau," ucap Al.


"Aku gapapa tau, ini udah jauh lebih dari kata cukup. Kita juga cuma berdua, nanti kalau ada anak jadi bertiga dan ini rumahnya masih muat. Aku bahagia tinggal sama kamu, apalagi rumah ini hasil jerih payah kamu karena bantuin papa juga di kantor, kan? Jadi apapun hasil keringat suami aku, aku terima," ucap Tasya bijak.


"Kenapa kamu bikin aku salting sih? Tapi makasih ya, Sayang kamu udah ngerti. Aku janji bakalan selalu bahagiain kamu," kata Al degan sungguh.


"Sama-sama, Mas. Kita kan menikah buat saling melengkapi, buat saling berbagi. Jadi emang udah seharusnya juga kita saling ngerti.


Al tersenyum, namun seketika dia terdiam karena mengingat perkataan Zea tadi malam padanya. Itu cukup membuat Al kepikiran, karena pasti akan melukai Zea cepat atau lambat.


"Soal Zea, dia beneran suka sama bang Fadil," ucap Al sembari menghela napasnya.


"Kan udah aku bilang pasti lah. Aku juga udah bilang itu sama kak Fadil. Sekarang tinggal mereka yang ambil keputusan, mau lanjut atau terus," balas Tasya.


"Tapi aku gak siap liat Zea parah hati kalau bag Fadil milih buat mengakhiri hubungan mereka," ucap Al. Sejak tadi dia memikirkan hal ini, tentu dia hanya punya Tasya untuk berbagi hal ini.


Tasya yang paham dengan perasaan suaminya kini memeluk Al sembari mengusap lengan Al dengan lembut. "Jangan terlalu dipikirin, Mas. Kita udah usahain yang terbaik buat mereka. Kalau pada akhirnya mereka memilih buat pidah ya itu artinya mereka menemukan jalan terbak buat pernikahan mereka, Mas. Mereka yang lebih berhak dan tau apa yang mereka mau."


"Tetep aja aku takut, Sayang. Aku ngerasa bertanggung jawab atas Zea."


"Mas, aku tau kamu adik kak Zea satu-satunya dan kamu udah jadi sosok adik yang baik untuk kak Zea. Satu hal yang mau aku kasih tau ke kamu, aku punya firasat baik kalau hubungan mereka bakalan baik-baik aja," ucap Tasya.


"Kenapa bisa myimpulin kaya gitu?"


"Karena tadi pagi aku liat kak Zea keramas dan kak Fadil juga, jangan-jangan mereka gituan," bisik Tasya.


Al melirik istrinya, wah gadis polosnya ini ternyata pemikirannya jauh sekali, bagaimana dia bisa menyimpulkan kalau keramas berarti mereka melakukannya.


"Terbukti kan yang otaknya mesum siapa sekarang," ucap Al menahan tawanya.


"Ihhhh!!! Aku gak mesum cuma nebak aja, masa dikatai sih?! Kan biasanya gitu, yakan? Tapi gak tau kalau mereka kecebur bareng, ihhh iya ya aku kok mesum banget otaknya?" Tiba-tiba Tasya terdiam.

__ADS_1


Al terkekeh dan langsung memeluk Tasya. "Udah besar bayi aku sekarang, jadi mau kaya gitu juga hm?" Tanya Al mengambil kesempatan.


"Apasih, Mas?! GAKK!" Tasya melepaskan diri dari pelukan Al. Setelah itu mereka saling meledek dan kejar-kejaran. Ya begitulah kalau menikah dengan sahabat. Mereka masih suka bermain-main meskipun sudah menikah seperti ini.


__ADS_2