My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Kehamilan


__ADS_3


Melihat Tasya yang ambruk seketika membuat Viko panik, untuk saja dia berhasil menangkap tubuh wanita itu. "Tasya! Sya, bangun!"


Jangan tanya seberapa paniknya Viko sekarang dia tentu panik, tanpa berpikir apa-apa lagi dia menggendong tubuh Tasya dan membawanya ke ruang UGD. Bukan seperti yang Viko inginkan dan bukan seperti ini hal yang dia harapkan.


Sementara di satu sisi Al yang sedang mencari keberadaan istrinya dibuat kaget saat Viko berlari menelusuri lorong rumah sakit seraya membawa istrinya. Al panik tentunya, apa yang terjadi dengan Tasya. Dengan cepat dia berlari dan menghadang jalan Viko.


"Dia istri saya, biar saya yang bawa dia." Al mencoba mengambil alih Tasya namun Viko menahannya.


"Dia tadi sama gua, jadi gua yang harus bertanggung jawab, minggir!" Ucap Viko.


Al menghela napas dan berusaha mengontrol emosinya. Tanpa sepatah kata pun dia mengambil alih apa yang dia ketahui adalah miliknya. Viko yang melihat itu dibuat diam, seolah dipukul paksa untuk mundur.


Dengan panik Al membawa Tasya ke ruangannya. Dan memeriksa istrinya secara langsung. Al juga tidak peduli Viko yang masuk ke ruangannya bersama Angkasa yang tadi terlihat panik juga saat Al membawa Tasya ke ruangannya dalam keadaan pingsan.


"Ada apa ... Al?" Angkasa menatap Viko yang juga berada di ruangan itu.


"Ngapain lu di sini, lu apain Tasya?" Tanya Angkasa sedikit emosi.


Namun Al menginstruksi mereka agar tidak ribut di sana dan membiarkan dia fokus untuk memeriksa istrinya. Al kembali mentensi tekanan darah Tasya dan meriksa denyut nadinya.


Sebenarnya Al sudah mempunyai analisis sendiri di sini, tapi dia belum yakin. Perlahan dia mengambil toniquet dan memasangkannya di lengan Tasya, untuk diambil darahnya.


"Kenapa harus tes darah, parah?" Tanya Angkasa seraya mendekat ke arah Al.


Al melepaskan toniquet dan memberikan sampel darah pada Angkasa. "Tolong ke lab dan cek Hcgnya, gua minta tolong banget."


Mendengar itu Angkasa mengangguk dan segera berlari ke lab, proses ini bisa cepat dilakukan memang jika diproses oleh dokter dalam keadaan mendesak. Jadi semoga saja tidak lama.


Al mencoba mendekatkan minyak angin ke hidung Tasya, namun gadis itu belum mau bangun rupanya. Memang sih beberapa hari ini dia juga kelelahan Karen seminggu kemarin juga jaga malam di rumah sakit.


"Kalau lu gak bisa jaga Tasya dengan baik, lebih baik lu lepasin dia," ucap Viko.

__ADS_1


Al tersenyum remeh. "Tasya pingsan bukan berarti dia gak gua urus, lebih baik lu keluar sebelum gua panggil security."


"Gua juga pegawai, kenapa harus diusir?" Tanya Viko enteng.


Al memilih untuk diam dan fokus pada Tasya, meladeni Viko tidak akan ada habisnya. Tapi jauh di dalam lubuk hati Al, semoga saja diagnosisnya benar, semoga hasilnya benar-benar sesuai harapan Al selama ini.


Beberapa menit berlalu, Tasya mengerjapkan matanya perlahan. Tubuhnya terasa lemas dan juga kepalanya sangat pusing. "M-mass–Ahh aku pusing banget."


Tasya yang tadinya ingin bangun malah kembali membaringkan dirinya di brankar, apa dia begini karena belum makan ya? Lemas sekali.


"Masih pusing?" Tanya Al.


"Iya, pusing banget. Aku kayanya belum makan, nanti aku makan. Tapi pusing banget, kerjaan aku gimana?" Tanya Tasya.


"Semuanya dialihkan dulu ke dokter lain, barusan juga dokter senior bilang aku selesaikan kamu dulu."


Mendengar itu Tasya bernapas lega, mereka baru di sini jadi masih banyak ketakutan-ketakutan yang dia rasakan. "Aku kenapa, Mas?"


"Ekhmm." Viko berdeham, gerah juga ternyata melihat kemesraan Al dan juga Tasya. Ada perasaan tidak rela tapi dia juga tidak mau pergi dari sini sebelum mengetahui keadaan Tasya.


Ahh Viko lagi, Tasya sudah muak dengan wajah itu. Tapi dia tidak bisa apa-apa saat ini, benar-benar tidak ada tenaga untuk meladeni orang seperti Viko, ujungnya dia juga yang emosi dan lelah sendiri.


"Mas kita nunggu apa sih?" Tanya Tasya.


"Tunggu test darah kamu, setelah itu kita tau kamu kenapa."


Tasya mendesah pelan. "Kenapa harus test darah, aku gak kenapa-kenapa, pusing aja."


Al hanya mengangguk-nganggukan kepalanya, dia tidak mau bicara tentang ini dulu pada Tasya sebelum dia mengetahui pasti hasil diagnosisnya. Tak selang beberapa lama Angkasa berlari masuk bersama Belva ke ruangan itu.


Tadi saat di perjalanan dia bertemu Belva yang baru saja keluar dari UGD, karena dia panik mendengar Tasya pingsan akhirnya dia ikut ke sini bersama Angkasa.


"Al ini hasilnya." Angkasa memberikan amplop dari lab rumah sakit pada Al dan Al menerimanya.

__ADS_1


Dia membuka amplop itu penuh harapan, di dalam hatinya dia terus merapalkan doa semoga hasilnya ...


"Positif." Al bergumam, wajahnya terlihat senang dan matanya berbinar. Tasya yang mendengar itu mengubah posisi duduknya dan menatap Al keheranan.


"Positif apa, aku sakit apa?" Tanya Tasya.


Al reflek memeluk Tasya dan menciumi wanitanya itu dengan sayang. "Kamu hamil, Sayang. Ada Aldo Junior di perut kamu sekarang."


Tasya, Angkasa, Belva dan Viko melongo. Lebih tepatnya Tasya yang kaget dan langsung membaca sendiri hasil diagnosisnya. Kadar Hcg di sana menyatakan kalau Tasya hamil.


"Mass anak kitaaa, Mass aku hamil. Belva, Angkasa gue hamil!" Ucap Tasya setengah berteriak dan membalas pelukan Al.


"Makasih, Sayang. Makasih karena kamu kasih aku kesempatan untuk menjadi seorang ayah."


Mendengar itu Belva memeluk lengan Angkasa seraya menatap kebahagiaan Tasya dan Al. "Saaa kita jadi Om sama Tante!"


"Asli gua seneng banget!" Balas Angkasa.


Inilah yang mereka tunggu-tunggu dan akhirnya semuanya terkabulkan. Akan ada manusia kecil diantara mereka. Akan ada seorang anak kecil yang nantinya jadi bahan mainan untuk Om dan Tantenya. Tentu mereka sangat senang.


Viko yang melihat itu mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Tasya hamil? Lalu bagaimana rencana kedepannya? Ahh Viko benci semua ini, dia harus memutar otak lagi untuk ini. Kenapa Tasya bisa hamil saat dia kembali ke sini, saat Viko sudah maju beberapa langkah?


Tentu anak akan membuat keduanya semakin sulit dipisahka, Viko akhirnya memutuskan keluar dari ruangan itu dan membanting pintu ruangan Al dengan keras.


Tasya sedikit kaget, tapi tidak berlangsung lama, kebahagiaan ini akan sia-sia kalau dia lewatkan hanya untuk memikirkan Viko. Dia sekarang sedang mengandung, akan buruk hasilnya jika dia stress dan banyak pikiran.


Belva mendekat ke arah Tasya dan menggenggam kedua tangannya. "Selamat ya, Sya, Al. Gue bahagia banget denger kabar ini dari kalian. Inget, Sya sekarang lo gak sendiri, Lo berdua. Jangan stress, atur pola makan, rutin checkup ke dokter untuk segala hal. Biar sehat bayinya."


"Bener, jangan pikirin hal penting dan kecapean. Kemarin lu keliatan stress banget, itu kenapa lu pingsan dan darahnya rendah banget kata Al. Lu harus pikirin diri lu sendiri mulai sekarang," sambung Angkasa.


"Iya, makasih yaa. Gue bakalan berusaha yang terbaik buat kehamilan gue. Kawal sampe lahir ya!"


Mereka semua tertawa, baru mereka berempat yang tau soal ini. Monik, Yoda dan Arka pasti senang mendengar kabar ini. Apalagi Monik yang memang paling menggebu-gebu soal kehamilan Tasya yang tak kunjung datang. Dia pasti akan senang sekali.

__ADS_1


__ADS_2