My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Suami Siaga Idaman Ibu Komplek


__ADS_3


Hari ini adalah hari Sabtu, mereka tidak memiliki jadwal ke rumah sakit. Setelah sarapan Al mengajak istrinya jalan-jalan keliling komplek. Ibu hamil itu tidak boleh kelelahan tapi kalau olahraga pagi begini tentu baik untuk kesehatannya.


Tasya juga senang sih, karena ya memang mereka sekarang bertiga. Meskipun perutnya ini belum membesar tapi tetap saja bayinya meski masih kecil begini dia hidup, dia pasti merasakan suasana pagi ini dengan senang.


"Anak papa happy?" Tanya Al seraya mengusap perut Tasya.


Tasya melihat itu terkekeh. "Happy Papa, tapi lebih happy Mamanya."


"Kalau mamanya harus selalu happy dong, soalnya berpengaruh buat anak dan papanya," ucap Al seraya mengusap keringat Tasya dengan sapu tangan yang dia bawa.


"Cape ya?” Tanya Al pada sang istri.


"Sedikit tapi gapapa, ternyata jalan santai kaya gini bikin aku sedikit fresh, udah lama juga gak jalan kaya gini," jawab Tasya.


"Iya kalau ada kesempatan kita usahain kaya gini ya, Sayang? Biar kamu sama anak kita sehat."


Tasya mengangguk, dia paham kok. Meskipun ya dia malas berolahraga sebenarnya. Tapi dia tidak boleh egois. Dia juga mulai memakan makanan yang tidak dia sukai tapi baik untuk anaknya, dia akan menjadi seorang Ibu, tentu dia harus memberikan yang terbaik pada anaknya dari sejak dini.


Sepanjang jalan mereka di sapa banyak orang, mereka tentu mengenal Al dan juga Tasya yang memang terkenal sebagai pasangan dokter muda di sana. Tak jarang juga mereka meminta bantuan Tasya dan Al kalau membutuhkan pertolongan dokter dengan segera dan mereka memang dikenal baik di sana.


Mereka melewati segerombolan ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan tukang sayur keliling. Tasya jarang sih begini, karena memang dia dan Al sering belanja bulanan jadi semuanya sudah tersedia di kulkas.


"Selamat pagi, Dok," sapa Ibu-ibu itu.


"Selamat pagi Ibu, rajinnya udah persiapan masak ya?" kata Tasya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Iya, Budok. Biasa suami saya rewel kalau belum ada makanan jam 7 pagi, beda sama Dokter Al yang kayanya siaga sekali," balas Bu Dina.


Al hanya terkekeh, dia memang tidak pernah menurut apa-apa sih pada Tasya selama ini. Karena memang semuanya dilakukan bersama-sama, mereka harus memahami satu sama lain.


"Eh Dokter Tasya dan Dokter Al, tumben loh jalan-jalan pagi begini," ucap Bu Mutia.


"Iya nih, Bu. Lagi membiasakan diri buat jalan pagi," Balas Tasya.


"Biar sehat juga ya, Dok?" Tanya Bu Fara.


"Alhamdulillah istri saya sedang hamil, Bu jadi kami mulai membiasakan diri untuk melakukan hal kecil seperti ini," jawab Al.


Semua yang ada di sana ikut senang, mereka juga menunggu kabar itu sejak lama. Dari sejak awal pindah ke sini. Sudah pasti mereka merasakan kebahagian yang terpancar dari keduanya.


"Selamat loh, Dokter Tasya. Akhirnya isi juga, semoga anaknya sehat-sehat terus. Jangan kecapean juga dok, Ibu hamil enaknya manja-manja sama suami," goda Bu Fara.


"Bener loh apalagi dokter Al itu perhatian sekali, dulu suami saya mana mau mengantarkan saya jalan pagi-pagi, tetap saja diperlakukan seperti pembantu yang harus mengurus rumah. Duhh saya jadi ingin mencari suami baru," keluh Bu Mutia.


Tasya terkekeh mendengarnya, ya memang sih dia juga sukanya bermanja-manja dengan Al akhir-akhir ini. Menyenangkan ternyata melakukannya ketika sedang hamil. Untung saja Al memang perhatian, boleh lah dia berbangga diri karena memiliki suami seperti Al.


Sudah Tasya bilang kalau Al memang sangat perhatian, sesampainya di rumah Aku sudah membuatkannya susu dan juga membawakan vitamin untuknya.


Tasya jadi baper, apalagi mendengar keluh kesah ibu-ibu komplek tentang suaminya. Memang Al paling manis satu dunia. Kalau sudah punya Al kenapa dia harus melirik yang lain, sudah mendekati kata sempurna.


"Ayok anak papa harus minum susu," ucap Al seraya mengulurkan gelas berisi susu itu pada Tasya.


"Makasih loh Papa," balas Tasya terkekeh.

__ADS_1


"Sama-sama, Mamanya bayi." Al kembali mengusap-usap perut Tasya dengan lembut.


Tasya meminum satu teguk susunya seraya menatap Al. "Masa ibu-ibu komplek mau punya suami kaya kamu. Padahal kamu cuma ada satu di dunia, cuma punya aku."


"Kamu cemburu, Sayang?" Tanya Al yang beralih mengusap pipi istrinya karena ya gemas saja masa dia cemburu dengan ibu-ibu komplek yang tidak mungkin juga Aku bersama mereka. Emang bumil sensitif.


"Ya cemburu orang kamu digodain gitu," jawab Tasya yang kembali meminum susu miliknya tanpa beralih dari wajah suaminya.


"Mau bukan berarti harus aku, aku kan sama kamu. Lagian ibu-ibu itu seneng kamu hamil, seneng karena kita mau punya anak, Cantik. Mereka ikut bahagia karena bakalan nambah satu anak kecil lagi di komplek ini," ucap Al yang kini memeluk Tasya dan menciumi pipinya.


"Emang kalau nanti anak kita lahir boleh main di luar? Kamu mau ajakin dia main gak? Nanti mau diajak main petak umpet?" Tanya Tasya bertubi-tubi.


"Mau, aku bakalan luangin waktu aku buat anak kita, buat kamu, buat keluarga kita. Aku mau anak kita gak kekurangan kasih sayang meskipun orang tuanya sama-sama produktif."


Tasya mendadak diam, dia malah jadi kepikiran. Mereka berdua ini sama-sama sibuk sebagai dokter, nanti anak mereka bagaimana ya? "Apa aku berhenti kerja aja ya, Mas?"


"Kok gitu ngomongnya, kenapa?" Tanya Al. Takutnya dia ini salah bicara sampai Tasya kepikiran. Tapi sepertinya memang sudah kepikiran.


"Ya nanti anak kita sama siapa? Aku gak mau gak bisa rawat anak aku dengan baik, aku maunya dia dekat sama aku. Aku mau anak aku ngerasain punya mama dan beruntung aku jadi mamanya dia."


Tasya sedih sih, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya. Dia saja dibuang sejak kecil dan hidup dengan kebencian tak berdasar, belum lagi setelah besar dia mendapati fakta kalau ibunya jahat dan menginginkannya mati saat dia depresi berat hanya karena keluarga barunya.


Dia tidak mau anaknya merasa kalau Tasya tidak memperhatikannya dan memilih pekerjaan. Dia tidak mau anaknya tumbuh seperti Tasya, ya mungkin kalau pintarnya boleh tapi mentalnya harus bagus, karena Tasya tau hidup dalam mental yang lemah itu tidak enak.


Al menghela napasnya, dia tau sih apa yang menjadi kecemasan Tasya apalagi masalah hidup Tasya memang tak sesepele itu. "Dia pasti akan beruntung punya mama kaya kamu, belum lahir aja kamu udah mikirin dia sampai sebegininya, itu artinya kamu sayang sama dia."


"Beneran?"

__ADS_1


Al mengangguk dan mengembangkan senyumnya. "Meskipun nantinya kita membutuhkan pengasuh untuk membantu, tapi kita gak akan lepas dari tumbuh kembangnya, Sayang. Kita akan pastikan semuanya terpenuhi dan berjalan tanpa ada yang berkorban."


Tasya menatap Al, mencoba meyakinkan dirinya sendiri sebenarnya. Tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tapi perkataan dan afirmasi positif seperti ini memang sedang dia butuhkan. Apalagi dia baru hamil dan pasti sangat berat juga pikirannya.


__ADS_2