My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Kondisi Mental Tasya


__ADS_3


Semalam Tasya benar-benar down. Setelah bicara dengan Radit dia benar-benar langsung terlelap setelah meminum obatnya. Jujur Al khawatir dia sampai menutup kaca yang ada di sana, jadi kalau Tasya bangun dan benar-benar kambuh dia tidak akan bisa melihat bayangan hitam yang selalu menjadi sisi paling kelam dalam hidupnya.


Ya meskipun dia berharap Tasya tidak kambuh, tapi dia berusaha untuk melakukan pencegahan agar tidak terjadi hal yang benar-benar serius setelah ini.


Barulah, setelah napas Tasya teratur dia juga ikut terlelap.


Pagi harinya, Tasya merasakan pusing di kepalanya. Al yang membuat surat izin untuk Tasya agar beristirahat selama beberapa hari, tidak lupa juga dia memanggil psikiater ke rumah. Dia takut, sangat takut karena Tasya tidak banyak bicara saat dia bangun.


"Kamu jangan dulu keluar rumah ya? Sama bunda aja di rumah oke?" Ucap Al seraya mengusap puncak kepal istrinya.


"Aku mau kerja."


"Sayang, kamu kelelahan. Kemarin waktu di rumah sakit itu kamu pingsan karena kelelahan. Kecapean kamu tuh. Dokter Tania juga tadi paham kok. Aku konsultasi sama dia sebelum minta izin."


"Tapi, Mass ... "


"Sekarang bangun, kita sarapan setelah itu bayinya Papa harus minum susu. Dia lapar, Sayang. Ayok," ajak Al.


Tasya menggeleng, dia tidak berselera makan atau apapun hari ini. Dia hanya ingin bekerja dan menyibukkan diri, karena jujur kepalanya pusing dan di dalam sana mereka saling bersautan itu membuat Tasya sangat stress.


"Nanti ada dokter Lizabeth yang akan periksa kamu, kamu pasti butuh penanganannya, kan?" Tanya Al.


"Aku gak gila." Entah kenapa dia malah sensitif pagi ini. Di posisi seperti ini membuat Al serba salah. Dia tidak menganggap Tasya begitu tapi ... Baiklah dia sah bicara. Seharunya dia cari kata-kata yang lebih baik lagi.

__ADS_1


Al duduk di tepi ranjang dan memeluk Tasya dengan perhatian, membawah Tasya dalam dekapannya dan membiarkan gadis itu melupakan apa yang dia rasakan.


Tubuh Tasya gemetar, dia merasa kok kalau dia lebih sensitif pagi ini. Dia juga tidak tau kenapa padahal konsultasi dengan dokter Lizabeth memang dia lakukan dua bulan sekali. Tasya menyeka air matanya. "Maafin aku ya udah marah sama kamu."


"Kamu butuh aku? Biar aku temenin kamu ya?" Tawar Al.


Tasya menggeleng tentu tidak boleh, kalau Tasya tidak ada di rumah sakit, tentu Al harus ada di sana. Banyak yang membutuhkan dia di sana dibandingkan Tasya. "Aku konsultasi kok nanti, jangan khawatir."


"Jelas aku khawatir karena aku tau kamu gak baik-baik aja, Sayang."


Memang tidak baik sebenarnya, perasaannya masih berat dan mengganjal. Tapi Tasya mencoba untuk tersenyum dan kembali menghapus air matanya. "Aku gapapa, ayok anak kita lapar. Aku mau sarapan."


Sebenarnya kalau Tasya begini malah membuat Al semakin cemas. Tapi memang dia juga tidak bisa seenaknya dalam pekerjaan. Jadi ya mau bagaimana lagi. Al mengiyakan ajakan Tasya dan mereka pun turun ke bawah untuk sarapan.


"Iya, Sayang. Aku langsung pulang." Al mengecup puncak kepala istrinya dan tersenyum saat sudah sampai di bawah karena mereka semua lengkap.


"Eh sayang-sayangnya Bunda. Gimana nyenyak tidurnya?" Tanya Diana. Diana semenjak mengetahui Tasya hamil rasanya adalah orang yang paling khawatir mengenai apapun tentang menantunya.


"Nyenyak, Bund." Tasya berusaha tersenyum meskipun itu tipis sekali. Dia memang tidak enak perasaan saja.


"Selamat ya, Nak. Kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua dan kamu Al. Jaga istrinya dengan baik," ucap Haris.


Al menghormat pada sang ayah sebagai tanda kesigapan. Tentu Al akan menjaga istri dan anaknya. Meskipun dia sendiri banyak takutnya mungkin ini kali ya yang dirasakan orang tua baru seperti mereka.


Pembicaraan yang cukup singkat memang, Fadil juga bilang kalau masalah izin tenang saja. Apalagi kondisi Tasya tidak bagus sekarang, kalau memang terjadi masalah sebagai senior akan dia bantu.

__ADS_1


Pagi ini seperti biasa kalau mereka kumpul semua akan terasa akrab dan saling bercanda. Tapi tidak dengan Tasya yang kali ini nampak terdiam dan fokus menikmati makanannya. Itu juga siapanya sedikit-sedikit.


Diana khawatir kalau boleh jujur, memang keputusan ini mereka salah ambil langkah. Karena mereka tidak tau juga kalau Tasya sedang mengandung, keadaannya juga tidak tepat. Jadi dia menatap putranya agar mengajak Tasya bicara.


"Mual, Sayang? Atau lagi gak mau makan itu?" Tanya Al seraya mengusap punggung istrinya.


Tasya menggeleng seolah baik-baik saja, setelah itu kembali melanjutkan makannya. Nahkan galau lagi Al, apakah dia harus berangkat kerja atau tidak.


Bahkan sampai sarapan pagi ini selesai dan hanya menyisakan mereka berdua, Tasya masih terdiam. Dengan inisiatif Al membuat susu dan memberikan vitamin pada Tasya. "Sekarang minum dulu."


Tasya menerima uluran gelas dari Al dan meminumnya. Meskipun dia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya, dia masih tau kalau dia sedang hamil dan anaknya tidak boleh dia siksa begini.


Melihat itu Al berlutut di hadapan kursi Tasya. Dia mengusap perut Tasya yang memang sudah sedikit menyembul keluar. Mungkin benar ya kalau kehamilan sudah dipublikasikan anaknya akan terlihat jelas. meskipun masih sangat kecil.


"Sayang jagain Mama ya? Jangan rewel selama papa kerja. Ingetin Mamanya buat makan 3 kali sehari. Jangan sedih-sedih juga." Al kini menciumi perut Tasya dan tersenyum gemas. dia gemas sekali memang melihat perut Tasya yang berisi bayi ini.


Tasya sedikit tersenyum karena perlakukan Al dan mengusap rambut suaminya. "Aku baik-baik aja, bakalan baik-baik aja."


"Tetep harus dijagain ya mamanya, Baby. Kamu juga jangan kenapa-kenapa di dalam sana. Jangan bikin mamanya sakit ya, pinter. Papa sayang kalian berdua." Al kembali memeluk perut istrinya. Sungguh dia mau Tasya baik-baik saja sekarang.


Melihat itu Diana tersenyum. Ternyata tanpa diarahkan pun putranya ini memang sudah paham apa yang dia lakukan. Perasaan Tasya pasti sensitif dan perhatian seperti itu pasti sangat dia butuhkan sekarang.


Dia jadi lega kalau begini, ya nanti juga dia akan banyak bicara dengan Tasya sebagai seorang Ibu. Karena memang dia tidak boleh dibiarkan sendirian, takut-takut kalau kejadian dulu terulang lagi akan bahaya nantinya.


Mungkin soal Lidya nanti akan dia bicarakan lagi dengan Radit, karena memang di luar wewenangnya juga meskipun Radit sudah menganggapnya sebagai orang tuanya. Karena memang kesabaran Tasya itu penting. Mereka berusaha menjaga kondisi mental Tasya agar tetap baik jadi memang harus dicari jalan keluarnya agar sama sama enak juga.

__ADS_1


__ADS_2