
Pagi ini Al datang lebih dulu di bandingkan yang lainnya, karena hari ini Tasya harus merangkap tugas. Setelah jaga malam dia harus kembali melakukan intership seperti biasanya. Oleh karena itu sebagai suami yang sigap Al harus mengingatkannya untuk sarapan dan minum vitaminnya.
Biasanya jam segini dokter jaga malam akan beristirahat di ruangan khusus dan memejamkan mata sebentar, Tasya pasti ada di sana. Jadi setelah membeli sarapan dia langsung bergegas ke ruangan Tasya.
Langkahnya terhenti saat melihat Viko yang duduk di samping Tasya seraya memperhatikan istrinya yang sedang terlelap. Memang hanya ada Tasya di sana, mungkin yang lain berada di ruangan lain atau mencari sarapan.
Perlahan Al berdiri di hadapan Viko yang kini terkesiap saat menatap Al di hadapannya. Namun dengan senyum Viko berdiri menghadapi Al.
"Ini ruangan dokter jaga, ngapain lu di sini?" Tanya Al yang tidak sungkan lagi menggunakan bahasa non formal, karena memang tidak ada siapa-siapa juga.
"Santai, takut banget. Gua cuma mau ucapin terima kasih ke Tasya karena semalam dia yang jahit luka gua," ucap Viko santai sembari menunjukkan luka di dahinya.
"Udah kan? Lu boleh keluar," kata Al dingin.
Viko mengangguk-nganggukan kepalanya dengan senyum yang sedikit meledek. Kalau bukan di rumah sakit mungkin Al sudah bertindak seperti dulu saat memukulinya di jalan raya sayangnya ini rumah sakit.
"Btw parfum Tasya masih sama kaya dulu, itu gua yang minta dia jangan pernah ganti parfum," ucap Viko.
Al mengepal kuat saat mendengar itu, bukan karena perkataannya tapi tindakan seperti itu sudah kurang ajar menurut Al. "Lu keluar atau gua seret?"
Viko tertawa renyah, suka saja dia melihat ekspresi Al seperti itu. Karena dia tau, Al akan merasa tertampar untuk kesekian kali karena selalu kalah darinya sejak masih SMA, apalagi urusan hati Tasya.
"Santai boss, oke oke gua keluar. Salam buat Tasya, bilang kalau natap dia dari jarak dekat seperti tadi malam itu buat gua semakin jatuh cinta." Setelah mengatakan itu Viko keluar dari ruangan itu.
Aneh bukan? Dia sudah memiliki istri, istrinya mengalami keguguran dan bisa-bisanya dia mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Tasya? Al tidak marah, hanya saja dia kesal melihat wajah tengil Viko yang seolah menantangnya. Tapi Al tidak ingin banyak berpikir. Tujuannya ke sini Tasya kan? Jadi biar dia fokus pada Tasya saja.
Al duduk di samping Tasya yang masih terlelap, sepertinya dia kelelahan. Namun saat Al mengeluarkan sarapan tiba-tiba Tasya terbangun dan mengerjapkan matanya. "Mass."
"Selamat pagi, Tuan Putri. Gimana, puas tidurnya?" Tanya Al.
Tasya menggeleng, lalu mendekatkan kursinya pada Al. Karena tidak ada siapa-siapa dia jadi bebas untuk menyender di lengan Al. "Belum, aku masih ngantuk. Tapi harus lanjut nugas pagi."
__ADS_1
"Yaudah gapapa, nanti pulangnya kita lanjut tidur. Sekarang makan dulu sarapannya, setelah itu minum obat sama vitamin biar badan kamu fit," ucap Al.
Memang Al ini adalah orang yang paling tau apa-apa yang Tasya butuhnya. Tasya tersenyum melihat suaminya setelaten ini dalam menjaganya. Jadi dia kecup saja pipinya. "Hehe, kangen."
"Sayang, jangan godain aku di sini."
"Padahal cium aja loh gak godain, kamu tuh dasar mesum!" Cibir Tasya.
"Gapapa, mesum gini juga kamu suka aku."
Tasya menggeleng pelan, memang bisa-bisanya ya Al kalau menjawab. Kelakuan ajaibnya terkadang membuat Tasya kesal tapi juga senang. Tapi ya namanya juga Al, dia sudah terbiasa dengan semua sikap dan sifat Al.
"Semalem Viko kamu yang tangani?" Tanya Al tiba-tiba. Tasya yang tadinya akan menyuapkan makanan, kini malah menatap ke arah Al.
"Iya, karena dia bilang sama Dokter citra mau aku yanh tangani." Meskipun Tasya agak takut untuk mengatakannya tapi bukan berarti dia harus berbohong pada suaminya, kan? Jadi dia pasti akan menceritakan semuanya pada Al tanpa ada yang perlu dia sembunyikan.
"Kenapa harus kamu?" Tanya Al lagi.
"Maaf, ya?"
"Kenapa minta maaf, Sayang? Aku cuma nanya dan memastikan itu aja," ucap Al.
"Tapi kamu tau darimana?"
"Angkasa," jawab Al asal, tidak mungkin dia memberitahukan kejadian yang sebenarnya mengenai pertengkarannya dengan Viko pagi ini. Bisa-bisa dia panik duluan dan Al tidak mau itu terjadi.
Setelah selesai sarapan bersama Tasya, Al menuju ke ruangannya. Di sana sudah ada Belva dan juga Yoda yang sedang mengisi buku log mereka dan mengerjakan beberapa hal.
"Dari Tasya?" Tanya Belva.
Dia mengangguk seraya mengambil kursi di samping Belva. Namun memang terlihat aneh saja, tidak fresh seperti biasanya. "Lu enapa sih?" Tanya Yoda keheranan. Namun Al hanya menggelengkan kepalanya.
Bukan tidak ingin cerita, tapi ini masih harus dia selidiki dulu. Dia juga tidak mau kalau sampai pekerjaan mereka terganggu. Jadi lebih baik kalau Al menahan cerita ini sendiri dulu sampai waktunya tepat.
__ADS_1
"Kata Angkasa semalem Viko masuk UGD, dahinya luka dan Tasya yang tanganin," ucap Yoda yang mencoba menebak apa yang terjadi pada sahabatnya ini..
"Tau, tadi Tasya cerita."
"Heran, kenapa kebetulan banget Tasya yang tanganin. Heran," gerutu Belva yang memang belum mengetahui cerita apapun dari Angkasa.
"Dia yang minta sendiri ke Dokter lain kalau harus Tasya yang tangani," ucap Yoda lagi.
"Gila, gue yakin nih pasti Viko ada apa-apanya. Lagian aneh gak sih lo. Kalau misal dia gak cinta ke Bella kenapa Bella sampai hamil coba. Dua kali, terkahir pas pertunangan Al sama Tasya dulu dia lagi hamil, kan? Terus kenapa masih kaya ngebet banget sama Tasya?"
"Cowok bisa gitu, Bel. Kalau gak dapet kepuasan dari ceweknya atau bosen dia bisa dengan mudah cari mangsa lain di luar sana. Apalagi untuk ukuran cowok kaya Viko. Dia dikasih Tasya aja gak bersyukur, kan? Malah selingkuh, belum tentu dia gak ngulangin kesalahan lama."
"Emang iya?"
"Iya, cowok kebanyakan begitu."
"Lo juga dong?" Tanya Belva mengintimidasi.
"Sebagai mantan buaya gua katakan kalau gua pernah berengsek dan itu yang gua rasain. Gak pernah puas ssma satu cewek tapi sekarang gua udah tobat kok. Gak main cewek lagi."
"Iyalah, jomblo gini siapa yang mau lo mainin?"
"Kurang ajar!"
Belva dan Yoda berseteru, tapi tidak dengan Al yang kini mencoba mengumpulkan puzzle yang dia temukan. Sebenarnya apa yang Viko rencanakan? Apa dia memperalat Bella untuk kembali mendapatkan Tasya?
Belva melirik ke arah Viko, dia tau kalau ada yang sedang Al pikirkan. Bagaimana pun mereka sudah berteman cukup lama, Belva tau kalau Al kini sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa sih lo?"
"Bantuin gua pilihin parfum yang terbaik buat Tasya."
Belva menyerngitkan dahinya, jadi Al diam begitu seperti orag stress karena memikirkan parfum? Memang aneh sekali orang kalau sudah menikah. Tanpa bertanya lagi Belva hanya menganggukkan kepalanya mengikuti permintaan Al.
__ADS_1