My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Kecurigaan Al


__ADS_3


Sebagai sarapan, Tasya dan Al memilih untuk makan lontong kari di jalan yang mereka lewati. Sebenarnya Tasya tadi bilang kalau dia sampai di rumah akan membuat sarapan untuk mereka. Tapi Al melarangnya, dia tau Tasya juga pasti lelah semalaman bertugas di UGD. Belum lagi dia banyak pikiran. Tidak, Al tidak akan membiarkan istrinya kelelahan.


Dan di sinilah mereka sekarang, makan lontong kari sembari membicarakan soal pekerjaan mereka di rumah sakit. Ya memang apalagi yang akan dibahas, pasti tidak akan jauh-jauh dari rumah sakit.


"Tapi kamu masih enjoy kan jalaninnya?" Tanya Al.


"Masih kok, walaupun emang kadang cape juga. Tapi kedepannya juga pasti terbiasa," jawab Tasya.


"Bagus kalau kamu masih menikmati, kita lewatin bareng-bareng, ya?" Ucap Al.


Tasya mengangguk seraya tersenyum. Sejujurnya dia sangat lelah sekali karena kurang tidur. Tapi selalu ada Al yang mendukung dan memberikannya semangat. Jadi rasa lelahnya seperti tidak terasa.


Setelah selesai sarapan mereka pulang ke rumah untuk beristirahat. Mereka bekerja selama 40 jam seminggu dan 8 jam perhari. Jadi mereka mendapat libur 2 hari yaitu di hari weekend seperti ini.


Al sudah mandi lebih dulu, jadi dia tinggal menunggu Tasya yang sekarang sedang membersihkan diri. Niatnya ingin tidur bersama tapi ternyata Al malah ketiduran. Jujur saja dia lelah sekali setelah jaga malam. Belum lagi memikirkan masalah semalam. Bagi Tasya ini tuntas, tapi bagi Al belum.


Tasya yang keluar dari kamar mandi langsung menatap Al yang sudah terlelap di kasur. Tersenyum saja saat melihatnya, pasti dia kelelahan. Jadi dia tidak akan menganggu gugat tidur suaminya dan duduk di meja rias untuk skincare rutin. Wajahnya ini nampak terlihat kusam karena begadang, jadi dia harus segera menanganinya. Kalau dia sampai jelek nanti kasihan Al. Pikirnya.


Beres dengan aktifitasnya, Tasya naik ke atas kasur. Dia ikut bergabung bersama Al dan memeluknya. Tadinya dia memang mengantuk, tapi memandangi suaminya dari jarak dekat begini ternyata menyenangkan.


Wajahnya tampan, hidung mancung, kulit putih, bulu mata yang cantik menurut Tasya, alis yang sempurna dan bibir tebal yang menjadi kesukaan Tasya sekarang membuatnya betah berlama-lama memandangi wajah Ala sembari mengusap-ngusap pipinya.


Karena iseng Tasya mencium bibir Al dengan lembut, tidak ada perlawanan membuat Tasya terkekeh. Gemas kan? Biasanya kalau Tasya melakukannya ketika Al terjaga dia akan berbalik menyerangnya. Tapi sekarang pria itu hanya diam saja.


Tasya melakukannya berkali-kali, tanpa sadar kalau sejak Tasya mencium bibirnya pertama kali Al sudah terbangun. Al membuka matanya dan menatap istrinya dengan lamat, membuat Tasya kaget karena membangunkan Al.


"Kamu mau goda aku segini hari hm?" Tanya Al yang kini merengkuh pinggang Tasya dan mendekatkan wajahnya pada sang istri. Meskipun Al sering melakukannya tapi Tasya pasti selalu kaget dibuatnya.

__ADS_1


"M-mass? Tadi tuh apasih, ya aku mau tidur harus cium dulu gitu jadi aku cium kamu," ucap Tasya cepat.


"Ciumnya sekali aja?" Tanya Al mengintrogasi.


"Y-yaiya."


"Padahal aku udah bangun dari semenjak ciuman pertama," jawab Al santai.


Tasya membulatkan matanya, jadi dari tadi Al sudah terbangun. Al dia malu sekali serius, dia bahkan tadi mengagumi ketampanan suaminya. Pasti Al akan merasa melayang. Ahh bodo sekali, Tasya.


Al terkekeh, dia memang sempat ingin tertawa tadi. Tapi ya dia menikmati diperlakukan seperti itu oleh Tasya, jadi dia hanya diam saja. Pria itu menarik Tasya dan memeluknya lebih dalam, tidak lupa menciumi bibirnya sebagai bentuk pembalasan.


"Udah aku cium, sekarang kita tidur. Aku tau kamu cape, soalnya aku juga sama. Jadi kita tidur sama-sama. Nanti malam baru deh," ucap Al seraya menutup matanya.


"Malam apa?" Tanya Tasya yang kaget mendengar ucapan suaminya.


"Tidur lagi."


Tasya mendengus kesal, dia sudah travelling loh! Memang suaminya ini senang saja menjahilinya. Al terkekeh melihat ekspresi Tasya, dia pun mengeratkan pelukan pada istrinya setelah itu mereka tertidur pulas.


Al terbangun setelah mendapat panggilan dari Angkasa yang mengatakan kalau dia sudah berada di luar bersama yang lainnya. Untuk sejenak dia menatap Tasya yang masih tertidur pulas di dalam pelukannya. Dia tidak tega membangunkannya. Jadi Al menarik selimut, lalu mengecup bibir Tasya sebentar. Setelah itu dia menemui teman-temannya


Al, Angkasa, Yoda, Belva dan Monik kini saling menatap obat yang Al berikan. Mereka juga telah mencari beberapa referensi termasuk saat di rumah sakit kepada beberapa dokter senior.


"Ini udah jelas obat penggugur kandungan, terus apa yang lu curigain sih?" Tanya Yoda.


"Ya janggal, Yod. Bella benci Tasya karena gak bisa selamatkan kandungannya. Kalau dia berniat bunuh anaknya kenapa dia pingin anaknya selamat?" Tanya Al heran.


Mereka semua terdiam, benar juga apa yang dikatakan Al. Kalau Bella berniat mengugurkan bayinya sudah pasti dia senang saat anaknya tiada. Kenapa jadi Tasya yang dia benci, padahal sudah jelas-jelas juga mereka sudah lama tidak saling berinteraksi.

__ADS_1


"Gua sempet denger di UGD Viko bilang ke Tasya kalau Bella sempet minum obat itu. Gak make sense sebenernya, tapi dalam keadaan panik dia sempet cari obat itu sebelum ke sini?" Gumam Angkasa.


"Tapi bisa jadi kalau obat itu deket dia jangkau," timpal Yoda.


"Tapi ini emang terlalu aneh sih, kalau diliat dari pendapat Al. Karena ya aneh aja gak sih dia yang mau gugurin tapi nyalahin Tasya," kesal Belva.


"Kita harus cari tau sih, gue yakin emang ada yang gak beres. Dari mulai kedatangan Viko di Surabaya, Viko yang mendadak hubungin Tasya lagi dan minta nama rumah sakit tempat intership, terus Bella yang keguguran dan di bawa ke rumah sakit tempat Tasya intership," ucap Monik.


"Viko juga kasih hadiah apresiasi untuk Tasya," lanjut Al.


"Hahh??!"


"Tadi pagi kita ketemu, dia kasih satu set perhiasan ke Tasya. Dia nolak, tapi gua terima karena dia bilang untuk apresiasi Tasya dan dokter Alzian."


"Apresiasi pake satu set perhiasan?" Tanya Belva memastikan.


Al mengangguk, ini memang terlalu janggal. Perasaannya mendadak tidak enak. Kalau soal perasaan Tasya dia tau pasti Tasya tidak akan berpaling lagi pada Viko, tapi yang Al takutkan adalah jika Viko merencanakan sesuatu kembali untuk mendapatkan Tasya kembali. Dia takut kalau dia sampai kecolongan lagi seperti waktu itu.


Belum lagi tentang Viko yang selalu menghubungi Tasya hari ini. Saat Al nanti kembali bertugas di rumah sakit, dia akan memastikannya pada Bella. Ini penting demi kebaikan Tasya kedepannya.


Suara pintu kamar terbuka, ternyata Tasya sudah bangun. Mereka yang tadinya sibuk berpikir kini mencoba menetralkan situasi. Tasya tidak boleh tau soal ini, mengingat dia ada riwayat skizofrenia dan mudah overthinking, mereka sepakat untuk menyelesaikan ini di belakang Tasya.


Tasya yang masih mengantuk duduk di samping Al dan memeluk suaminya sambil mengumpulkan nyawanya. Tasya mengadahkan wajahnya pada Al. "Kenapa gak bangunin aku?"


"Pules banget tidurnya gak enak bangunin," ucap Al seraya merapikan helaian rambut Tasya.


"Kecapean ya lo gara-gara jaga UGD?" Tanya Belva.


"Iyaa, tapi gak cape banget sih. Gue suka berbagi tugas sama Angkasa, kadang dia bantuin juga. Emang Angkasa enak untuk dimanfaatkan," jawab Tasya asal.

__ADS_1


"Kurang ajar!" Dengus Angkasa.


Mereka semua terkekeh, ya hiburan memang melihat pertengkaran Tasya dengan Angkasa. Memang mereka juga sedang suntuk, dengan berkumpul begini ya bisa sedikit mengurangi kesuntukan mereka.


__ADS_2