My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Malam Panjang


__ADS_3

21+ diharap bijak sebelum membaca ya.



Seharian berkeliling membuat Tasya dan Al cukup lelah. Mereka sampai di Villa pukul 9 malam. Jadi mereka memutuskan untuk langsung mandi dan beristirahat.


Al menunggu Tasya di kasur sembari memainkan ponselnya, membalas beberapa pesan dan sedikit memantau mengenai masalah intership yang sebentar lagi harus dia dan Tasya hadapi.


Tasya keluar dari kamar mandi dan bergegas ke depan cermin untuk mengeringkan rambutnya, tidak lupa juga melakukan perawatan dan menyemprotkan beberapa titik parfum agar tidur nyaman.


Dia menatap Al yang masih fokus dengan ponselnya, lalu menghampiri Al untuk melihat apa yang tengah dilakukannya. "Lagi ngapain?"


"Cek grup intership. Beberapa minggu lagi pemilihan wahana," ucap Al.


Tasya menatap sendu, jujur saja dia takut kalau tidak bersama Al. Masa iya baru menikah harus LDR. Kan tidak lucu juga. "Kalau gak sewahana ajuin banding aja, kan bisa. Aku mau sama kamu."


"Ayah kemarin nyaranin itu, jangan dibawa pusing dulu. Masih lama," balas Al yang langsung mendekapnya.


Mata mereka terkoneksi, entah kenapa keduanya merasa ada yang tidak tuntas kemarin. Jantung Tasya kembali berdetak kencang. Kemarin dia sudah mempersiapkan dirinya, tapi kan hari ini belum. Perasaannya masih antara mau dan tidak, takut dan juga masih banyak lagi yang dia pikirkan.


Al menyadari itu, dengan lembut dia mengusap pipi istrinya. "Sayang."


Tasya mengerjapkan matanya saat Al menyentuh pipinya. Aneh, kenapa sekujur tubuhnya jadi panas begini sih? Padahal Al sering melakukannya, tapi kenapa malam ini lain rasanya?"A- hm?"


"Kamu cape gak? Ngantuk?" Tanya Al memastikan. Dia tidak mau sampai memaksakan Tasya kalau sedang cape. Apalagi mereka seharian menghabiskan waktu di luar.


Dengan pelan dia menggeleng, perjalanan seperti itu sudah biasa baginya. Jadi tidak cape sampai berlebihan, masa-masa koass jauh lebih melelahkan.


"Lanjut yang kemarin yuk!" Ajak Al. Ada rasa gemas melihat Al seperti itu. Seperti mengajaknya bermain saat masih kecil. Yang membedakan hanya mainannya saja.


Tasya mengangguk. "T-tapi inget pelan-pelan. Ih aku tuh takut tau, Mas! Kemarin udah gak takut tapi ada Aruna jelek itu." Tasya mengubah posisi duduknya dan melepaskan diri dari dekapan Al.


Al menghela napas, ya dia memang-memang harus pintar membujuk kalau mempunyai istri seperti Tasya. Al memegang kedua lengan istrinya. "I'm not gonna hurt you, i promise."

__ADS_1


Tasya menatap mata Al, di sana ada kesungguhan saat Al.mengucapkannya. Jadi tanpa ragu dia menganggukkan kepalanya pelan. Lagi pula kalau dia terus menunda juga mau sampai kapan?


Mereka menikah bukan karena terpaksa, tapi karena cinta. Jadi apa yang harus dia takutkan sebenarnya. Dia juga paham kalau tidak ada yang namanya siap kalau tidak berani melangkah.


Al tersenyum, setelah mendapat persetujuan dia pun mendekatkan wajahnya pada Tasya. Dengan lembut dia mencium bibir manis itu, lalu menautkannya. Tasya perlahan memejamkan matanya, Al bilang dia harus rileks agar bisa menikmati ini dengan baik.


Bibirnya kini mulai berani membalas sesapan yang Al perbuat, menikmati bibir Al dengan aroma maskulin pria itu membuat dopamin dalam otak Tasya bekerja, menghasilkan rasa bahagia yang membuatnya melayang.


Gigitan kecil terasa pada bibirnya, membuat lidah Al bisa masuk ke rongga mulutnya dan mengabsen setiap giginya. Tidak lupa mengajak lidahnya bermain dan saling bersautan. Deru napas mereka mulai tidak beraturan.


Dengan perlahan Al mulai membaringkan tubuh Tasya dan mengukungnya di bawah. Ciumannya beralih ke daerah telinga, memainkan titik sensitif itu dengan lembut dan sesekali membisikkan kata-kata sensual di sana.


"You look so pretty, baby."


Tasya meremang, tubuhnya seketika merinding menikmati sensasi aneh yang datang padanya, apalagi saat Al menghembuskan napasnya di sana. "Emphh, M-mass."


Al yang mendengar itu tersenyum, sungguh kenapa suara Tasya begitu seksi malam ini di telinganya. Membuat dia makin bergairah saja.


Ciumannya semakin turun menelusuri leher jenjang istrinya. Menciptakan beberapa tanda kepemilikan, karena masih banyak lahan yang tersisa yang bisa dia pergunakan di sana.


Napas Tasya sudah tidak beraturan, bahkan keringat sudah mengalir di pelipisnya, tentu ini kali pertama ada yang melihat tubuhnya tanpa sehelai benang. Dia masih beradaptasi dengan ini. "Mas, malu."


"Jangan malu, kan sama aku," ucap Al tersenyum sambil melirik sekilas ke arah istrinya dan setelah itu dia kembali melanjutkan kegiatannya.


Tangannya menjamah tubuh gadis itu dan melakukan remasan-remasan kecil di kedua benda kenyal milik Tasya yang sangat pas di tangannya. Membuat si pemilik kembali melenguh dan mencengkram apa yang terdekat dengan kedua tangannya, apalagi saat Al menjilat bagian ujung dadanya.


"Mass, emmhh kenapa rasanya k-kaya gini?"


Napasnya kian memburu, mencoba menahan pergerakan suaminya tapi tidak bisa menahan sentuhan-sentuhan saat Al menjamah tubuhnya. Tangan Al sudah kemana-mana, bahkan Tasya sudah tanpa sehelai benang pun sekarang. Al unggul karena dirinya masih lengkap, apalagi melihat istrinya tidak berdaya seperti ini dia merasakan ada kepuasan tersendiri.


Tangannya mulai nakal memainkan bagian bawah Tasya yang sudah sangat lembab di sana. Membuat sensasi sedikit perih namun enak secara bersamaan. Tasya terus melenguh karena tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya jauh di luar ekspetasinya.


"Mass a-akku mau-" napasnya tersenggal.

__ADS_1


"Keluarin sayang, gapapa. Come on," ucap Al dengan suara serak. Tasya yang mendengar itu semakin tidak karuan dan pada akhirnya dia keluar untuk pertama kali.


Al membiarkan Tasya mengatur napasnya lebih dahulu, sembari melepaskan pakaiannya sendiri. Ini kali pertama Tasya, meskipun dia juga belum pernah tapi dialah yang harus banyak bergerak.


Tasya berusaha bangun untuk membantu Al namun setelah berhasil melepaskan baju tidurnya Al malah kembali menyesap bibir Tasya seolah tidak membiarkan gadis itu bergerak.


Tangannya juga kembali menjamah setiap inci lekukan tubuh istrinya agar kembali menstimunasi Tasya. Gadis itu baru selesai dengan pelepasannya dan Al malah memancingnya lagi, membuat gejolak dalam diri Tasya meronta-ronta dan meminta lebih dari ini.


Al berhasil melepaskan celananya dan miliknya sudah berdiri gagah di sana. Tasya sedikit takut melihatnya. Tapi dia juga tidak tabu. "M-mas pelan-pelan ya."


Al memberikan kata-kata penenang saat akan memulai ke intinya. Dia juga deg-degan, tidak mungkin selancar itu kalau baru pertama kali praktek. Dia takut membuat Tasya kesakitan. "Rileks sayang," ucap Al.


Di bawah sana sudah sangat basah, cukup untuk pelumas agar kali pertama Tasya tidak terlalu sakit. Dengan hati-hati Al memasukan miliknya pada milik Tasya. Tapi baru ujungnya saja dia sudah merasa kesusahan.


"Akhh, Mas sakit banget." Tasya meremas bantal dan sprey yang ada di dekatnya, jujur ini sakit sekali. Sampai matanya saja mulai berkaca-kaca. Al sedikit panik melihatnya, namun tida mungkin dihentikan juga karena sudah setengah jalan. "Akhh t-tahan sebentar, Sayang. Ini sem-pit."


Al kembali menekan miliknya di sana dengan pelan, sampai dia merasa menghantam sesuatu. Kalau begini tidak ada pilihan lain. Al menciumi leher Tasya dan membiarkan punggungnya dicakar oleh gadis itu. Dia juga kembali memainkan benda kenyal itu agar Tasya melupakan sakitnya, saat Tasya mulai terbuai Al langsung menghentakan miliknya di bawah sana dah akhirnya berhasil menembus pertahanan.


"Akhhhh sakitt, Masss." Kali ini air matanya pecah, benar-benar perih. Al langsung menghapus air mata Tasya dengan ibu jarinya dia juga tidak melakukan pergerakan apapun dan membiarkan dulu Tasya terbiasa dengan keberadaan miliknya di dalam sana. Dia tidak tega sebenarnya, tapi kalau pelan-pelan justru Tasya akan semakin lama kesakitan.


Cup ...


Al mengecup bibir Tasya. "Terima kasih karena kamu percaya sama aku."


Cup ...


Al kembali mengecup bibir Tasya dengan lembut. "Terima kasih karena kamu serahin diri kamu sepenuhnya buat aku."


"Kamu sekarang milik aku seutuhnya, Sayang," lanjut Al menenangkan istrinya.


Tasya terharu, hari ini dia benar-benar menyerahkan dirinya pada Al. Apalagi kebahagiaan seorang istri kalau sudah berhasil memenuhi hak suaminya seperti ini. Mencoba melawan rasa takutnya dan membuat suaminya senang. Tasya mengangguk, dia tidak tau harus bicara apa sebenarnya. Perasaannya campur aduk malam ini.


Merasa sudah cukup terbiasa Al mulai menggerakkan miliknya di bawah sana. Tasya awalnya masih merasa kesakitan, namun perlahan rasa sakitnya berubah menjadi rasa nikmat. Rasa yang baru dia rasakan dan ternyata seluar biasa ini sampai tidak tau bagaimana harus di gambarkan.

__ADS_1


Beberapa menit mereka melakukan itu, Tasya merasa kalau dirinya akan sampai, namun Al mempermainkan tempo seolah tak ingin ditinggal. Sampai akhirnya mereka keluar secara bersamaan.


Mungkin benar, ini adalah malam yang panjang bagi mereka. Menikmati kenikmatan dunia setelah menikah dengan status yang sah dan perasaan saling mencintai.


__ADS_2