
Mengembalikan Mood Tasya memang tidak susah, disogok menggunakan eskrim saja sekarang dia sudah senyum sumringah. Memang gadis kecilnya ini masih seperti anak-anak, tapi ya baguslah. Meskipun mudah marah tapi mudah juga untuk mengatasinya.
Malam ini agak sedikit mendebarkan sih untuk Tasya. Tujuan mereka ke sini kan untuk bulan madu, jadi apalagi kalau bukan ke arah sana pikirannya. Al masih mandi, dia berdiam diri di depan kaca.
Meskipun dia belum siap tapi yasudah, dia bersiap saja. Memakai beberapa wewangian dan juga merapikan pakaiannya. Tidak juga dia memakai lipbalm agar bibirnya tidak pucat. Meskipun Tasya masih tabu dengan hal itu tapi dia sudah mencari beberapa referensi di google agar dia tidak bodoh saat berhadapan dengan Al.
Al yang telah selesai mandi pun mengusak rambutnya menggunakan handuk. Dengan inisiatif Tasya menyuruh Al duduk dan membantunya mengeringkan rambut dengan. hairdryer.
Al memperhatikan istrinya yang begitu telaten mengurus dirinya, bahkan bisa dilihat dari kaca kalau dia begitu cantik malam ini. Perlahan Al mengambil ponselnya dan juga ponsel Tasya. Pokoknya malam ini akan menjadi malam panjang untuk mereka berdua tanpa diganggu oleh siapapun.
"Kamu cantik banget, Sayang. Mau kemana?" Tanya Al yang kini menarik Tasya untuk duduk di pangkuannya. Tasya sedikit kaget saat Al menarik tubuhnya, memang pria ini selalu spontan. Padahal dirinya kan belum siap-siap.
"Hah, m-mau tidur kan kita? Biasa juga kaya gini," ucap Tasya sedikit gugup.
Al terkekeh dia tau kalau istrinya sedang gugup sekarang..Ya ajar saja, mereka kan selama ini berhubungan dalam batas wajar, jadi tidak pernah melakukan hal-hal aneh dan ini pertama kalinya.
Dengan lembut Al mengelus punggung Tasya, membuat sang empu sedikit berdesir akibat perbuatan nakal suaminya. "Mass."
"Boleh sekarang?" Tanya Al meminta izin untuk melakukan lebih dari itu, karena dia mau Tasya melakukannya karena memang dia sudah siap.
"T-tapi pelan-pelan ya, Mas. Aku takut," cicit Tasya.
"Iya aku pelan-pelan, kamu juga rileks. Jangan tegang, aku pasti perlakuin istri aku dengan malam ini."
Perlahan Al mengecup kening Tasya lama, lalu ciumannya turun ke hidung, dan terakhir bermuara dia bibir manis milik Tasya yang sedari tadi memikatnya. Tasya yang sudah mengerti cara mainnya langsung mengalungkan tangannya di leher Al.
Ciuman itu semakin lama, semakin intens. Membuat deru napas mereka menderu seolah bersahutan. Tangan Tasya reflek mengelus tengkuk milik Al, tanpa dia tau kalau itu semakin membangkitkan sisi lelaki pada suaminya. Membuat Al kini semakin memperlihatkan keahliannya untuk istrinya.
Lidah Al bermain di rongga mulut Tasya, lidahnya juga seolah mengajak milik Tasya bermain dan pada akhirnya mereka saling melilit dan memberi feedback satu sama lain.
__ADS_1
Tangan Al sudah tidak bisa diam, perlahan dia menelusup masuk ke dalam baju tidur Tasya dan mengelus perut rata istrinya itu dengan lembut, tangannya semakin leluasa menyingkap tanktop dan naik ke belakang punggung mulus Tasya, mengelusnya dengan sensual sembari mencari pengait bra yang Tasya gunakan.
Tasya yang pertama kali merasakan sentuhan pria pada tubuhnya ini sedikit menggelinjang, merasakan perasaan yang belum pernah dia rasakan dan tanpa sadar menyesap bibir Al dengan kuat. "Emphh."
Tok ... Tok ... Tok
Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk sedikit keras. Membuatnya mereka saling menatap kecewa karena ada perasaan yang tidak tuntas.
"Mass ... "
"Sebentar ya, Sayang. Aku buka dulu pintunya," ucap Al berusaha tenang. Padahal sebenarnya dia sudah bergairah tadi. Memang ada saja yang menganggu kegiatannya.
Al membuka pintu kamarnya, terlihat Aruna yang sedikit kebingungan di depan kamar mereka. "Ada apa, Na?"
"Al tolong aku, k-kamar aku gak bisa ditutup," ucapnya.
Tasya yang mendengar suara Aruna merasa peka dan langsung menghampiri mereka. Jadi rupanya dia yang menganggu quality timenya dengan Al.
"Please, aku udah cape banget soalnya mau rebahan."
"Di sebelah kalian, tuh," tunjuk Aruna pada samping kanannya.
"Sebentar ya, Sayang. Aku gak lama," ucap Al lalu mengusap puncak kepala istrinya. Dia tau kalau Tasya kesal tapi kalau semakin lama Aruna di sini yang ada akan mengganggu aktivitas mereka berdua.
Tasya menunggu di depan pintu sambil menerka-nerka. Ini kan kamar untuk berdua, kenapa juga dia pesan kamar di sini untuk sendirian? Dan lagi kenapa dia bisa tau kalau dia dan Al berada di kamar ini. Ah bikin kesal saja.
Sementara di satu sisi Al mencoba membuat pintu itu tertutup, memang sedikit agak susah sih, namun karena tenaganya kuat akhirnya pintu itu bisa tertutup.
"Makasih ya Al, aku gak tau kalau kamu gak ada bakalan gimana," ucap Aruna dengan matanya yang berbinar.
Tasya berdecih, kenapa dia kesal sekali melihat tingkah Aruna seperti itu? Dia mencium aroma-aroma pelakor dalam diri Aruna. Tingkahnya itu membuat Tasya jengah dibuatnya. Tapi seketika Tasya senang karena Al merespon seadanya dan kembali masuk ke dalam mengajak Tasya. Tidak lupa juga dia mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggunya lagi.
__ADS_1
"Maaf," ucap Al saat sampai di sana.
"Bukan salah kamu, Mas. I'm oke," ucap Tasya lalu tersenyum.
"Emm jadi lanjut?" Tanya Al ragu.
Tasya mengangguk tanpa ragu, Al yang sudah mendapat lampu hijau langsung saja memojokkan Tasya ke tembok, mereka berdua terkekeh, setelah itu kembali memagut satu sama lain.
Cukup lama mereka bermain-main dengan posisi itu, kini Al langsung menggendong Tasya Ala brydal dan membaringkannya di kasur. Perlahan dia naik ke atas tubuh istrinya dan mengukungnya di bawah. Tujuannya kini bukan lagi bibir, tapi leher Tasya yang seputih susu membuat fantasi liar Al berkeliaran.
Dengan lembut dia mengecupi leher Tasya, sesekali dia menghirup aroma yang kini membuatnya candu. Puas dengan itu, Al mulai menjilat dan menyesap leher Tasya sampai menciptakan beberapa tanda di sana.
"Eunghh ... Mass," suara lenguhan dari bibir Tasya terdengar, membual Al semakin semangat melakukannya.
Tangannya kembali menelusup untuk melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi dan kali ini dia berhasil membuka kaitan bra Tasya. Membuat tangannya kini sedikit menelusup ke daerah dada Tasya. Al dapat merasakan milik Tasya sudah sedikit menegang di sana, ketika dia menikmati itu semua tiba-tiba pintu kembali diketuk.
"Sh***!" Umpat Al.
Tasya memejamkan matanya erat, bisa-bisanya saat dia sedang begini terhenti karena suara ketukan pintu. Kali ini keduanya benar-benar kesal, karena ya sudah kepalang loh.
Akhirnya dengan terpaksa mereka kembali menghentikan aktivitasnya. Al kembali membuka pintu, sementara Tasya merapikan baju dan branya yang sudah tak beraturan.
Lagi-lagi Al menghela napas. "Ada apa lagi Aruna, saya dan istri saya akan beristirahat."
"M-maaf Al. Tapi ini penting, keran wastafel di kamar aku patah jadi bocor. Jadi airnya mengalir, aku bingung," ucap Aruna panik.
Kalau begini mau tidak mau Al membantunya lagi, Tasya dapat melihat kini Al keluar kamar dan mengikuti Aruna. Kesabarannya kini habis, Tasya pun ikut keluar dan memasuki kamar Aruna yang memang benar saja kerannya patah.
Saking kesalnya Tasya langsung menuju ke arah telfon di meja dan menekan nomor room service. "Nih ya, Aruna. Kalau ada apa-apa sama kamar kamu tinggal telfon room service, bukan ke suami orang!"
"Halo pak, kamar nomor 046 Royal Suite kerannya BOCOR, tolong segera tangani, SEKARANG!" Ucap Tasya saat telfonnya di angkat dari seberang sana dan lalu menutupnya kembali.
__ADS_1
Dengan tatapan tajam Aruna menatap ke arah Tasya, begitu pun sebaliknya. Tasya yang sudah kepalang kesal lalu menarik tangan Al dan kembali masuk ke kamar mereka.
Sungguh dia sudah tidak mood melakukan apapun sekarang. Akhirnya Tasya menaiki kasur lalu menarik selimutnya. Ya kalau sudah begini gagal sudah rencana mereka kali ini.