
Tasya kembali terdiam setelah bayi yang tadi dia ajak bermain harus ikut pulang bersama Amanda dan Abangnya. Dia jadi merasa kesepian, jadi dia hanya duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan lantai.
Memang jika seperti ini Tasya sulit mendefinisikan perasaannya, dia tidak mengerti apa yang harus diutarakan. Jadi selain diam, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.
Bunuh dia, Sya!
Dia pasti bakalan celakain kamu lagi?
Serius kamu menerima dia kembali setelah apa yang dia lakukan?
Anak mama!
Dia itu gak sayang sama kamu! Kamu itu udah dia buat puluhan tahun yang lalu!
Suara-suara itu menggema di pikirannya ketika sendirian seperti ini. Semua saling bersautan seakan dia dikerumuni oleh orang-orang yang menghakiminya.
"Dieemmmm!!!! Berisikkk!!! Kalian itu gak nyata, kalian itu cuma pengganggu!!!" Tasya berusaha menyadarkan dirinya sendiri, dia menutup kedua telinganya dengan lengan dan menarik rambutnya sendiri. Sungguh perasaannya tidak nyaman sekarang.
"Syaaa!!" Al yang memasuki kamar langsung menaruh susu di nakas dan menghampiri istrinya yang sedang histeris.
"Jangan ganggu akuu!!! Pergiii!!!" Tasya berusaha menjauhkan tangan Al darinya, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan terus berteriak.
"Tasyaaa ini akuu!! Heyy, Tasya!" Al mendekap Tasya dengan Al, namun gadis itu terus berontak.
"PERGI JANGAN GANGGU AKU, AKU GAK MAU DIA BUNUH AKU LAGI!! AKU GAK MAU SAMA KAMU!!!" Mendengar teriakan itu, Zea yang memang di kamar sebelah langsung masuk ke kamar Al dan Tasya bersama Fadil.
"Bang tolong dicazepam di laci," pinta Al pada Fadil.
Sementara Al masih mendekap Tasya yang masih histeris. Seharusnya tadi Al tidak membiarkan Tasya sendirian. Dia tidak boleh melamun sedikit saja.
Fadil membuka suntikan baru dan mendosis obat, setelah itu dia mendekat ke arah Tasya dan menyuntikan obat itu di lengannya. Untuk sesaat dia masih berontak, namun lama-lama obatnya mulai bekerja dan membuatnya perlahan menenang.
__ADS_1
"Makasih, Bang."
Fadil mengangguk, syukurlah kalau obatnya bekerja dengan cepat. Sungguh, Zea baru pertama kali melihat Tasya separah ini. Berbeda dengan Al yang pernah menyaksikan sendiri bagaimana Tasya mencoba melenyapkan dirinya sendiri di masa lalu.
Dia bernapas lega, untuk saja dia datang telat waktu. Kalau tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang sangat fatal. Setelah melihat Tasya menenang, Fadil mengajak Zea keluar dari sana. Karena yang memang Tasya butuhkan sekarang adalah ketenangan. Jika banyak orang yang turun tangan dia malah akan terganggu.
"Aku takut ... " Gumam Tasya pelan.
Al terus mendekap tubuh Tasya dengan erat dan menciumi puncak kepalanya. "Ada aku, jangan takut apapun. Sekarang istirahat."
Tasya menggeleng, dia tidak mau berisitirahat. Dia merasa ketakutan yang sangat dalam. Namun karena pengaruh obat sepertinya dia tidak bisa menahan efeknya.
Perlahan Tasya memejamkan matanya dan Al pun bernapas lega. Dibaringkannya tubuh Tasya di kasur dan perlahan Al kembali memeluk Al. Kalau boleh jujur dia sedih harus melihat Tasya yang kembali kambuh begini.
Selain tidak bisa diajak bicara, Tasya juga banyak ketakutan, banyak yang dia rasakan sampai rasanya dia hidup dalam beban yang cukup banyak. "Kamu harus bisa lawan mereka, Sayang. Aku percaya kalau kamu lebih kuat dari mereka."
.
.
.
Tasya melirik sebuah roti dan juga obat yang sudah tersedia di meja. Dia menghela napas berkali-kali. Apa Al akan lelah ya mempunyai istri sepertinya.
Dia sadar kalau sejak kemarin mengabaikan Al, dia takut kalau suatu saat Al akan lelah dengannya yang memiliki mental tidak stabil. Dia juga jadi merasa bersalah pada anak yang ada di dalam kandungannya.
Perlahan Tasya mengusap perutnya dengan lembut. "Maafin Mama ya, Sayang. Maaf kalau kamu harus terlahir dari Mama yang gak sempurna. Maaf nantinya kamu harus punya cap sebagai anak yang lahir dari ibu dengan gangguan jiwa."
Tasya menangis, tentu dia sedih dengan semua ini. Dia sedih karena tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia masih sering kalut dengan pikirannya sampai dia tidak bisa membedakan kenyataan dan halusinasi.
Namun dengan cepat Tasya menghapus air matanya. Sekarang dia sedang baik dalam mencerna keadaan. Perlahan Tasya mengambil roti itu dan meminum obat-obatan yang dia perlukan agar cepat sembuh.
Setelah selesai minum obat, Tasya turun ke bawah. Dilihatnya Diana sedang menyiram tanaman di taman belakang. Dia sadar kalau dia tidak boleh banyak diam. Akhirnya dia menghampiri ibu mertuanya di belakang.
__ADS_1
"Bundaaaa ... "
Mendengar itu Diana berbalik dan tersenyum ke arah Tasya. "Sayang, kenapa turun ke bawah? Ada yang kamu butuhkan? Coba bilang sama bunda."
Tasya menggeleng. "Engga, Bunda. Aku cuma butuh temen bicara aja. Maaf ya kemarin Tasya kambuh jadinya .... "
"Ehh apa-apaan itu? Jangan bilang begitu. Lebih baik kita duduk sekalian berjemur, lumayan masih pagi. Baik juga untuk ibu hamil.
Diana mengajak Tasya untuk duduk di kursi taman, setelah itu dia mengusap punggung putrinya agar merasa nyaman juga.
"Bunda Al tadi sarapan dulu engga?" Tanya Tasya.
"Sarapan sayang, udah jangan pikirin Al dulu. Pokoknya dia udah pergi dengan melakukan segala rutinitasnya dulu sebelum berangkat."
Tasya tersenyum, memang yang dia pikirkan adalah Al. Tapi mendengar kalau Al sudah beres dengan semuanya dia cukup lega. Semoga saja Al tidak kepikiran dengan kondisinya. Tasya berjanji dia harus bisa melawannya lagi mulai sekarang.
"Bunda ... "
"Bunda jangan cape sama Tasya ya?"
"Engga, Sayang bunda gak akan cape dong. Kamu itu udah sama bunda sejak kecil, kamu itu minum asinya bunda dan darah bunda mengalir di kamu, Sayang. Bunda gak akan kemana-mana kok."
Tasya terharu mendengar itu dan memeluk ibu mertuanya. "Bunda, Tasya sayang banget sama Bunda. Sayang sekali."
"Bunda juga sayang sekali sama kamu. Bunda yakin, anak bunda kuat. Anak bunda itu selalu kuat sejak dulu dan bunda yakin."
"Pikirkan soal anak kamu sekarang ya, jangan pikirkan yang lain. Dia lebih butuh fokus dari ibunya, kalau ibunya sedih nanti anaknya juga sedih." Diana dengan sabar mengusap punggung Tasya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tasya mengangguk senang. "Bunda, aku mau jadi mama yang hebat kaya bunda."
"Ayok kita sama-sama belajar. Kamu belajar dari bunda dan bunda belajar lagi menjadi ibu yang lebih baik untuk anak-anak bunda."
Tasya tersenyum dan setelahnya mereka tertawa ringan. Rasanya pembicaraan soal ini rasanya menyenangkan. Tasya selalu suka jika bicara dengan Diana. Dia suka berbagi banyak hal, karena memang semua hal yang dia tidak dapatkan dari Lydia, dia dapatkan dari Diana. Tasya sangat menyayangi bundanya lebih dari siapapun.
__ADS_1