
Terhitung sudah satu Minggu mereka bekerja di rumah sakit, kali ini mereka semua lengkap dan sedang makan siang di kantin rumah sakit. Moment seperti ini nih yang selalu asik, mereka selalu berbagi pengalaman satu sama lain.
"Jadi acara pernikahan Lo sama Arka dua bulan lagi?" Tanya Tasya.
"Iya, karena emang dia juga banyak kerjaan sih. Tapi sejauh ini aman kok," ucap Monik.
"Kok lo gak minta bantuan kita sih, Mon?" Tanya Belva seraya menyeruput just alpukatnya.
"Ya karena Arka bilang gak usah, kalian juga kan cape banyak kerjaan. Lagian tuh keluarga besar gue sama dia tuh suport banget jadi banyak yang urusin, jadi gue sama dia aja santai," kata Monik..
"Tetep aja lu kalah butuh sesuatu bilang sama kita, Mon. Kita mau juga berpartisipasi di acara lu," ujar Al.
"Bener, lu juga temen kita jadi kalau ada apa-apa tinggal bilang. Gak ada kata sibuk, selagi lu prioritas bakalan kita usahain semaksimal mungkin, iya gak?" Kata Yoda meminta persetujuan yang lainnya.
"Bener, lu juga prioritas kita. Jadi jangan lah malu-malu awak, kita pasti nak bantu awak sampai goes to pelaminan!" Balas Angkasa.
Mereka semua terkekeh, ya hiburan juga untuk mereka di siang hari seperti ini. Karena perkejaan dokter ini selain melelahkan mereka dituntut harus memiliki kewarasan tinggi untuk menghadapi pasien. Kan tidak lucu kalau mereka menghadapi pasien dalam keadaan tidak mood.
Tasya berniat membeli air mineral namun sebuah suara menginstruksinya untuk berbalik. "Dokter, Tasya long time no see. Miss me?"
Tasya mengenali suara itu dan benar saja, kan? "Viko?"
"Hug me?" Tanya nya dengan wajah senangnya.
Gila, pria ini sudah gila apa menghampirinya dan bicara seperti itu. "Mending kamu pergi dari sini sekarang!"
__ADS_1
"Kenapa harus pergi?" Tanya Viko tanpa ada dosanya.
"Karena anda sama sekali tidak tau tempat untuk menganggu istri saya," ucap Al dari belakang dan menghampiri Tasya.
"Sepertinya kalian belum mengetahui hal ini. Oke-oke, perkenalkan saya Viko Narendra kepala keuangan baru di premiere." Viko mengulurkan tangannya di hadapan Al dan Tasya.
Benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Viko, dia seniat itu sampai melamar menjadi kepala keuangan yang mereka tempati? Di luar akal sehat, namun tentu tidak ada yang susah bagi seorang Viko Narendra.
"Salam kenal, Pak Viko tapi saya rasa jam makan siang sudah berakhir dan kami pamit duluan." Tasya menarik lengan Al, dia tau Al emosi dari tatapannya, tapi mereka baru di sini, akan sangat berbahaya kalau Al kehilangan kendali.
"Udah, Mas jangan diladenin." Tasya menghampiri teman-temannya yang sama-sama menahan emosi dari pojok kantin. Kenapa rasanya bayang-bayang Viko ini tidak pernah lepas dari kehidupan mereka berdua? Kenapa Viko masih berusaha mendekati Tasya? Tidak habis pikir.
"Dia ngapain lagi sih?!" Tanya Monik tak suka.
"Sumpah demi apapun dia gila, obses banget tu orang. Gua gak habis pikir dia bakalan bener-bener datang lagi!" Cibir Yoda.
Mereka menghela napas, benar apa yang Tasya katakan kalau memang mereka masih baru di sini, jadi lebih baik untuk menghiraukan apa-apa saja yang menurutnya tidak penting.
.
.
.
Tasya menghela napas panjang melihat bouquet bunga yang ada di meja kerjanya bersama satu kotak coklat dengan surat, iya itu dari Viko. Tanpa pikir panjang dia membuangnya ke tong sampah.
"Apa-apaan sih, sumpah gak lucu banget lah kaya gini. Kenapa dia harus datang lagi dan ganggu kehidupan aku sih?!" Geram Tasya frustrasi seraya menyenderkan punggung di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Sejauh ini Tasya dan Al sangat bahagia, meskipun tidak berpengaruh apa-apa tetap saja selalu ada kekhawatiran, rasa cemas yang Tasya rasakan. Keberadaan Viko itu sangat menganggu Tasya. Dia tidak bisa kalau terus-terusan berada di permasalahan yang sama seperti ini.
Seorang suster masuk ke ruangan Tasya. "Permisi, Dok. Say ingin memberikan ini untuk Dokter dari Pak Viko staff keuangan."
Tasya melirik ke arah bingkisan yang di bawa oleh suster itu, kenapa lagi coba dia harus menitipkannya pada suster? Tidak memiliki rasa malu sama sekali.
"Tolong kembalikan pada Pak Viko ya, Sus. Atau kalau beliau tidak mau menerima, silahkan bawa saja." Tasya tersenyum sekilas dan masih berusaha untuk tenang.
"Kenapa, Dok?" Tanya Suster itu.
"Tidak apa-apa, tolong sampaikan begitu saja ya, Sus. Saya juga lagi banyak kerjaan."
Suster itu pun mengangguk, setelahnya dia keluar dari ruangan Tasya dan meninggalkan Tasya sendiri. Tasya kembali mengerjakan rekapan-rekapan dan membaca beberapa buku, sepertinya dia harus mengalihkan pikirannya daripada tertuju pada Viko yang sangat-sangat meresahkan perasaannya.
Dia tidak mau juga sampai membuat Al khawatir karena stress sendirian, yang terpenting sekarang adalah Tasya fokus pada rumah tangganya tanpa mempedulikan siapa yang datang padanya, mau itu Viko, Aruna, Bella atau siapapun dia tidak akan peduli lagi.
Di satu sisi Al memang cemas karena kedatangan Viko, bukan apa-apa tapi dia tau kalau tujuan Viko kesini bukan untuk main-main saja dengannya. Ini seperti seruan untuk berduel tapi tidak. Pasti sekarang ini banyak pikiran negatif di kepala Tasya. Padahal mereka selama ini tenang-tenang saja. Tapi kenapa jalannya selalu putar balik ke sana lagi?
"Lu pasti kepikiran," ucap Angkasa yang memang tadi sengaja untuk menemani Al di ruangan, ya karena memang sedang sepi juga, kan?
"Gua cuma takut kalau Viko nekat, dia persiapan ke sini udah pasti matang, gua cuma takut lengah jagain Tasya," balas Al.
"Elah sejak kapan lu banyak takut sih, Al? Lu itu gak ada yang bisa ngalahin sejak dulu, lu takut hanya karena seorang Viko?" Tanya Angkasa tak percaya.
"Ketakutan gua bukan Viko, tapi Tasya. Semua ketakutan yang gua rasain hanya karena Tasya aja. Kesehatannya, keselamatannya dan segala macam."
Angkasa mengangguk paham kalau soal itu. Wajar sih, apalagi mereka kan tidak 25 jam bersama, pasti ada kecemasan kalau sedikit saja mereka jauh. "Menurut gua itu dia begitu karena masih bebas aja liat lu sama Tasya belum punya anak, kalau kalian punya anak pasti dia mundur. Dia bakalan terpukul mundur sendiri "
__ADS_1
Memang ada baiknya mereka menyegerakan punya anak, bukan karena ingin juga, tapi anak itu pengikat erat orang tuanya dan tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan mereka. Al hanya mengangguk-menganggukkan kepalanya seraya menghela napasnya. Akan dia usahakan.