
Pulang dari cafe, seperti biasa mereka akan akan bersih-bersih sebelum melanjutkan aktifitas bersama. Setelah itu mereka menonton di ruang TV sembari mengemil beberapa camilan. Mereka sering menyebutnya movie date. Mereka quality time dengan menonton seperti ini, dengan Tasya yang bersandar di dada bidang Al dan Al memeluknya sambil sesekali menciumi puncak kepala istrinya.
Namun tiba-tiba ponsel Tasya berbunyi dari balik saku jas putihnya yang menggantung di sofa. Perlahan Tasya meraih jas itu dan mengambil ponselnya, namun ponsel itu berhasil dia ambil dengan keluarnya sebuah gelang dan polaroid. Tasya memungut itu dari bawah sofa, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat polaroid kebersamaan Tasya dan Viko semasa pacaran dan juga gelang pertama yang Viko berikan sewaktu mereka PDKT dulu.
Sudah bisa dipastikan yang melakukan itu adalah Viko sewaktu mereka berpapasan di lorong. Sialnya Tasya tidak sadar dengan hal itu. Tasya melirik Al yang kini sudah menatapnya. Dia takut sekali kalau Al berpikir Tasya masih mencintai Viko karena menyimpan ini semua, namun Al malah mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut.
"Kenapa mukanya panik gitu?" Tanya Al.
"Mas aku beneran deh gak nyimpen ini, aku gak tau ini kenapa ada di saku aku. Beneran aku gak bohong," ucap Tasya dengan nada gemetar.
Al menggelengkan kepalanya, kenapa Tasya parno sekali. Al mengambil gelang dan polaroid itu dari tangan Tasya dan membuangnya ke tong sampah yang dekat dengan sofa ini. "Ngapain juga dipikirin, filmnya lebih seru dari drama yang Viko buat."
Tasya melongo, tak mengerti maksud ucapan Al. Kenapa dia bisa setenang itu, maksudnya apa dia tidak curiga atau minimal berpikir aneh-aneh saat melihat itu. Tasya kalau jadi Al juga pasti akan berprasangka yang tidak-tidak. Tapi kenapa Al malah biasa saja. "Kamu gak mikir macem-macem emangnya?"
"Ngapain, kamu lupa?"
"Hah?"
Al geram sekali kalau istrinya sedang mode lemot seperti ini, Al menghadapkan dirinya pada Tasya, dengan lembut Al menangkup pipi Tasya dan menciumi bibirnya. "Sewaktu kita pulang KKN, setelah dituduh macem-macem sama keluarga. Kita langsung ke atas rumah kamu dan kamu bakar semua kenangan Viko di depan mata aku sendiri. Iya kan? Kalau Viko masih main dengan cara klasik kaya gini udah ketebak, gak ada pengaruhnya juga. KIta sama-sama udah menyelesaikan masa lalu sejak awal komitmen, jadi aku gak perlu lagi drama-dramaan gak jelas, karena semuanya udah jelas, paham?"
Tasya terdiam sebentar, dia mencoba mencerna semuanya. Benar juga, dia kan sudah menyelesaikan semuanya malam itu. Bahkan Al sendiri yang membantunya memasukan ke dalam kontainer besar lalu menemani Tasya membakarnya. Untung saja malam itu benar-benar dia lakukan. Dia memang sudah mengantisipasi soal ini sih sebelum memulai semuanya, karena kejadian seperti ini bisa terjadi baik sengaja atau tidak. Tasya jadi sedikit lega.
"Tapi tetep aja aku takut, aku takut omongan Tante Rena bener. Kalau Viko bakalan berusaha terus misahin kita. Aku gak akan pernah mau pisah sama kamu," ucap Tasya sembari memeluk Al.
__ADS_1
"Sayang, percaya sama aku ya? Siapapun pengganggunya, kita akan terus sama-sama," balas Al seraya membalas pelukan Tasya. Jangan lupakan tentang Al, kalau dia sudah berjanji pasti akan dia tepati. Karena dia adalah orang yang bertanggung jawab.
Tasya mengangguk, Al selalu menepati janjinya. Dia juga tidak pernah berbohong kecuali untuk hal-hal yang memang harus ditunda untuk disampaikan padanya. Jadi setelah kejadian itu mereka memilih untuk kembali menonton.
Beberapa jam mereka habiskan untuk menonton, setelah itu mereka pergi ke kamar untuk beristirahat.Tasya keluar dari kamar mandi dan melihat Al yang sedang berbaring seraya memejamkan matanya. Setelah selesai skincare, Tasya menaiki kasur dan memeluk suaminya dengan erat seraya mengecupi pipinya.
Ahh kalau senggang seperti ini jiwa anak bungsunya ini meronta-ronta ingin bermanjaan dengan suaminya. Tapi nampaknya Al kelelahan, sampai Tasya menciuminya beberapa kali pun dia tidak terbangun. Dia pun memajukan bibirnya, kalau begini dengan terpaksa dia harus mengalah dan membiarkan suaminya istirahat.
Namun saat Tasnya melepaskan pelukannya, tiba-tiba Al memeluk pinggang istrinya dan kembali membawanya ke dalam pelukannya. Diperlakukan seperti ini membuat Tasya senang lah, aktivitas di rumah sakit, bau obat-obatan, bermain dengan peralatan medis dan buku-buku tebal membuatnya jenuh. Perlahan Tasya mendusel di ceruk leher Al, aroma maskulin dari tub uh Al seperti biasa dapat membuatnya tenang.
"Manjanya," Ucap Al sembari mengelus-elus paha Tasya yang berada di atas kakinya.
"Pusing, butuh peluk!" Ucap Tasya to the point.
"Butuh peluk atau butuh aku?" Tanya Al yang kini mengecupi bibir istrinya.
"Ini udah aku peluk, butuh apalagi Tuan Putrinya aku?" Tanya Al perhatian.
"Butuh kamu aja udah cukup. Aku kayanya lagi mulai bosen aja sama rutinitas di rumah sakit. Padahal kedepannya kita bakalan terus di rumah sakit." Tasnya mengeratkan peluknya sembari memainkan kancing piyama Al.
'Namanya juga rutinitas, kamu jangan pikirin rutinitasnya. Kaya makan aja, kita melakukannya karena memang udah sering, kan?"
"Walaupun kita bosen tapi kalau mikirnya ke arah sate, martabak, daging, hal-hal kaya gitu bikin kita lupa kalau makan harus dilakukan setiap hari. Sama kaya profesi. Kita bayangin aja ada banyak yang butuh kita di rumah sakit, liat kebahagiaan pasien ketika mereka sembuh, liat mereka bisa hidup dengan normal lagi. Itu pasti bikin kita semangat huat jalaninnya," lanjut Al.
"Iya sih bener."
__ADS_1
"Sama juga kaya hidup. Cari satu alasan yang selalu memotivasi kamu untuk tetap hidup."
"Misalnya?"
"Misalnya, aku mau tetap hidup biar bisa makan gorengan di rumah sakit atau aku mau hidup karena karena pingin makan bakso Mas Karyo di depan komplek," jawab Al.
Tasya terkekeh, bagaimana bisa loh Al bicara seperti itu. Ada-ada aja, kan? "Kok gitu? Kalau alasan tetap hidupnya karena mau dicium kamu setiap hari boleh?"
"Boleh, boleh banget."
"Kalau alasan kamu hidup apa?" Tanya Tasya penasaran.
"Karena alasan kamu mau dicium aku setiap hari, kalau gitu alasan aku hidup adalah. Mau cium Tasya setiap hari," kata Al sambil mengeratkan peluknya. Gemas sekali istrinya ini.
"Yaudah." Tasya memanju-majukan bibirnya seperti bayi pada Al.
"Dasar bayi!" Al terkekeh, namun setelah itu dia mendekatkan wajah pada Tasya dan mengecup bibirnya dengan lembut.
Tidak bisa nih kalau begini saja, apalagi Tasya hanya memakai hotpant dan baju crop top. Nakal sekali memang gadis ini. Dengan lembut Al meraup bibir ranum itu dan menyesapnya. Tasya tersenyum dan membalas ciuman suaminya. Dia juga semakin merapatkan bibirnya.
Al sedikit merubah posisinya untuk kepalanya berada di atas, membuat Tasya dengan reflek mengalungkan tangannya pada Al. Suara pagutan mereka terasa indah di iringi dengan sunyinya malam. Mereka berdua sama-sama melepas penat dan berfantasi ria dengan ciuman yang semakin intens.
Cukup lama mereka di posisi itu, perlahan Al melepaskan pagutan mereka dan mengecup bibir Tasya sebagai penutup. Ya mengingat Tasya sedang datang bulan, dia tidak boleh terlalu hanyut dalam permainan mereka. "I love you more, baby."
"I love you too soo much, Mas." Tasya tersenyum lalu memeluk Al.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama berbaring setelah itu menarik selimut untuk pergi ke alam mimpi. Mereka berdua tetap santai di tengah orang-orang yang berusaha masuk ke dalam hubungan mereka. Karena kepercayaan melandasi hubungan keduanya. Iya, mereka yakin bisa melewati semuanya dengan baik.