My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Hi, I'm Doctor!


__ADS_3


Memang siapa sangka kalau Tasya yang dulunya pernah terjerat dengan penyakit mental yang membelenggunya kini menjadi seorang dokter. Sejak tadi dia jadi senyum-senyum sendiri dibuatnya.


Iya, dia dan Al berhasil diterima kerja di rumah sakit impian mereka. Bukan impian juga sih sebenarnya, karena mereka tidak mematok akan berkerja di mana, selagi ada kesempatan ya kenapa tidak.


Enaknya bekerja di rumah sakit mewah adalah, mereka memiliki ruangan praktek masing-masing. Jadi mereka bisa bebas di ruangan mereka sendiri tanpa di ganggu-gugat. Mungkin hanya sesekali saat praktek ditemani oleh suster.


Ruangannya juga cukup nyaman, ya dia nyaman lah pokoknya di sini. Apalagi ruangannya berseberangan dengan ruangan Al, bisa dia bayangkan kalau setiap dia keluar nanti Al yang akan menjadi pemandangannya.


Cukup lama bersantai di kursinya, tak selang beberapa lama seorang suster masuk membawa pasien anak kecil. Berta kedua orang tuanya, mereka di persilahkan duduk oleh suster dan juga disambut oleh Tasya.


"Selamat pagi, Bu? Silahkan duduk."


Setelah memastikan mereka telah duduk, barulah Tasya mengeluarkan pulpen dan juga catatannya. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?"


"Anak saya sudah dua hari ini demam dan juga buang air terus, Dok," ucap sang Ibu.


"Sebelumnya apa anak Ibu memakan sesuatu atau sudah melakukan perjalanan jauh?" Tanya Tasya.


"Kami sekeluarga baru pulang dari Samarinda, setelah pulang barulah anak saya muntah-muntah dan demamnya tinggi sekali, mungkin karena kehujanan dan faktor cuaca."


"Ada gejala seperti sesak, Ibu?" Tanya Tasya.


"Ada, Dok. Napasnya mengi, kemarin saya ke apotik dan diberi salbutamol untuk menghilangkan sesak, tapi sesaknya masih ada sekarang."


"Ah baik, kalau begitu biar saya periksa dulu ya, Bu. Sus–Tolong dibantu anaknya.


Suster itu tersenyum dan mengikuti arahan Tasya. Sementara Tasya kembali melihat catatannya dan sudah tau apa yang harus dia lakukan dan periksa lebih lanjut.


Perlahan Tasya bangkit dari kursinya dan menghampiri pasien yang sudah di brankar. Benar saja napasnya terasa mengi. "Adek namanya siapa?"


"Aluna, Bu Dokter," ucapnya. Ah gemas sekali, tidak kuat Tasya kalau berhadapan dengan anak kecil.


"Cantik sekali namanya, kalau begitu Bu Dokter periksa dulu ya, Sayang. Jangan takut." Tasya tersenyum setelah itu mengeluarkan stetoskop untuk mulai memeriksa.


Suster juga membantu Tasya mengambilkan alat tensi yang digunakan untuk pemeriksaan lanjutan. Darahnya rendah sekali, dia juga memeriksa cara bernapas anak itu dan beberaoa bagian lainnya.


"Kalau napas dadanya sakit tidak?" Tanya Tasya.

__ADS_1


"Sakit, Dok ... "


"Apanya yang sakit?" Tanya Tasya perhatian.


"Ini, sebelah sini. Terus turun ke dada aku yang kanan, Dok."


Mendengar penjelasan pasiennya Tasya langsung menganggukkan kepalanya perlahan. Sudah dia duga kalau ini berhubungan dengan paru-paru. Karena Tasya juga pengidap asma, tentu dia paham sekali.


Setelah selesai memeriksa pasiennya, suster membantu pasien kembali duduk bersama Ibunya.


"Anak saya baik-baik saja, Dok?" Tanya orang tua anak itu.


"Untuk demam dan diarenya mungkin itu karena masuk angin, Bu. Anak kecil rentan sekali terhadap dingin, maaf tapi apakah Ibu memiliki riwayat asma atau di keluarga ada?" Tanya Tasya.


"Papanya bronkitis, Dok. Apa anak saya juga ya, Dok? Saya pernah dengar kalau itu menurun."


"Belum bisa saya pastikan, Bu kalau soal itu. Karena memang harus diperiksa lebih lanjut, di rontgen dan baru setelah itu bisa didiagnosis lebih akurat oleh dokter spesialis paru-paru."


"Jadi anak saya harus diperiksa lebih lanjut, Dok?" Tanyanya.


"Iya ibu, agar lebih akurat dan bisa kita ketahui dan lebih cepat penanganannya. Kalau Ibu mau, saya akan membuat rujukan kepada spesialis dan nanti suster akan mengantarkannya ke sana."


Tasya tersenyum mendengarnya, setelah menjelaskan menulis surat rujukan, Tasya memberikannya pada suster untuk dibawa ke spesialis.


.


.


.


Sejauh ini Tasya menikmati pekerjaannya sih, sampai tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Dia ingin makan siang bersama, tapi sayangnya mereka berbeda shift. Maksudnya Angkasa dan Belva mereka berjaga malam Minggu ini. Jadi hanya ada dia, Al dan Yoda yang Tasya kenal. Apalagi Monik, dia akan selalu menjadi yang paling beda, sudah polinya jauh, dia juga banyak pekerjaan.


Benar kan, baru saja memikirkan mereka, Al dan Yoda sudah masuk ke dalam ruangannya. Tasya tersenyum sih, karena memang apalagi yang membuatnya tersenyum selain melihat wajah suaminya.


"Kamu gak makan siang?" Tanya Al.


"Ini baru beres, ayok ke kantin?"


"Yok!" Ajak Yoda.

__ADS_1


Namun baru saja mereka keluar ternyata Yoda sudah dipanggil dokter senior. Nahkan semakin sepi lagi makan siang kali ini, tapi yang namanya pekerjaan kan memang haru profesional, akhirnya jadi ya mau tidak mau mereka hanya berdua saja.


Tasya dan Al duduk di salah satu meja kantin, Al juga sudah memesankan makanan dan juga jus mangga beserta air putih.


"Gimana kerjaan kamu hari ini?" Tanya Al.


"Sejauh ini baik, kayanya aku menikmati ruang kerja aku deh, Mas. Nyaman," jawab Tasya sambil tersenyum.


"Bagus dong, tempat yang nyaman biasanya bikin kita lebih semangat buat kerja."


Tasya mengangguk seraya menyuapkan makanannya. "Kalau kamu gimana, lancar?"


"Lancar, cuma sedikit kewalahan karena banyak pasien juga," jawab Al seraya tersenyum ke arah istrinya.


"Aku seneng satu shift sama kamu, tapi ternyata kita beda shift sama yang lainnya. Mungkin karena terbiasa kemana-mana bareng kali ya jadi ngerasa sepi kalau kita di luar cuma berdua doang," ucap Tasya jujur.


"Ya mau gimana lagi, ini kan dunia kerja. Kita gak selamanya bisa dapat apa yang kita mau, maksudnya gak bisa sesuai sama apa yang kita rencanakan, tapi yang terpenting dari ini semua ya kita masih bisa kerja bareng, iya kan?"


"Iya bener, nanti juga ketemu sih kalau kita nongkrong, tapi ya cuma belum kebiasa aja."


"Wajar, kita juga jangan lupa untuk berbaur sama yang lainnya, karena dokter di sini ramah-ramah kok."


Tasya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, benar apa yang Al bilang. Mereka tidak bisa hanya berbaur dengan teman-temannya, mereka juga harus berbaur dengan yang lainnya.


Karena itu penting, apalagi dengan dokter senior. Mereka masih harus banyak belajar dalam hal menangani pasien, jadi butuh sekali pengalaman yang lebih senior untuk itu agar mereka bisa berkembang lebih baik lagi.


"Oh iya, Abang bilang sama aku katanya dia bakalan 2 Minggu lagi di Bandung."


"Ada masalah di sana?" Tanya Al.


"Gak ada sih, cuma emang ada urusan juga katanya. Jadi aku cuma oke-oke aja."


"Kangen banget sama Abang ya?"


Tasya mengangguk, tentu dia akan merindukan Radit. Biasanya seminggu sekali dia akan pulang ke rumah untuk bertemu keponakanya sekaligus Abangnya.


"Yaudah sabar ya? Nikmati aja waktunya, nanti gak kerasa."


Tasya tersenyum, lagi-lagi Al memang akan berperan menjadi yang paling mengerti dan membuat Tasya bisa enjoy menjalani kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2