My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Berbeda Haluan Dengan Radit


__ADS_3


Akhirnya mau tidak mau Tasya harus diam di kamar, suasana di bawah terdengar ricuh. membuatnya pusing dan perutnya semakin keram. Semuanya kacau memang, tapi karena Radit mengambil resiko apapun dia sepertinya akan jadi garda terdepan di masalah ini. Terbukti sekarang Radit dan Amara sedang adu argumen.


"Akhh sakit banget perut aku, Mas," ucap Tasya dengan lirih. Dia benar-benar merasa kesakitan pada perutnya.


Al kembali mengusap perut istrinya. Tapi nampaknya tidak berhasil, tiba-tiba saja Diana masuk ke dalam kamar dan mendapati menantunya sedang meringis kesakitan.


"Kenapa, Al?" Tanya Ibunya.


"Perutnya keram, mau Al bawa pulang. Kasian Tasya banyak pikiran."


"Bawa ke rumah aja, yang lain sedang di ruangan Radit. Nanti Mama buatkan herbal dan Kompress perutnya di rumah. Yuk?"


Mendengar itu tanpa pikir panjang Tasya mengangguk, dia memang butuh ketenangan sih. Al tadinya mau menggendong Tasya, tapi Tasya memilih untuk di papah saja, karena tidak enak juga kalau digendong. Dia masih bisa berjalan kok.


Benar saja di bawah sudah tidak ada siapa-siapa jadi Al langsung saja membawa Tasya ke rumah orang tuanya, dia membaringkan Tasya di kasur dan mengompres perut Tasya dengan alat pengompres.


"Masih sakit?" Tanya Al perhatian.


"Sedikit."


"Tidur aja, biasanya kamu tidur jam segini kalau libur. Besok izin aja ya jangan dulu kerja?" Pinta Al.


"Gak mau, lagian aku juga gak kenapa-kenapa kok, cuma keram aja. Kan wajar kalau keram gitu, jangan khawatir ya?" Ucap Tasya menenangkan suaminya.


"Kamu belum sehat betul loh."


"Nanti juga gapapa, aku di kompres gini aja udah enakan. Kamu jangan kemana-mana ya? Temenin aku aja di sini," pinta Tasya manja.

__ADS_1


"Aku gak kemana-mana." Al menghela napas, kalau Tasya sudah membuat keputusan dan dia merasa baik-baik saja Al juga tidak bisa memaksanya. Meskipun dia sangat khawatir tapi memang mereka memiliki kewajiban di sana dan mereka tidak boleh asal izin begitu saja.


"Aku bakalan keliatan yang paling jahat ya di sini, Mas?" Tanya Tasya tiba-tiba. Meskipun dia merasa benar tapi dia tau kalau melawan orang tua itu dosa. Dia sedikit kepikiran.


"Gak salah, udah jangan kamu pikirin dulu. Nanti kamu stress, Sayang. Kasian anaknya." Al mengusap pipi Tasya dengan lembut.


"Tapi semua orang pasti bakalan mikir aku salah."


"Engga, hanya saja kamu bisa belajar untuk memberikan mama kesempatan, Sayang. Siapa tau beliau mau berubah menjadi yang lebih baik. Ikut dalam pertumbuhan anak kita, sama kaya Bunda." Al mencoba memberi pengertian, namun Tasya menggeleng.


Tasya menggenggam tangan Al dan kembali menaruhnya di pipi. Hangat, itu yang dia rasakan. "Aku gak mau anak aku tumbuh dengan adanya orang itu di hidup aku. Aku gak mau dia nantinya melakukan hal yang sama ke anak kita."


"Anak kita itu akan tumbuh dengan didikan orang tuanya, Sayang. Aku dan kamu, setidaknya kalau kamu belum bisa biarkan aja bang Radit merawat mama kamu. Kita kan jarang juga ke sana."


Tasya menghela napasnya, padahal sepertinya abangnya ini paling menentang dia saat ingin bertemu ibunya. Tapi kenapa ya sekarang Radit seolah melupakan kejadian di masa lalu merekam Tasya tidak paham dengan pemikiran Radit. Padahal kesalahannya sangat vatal, bahkan Chandra dan ayahnya pun sudah tidak bisa memaafkan perbuatannya. Kenapa Radit berbalik haluan?


Bukannya bagaimana, Tasya dan Radit tumbuh bersama tanpa campur tangan Lidya, biasanya mereka selalu kompak. Dia mau saja kompak dengan Radit tapi kalau masalah ini dia tidak bisa, lukanya masih jelas dan terasa sampai hari ini.


Al izin pulang dulu sebentar untuk mengambil keperluan kerja mereka. Sementara di sinilah Tasya sekarang, di taman belakang dan duduk bersama Radit.


Tidak ada yang memulai pembicaraan, tentu Tasya akan membiarkan Radit bicara lebih dulu karena dia yang meminta bicara pada Tasya.


"Dukung gua benci banget sama mama." Radit memulai pembicaraan diantara mereka. Tapi Tasya masih terdiam, membiarkan pria itu menuntaskan omongannya.


"Gua sakit hati apalagi liat lu masih kecil harus hidup sama gua dan papa dalam keadaan sulit. Gua benci papa nutupin semua keburukan mama sampai akhirnya lu benci sama papa dan kejadian hari itu terjadi."


"Dan yang lebih gua lebih benci sama mama adalah saat tau kalau dia ibu tiri Chandra, temen lu sendiri yang selalu membanggakan dia di hadapan lu."


Mendengar itu perasaan Tasya jadi panas, dia mengingat jelas kejadian itu. Di mana dia merasa kalau Chandra lebih beruntung dibandingkan dengan dia. Dimana dia merasa tidak lebih dari sekedar sampah yang tidak ada gunanya.

__ADS_1


"Kebencian gua sebesar itu sampai klimaksnya gua hampir kehilangan lu waktu itu, Dek. Gua benar-benar benci sama Mama."


Mendengar itu Tasya menyeka air matanya, sakit memang. Sangat sakit kalau harus dijabarkan. Lalu dengan semua itu Radit membawanya ke sini? Untuk apa?


"Terus kenapa lo bawa dia ke sini?" Tanya Tasya.


"Karena kita gak lahir dari batu, Dek. Kita lahir dari seorang rahim wanita. Ketika Amanda melahirkan gua bisa merasakan perjuangan dia gak mudah, melahirkan itu bertaruh nyawa."


"Aku tau, aku tau semuanya. Tapi apa seorang ibu yang sudah melahirkan anaknya dengan bertaruh nyawa pantas menginginkan anaknya menghilang dari bumi hanya untuk kesenangannya?" Tanya Tasya. Kali ini dia menatap Radit dengan pilu.


"Apa lo udah lupa waktu gue ditolak mentah-mentah di saat gue punya ekspetasi lebih? Gue dorong seolah gue ini benalu, gue dibentak, dicaci maki dan gue dianggap orang gila sama orang yang udah lahirin gue sendiri? Terus, ketika semuanya terjadi lo liat papa meninggal dihadapan lo, papa yang selalu gue benci karena dia yang bersembunyi dibalik kesalahannya?!"


Sungguh Tasya tidak bisa menahan tangisnya sekarang. Saat Radit mendekapnya pun dia diam, dia meremas baju Radit dengan kuat, dadanya sesak sekali. Tasya juga memukul dada Radit berkali-kali. "Sudah payah gue lupain semuanya dan lo bawa dia ke sini lagi?! Lo jahat! Lo bahkan gak ada bilang dan langsung pertemuan gue sama dia dengan cara kaya gini."


"Tasya gak gitu maksud gua, gua–"


"Lo mikirin gak gimana rasanya gue yang kembali ke-triggered karena ini? Lo tau gak sakit hati yang rasanya sampe ke seluruh tubuh dan semua indera lo ngerespond itu? Lo tau gak gue sekarang gimana? Engga, kan? Kalau lo mau bawa mama lo itu oke gapapa, tapi jangan paksa gue kaya gini."


Jujur melihat Tasya meraung seperti ini membuat Radit sakit, sorot matanya terlihat jelas kalau dia sedang terluka sekarang. Apalagi Tasya sedang hamil dan emosinya sedang tidak stabil. Iya dia salah di sini, dia tadinya ingin membuat Tasya terbiasa tapi dia tidak memikirkan kalau Tasya punya trauma sebesar ini.


"Maafin gua, maafin Abang. Jangan kaya gini." Radit mengusap Air mata adiknya dengan kedua telapak tangan. Ah sialnya dia malah jadi ikut menangis.


"Gak mau, gue gak mau sampai lo jawab. Apal LO gak mikirin gue lagi ya? Apa karena gue udah menikah lo jadi mikir gue gak butuh lo lagi buat selalu ada di pihak gue? Apa–"


"Gua ada di pihak lu, Dek. Udah jangan kaya gini, jangan kenapa-kenapa. Jangan kaya gini." Radit mengeratkan pelukannya.


Benar kali ini dia salah langkah, Tasya mungkin terlihat dewasa tapi inner child-nya tidak seperti itu. Dia bisa rasional tapi mentalnya tidak bisa. Radit merasa bersalah karena membuat Tasya sampai begini. Bahkan dia menangis sampai tersengguk-sengguk begini, berarti dia benar-benar tidak baik-baik saja.


Radit khawatir Tasya kembali down, dia takut kalau Tasya kambuh dan tidak bisa menjalankan rutinitasnya. Sungguh dia dilema sekarang.

__ADS_1


__ADS_2