My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Prahara Rumah Tangga


__ADS_3


Jujur saja kata-kata Viko itu membuatnya kepikiran. Apa Al tidak mau mendukungnya lagi dan sama seperti di luaran sana, hanya ingin istrinya menjadi ibu rumah tangga.


Tapi kenapa? Kenapa harus begitu, padahal Al sendiri tau kalau dia sangat menyukai pekerjaannya. Membuat Tasya menghela napasnya berkali-kali. Dia sekarang sedang berada di mobil bersama Al untuk kembali pulang, tapi memang mereka tidak saling bicara.


Mungkin keduanya sama-sama lelah. Meskipun Al sesabar itu tapi dia juga memiliki ego. Mungkin dia sedang ada di tahap lelah harus mengerti apa maunya Tasya sedangkan Tasya saja tidak mengerti apa maksud keinginan Al.


Memang yang namanya pernikahan tidak ada yang lurus-lurus saja. Jadi lebih baik mereka sama-sama mengambil waktu untuk sendiri. Sesampainya di rumah mereka membersihkan diri di tempat berbeda.


Tasya masih menyiapkan makan malam seperti biasanya dan mereka tetap makan di satu meja yang sama. Benar-benar hening.


Setelah selesai makan, Tasya dan Al sama-sama di kamar. Lebih tepatnya Al sibuk dengan laptopnya dan sibuk dengan ponselnya. "Nanti aku bikin surat pengunduran diri. Kalau kamu mau ya aku di rumah yaudah."


Al hanya terdiam, dia tau pasalnya Tasya membuat keputusan itu dengan emosinya dan masih menganggap Al tidak mengerti kemauannya. Jadi dia lebih diam daripada emosi.


"Kenapa kamu masih diem sih, Mas. Aku kan udah ngalah." Tasya menaruh ponselnya dan fokus menatap ke arah suaminya.


"Kamu bukan ngalah, Tasya. Kamu emosi, kamu mengambil keputusan dalam keadaan emosi." Al menghela napasnya, dia sedang berusaha untuk tidak terpancing ini, tapi Tasya terus memancingnya untuk emosi. Memang benar-benar keras kepala Tasya. Al sudah mengerti Tasya sejak kecil tapi ini adalah sifat yang paling tidak Al sukai.


Al menutup laptop dan memutuskan untu bekerja di ruang kerjanya daripada membuat Tasya terluka nantinya. Namun Tasya malah ikut turun dan berdiri menghadang Al. Dia menatap Al seolah menantang, padahal Al itu sudah emosi. Memang tidak tau bahaya.

__ADS_1


"Serba salah, kamu emang gak ngertiin aku! Kamu maunya apa sih?!" Nahkan malah dia yang emosi, membuat Al pusing sekali sebenarnya menghadapi Tasya yang mode seperti ini.


"Kalau aku gak ngerti kamu kita gak akan sampai di sini, Tasya! Kita gak akan pernah lakuin pernikahan kita sampai sekarang, itu karena apa karena kita sama-sama mengerti! Cuma karena aku bilang kaya tadi kamu langsung gini?" Tanya Al yang kini emosinya sudah meluap.


"Cuma kamu bilang? Kamu tau aku suka sama pekerjaan aku dan kamu mau aku berhenti, cuma? Itu mimpi aku, bukan sekedar cuma yang kamu bilang, Mas."


"Aku gak minta kamu berhenti selamanya, Sya. Aku minta kamu berhenti selama kamu hamil, setelahnya mau kamu kerja atau apapun yang kamu pilih aku gak pernah ngelarang apapun. Kamu paham pointnya gak? Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, semuanya juga aku pikirin buat kamu, buka. buat diri aku sendiri."


"Sama aja, sama aja kamu kaya orang lain di luar sana yang mau istrinya di rumah. Iya kan?" Mata Tasya kini sudah mulai berkaca-kaca, ini nih kelemahan Al. Dia tidak bisa melihat Tasya menangis.


"Aku gak mau debat sama kamu, pikirin perkataan aku tadi. Aku cape, Sya. Bukan aku yang gak ngerti perasaan kamu, tapi kamu yang gak mengerti situasi sekarang. Terserah."


Terlihat rahang Al mengeras karena emosi, sebelum dia meledak Al keluar dari kamar, namun tanpa sadar dia malah membanting pintunya. Tapi dia tidak peduli juga, meredakan emosinya lebih penting dari apapun.


Karena Al maunya Tasya bisa diajak komunikasi dengan baik, bukan karena emosi dan lalu dia mengatakan kalau dia mengalah padanya. Karena pada dasarnya mereka harus mengkomunikasikan ini semua, bukan perlombaan juga yang harus menang kalah apalagi ada yang mengalah.


Tasya kembali ke kasur dan tidur menghadap ke kanan. Perasaannya sesak ketika Al bersikap seperti tadi. Ditambah dia yang memang sensitif. Apa benar Al sudah tidak mencintainya lagi ya?


Beberapa kali Tasya berusaha menyeka air matanya namun tidak bisa. Perasaannya semakin berkecamuk memikirkan apa-apa yang ada dalam pikirannya. Air matanya terus mengalir deras. Dia tidak mau bertengkar tapi memang mungkin mereka sama sama emosi dan susah mengendalikan diri.


Sementara di sisi lain, Al berusaha meredakan emosinya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Tasya. Padahal selama ini Al selalu berusaha mengerti semua tentang Tasya. Kenapa dia malah seemosi itu?

__ADS_1


Padahal yang Al lakukan adalah demi kebaikan dirinya sendiri. Dia marah ketika Tasya bilang kalau dirinya tidak pernah mengerti Tasya. Lalu selama ini apa?


Al mengepalkan tangannya dan melampiaskan emosinya ke tembok, memang cara itulah yang selalu membuatnya lega. Meskipun jari-jarinya terluka. Tapi lebih baik seperti ini daripada tangannya menyakiti Tasya.


"Al, lu harus tenang." Al berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Berusaha mengafirmasi dirinya sendiri kalau semua yang dia lakukan sekarang benar dan demi kebaikan Tasya. Berusaha tetap tenang ditengah ketakutan Tasya kepikiran dan membuat dia stress.


Banyak hal yang membuat Al harus memikirkan ini dengan benar. Tapi sayangnya Tasya tidak bisa diajak bekerja sama. Pada akhirnya mereka berdua sama-sama hilang kendali.


Ada sekitar 3 jam Al berdiam diri di ruang kerjanya, begitu juga dengan Tasya yang sepertinya sudah ketiduran karena menangis. Al menyadari kalau sekarang sudah hampir tengah malam.


Meskipun dalam keadaan marah, Al menurunkan egonya sedikit dan mengecek keadaan Tasya di dalam sana. Benar kan, istrinya itu menangis. Gadis itu nampak sembab matanya, membuat Al terbesit rasa bersalah karena membuat Tasya menangis seperti ini. Padahal dia selalu berusaha untuk tidak membuat Tasya menangis.


Al membenarkan posisi tidur Tasya. Dia juga mengambil bantal untuk ibu hamil yang sempat dia beli waktu itu agar Tasya tidur dengan nyaman meskipun ya perutnya belum membesar.


"Keras kepala banget kenapa sih? Keras kepala, suka mancing emosi, maunya menang sendiri. Untuk sayang banget ya, Sya." Gumam Al seraya menyingkirkan rambut yang menempel karena air mata Tasya di wajahnya.


"Aku sayang banget sama kamu, Sya. Sayang sama anak kita, aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa. Tapi kamu udah emosi duluan. Kenapa gak bisa diajak komunikasi padahal aku gak mau ngeluarin kamu kaya gini," ungkapnya jujur. Meskipun Tasya tidak akan mendengarkannya, tapi cara ini dia lakukan agar perasaannya lepas.


Karena melihat air mata Tasya itu adalah kelemahannya dan sekarang dia membuat Tasya menangis. Kalau Tasya terluka, dialah orang yang paling merasa terluka untuk itu. Tapi tidak mungkin dia jelaskan pada Tasya.


Al menghela napasnya lalu menarik selimut Tasya sampai ke atas, setelah itu tidak lupa dia mengecup kening Tasya dengan lama. Malam ini dia memutuskan untuk tidur di ruang kerja saja dan menyibukkan diri.

__ADS_1


Dia belum bisa tidur di kamar karena memang masih mempertahankan egonya untuk membuat Tasya sendiri yang sadar kalau dia salah dan paham apa yang Al inginkan.


__ADS_2