
Mendengar kalau Radit sudah pulang ke Surabaya, membuat Tasya dan Al memutuskan untuk pulang ke rumah Radit sekaligus mengumpulkan keluarganya di sana.
Tasya dan Al pastinya akan memberikan kejutan untuk keluarga mereka. Mereka pasti senang mendengar ini semua. Sebelum sampai mereka juga menyempatkan membeli kue untuk selebrasi, ini cucu pertama di keluarga Al dan harus disambut dengan baik oleh mereka.
Senyum Tasya terus mengembang, membayangkan reaksi keluarganya mendapatkan kejutan ini. Karena memang kehadirannya sudah di tunggu-tunggu.
"Mas aku happy," ucap Tasya seraya mengusap-usap perutnya sendiri.
"Bagus dong, jadi baby juga happy di dalam perut mamanya. Kamu sering-sering happy ya, Sayang. Ngaruh juga ke anaknya, aku juga seneng kalau kamu happy terus begini," balas Al seraya mengusap puncak kepala Tasya.
Tasya mengangguk senang, tentu dia bahagia sih. Apalagi dia memang sangat merindukan Abangnya, belum lagi keponakannya yang masih bayi sudah lahir di Bandung, tidak heran kalau mereka lama di sana.
"Mas kamu udah kasih tau Bunda?" Tanya Tasya.
"Udah sayang, semuanya udah di sana."
Kalau begitu aman, jadi semuanya rata dan adil. Memang harus adil kalau masalah begini, apalagi rumah mereka berseberangan Tasya selalu mau kalau mereka semua serempak tau mengenai apa-apa tentang mereka.
Tak selang beberapa lama mobil Al memasuki pekarangan rumah Radit. Terlihat pintunya terbuka, menandakan kalau sedang ada acara di dalam sana.
Al membukakan pintu mobil dan menggenggam tangan Tasya, dia sangat berhati-hati sekali dalam menjaga istrinya yang sedang hamil muda ini, padahal Tasya merasa kalau baik-baik saja. Usianya masih 3 Minggu menurut dokter dan besok menginjak 1 bulan.
"Assalamualaikum," ucap Al dan Tasya bersamaan.
"Waalaikumsalam."
Mendengar ucapan salam dari Tasya dan Al mereka sangat senang, apalagi Radit yang sudah sangat merindukan adiknya. Langsung saja dia memeluk Tasya dan menciumi pipi adiknya senang. "Abang kangen dek."
Tasya terkekeh dan membalas pelukan Radit. "Gue juga kangen lo kok. Kangen banget, selamat ya Abang Bro buat kelahiran anak perempuannya. Mana aku mau liat."
"Lagi tidur di kamar, nanti kalau udah bangun boleh liat ya."
"Iyaa."
Setelah itu dia menyalami ibu dan ayah mertuanya, tidak lupa Tante dan kakak iparnya. Kalau dengan Fadil sih mereka sering bertemu di rumah sakit. Ya meskipun Fadil juga belum tau soal ini karena sibuk dengan pekerjaannya di poli bagian dalam.
"Kalian ada apa loh tumben mau kumpul di sini," ucap Amara.
__ADS_1
"Kangen ... Lagian Tante lama banget di Bandung sama Abang."
"Ada urusan pekerjaan juga di sana, Sayang." Amara tersenyum lalu memeluk Tasya dengan perhatian. Ya meskipun dia sudah tinggal bersama suami tapi tetap saja Tasya itu kesayangan, pasti setiap minggunya harus lah melihat keadaannya.
Mereka tidak langsung bicara, tapi mereka makan siang terlebih dahulu, karena memang Diana dan juga Amara sudah memasak, sementara Amanda katanya sedang istirahat. Tasya sebenarnya ingin menemui kakak iparnya tapi kasian juga kalau diganggu jadi dia diam di meja makan seraya memperhatikan Radit, Al, Zea dan Fadil berbincang, senang rasanya mereka bertiga terlihat akrab begini.
"Aman kan kerjaan? Kalau ada senior yang macem-macem bilang saja aja," ucap Fadil.
"Aman, Bang."
"Aman apa?!" Sungut Tasya.
Nahkan si bumil ini sudah mulai tersulut, Al tau sih yang dimaksud tidak aman menurut Tasya itu apa, tapi tidak enak kalau membicarakannya sekarang.
"Memang kenapa?" Tanya Fadil. Ya kini dia kakak ipar Tasya dan memang harus bertindak sebagai kakak juga untuknya kalau Tasya merasa tidak nyaman.
"Viko kerja di sana dan gangguin aku terus, Kak. Aku gak suka, tapi gak mungkin juga aku bilang," kesal Tasya.
"Viko?" Mau apaan lagi dia?" Tanya Radit, yang mulai tersulut. Ya bagaimana tidak, sudah banyak sekali ulah pria itu dalam hidup Tasya dan sekarang dia kembali?
"Viko kepala keuangan? Memang dia siapa kamu?" Tanya Fadil.
Selesai makan siang, mereka saling berbincang. Kebetulan Haris tidak bisa melanjutkan makan siang dengan anak dan menantunya karena ada urusan mendadak. Ya jadilah ada yang kurang.
"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan, Al?" Tanya Diana.
Al berdeham dan menggenggam tangan Tasya. "Al cuma mau kasih kabar kalau Tasya sekarang sedang hamil, anak kami berusia 3 Minggu."
Mereka terkejut bukan main, anak kecil ini sekarang sedang mengandung? Diana dan Amara langsung memeluk Tasya, tentu mereka senang sekali.
"Yaampun kenapa gak kabarin Bunda? Gimana selama kehamilan, mual, pusing? Yaampun sayang selamat. Akhirnya Bunda jadi nenek." Dia menciumi menantunya itu dengan sayang.
"Harus dijaga loh kehamilan 3 Minggu itu masih rentan, kurangi aktivitas dan jaga pikiran. Jangan sampai stress," peringat Amara.
"Iya-iya, Tante, Bunda. Tasya baik-baik aja kok, cuma emang waktu itu pusing aja dan pingsan di awal taunya lagi isi. Tapi sejauh ini belum kerasa mual atau gimana kok."
"Ya ampun ini bocil udah hamil aja," gumam Zea.
"Kalah lu," ledek Al.
__ADS_1
Zea berdecak, tapi memang dia belum mau hamil sih. Dia masih suka bermain-main dengan suaminya. Masih seperti pacaran pasangan kolot itu.
Radit memeluk adiknya gemas. "Lucu banget bayi mau punya bayi."
"Apasih Abang, adeknya udah gede ini," protes Tasya.
"Al gua jadi mikirin nasib lu, adek gua gak hamil aja galaknya minta ampun. Apalagi hamil? Sabar-sabar dah, gua tau lu kuat," kata Radit dramatis.
"Engga lohh aku gak gitu ya, Mas? Iyakan?" Tanya Tasya pada suaminya.
"Iya." Al menggantungkan ucapannya.
"Iya bener apa kata bang Radit," lanjutnya sambil terkekeh.
Tasya memajukan bibirnya, kesal sekali lah Al ini malah mengiyakan ucapan Abangnya. Memang Tasya sensitif itu kah? Padahal dia merasa biasa saja, kecuali kalau Al membuatnya kesal.
"Tapi aku sayang kamu." Al kini memeluk istrinya yang sudah merajuk dan menciumi pipinya, membuat Diana dan Amara terkekeh. Lucu sekali pasangan muda yang satu ini.
"Dijaga loh, Sayang istrinya. Kalau ngidam ikutin, jangan kamu tunda-tunda!" Peringat Diana.
"Iya, Bund."
"Mas Al baik kok, Bund. Kayanya Mas Al yang paling siap jadi Papa, kemarin dia yang pilihin susu sama vitamin. Dia juga yang periksa aku di RS sebelum tau aku hamil."
"Mas nanti kalau aku hamil yang periksa kamu ya?" Pinta Zea tak mau kalah.
"Saya dokter bagian organ dalam," jawab Fadil tanpa ada dosa. Ya memang begitu, meskipun dia memang awalnya juga dokter umum, tapi kalau diperiksa di RS tentu bukan dia yang memeriksa.
"Yaudah nanti aku pingsannya di rumah aja biar diperiksa!"
"Banyak mau," cibir Al.
"Apasih lo gak diajak!"
Tasya terkekeh melihat pertengkaran keduanya. Namun tak selang beberapa lama matanya tertuju pada pintu kamar Radit yang terbuka. Baru saja Tasya berdiri dan berniat menghampiri Amanda dan bayinya, tiba-tiba dia mengurungkan niat dan mundur beberapa langkah.
Bukan hanya Tasya yang kaget, tapi juga dengan Al. Al dengan sigap menghampiri istrinya yang mematung di sana.
"Mas aku mau pulang."
__ADS_1