
Hari ini seperti biasa Al memulai rutinitas paginya dengan melakukan visite pada pasien, namun saat akan memasuki ruangan dia dikagetkan oleh Viko yang baru keluar dari ruangan itu. Mata mereka bertemu, namun Al mengabaikannya dan kembali berjalan memasuki ruangan. Sudah bisa dipastikan kalau itu adalah ruangan Bella.
Seperti biasa Al akan bertanya tentang keadaan pasien lalu memulai untuk pemeriksaannya. Sejak pertama kali Al masuk, Bella sudah tertegun melihat dokter yang kali ini memeriksanya.
"Ada keluhan lain?" Tanya Al yang berusaha tetap profesional dalam keadaan seperti ini.
"Aku minta maaf, Al," ucap Bella terbata.
"Baik kalau tidak ada mungkin nanti pada siang hari suster akan menyuntikkan obat untuk rasa sakitnya ya-"
"Aldo Prayoga!"
Al menghela napasnya lalu menatap ke arah Bella. Tidak ada sepatah kata namun gadis itu terus menatapnya seolah ada banyak sekali yang ingin dia bicarakan dengan Al.
"Aku minta maaf atas kesalahan aku di masa lalu," ucap Bella seraya menggenggam lengan Al.
"Aku ngelakuin itu semua karena aku terlalu sayang sama kamu, aku rebut Viko dari Tasya karena aku gak suka kamu lebih milih dia daripada aku yah rela berjuang apapun demi kamu. Aku-"
"Tasya yang harus kamu pintai maafnya, bukan saya."
"Al-"
"Justru saya berterima kasih sama kamu karena telah menjadi perusak hubungan Tasya dan Viko, berkat kamu Tasya ada di samping saya sekarang," jawab Al bangga.
Bella menghela napasnya, lagi dan lagi kenapa dia harus mendengar semua orang membanggakan Tasya di hadapannya. Entah suaminya, mertuanya dan sekarang masa lalunya. Jujur dia sudah muak!
"Oke, oke kita lupain Tasya. Tapi Al aku mau minta tolong, tolong bawa aku kabur dari sini, aku gak ingin hidup sama Viko," ucap Bella memohon.
__ADS_1
Tidak ingin hidup bersama, maksudnya? Al menyerngitkan dahinya, tapi setelah itu dia berusaha melepaskan tangan Bella dari lengannya. "Kamu yang memilih hidup bersama Viko, jadi sekarang jalani."
"Al, dengerin aku dulu. Aku butuh bantuan kamu, kita masih sahabat, kan? Al please."
Ada raut ketakutan yang sangat besar dalam diri Bella, tangannya juga gemetar seperti mengalami sebuah trauma besar. Tapi mungkin bisa saja Bella trauma karena kehilangan anaknya. Lagi pula dia memang pintar bersandiwara.
"Maaf saya tidak bisa, kamu sendiri yang sudah memutuskannya beberapa tahun lalu. Nikmati hidup yang kamu pilih sekarang karena saya tidak peduli."
Al tersenyum sekilas, setelah itu merapikan peralatan dokternya dan keluar dari ruangan. Ini semakin aneh sih kalau dilihat dari sudut pandang Bella. Tapi, mau bagaimana pun dia tidak akan peduli. Karena yang sekarang dia pikirkan adalah Tasya dan kesehatannya.
Hari ini Tasya bertugas malam lagi, tapi ada untungnya karena Tasya bisa beristirahat dulu sampai sore karena kondisinya kemarin sempat sedikit drop. Semoga saja dia bisa melakukan aktifitasnya dengan normal malam ini.
Daripada bergelut dengan pemikirannya yang tidak kunjung usai, akhirnya Al kembali ke ruangan untuk merekap data-data dan kondisi kesehatan pasien. Tidak lupa juga dia harus mengisi buku log sebagai tugas intership mereka.
.
.
.
Di saat tidak ada pekerjaan seperti ini, memang sering mereka gunakan untuk belajar dan mengisi buku agar nanti kriteria penilaiannya juga sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Namun tak selang beberapa lama datang seorang dokter intership lain dan menghampiri Tasya.
"Dokter Tasya, maaf menganggu waktunya. Barusan kita kedatangan pasien yang terluka di bagian dahi, harus segera dijahit." Sebut saja Citra namanya.
"Lalu? Kamu belum menguasai, kah?" Tanya Tasya yang memang biasanya kalau ada yang seperti itu berarti dia belum menguasai prosedurnya.
"Bukan, tapi pasien meminta Dokter Tasya yang menanganginya. Ayok, Dok saya takut kalau terjadi pendarahan."
Tasya terkesiap, kenapa harus dia? Tapi mengingat sumpah dan nalurinya sebagai dokter, Tasya langsung berlari ke ruangan yang sudah Citra tunjukkan dan perlahan langkahnya melambat karena orang itu adalah. "Viko?"
__ADS_1
"Akhh sakit, Syaa," ringisnya.
Sebenarnya Tasya kesal, tapi memang tidak ada waktu lagi. Dengan sigap Tasya menangani Viko yang memang sedang terluka cukup parah.
"Kenapa bisa?" Tanya Tasya yang kini sedang membersihkan luka Viko menggunakan antiseptik.
"Biasa, cowok." Jawab Viko sembari menatap Tasya kesenangan.
Posisi seperti ini tidak nyaman sebenarnya untuk Tasya. Viko yang duduk di brankar dan Tasya yang berdiri di hadapannya untuk menjahit luka di dahi Viko. Tapi memang Viko tidak ingin berbaring, jadi sebisa mungkin dia tetap melakukan tugasnya sebagai dokter.
"Kamu bahagia sama Al, Sya?" Tanya Viko.
Tasya tidak memberikan jawaban, terlalu malas sebenarnya untuk meladeni pembicaraan seperti ini. Seharusnya dia paham kan kalau Tasya sangat bahagia bersama Al.
"Sya?"
"Tentu aku bahagia, memang apa yang kamu pikirkan?" Tanya Tasya to the point.
Viko terkekeh, lucu sekali memang jika melihat Tasya mode kesal begini. Bahkan dari dulu rasanya Viko memang tertarik karena sikap tak acuh Tasya padanya. "Lucu."
Tasya menghela napasnya, lagi pula kenapa juga sih Viko harus memintanya untuk menjahit luka. Tasya tidak mau membuat Al salah paham nantinya, karena Tasya sendiri tidak suka kalau siapapun mendekati Al.
Di sisi lain Viko tersenyum lebar, menatap Tasya dari jarak dekat seperti ini, mencium aroma tubuhnya yang tidak pernah berubah sejak dulu adalah hal yang paling dia sukai. Bagaimana tidak membekas, Tasya dan dia telah bersama dengan waktu yang cukup lama, Tasya juga cinta pertamanya. Andai saja dia tidak melakukan kebodohan. Pasti Tasya sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Kamu gak pernah berubah."
"Posisinya sudah berubah. Istri kamu baru saja keguguran dan seharusnya kamu lebih memahami kondisinya daripada menatap aku kaya gini. Aku juga sudah menikah jadi aku harap kamu punya batasan," ucap Tasya setengah berbisik dan menyelesaikan tugasnya.
Untuk sejenak dia menarik napasnya. "Setelah ini akan saya resepnya obat agar lukanya cepat mengering dan suster yang akan mengantarkannya ke sini, setelah itu anda boleh pulang. Saya permisi." Tegas Tasya.
__ADS_1
Sebagai seorang istri tentu dia harus tegas kepada siapapun terutama Viko. Pasalnya bukan kali ini saja Viko bersikap aneh untuk mendekatinya, tapi sudah sering. Dia jadi teringat malam saat dia hampir saja kehilangan kehormatannya malam itu karena Viko menculiknya di hari pertunangan..Dia jadi semakin was-was kalau begini.
Viko terkekeh, salah sih kalau Tasya berpikir Viko akan berhenti karena penolakannya. Dengan sikap Tasya yang seperti itu justru memacu adrenalin nya untuk mendapatkan Tasya kembali. "Menarik."