
"Hai, Sya gimana kabarnya?" Tanya Dokter Lizabeth.
Tasya hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "I'm not oke."
Mendengar itu Lizabeth duduk di ranjang dan mulai memeriksa pasiennya. Ya mengetahui kondisi fisiknya dulu, setelah itu baru kondisi mental pasiennya. Berbeda dengan psikolog, salah satu tugas psikiater adalah menentukan diagnosa lebih rinci dari apa yang di alami pasiennya.
"Al bilang sama saya kalau kamu sedang hamil, benar?" Tanyanya dengan antusias.
"Iya." Tasya mengangguk seraya mengusap perutnya sendiri.
"Selamat ya, anaknya pasti cantik atau tampan seperti Mama dan Papanya. Jaga kesehatan dan jangan lupa minum vitaminnya, oke?" Ucap Lizabeth.
Lizabeth tersenyum, dari sini dia tau kalau Tasya memang sedang kambuh, meskipun kekambuhan ya tidak parah tapi tetap saja, memancing sesuatu dalam dirinya bisa meledak begitu saja. Jadi pendekatan seperti ini memang perlu, agar pasiennya juga bisa diajak bicara.
"Apa mereka datang lagi? Apa ada yang mengajakmu bicara lagi?" Tanya Lizabeth seraya menggenggam tangan Tasya.
"Hanya gemuruh di kepala aja. Aku gak gila ... "
Lizabeth menganggukan kepalanya paham. "Iya tidak, memang siapa yang bilang kamu gila. Kamu hanya sedang tidak baik-baik saja dan kita berteman. Sudah seharusnya saya bertanya keadaan kamu."
Mendengar itu Tasya tidak kuat, dia memeluk Lizabeth dan menumpahkan semua keluh kesahnya. Lizabeth mengerti dan berusaha mendengarkan apa yang menjadi keluhan sang pasien.
Dia tau kalau perkara seperti ini tidak mudah, apalagi Tasya sedang hamil, kondisi mentalnya sudah tidak baik dan sekarang harus bertambah lagi dengan hormon emosional yang meningkat.
Sebaik mungkin dia akan menjadi pendengar yang baik untuk pasiennya, mungkin ada sampai 1 jam mereka bicara, sampai akhirnya Tasya mencoba menetralkan perasaannya sendiri.
Lizabeth menggenggam tangan Tasya. "Sudah lega? Apa lagi yang kamu rasakan sekarang?"
Tasya menggeleng, dia sudah menceritakannya dan semuanya terasa lega. Banyak teman di sekitarnya, tapi dengan Lizabeth dia tau, kalau dia memang harus benar-benar terbuka. Karena Lizabeth yang bisa membantunya sekarang.
"Perasaan itu bukan lomba lari kok, kamu tidak harus buru-buru. Memaafkan itu sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Perlahan, berjalan beriringan, bicara dan ikhlas. Perjalanannya panjang dan tidak mudah."
__ADS_1
"Jadi harus ikhlas, tapi gimana caranya? Aku gak bisa."
"Sekarang tidak bisa, kan? Ya sudah jangan kamu paksakan, semuanya ini masih terlalu mendadak untuk kamu. Menjauhi atau menghindar itu bukan masalah. Mereka pasti paham kok."
"Jadi aku gak salah?"
"Tidak salah kalau belum siap, tapi meskipun belum siap coba kita berpikir positif untuk mencari celah bagaimana perasaan benci kita semakin berkurang."
"Susah."
"Tasya, ketika membenci sesuatu. Sama halnya ketika kita membawa keresek yang di isi barang-barang. Semakin banyak isinya akan semakin berat dan akhirnya tangan kita pegal. Begitu juga dengan hati kamu yang diisi oleh kebencian."
"Memang tidak terlihat tapi bisa kamu rasakan kalau itu berat. Kalaupun kamu belum mau memaafkan, menghilangkan kebencian itu bisa membuat kita tenang. Bukan untuk mereka yang kamu benci tapi untuk diri kamu sendiri."
"Baik kalau begitu, saya akan resepkan obat lagi. Kali ini akan dikurangi dosisnya ya, Karen kamu sedang mengandung dan tidak baik meminum obat dalam jangka waktu lama.
Tasya terdiam, dia memang berat sekali sih menyimpan kebencian ini begitu lama. Lizabeth benar, kalaupun dia tidak mau menemui ibunya, sekiranya hatinya bisa tenang. Tapi bagaimana cara melupakannya.
.
.
.
Perlahan Diana memasuki kamar anak mereka dan duduk menemani Tasya yang sedang melamun sendirian. Iya, dia cepat-cepat datang ke sini karena itu. Karena Tasya tidak boleh dibiarkan sendirian.
Diana duduk di samping Tasya dan memeluk menantunya itu dengan sayang. Bagaimana pun Tasya bersamanya sejak kecil, dia juga yang menyusui Tasya sejak masih kecil, jadi tentu ikatan batinnya juga kuat meskipun bukan ibu kandungnya.
"Bunda ... "
Diana mengeratkan pelukannya pada Tasya dan mengangguk. "Bunda di sini, Sayang. Kamu aman sama Bunda. Tasya butuh apa hm?"
Tasya menggelengkan kepalanya dan tetap memeluk Diana, rasa aman, rasa nyaman dan kehangatan seorang ibu selalu dia dapatkan dari Diana. Sosok seperti ini lah yang memang Tasya butuhkan.
__ADS_1
Dia hanya butuh teman sekarang, butuh ditemani sampai perasaannya lega. Sebenarnya dia perlu Radit, tapi dia sedang tidak ingin bicara dengan Radit. Semalam mereka bertengkar dan setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi karena langsung tertidur. Mungkin karena obat juga kali ya.
"Bunda aku gak mau ketemu sama orang itu," adu Tasya pada Diana.
"Iya engga, Sayang. Kamu anak Bunda, kamu kesayangannya Bunda dan kamu sama Bunda aja. Bunda di sini sama Tasya."
"Kenapa Abang bawa ke sini? Abang bilang dulu sama Bunda?" Tanya Tasya.
Diana menggeleng, dia harus bersikap paling netral agar mendapatkan kepercayaan Tasya. Karena tentunya Tasya memerlukan orang yang bisa dia percaya untuk saat ini.
"Kalau kamu belum mau ketemu Mama, yaudah jangan dipaksa dulu. Tapi urusan Mama sama Abang Radit mungkin berbeda, Sayang. Ada kalanya memang seorang anak pasti membutuhkan orang tuanya."
"Tapi aku punya Bunda, punya Tante Amara."
Diana mengangguk. "Tentu kamu punya Bunda dan Tante Amara. Bunda cuma mau bilang, jangan paksakan apapun kalau kamu belum bisa, Sayang. Sekarang fokus sama anak yang ada di dalam kandungan kamu. Dia butuh perhatian Mamanya."
"Aku kaya gini sama aja kaya Mama ya, Bund? Sama-sama gak peduli sama anaknya."
Diana menangkup pipi menantunya dengan perhatian. "Ehhh engga, Sayang. Kamu akan jadi Mama yang baik. Bunda percaya sama kamu kalau kamu pasti jadi ibu yang terbaik. Makanya, fokus sama kehamilan kamu aja ya? Jangan pikirkan apapun yang gak mau kamu pikirkan."
Jujur Diana sakit sekali melihat putrinya seperti ini. Dia juga masih ingat bagaimana dulu Jonathan setiap malam kewalahan karena Tasya menangis, belum lagi Radit juga masih kecil, bagaimana dia setiap malam meminta bantuannya untuk memberi ASI pada Tasya dan bergantian dengan Al. Dia masih ingat jelas semuanya.
Mereka semua bersahabat, tapi memang persahabatan itu berantakan karena Lydia dan keegoisannya meninggalkan Jonathan pada saat itu. Belum lagi dia membunuh istri dari pria yang dia cintai demi mendapatkan lelaki kaya raya.
Jadi sangat wajar jika Tasya tidak bisa menerimanya. Sangat wajar kalau Tasya membenci ibunya sendiri karena semuanya berasal dari dirinya sendiri.
"Untuk sekarang, kamu di rumah Bunda dulu ya? Jangan dulu pulang ke rumah, Bunda gak bisa kalau lepasin Tasya lagi sakit kaya gini."
"Bunda aku baik-baik aja, aku gak gila ... "
"Iya engga, Sayang. Kamu itu sakit karena sedang mengandung, tubuh kamu lemas, kepalanya pusing, kan? Kamu kecapean, jadi sampai tubuhnya bisa fresh lagi, di sini dulu ya, Sayang?"
"Bunda gak akan kerepotan?"
__ADS_1
"Engga, Sayang. Sekarang udah minum obat, biar Bunda temenin tidurnya kaya waktu masih kecil, mau? Sambil tunggu Al pulang."
Tasya mengangguk, mungkin memang tubuhnya saja yang dewasa. Padahal inner childnya masih belum puas mendapatkan kasih sayang sejak kecil. Tasya merasa beruntung karena Ibu sambungnya sekarang menjadi mertuanya. Dia sangat senang karena Diana masih mau memanjakannya seperti ini.