My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Umi dan Abi


__ADS_3


1 Minggu berlalu, Tasya sudah jauh lebih baik dan dia sudah berbicara pada Al kalau dia akan kembali bekerja besok. Sebenarnya Al sempat membicarakan tentang bagaimana kalau selama hamil dia tidak usah bekerja.


Tapi dengan sendirinya Al bilang tidak jadi karena dia tau kalau Tasya sudah berjuang keras untuk sampai di titik ini. Dia memutuskan untuk percaya pada Tasya kalau Tasya pasti bisa melewati apa-apa saja yang menjadi masalah hidupnya. Tentunya dia tidak sendiri, karena bagaimana pun keadaannya Al akan selalu bersamanya.


Pagi ini setelah selesai mandi dan karena mereka memang sudah pulang dari orang tuanya, Tasya menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Lebih tepatnya dia sedang menyusun makanan ringan karena katanya teman-teman mereka akan ke sini.


Dan benar saja, tidak lama kemudian bel berbunyi. Tapi sebelum Tasya beranjak, Al sudah lebih dulu keluar dan menemui teman-temannya.


"Bocillllll." Belva dan Monik berlari ke arah Tasya yang sedang duduk di sofa dan memeluknya dengan erat. Seminggu tidak bertemu tentunya membuat mereka merindukan Tasya.


Tasya terkekeh dan membalas pelukan mereka. "Pasti kangen gue."


"Iyalah kangen, gak ada yang bisa gua gangguin," sahut Angkasa dari depan sana, membuat Tasya langsung mendengus kesal saat melihat musuh bebuyutannya itu.


"Nyebelin banget baby Asa," ledek Tasya.


Nahkan kalau sudah begini berarti sudah menimbulkan pertengkaran antara Tom and Jerry ini, Al dan Yoda hanya bisa menghela napas.


Namun sepersekian detik berikutnya Monik melepaskan pelukan pada Tasya. "Gue ada hadiah buat kalian semua, tunggu."


Monik langsung berlari keluar menyusul Arka, iya dia ke sini bersama Arka dan mereka membawakan sesuatu untuk teman-temannya. Saat Arka dan Monik masuk membawa dua besar Yoda mengernyitkan dahinya.


"Apa tuh?"


"Tar sabar, yang ini taro dulu. Yang terpenting itu yang dibawa Arka."


Arka tersenyum tidak biasanya membuat mereka sedikit curiga. "Gua yakin lu semua seneng."


Perlahan Arka membuka dus itu dan ternyata itu berisi undangan dan souvenir pernikahan mereka. Bukan hanya itu dia juga membawa laptop dan printer.


"Bantuin kita ngemas undangan sama souvenir," ucap Arka dan Monik secara bersamaan.

__ADS_1


Mereka semua menghela napas, bisa-bisanya Monik dan Arka ini aji mumpung. Tapi tidak apa-apa juga sih, saat Tasya dan Al menikah dulu mereka juga sibuk membantu menyiapkan acara dan sekarang tentunya mereka harus membantu Monik juga.


"Oke siap, tapi jangan lupa siapin cemilan."


Tasya terkekeh dan menganggukkan kepalanya, kalau soal itu Tasya sudah mengerti kok. Bahkan semuanya sudah siap. Lalu mereka semua berkumpul di tengah untuk memulai pekerjaan sementara Tasya mengambil makanan bersama Belva agar mereka mengerjakannya dengan semangat.


Untuk beberapa saat mereka nampak khusyuk mengerjakan pekerjaan masing-masing, begitu juga dengan Tasya yang bersebelahan dengan Al. Al yang mengeprint nama-nama para tamu dan Tasya yang melipat undangan juga menempelkan label.


"Gak nyangka ya Monik duluan, gua kira bakal si Belva duluan," ucap Yoda asal.


"Gue emang sama siapa sih, cinta aja bertepuk sebelah tangan sedih banget," balas Belva.


"Lo masih ngarepin dokter Alzian?" Tanya Monik.


"Gak tau ah dia gak jelas, lagian karena emang udah jauh jadinya ya kaya gini. Jadi gue pasrah aja, lebih baik gue fokus di karir gue dulu. Soal jodoh gak kemana," jawab Belva.


"Bagus sih, lagian nikah itu bukan lomba lari. Jangan diburu-buru," ucap Angkasa.


Tasya langsung menatap tajam ke arah suaminya. Sementara yang ditatap kebingungan, memangnya dia salah bicara ya?


"Oh jadi selama sama aku kamu gak bebas gitu?" Kesal Tasya.


"Yaampun gak gitu, Sayang." Al menghela napasnya, nahkan si bumil ini mulai sensitif. Padahal maksud Al bukan seperti itu, bukan soal dirinya. Melainkan memotivasi Belva agar dirinya tidak insecure karena masalah percintaan.


"Yaudah kamu bebas mau kemana aja, mau main cewek kek, mau pergi kemana pun, mau pacaran lagi atau mau main-main juga bebas. Aku gak mau larang-larang kamu."


Yoda, Arka dan Angka menahan tawanya melihat pertengkaran pasutri itu. Gemas saja, tapi memang menjadi Al itu harus ekstra sabar sejak dulu, meskipun Tasya itu bisa dibilang ya idaman tapi dia menyebalkan juga.


Al mengusap lengan Tasya agar tidak marah, tapi gadis itu masih tetap cemberut. Aduh gemas sekali Tasya seperti ini, tapi sekaligus membuat Al ketar-ketir kalau sampai Tasya marah padanya.


"Emang, Sya. Cowok suka gitu, suka mau bebas kemana-mana. Padahal udah ada istri cantik di rumah." Itu siapa? Tentu Belva, kalau soal kompor dia jagonya.


"Emang sih, parah banget." Kini giliran Monik yang berbicara.

__ADS_1


Tasya semakin memajukan bibirnya. "Yaudah biar aja kalau mau bebas gue juga gak akan larang."


Al memijat pangkal hidungnya, mulai kan kericuhan ini. Mereka semua tertawa tapi ini Al yang pusing mencari cara agar Tasya tidak marah.


"Maksudnya itu biarin Belva lakuin apa yang dia mau, puas-puasin dulu apa yang belum dia gapai. Karena dia jomblo, kalau kita kan gapai apapun sama-sama, kemana-mama bareng. Iya kan?" Ucap Al yang membuat Tasya menatap ke arahnya sambil berpikir.


"Sialan lo kalau menghina orang gak nanggung ya!" Kesal Belva.


"Tapi harus gua akui lu jomblo sih," sahut Arka.


"Salah sendiri lu kompor!" Al kembali menatap Tasya yang masih menatapnya. "Jangan marah ya, masa papanya bayi dimarahin?"


Tasya terkekeh mendengar ucapan itu, ya lucu saja kalau Al menyebut dirinya papa begitu. "Yaudah mamanya bayi gak marah."


"ASTAGFIRULLAH TAKBIRR!!" Teriak Belva, Yoda dan Angkasa.


Bagaimana tidak mereka sedang bercanda dan mereka bercandanya bucin. Bukan tertawa mereka bertiga malah ngebatin sendiri. Sementara Tasya dan Al nampak tidak peduli, mereka tetap akan melakukannya meskipun banyak hujatan.


"Kita langsung punya anak aja yuk, Mon," ajak Arka tiba-tiba.


"Gausah gila, nikah aja belum udah anak-anak aja," balas Monik sambil melemparkan bantal ke arah Arka.


"Biar kaya Tasya sama Al, bisa Mama Papa. Tapi kita jangan Mama Papa anjir, yang beda gituloh. Misalnya. Enyak babeh, atau Umi Abi. Anjay Umi Monik." Arka malah tertawa karena guyonannya sendiri, membayangkan kalau mereka akan dipanggil Umi dan Abi oleh anak mereka nanti.


"Umi Monik." Tawa Yoda menggelegar sampai penjuru ruangan membuat yang lain juga ikut tertawa. Ya lucu saja sih, unik sekali memang mereka berdua.


"ARKANJING!!!" Monik yang geram langsung berdiri dan seketika Arkan juga sudah berlari karena takut kena amukan macan yang sudah bangun. Lagi-lagi yang lain hanya bisa tertawa melihat kekocakan mereka.


Memang pasangan ini sangat bar-bar, Monik yang memang tomboy, Arka yang memang humoris membuat mereka sepertinya akan cocok menjadi sepasang suami istri. Kalau Tasya dan Al ini genre romance, penggambaran yang tepat untuk Arka dan Monik adalah action comedy.


Bisa dibayangkan saat mereka di rumah nanti, akan seribut apa. Tapi sejauh ini mereka ribut dalam konteks yang tidak serius kok dan mereka percaya pada Arka kalau dia bisa membahagiakan Monik.


Bicara soal pasangan absurd, Tasya jadi merindukan Sherli dan Sarah. Bagaimana ya keadaan mereka? Tapi ya sudahlah, sejauh ini memiliki mereka dalam hidup membuat Tasya beruntung kok.

__ADS_1


__ADS_2