
Setelah selesai makan malam, Al mengajak Tasya untuk ke kamar. Karena memang sudah malam juga, jadi waktunya untuk tidur. Setelah mencuci wajahnya, Al menaiki kasur dan langsung mengukung istrinya di bawah karena memakai pakaian yang menggoda.
"Mass!!!"
Al menciumi leher jenjang Tasya, membuat gadis itu yang tadinya mengantuk kini malah jadi turn on karena perbuatan Al. Tasya meremas tangan Al yang menggenggam kedua tangannya, ahh sial kenapa dia jadi menginginkan lebih. Masalahnya ini di rumah mertuanya, kamar mereka juga berdekatan dengan Zea dan Fadil.
Al terus menelusuri leher istrinya itu dan menghisapnya tanpa jeda, sesekali dia menghembuskan napas di sana yang membuat Tasya sedikit melenguh. "Ahh, Masss– Ini di rumah Bunda!"
Al menghisap leher jenjang Tasya dengan kuat, menciptakan sebuah karya indah yang membuatnya tersenyum puas. Sementara Tasya kini masih mengatur napasnya dan merasa kesal dengan perlakuan suaminya. "Mas! Gimana kalau kedengeran Kak Zea sama Kak Fadil!"
"Gapapa, mengedukasi para junior kan gak salah," ucap Al santai.
Tidak habis pikir dengan ucapan Al. Tasya kini duduk dan menatap tajam ke arah suaminya. "Kamu nih, aku mau tidur jadi gak bisa tidur."
"Lagian kamu pakai hotpant sama tanktop gini kenapa coba hm?" Al mendekat ke arah Tasya dan membawanya untuk duduk di pangkuan seraya menyenderkan punggungnya di kepala kasur.
"Kita gak bawa baju, cuma ada ini aja di lemari. Yaudah aku pake, lagian emang kamu tergoda kah aku pakai ini? Kan gak transparan. Hitam juga warnanya."
Polos sekali istrinya, tentu saja! Bagaimana bisa dia disuguhkan lekukan tubuh Tasya dengan banyaknya bagian yang terbuka dan ketat? Al menggeram, gemas sekali istrinya. "Iyalah, aku selalu tergoda sama kamu dengan memakai apapun."
Ya memang benar sih, kadang di rumah Tasya memakai daster tidur saja Al tergoda. Apa memang napsu pria memang seperti itu ya? Ya sudah dia terdiam saja deh daripada membuat Al kelimpungan. Tapi justru dia malah melakukan hal yang membuat fantasi Al berkeliaran. Tasya mengingkat rambutnya di hadapan Al, membuat leher jenjang itu terekspos, belum lagi tanda merah yang Al buat seolah menantang.
"Kamu ngantuk?" Tanya Al, suaranya nampak berat kali ini.
"Tadinya ngantuk, tapi–"
Tanpa aba-aba Al merengkuh pinggang Tasya, dengan lembut dia menyatukan bibirnya pada bibir chery milik gadis itu. Awalnya Tasya nampak kaget, tapi jika sudah seperti ini berarti Al benar-benar menginginkannya.
__ADS_1
Karena sudah terlanjut panas, Tasya dengan lembut mengalungkan tangannya di leher Al dan membalas ciumannya. Bahkan ciuman itu semakin panas karena keduanya ingin saling mendominasi. Puas dengan bibirnya, kini ciuman Al turun ke leher jenjangan istrinya, membuat Tasya melenguh apalgi tangan nakal itu sudah berani mengusap sesuatu di bawah sana.
"Mmmmm, Mass. I want, More," lenguh Tasya.
"My Pleasure, Baby." Mendengar itu Al bersemangat, langsung saja dia mengukung istrinya di bawah.
Karena fantasi liarnya sedang berkembang, tanpa pikir panjang Al merobek tanktop yang Tasya kenakan, tidak lupa juga dengan hotpant yang gadis itu kenakan. Setelah puas memolosi tubuh istrinya, Al mulai beraksi.
Menjamah setiap inci tubuh istrinya dengan lembut dan membuatnya mengerang adalah kesukaan ini. Malam ini sepertinya mereka akan begadang sampai pagi, karena jika sudah seperti ini mereka akan melakukannya berulang kali sampai puas.
.
.
.
Al menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Kalau tidak mengingat Tasya yang sudah lelah, mungkin Al masih akan memintanya lagi, tapi tidak. Kasihan istrinya sudah kelelahan, karena mau sejago apapun Tasya dia pasti akan selalu kalah kalau soal bertarung di ranjang, dia yang paling banyak keluar sampai terkulai lemas. Gemas sekali menurut Al.
Dengan lembut Al memeluk Tasya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Sudah Al bilang mau berkeringat sebanyak apapun Tasya selalu wangi dan wanginya itu candu.
"Mass, aku capee," rengek Tasya, bagaimana tidak? Al terus memberikan sentuhan-sentuhan sensual padanya, bagaimana dia tidak turn on lagi? Padahal Tasya sudah sangat lelah.
"Iya-iya maaf, nanti kita lanjut waktu honeymoon." Al tersenyum lalu mengecup bibir Tasya sekilas, setelah itu dia merapikan helaian rambut Tasya dan memandangi parah istrinya yang cantik jika tanpa sehelai benang seperti ini.
"Menurut kamu, Arka serius gak sama Monik?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat mereka sedang asik dengan dengan rutinitasnya.
"Serius, cowok kalau udah serius bakalan keliatan, Sayang. Itu yang aku liat dari Arka," ucap Al seraya mengecupi pipi istrinya.
"Ada yang kamu pikirkan?" Lanjut Al.
__ADS_1
"Gak ada sih, cuma kan mereka berdua sama-sama temen aku. Aku cuma takut kalau nanti mereka ada masalah, aku gak bisa adil. Takut salah satunya nyakitin, kaya kamu paham gak sih maksudnya?" Tasya kini mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
"Paham, tapi sebagai teman yang baik kita cuma harus dukung mereka. Mungkin ini baru awal, kedepannya kan gak ada yang tau?"
Tasya mengangguk, benar sih. Mungkin dia saja yang terlalu banyak berpikir, tapi sebenarnya dia begitu karena menyayangi teman-temannya kok, dia tidak mau kalau kejadian yang pernah menimpanya terjadi pada mereka. Di mana seorang teman menjadi pacar dan ketika putus terbagi menjadi dua kubu. Itu rasanya tidak enak sekali.
"Mukanya mendadak sedih gitu, kenapa cantik?"
"Aku kangen Niken, Sherli sama Sarah."
Mendengar itu Al paham, meskipun Sherli dan Sarah mengkhianati Tasya, pasti gadis itu suatu saat akan merindukan mereka. Mereka bersama sejak lama, pasti ada memori yang membekas walaupun hanya sedikit.
Dengan lembut Al membawa Tasya dalam dekapannya, mengelus punggung gadis itu agar perasaannya sedikit membaik. "Kalau kamu udah siap, hubungi mereka ya? Apapun tanggapannya yang terpenting kamu udah mencoba."
"Oiya, kalau kita punya anak mau perempuan atau laki-laki?" Tanya Al mengalihkan pembicaraan. Ya karena kalau tidak begitu pasti Tasya akan kepikiran berkepanjangan.
"Perempuan boleh?" Tanya Tasya berbalik.
"Kenapa gak laki-laki?"
"Karena aku suka anak perempuan, bajunya lucu-lucu, bisa aku dandanin kaya boneka. Nanti setiap kamu pulang kerja dia teriak manggil papanya terus ciumin papanya banyak-banyak. Gemes, kan?"
Al terkekeh, tapi dia jadi membayangkan apa yang ada dipikiran Tasya. Pasti akan seru jika mereka memiliki anak perempuan. Tapi sebenarnya, Al tida mempermasalahkan sih mau anaknya perempuan atau laki-laki. Yang terpenting dia bisa menjadi seorang ayah dari anak yang lucu-lucu.
"Boleh, nanti kita minta edukasi gimana caranya dapat anak perempuan!" Ajak Al.
Tasya mengangguk, Al tersenyum melihat itu. Setelahnya dia menyamankan posisi dan membawa Tasya ke dalam dekapan terbaiknya. "Yaudah sekarang kita tidur ya. Kamu kecapean pasti, kasian baby girl. Makasih buat malam ini, cantik."
"Sama-sama, Sayang." Tasya mengecup bibir suaminya dengan lembut, setelah itu mereka berdua sama-sama memejamkan mata untuk menjemput mimpi.
__ADS_1