My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Mendadak Banyak Aturan!


__ADS_3


Kehidupan tak selamanya berjalan lancar, begitu juga ternyata dengan liburan mereka. Monik mengatakan kalau Arka sudah menyatakan kesungguhannya di depan orang tuanya dua hari lalu. Membuat Monik mau tak mau harus ikut Arka kembali ke Bandung untuk diperkenalkan dengan keluarga besarnya.


Karena mereka menjunjung tinggi pertemanan, terpaksa Tasya juga harus membatalkan bulan madu kedua mereka. Karena mereka tidak mungkin pergi tanpa Monik, ya walaupun sebenarnya Monik tidak masalah kalau mereka jadi pergi, tapi tidak apa-apa.


Tasya juga tidak menuntut banyak hal dari Al dan Al juga memang akan pikirkan lagi. Jangan lupakan fakta kalau Al bisa melakukan apapun untuk Tasya. Kalau tidak jadi liburan, dia akan mencari cara lain agar program anak mereka berkesan. Padahal sebenarnya program anak itu mudah, tapi fantasi Al saja yang sudah kemana-mana.


Dia ingin sesuatu yang spesial dari biasanya dengan alasan agar hasilnya bagus. Tasya sampai tidak mengerti dengan pernyataan Al. Padahal kan yang mereka inginkan hanya anak, buatnya bisa di mana saja dan kapan saja.


Pagi ini setelah bangun tidur mereka mencuci muka masing-masing, biasanya Tasya akan mengerjakan pekerjaan rumah seraya memasak sarapan. Tapi aneh, hari ini Al melarang Tasya untuk melakukan apa-apa. Dan lagi Al sedari tadi sudah sibuk bolak balik ke luar, entah apa juga yang sedang dia kerjakan.


"Mas aku mau bikin sarapan ih!"


"Aku aja, biar aku. Kamu istirahat, minum vitamin sama suplemen lalu duduk manis di meja makan. Biar hari ini aku yang lakuin. Sampai beberapa hari ke depan!" Ucap Al mutlak.


"Kok gitu?!! Aku gak sakit tau, emang kenapa sih?!" Protes Tasya. Ya itu kan tugasnya, kenapa juga jadi Al yang mengambil alih. Dia malah jadi takut berdosa kalau begini karena membiarkan Al mengerjakan pekerjaan rumah.


"Nurut sama suami ada pahalanya, jadi nurut ya, Sayang?" Al mengusap puncak kepala Tasya, setelah itu mengecup bibir mungil itu dan keluar dari kamar. Al tentu mempunyai alasan di balik ini semua, jadi memang sebaiknya Tasya patuh dan menurut.


Tasya menghela napas, memang kenapa sih harus begini? Kan dia tidak merasa sedang kambuh apa-apa, dia baik-baik saja malah. Untuk melakukan tugas dan kewajibannya dia juga masih mampu. Tapi jika Al sudah seperti itu ya terpaksa dia menurut. Mungkin memang sedang ingin saja atau kesambet.

__ADS_1


Daripada berkutat dengan pemikirannya Tasya keluar dari kamar dan duduk di samping Al yang sedang memotong-motong buah. Pria itu nampak serius memotong beberapa buah, karena Tasya memang bukan orang yang betah diam berlama-lama akhirnya dia menawarkan diri membantu suaminya. "Biar aku aja."


"Aku aja," balas Al yang memang tidak akan membiarkan Tasya mengerjakan apapun hari ini. Tasya memajukan bibirnya kesal. Padahal memotong buah tidak membuat energinya terkuras habis.


"Ett kenapa bibirnya gitu pagi-pagi?" Tanya Al seraya mengecup puncak kepala Tasya, lalu beralih untuk mengecup bibir gemas itu yang sedari tadi menggodanya.


"Aku gak sakit, aku baik-baik aja!" Akhirnya Tasya berani melontarkan apa-apa saja yang ada di pikirannya. Ya karena Al seolah menganggapnya sedang lemah atau sakit begitu.


"Yang bilang sakit siapa? Nurut aku aja, sekarang buka mulutnya," ucap Al seraya mendekatkan satu sendok madu pada mulut Tasya. Nah apalagi ini? Mereka tidak membiasakan diri untuk minum madu, tapi sekarang?


Tasya melirik sekilas kepada Al lalu menerima suapan Al. Daripada jadinya berdebat dia minum saja. Membuat pria itu tersenyum karena istrinya menjadi penurut. "Pinter, kalau lapar cemilin dulu buahnya ya. Aku siapin makan."


Setelah mengatakan itu Al ke dapur, layaknya cheff profesional dia memakai apron dan memulai acara masaknya, sementara Tasya masih terdiam sambil memakan buah-buahan yang ada di hadapannya. Pokoknya hari ini Al aneh, sangat aneh!


Al mengangguk seraya mengusap pipi Tasya dengan lembut dan perhatian. "Kita mau program hamil. Kamu gak boleh kelelahan, makan makanan yang bergizi dan mengandung asam folat beserta kandungan lainnya. Kamu boleh olahraga ringan dan banyak minum vitamin. Kurangi stress juga dan jangan banyak overthinking. Mengerti?"


"Padahal kerjain pekerjaan rumah itu gak cape, hufft!"


"Tasya Aurell!"


"Iya iyaa, makasih suami." Tasya tersenyum lalu mengecup pipi Al dengan lembut. Tentu dia harus mengapresiasi kerja Al yang bagus ini. Meskipun dia juga agak sedikit kesal karena merasa berlebihan. Tasya juga dokter, dia tau mana yang boleh dan tidak untuk program kehamilan. Dia juga tau bagaimana caranya agar dia bisa cepat hamil, karena ya Tasya juga menginginkan seorang anak.

__ADS_1


Setelah selesai makan Al yang membawa piring-piring itu ke dapur. Jadi Tasya hanya duduk di meja makan, tapi karena bosan jadi dia berpindah duduk ke sofa dan menonton TV. Hingga beberapa menit pun berlalu, setelah selesai mencuci piring Al menghampiri Tasya dan berbaring dengan paha Tasya yang di jadikan bantalan. Tangannya dengan lembut mengusap-usap perut rata Tasya sambil tersenyum.


"Al junior udah ada belum sayang di sini?" Al tersenyum seraya mengecup-ngecup perut Tasya, membuatnya jadi merasa salah tingkah, ya gemas saja!


"Belum ada, Mass. Kamu pingin banget punya anak ya?" Tasya menatap kebawah lalu mengusap-usap rambut Al dengan lembut.


"Mau kaya Bang Radit, Sayang. Mau bikinin kamu susu setiap pagi dan malam, mau elusin perut kamu dan sapa anak kita, mau di panggil papa." Al mengeratkan pelukannya pada perut Tasya, membuat Tasya tertawa geli karena suaminya sedang datang manja begini. Bahkan jauh lebih manja dari sebelumnya, mungkin memang pada dasarnya mereka sama-sama anak bungsu, jadi Tasya juga memahaminya kok.


"Ya nanti kita buat ya papa, sekarang papanya jangan rewel nanti mamanya pusing," ucap Tasya, membuat pria itu mendongak dan menatap ke arah istrinya. Jadi Tasya mengajaknya membuat anak? Atau bagaimana, namun dengan cepat Tasya mencium bibir suaminya. "Jangan mesum!"


"Kamu yang ajak, aku juga yang dikatain. Untung aku sayang banget sama kamu, Sayang. Kalau engga udah aku cium seratus kali sekarang juga."


"Sini biar aku aja yang cium kamu seratus kali." Ah gemas sekali melihat Al seperti ini, pada akhirnya mereka bermanja di sofa dengan Tasya yang mencium-ciumin bibir Al. Indah sekali pagi ini.


Cukup lama mereka berada di posisi itu, Al lupa kalau dia sudah menyiapkan sesuatu. "Tunggu di sini ya, aku ada kejutan buat kamu."


Cukup membuat penasaran, tapi Tasya mengangguk pelan dan membiarkan Al berjalan ke ruang kerjanya. Tak lama kemudian Al datang dan membawa sebuah kotak yang cukup besar ke hadapan Tasya. "Buat kamu."


Tasya menerima kotak itu sembari kebingungan, dia tidak ulang tahun tapi Al memberikannya hadiah. Dalam rangka apa? "Ini apa? Tanya Tasya seraya menatap Al yang kini duduk di sampingnya.


"Dress?" Tanya Tasya yang melihat mini dress berwarna hitam dengan tali spaghetti.

__ADS_1


"Nanti malam dandan yang cantik, aku mau ajak kamu makan malam berdua," ucap Al sembari memeluk Tasya dan mencium bibirnya.


__ADS_2