
Sore ini sambil menunggu Al pulang, Tasya sedang asik menonton tv di ruang keluarga. Dia memang sudah makan sekarang, mungkin karena bawaan bayi juga.
Jadi dia memperbanyak makan camilan sehat untuk ibu hamil dan juga minum suplemen agar kebutuhan proteinnya juga tercukupi. Namun di saat dia sedang asik menonton, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terpampang jelas di sana kalau suaminya yang meneleponnya.
Dengan cepat Tasya mengangkat panggilan itu dengan sumringah. "Halo, Mass."
Mendengar suara Tasya yang nampak senang membuat Al menyunggingkan senyumnya. "Lagi apa Mamanya bayi?"
"Aku lagi nonton sambil ngemil, kayanya bayi gak mau makan Mass. Mual terus kalau makan," adu Tasya.
"Nakalnya bayi, jadi sekarang belum makan?" Tanya Al. Dia sebentar lagi pula, kali saja Tasya ingin sesuatu jadi bisa Al belikan.
"Lagi ngemil, Papanya bayi. Dia sukanya makanan ringan aja. Tapi aku juga minum suplemen kok, jadi kamu gak usah khawatir oke," ucap Tasya menenangkan suaminya.
"Pintar, tapi coba sayang tanya sama bayi. Sekarang dia mau apa, biar papanya bisa bawain apa yang dia mau setelah pulang kerja," kata Al.
"Engga mau apa-apa, kata bayi mau papanya cepet pulang aja. Mau disayang-sayang," ucap Tasya dengan nada manja.
"Iya nanti Papa cepet pulang sayang, sebentar lagi. Jadi bayi aku baik-baik aja, kan?" Tanya Al perhatian.
"Bayi? Iya dia baik-baik aja di dalam. Kayanya dia lagi main."
Al terkekeh mendengar ucapan Tasya. "Kalau Mamanya baik-baik aja gak?"
"Baik-baik aja, cuma rindu aja sama papanya. Mau cium juga soalnya." Kalau ini jujur, biasanya dia 24 jam bersama Al meskipun ya kalau di rumah sakit mereka masing-masing berada di ruangan.
Jadi agak aneh sebenarnya kalau mereka berjauhan cukup lama. Seperti ada perasaan tidak enak dan ingin segera bertemu. Padahal mereka berpisah hanya beberapa jam mungkin. Dari pagi sampai siang.
"Aku juga rindu sama Mamanya bayi. Kalau gitu tunggu aku pulang ya. Nanti kita pelukan ya lama."
Tasya mengangguk, meskipun Al tidak melihatnya juga tapi ya dia senang saja mendengar kalau suaminya akan cepat pulang. Itu artinya dia bisa bermanjaan dengan suaminya.
__ADS_1
Setelah puas bicara dengan Al, Tasya langsung beranjak dari tempatnya. Sebentar lagi Al akan pulang tentu dia harus menyambut suaminya dengan keadaan cantik.
Dia tidak mau kalau sampai Al melihatnya dengan posisi belum mandi dan kusam. Jadi Tasya memutuskan untuk berendam air hangat dengan aroma lavender menenangkan dan juga untuk membuat dirinya semakin wangi hari ini.
Di satu sisi Al tersenyum saat jam pulang sudah bisa dia terjal. Kini dia bersiap-siap untuk pulang, namun matanya tertuju pada Arka yang sedang bicara serius dengan Viko.
Nampaknya mereka sedang beradu mulut, memang tidak salah sih, mereka kan sempat berteman dan sekarang mereka berpisah karena prinsip masing-masing.
Al memutuskan untuk diam saja, namun setelah Viko pergi dia menghampiri Arka. Dia sepertinya akan menjepit Monik, karena memang sebentar lagi mereka akan menikah.
"Kenapa?" Tanya Al.
"Gua cuma kasih peringatan, dia makin tengil gua gak suka," ucap Arkan terus terang. Dia bersama Viko hampir 7 tahun dan dia hapal sekali dengan sifat Viko. Tapi kali ini dia benar-benar emosi menghadapi makhluk yang satu itu.
"Biarin juga cape sendiri, gua gak mau ambil pusing. Terlalu gak penting buat dipikirin."
"Tapi Tasya aman, kan? Kemarin gua denger dia pingsan setelah bicara sama Viko. Gua jadi emosi tadi karena inget itu. Padahal udah gua ingetin untuk jauhin Tasya. Masih aja."
Al hanya tersenyum miring, karena ya memang tidak penting juga. Gangguan yang Viko berikan bagi Al hanya seperti duri dalam bunga mawar, karena nyatanya tetap saja dia dan Tasya tidak akan pernah bisa dipisahkan.
"Kenapa?" Tanya Arka panik, dia ingat jelas bagaimana dulu Tasya hampir mati karena menyayat tangannya dan sekarang?
"Ibunya ada di sini."
"Serius lu? Kenapa bisa, gak tau malu, gua tau banget dulu Mamanya Tasya perlakuin dia gimana."
"Bang Radit yang bawa."
Mendengar itu Arka paham point yang disampaikan Al. Dia paham kenapa Radit membawanya ke sini. Setelah itu dia hanya terdiam. Karena sebenarnya kalau masalah keluarga dia juga tidak bisa ikut terlalu jauh sebagai teman. "Terus keadaan Tasya gimana sekarang?"
"Udah mendingan kok, Minggu ngumpul di rumah gua."
Arka meninju lengan Al. "Nah gitu dong, oke tar gua sempetin waktu sama Monik, karena kita emang harus survey gedung juga."
__ADS_1
"Gaya lu."
"Ett lu harusnya mendukung, biar anak lu ada temennya nanti. Kan lucu kalau satu genk beranak semua," ucap Arkan asal.
"Lu pikir sapi beranak."
Setelah itu mereka berdua tertawa, memang jika Al dan Arka sudah disatukan mereka akan nyambung sekali. Apalagi kalau membahas soal motor. Tidak heran saat Al pindah ke Bandung Arka lah orang yang pertama dekat dengannya, karena se clop itu.
"Monik udah balik, kalau gitu gua ke poli gigi dulu ye?" Pamit Arkan.
"Gua juga mau balik, kasian Tasya."
Arka mengangguk. "Salam sama buketos."
Al mengacungkan jempolnya dan berjalan menuju parkiran. Tanpa disadari Viko melihat keakraban mereka berdua. Rasanya dia selalu kalah dari Al, sudah kehilangan Tasya, sekarang sahabatnya juga memihak Al.
Padahal dulu Arkan selalu berpihak padanya. Arkan adalah orang yang paling bisa Viko andalkan dalam segala hal. Viko merasa kalau semuanya berbalik begitu cepat. Kalau begini dia selalu ingin melampiaskan amarahnya pada Bella. Karena dia Viko kehilangan semuanya.
Al tersenyum mengingat kembali yang Tasya ucapkan, dia kal ini tidak akan langsung pulang. Sepertinya dia akan mampir ke toko cheesecake kesukaan Tasya, siapa tau Tasya suka. Pokoknya dia ingin membuat Tasya happy.
Berbeda dengan Al. Tasya kini sedang menatap dirinya di cermin. Namun bayangan sisi lainnya kembali datang. "Hai Tasya."
Tasya memejamkan matanya erat, dia berusaha menyadarkan dirinya sendiri. "Kamu cuma halusinasiku aja!"
"Aku itu bagian dari diri kamu, Tasya. Aku itu adalah kamu!" Suara sialan itu kembali terdengar.
Napas Tasya tidak teratur, dia sekarang diposisi setengah sadar. Karena itu dengan cepat dia mengambil selimut dan menutup kaca di meja riasnya.
Untuk sejenak dia terdiam, berusaha menetralkan perasaannya. Dia tidak boleh kambuh. "Kamu itu sehat, Tasya. Kamu sehat, kamu itu kuat. Iya kamu harus minum obat sebelum Al pulang."
Dengan cepat Tasya berlari ke arah laci, diambilnya obat itu dan meminumnya sekali teguk bersama air yang sudah tersedia di sana.
Tasya menarik napasnya panjang, setelah itu membaringkan dirinya di atas kasur. Dia berusaha menenangkan dirinya sampai obat itu bekerja dan perlahan dia mulai bisa tenang.
__ADS_1
"Jangan kambuh lagi, Tasya. Kasian bayi sama Al. Ayok kamu pasti bisa lawan mereka." Tasya bergumam dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Iya dia pasti bisa.