
Tasya dan Al sedang berjalan di lorong rumah sakit, seperti biasa Al pasti akan ke ruangan Tasya agar pulang bersama. Tasya nampak terdiam, namun sesekali dia menatap ke arah Al yang kini menatapnya.
"Kamu kaya bimbang gitu, kenapa? Ada masalah di UGD?" Tanya Al.
Tasya menggeleng, bagaimana dia menjelaskannya ya? Apa dia akan mau juga diajak bertemu dengan orang tua Viko? Dia takut kalau Al malah berpikir macam-macam.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Al melembut, dia tau nih kalau Tasya menjawabnya lama pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dan dia tidak mau Al marah.
"Di mobil deh bicaranya, gak enak kalau bicara di sini," ucap Tasya.
Al mengangguk, mungkin memang apa yang ingin Tasya bicarakan privasi, jadi tidak enak juga kalau di bahas di tengah lorong begini. Jadi dia mengiyakan sang istri untuk bicara di mobil.
Sesampainya di mobil, Al memasang seatbeltnya. Dia menatap Tasya sebelum melajukan mobilnya. "Jadi, mau bicara apa istriku?"
Gadis itu menoleh, setelah itu dia menghela napasnya panjang sebelum memulai pembicaraan dengan suaminya. Al sudah baik begini, jadi ya bilang saja lah. "Tadi aku ketemu Tante Rena yang jemput Bella sama Viko ke rumah sakit."
"Jemput?"
"Iya katanya mereka mah kembali ke Bandung, ya bagus sih kalau itu. Maksudnya Tante Rena minta kita buat temuin dia jam 5 sore di cafe perempatan deket rumah sakit."
"Mau apa?"
Tasya menjelaskan tentang apa-apa aja yang menjadi pembicaraan mereka, Al mengangguk paham sih. Tapi sebenarnya menurut Al sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, karena masalahnya terletak pada putranya sendiri. Tapi ya karena Tasya menginginkannya jadi Al mengiyakan.
__ADS_1
Lagi pula mana berani Al membiarkan Tasya menemui Ibunya Viko sendirian. Bukan tidak percaya, tapi tetap saja ada perasaan di mana dia trust issue karena takut Ibunya Viko juga mendukung perbuatan putranya.
Setelah selesai bicara, Al mulai melajukan mobilnya ke tempat di mama Rena membuat janji dengan Tasya..Saat sampai di sana, Al menggenggam tangan Tasya dan berjalan beririrang memasuki cafe. Terlihat jelas di ujung sana Rena melambaikan tangannya agar mereka berjalan ke sana.
Sesampainya di sana Al dan Tasya menyalami Rena dan duduk di hadapan Rena.
"Bagaimana kabar kalian, baik?" Tanya Rena.
"Baik, Tan," jawab Al sedikit menipiskan bibirnya. Ya Al memang orang yang simpel, dia tidak akan berekspresi lebih jika bersama orang lain, kecuali orang-orang terdekatnya.
"Jadi begini, sebenarnya Tante tidak tau harus memulai dari mana. Tapi biarkan Tante bicara mengenai kondisi Viko lebih dulu."
Karena Rena bercerita, jadi Tasya dan Al fokus mendengarkan cerita Rena yang sepertinya memang akan cukup panjang. Rena menjelaskan dari saat perselingkuhan itu terkuak, iya hasil dari tidur bersama itu menumbuhkan seorang anak yang tumbuh di rahim Bella. Jadi saat Viko mereka bawa pulang ke Bandung, Bella menyusulnya setelah beberapa bulan karena dia hamil. Tapi sayang entah karena apa Bella tertabrak dan akhirnya bayi itu keguguran.
Rena juga menjelaskan pernikahan Viko dan Bella itu banyak pertentangan sampai saat ini. Ya bagaimana pun akan sulit rasanya berpaling dari Tasya kepada Bella yang awal mulanya saja sudah tidak benar. Viko juga mengalami paranoid disorder setelah menikah, jadi dia terobsesi dengan Tasya dan ingin kembali merebut Tasya sampai saat ini. Bahkan saat hampir melecehkan Tasya malam itu juga karena dia dikuasai oleh mentalnya sendiri. Tasya sedikit ke triggered juga kalau membahas soal itu, tapi Al dengan setia memeluk pinggangnya.
Pembahasan ini cukup berat sebenarnya untuk Tasya. Dia menghela napas sejenak lalu menatap kembali ke arah Rena. "Kenapa Tante gak berusaha buat terima Bella?"
"Jujur, Tasya. Tante tidak bisa, semenjak malam terakhir saat Tante melamar kamu dan digagalkan oleh kejadian itu, Tante benar-benar tidak bisa menerima dia dalam kehidupan Tante. Apalagi kamu sudah kami anggap seperti anak kami. Tapi Tante juga bahagia kok dengan pernikahan kalian."
"Lalu Tante ingin kami melakukan apa? Karena masalahnya ada di Viko jadi sebenarnya saya tidak paham dengan pembicaraan ini," ucap Al.
"Sejak awal saya dan yang lainnya sudah berdiskusi soal ini. Mengenai apa yang terjadi pada Bella yang tidak mungkin dia ingin mengugurkan kandungannya. Bukannya seharusnya saya yang mengajak Tante bertemu untuk membicarakan jni?
Tasya mengangguk, karena sejujurnya juga dia tidak mengerti. Tidak ada yang bisa mereka perbuat. Rena tau sih mereka akan membicarakan ini.
__ADS_1
"Tante ingin meminta Tasya untuk membantu kesembuhan Viko mengenai mentalnya. Mungkin dengan Tasya menjadi teman dekat Viko, akan membuat obsesinya menurun. Mungkin mentalnya juga akan pulih dan berhenti untuk mengganggu kalian. Karena sejauh ini, semakin Viko dipaksa untuk menjauh, dia malah semakin terobsesi."
Mereka berdua terdiam, kaget saja dengan permintaan Rena yang terkesan ingin menyelamatkan putranya, tapi mengorbankan Tasya. Iya mereka tau kalau Rena adalah seorang Ibu tapi bukan ini caranya.
"Kalau soal itu Tasya gak bisa, Tante," jawab Tasya mencoba menolaknya secara halus. Bagaimana pun perasaannya pada Viko sudah tidak ada, iya Viko memang orang berjasa yang menemaninya saat down waktu itu, sewaktu kematian ayahnya dan dia terkena skizofrenia. Tapi posisinya sekarang sudah berbeda.
"Tasya sudah menikah dengan Al, Tante. Tasya berterima kasih sekali karena waktu itu Viko dan Tante mengusahakan yang terbaik untuk penyembuhan mental yang aku derita. Aku juga gak menghilangkan jasa itu kok, Tan. Tapi sekarang kondisinya berbeda. Tante juga tau mungkin apa yang seorang istri harus lakukan."
"Tasya-"
"Meskipun Al mengizinkannya untuk itu tapi Tasya gak bisa, Tan. Tante mungkin bermaksud baik karena tidak ingin menganggu rumah tangga Tasya dengan Al akibat ulah Viko. Tapi, sejauh ini kami sama-sama saling mencintai. Al selalu ada untuk aku dan aku yakin kalau Al akan menjaga aku dan rumah tangga kami." Tasya melirik ke arah Al dan mengeratkan gengggaman tangan mereka.
"Lebih baik bawa Viko untuk terapi, Tan. Saya bukan tidak mengizinkan Tasya, tapi kalau soal mental begini jika bukan ditangani oleh ahlinya bisa menjadi semakin parah. Bisa jadi rasa ingin memilikinya menjadi semakin besar karena ada peluang. Kami yakin, kalau pun Viko ingin berbuat lebih jauh kami akan bertahan berdua. Saya juga sudah menjaga Tasya sampai saat ini dan saya tentu akan menjaganya juga sampai ke masa depan."
Rena menghela napas, sejujurnya dia sudah kehabisan cara mengenai pengobatan Viko. Tapi mendengarkan Tasya dan Al yang kompak begini juga Rena tidak bisa apa-apa. Jadi setelah mereka menyelesaikan pembicaraan Rena segera pulang ke apartemen miliknya dan meninggalkan mereka yang masih ada di sana.
Tasya melirik ke arah Al. "Picisan banget!"
"Apanya picisan?" Tanya Al yang kini berpindah duduk di depan Tasya.
"Saya akan menjaganya sampai ke masa depan, cih picisan," goda Tasya.
"Itu emang picisan, tapi kalau soal jaga kamu aku beneran serius, Tasya Aurell. Ngeledek suami terus ini bocil," ucap Al seraya mengusak kepala istrinya dengan lembut.
"Makasih yaa," balas Tasya.
__ADS_1
Al mengangguk, karena sudah terlanjur di sini akhirnya mereka berdua memutuskan untuk makan berdua. Lagi pula membicarakan hal-hal berat membuat mereka lapar. Tapi ada bagusnya, karena dari sini Al bisa tau langkah dan antisipasi apa yang harus dia lakukan ke depannya.