
Rumah sakit yang tadinya santai mendadak sibuk saat melihat banyaknya pasien yang dilarikan ke UGD. Dengan sigap, semua dokter jaga pun berlari dan segera memberikan pertolongan pertama. Begini memang terkadang sibuknya bertugas di UGD. Tidak ada kesempatan istirahat sepertinya, karena pasien terus berdatangan dari luar sana.
Menurut informasi, di salah satu desa terjadi keracunan massal akibat jajanan di warung. Tidak heran juga jika pasien mereka kebanyakan anak-anak. Petugas UGD kewalahan, akhirnya Tasya dimintai oleh dokter senior untuk memanggil dokter intership lainnya di bagian poli.
Dengan cepat Tasya berlari menuju ruangan Al dan yang lainnya. Haduhh kenapa juga harus dirinya, sudah tau Tasya tidak kuat berlari. Tapi ya namanya juga dokter, dia harus sigap untuk segala hal.
Sesampainya di sana semua orang langsung menatapnya kebingungan. "Ada apa dokter Tasya? Tanya Al.
Tasya mencoba ngatur napasnya berkali-kali, Al menawarkannya minum tapi tidak ada waktu, ini keadaan darurat! "Tolong ke UGD, dokter intership berapapun yang ada tolong bantu di sana kata Dokter Adrian, keracunan massal!"
Mereka yang mendengar itu dengan sigap mengambil stetoskop dan ikut bersama Tasya berlari ke UGD. Ternyata benar saja, belum sampai UGD di sana sudah banyak pasien yang tergeletak karena tidak kebagian brankar.
Beginilah terkadang mirisnya penanganan medis di negara Indonesia. Masih kekurangan tempat dan unit, terkadang juga tidak bisa ditangani untuk rawat inap. Banyak dari mereka yang sudah ditangani tapi tidak bisa masuk ruang rawat inap karena prosedur dari kartu kesehatannya. Belum lagi mereka yang tidak mempunyai biaya.
Tapi sebagai dokter mereka tidak bisa melakukan apa-apa, tugas mereka sekarang adalah menangani yang memang sedang gawat.
Mata Tasya tertuju pada seorang anak laki-laki yang tergeletak di pangkuan Ayahnya, mereka sepertinya berasal dari keluarga tidak mampu, tapi keadaannya terlihat sangat kritis.
Dengan cepat Tasya membantu untuk menangani anak tersebut, namun dia sedikit kesulitan saat akan membawanya ke brankar. Al yang melihat itu langsung mengambil alih posisi Tasya. "Biar saya bantu, dokter Tasya."
Tasya yang menatap ke arah Al pun mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari Tasya, Al langsung membawa anak itu ke salah satu brankar. Mereka menanganinya berdua, karena memang sepertinya yang lain sudah di ambil alih.
Tasya mengambil jarum, beberapa suntikan dan juga labu untuk infus. Sementara Al melakukan pertolongan pertama. Berhubung pasien tidak sadarkan diri dan napasnya terhenti, Al melakukan prosedur CPR resusitasi jantung paru untuk memacu pernapasan.
Cukup lama memang untuk membuat pasien tersadar, Tasya juga sedikit khawatir, namun beberapa menit kemudian anak itu pun sadar. Al membantu pasiennya untuk memuntahkan sisa racun dan setelah itu Tasya memasangkan infus ke tangannya. Untungnya kalau soal memasang infus, Tasya sudah mahir sehingga tidak memerlukan waktu laman untuk membuat infus itu terpasang.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai Al dan Tasya bernapas lega. Anak itu bisa mereka selamatkan dari kondisi kritisnya.
"Dokter, sakit," ucap anak itu.
"Iya, sakit di bagian mana? Coba biar dokter periksa," ucap Tasya dengan lembut.
"Perut Abil sakit, Dok. Kepala Abil juga sakit," imbuhnya.
"Tahan, ya. Dokter akan berikan suntikan agar rasa sakitnya menghilang," balas Tasya.
"Abil takut, Dokter!" Rengek anak itu.
"Jangan takut jagoan, Dokter Tasya itu baik. Suntiknya juga gak akan sakit, paling kaya digigit semut. Memangnya Abil pernah di suntik?" Tanya Al seraya memalingkan wajah anak itu kepadanya agar Tasya bisa dengan mudah menyuntiknya.
"Iya Abil pernah disuntik, sakit dokter terus Abil nangis," jawabnya.
"Tuh kan sudah beres, gak sakit, kan?" Tanya Al.
"Waahhh dokter Tasya ajaib," ucap Abil.
"Iya dong, makanya Abil harus jadi anak pemberani ya? Kalau besok disuntik lagi jangan takut, oke?"
Abil mengangguk, nampaknya juga dia masih terlihat lemas. Tasya juga paham sih rasanya. Memang pada kondisi pasien keracunan pasti akan mengalami mual, pusing dan diare yang menyebabkan sakit pada perutnya. Untuk itu Tasya menyarankan kepada orang tua Abil agar anaknya dirawat beberapa hari di sini agar bisa dipantau.
Akhirnya semua pasien di UGD bisa ditangani. Tasya dan Al saling menatap lalu tersenyum. Ternyata menyenangkan bisa melakukan tugas bersama seperti ini. "Good job, Dokter Tasya!"
"Terima kasih Dokter Aldo Prayoga," balas Tasya tersenyum.
__ADS_1
Sepertinya setelah ini mereka akan langsung beristirahat dan mencari makanan di kantin, karena ya memang tugas mereka sudah selesai. Tasya merapikan mejanya, setelah itu dia menatap ke Al. "Angkasa, Yoda, Belva ke mana?"
"Kayanya udah di kantin, kita susul ke sana."
Tasya mengangguk lalu mengiyakan ajakan Al untuk ke kantin. Namun langkah mereka melambat saat melihat Abil dan Ibunya nampak kebingungan di samping UGD. Abil juga menatap kedua orang tuanya dari kursi roda dengan kebingungan.
Melihat itu, Tasya dan Al menghampiri mereka. Karena seharusnya mereka sudah berada di ruang inap, kan? Abil juga kondisinya belum stabil.
"Permisi, Buk, kenapa Abil belum di masukan ke ruang inap ya?" Tanya Tasya.
"Abil belum diperbolehkan masuk kamar inap, Dok. Kami masih harus menyelesaikan administrasi. Kami juga tidak memiliki BPJS, perawatan yang sangat mahal membuat ayahnya harus mencari pinjaman dulu."
Ini yang sedari tadi membuat miris, Tasya dan Al menghela napasnya. Perlahan Tasya izin pamit sebentar dan menarik lengan Al untuk ikut bersamanya. Al sih menurut saja, meskipun sedikit aneh karena dia membawa Al kembali ke ruangan. "Kenapa?"
"Kita bantuin Abil ya, Mas? Aku gak tega kalau liat anak kecil kaya dia gak dapat perawatan yang baik. Dari tadi aku mau bantuin rasanya liat orang pada kesulitan buat masuk ruang inap, apalagi Abil yang gak ada biaya. Kasian, Mas."
Al tersenyum, istrinya ini memang lembut sekali perasaannya. Ya Al juga tidak masalah sebenarnya, karena dia juga mampu kalau untuk membayar rumah sakit selama Abil ada di sini. Perlahan, karena tidak ada orang Al mengusap pipi istrinya dengan lembut dan mencium bibirnya.
"Mass, ini rumah sakit!" Peringat Tasya.
"Gak ada orang. Ya kalau kamu mau boleh, Sayang. Aku juga emang berniat kaya gitu. Yaudah sekarang kita urus administrasinya, setelah itu cari perawat untuk membawa Abil ke ruangannya."
Tasya tersenyum senang, dia mengangguk dan langsung menarik Al untuk ke ruang administrasi. Karena ya menang tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar. Abik harus segera masuk ke ruangannya.
Tidak butuh waktu lama, dengan power orang dalam akhirnya Abil bisa masuk ke ruangannya. Al juga memberikan kuitansi pada Ibu Abil sebagai bukti kalau mereka nanti tidak usah membayar apapun lagi saat keluar dari rumah sakit. Karena Al yang akan menanggungnya juga nanti saat Abil sudah pulih dan boleh pulang.
Orang tua Abil mengucapkan terima kasih kepada mereka, sebenarnya mereka tidak perlu di sanjung seperti itu. Karena menyembuhkan pasien memang adalah tanggung jawab mereka. Tapi Al bangga sih pada Tasya, rasa pedulinya begitu tinggi. Itu berarti Tasya adalah sosok penyayang, tidak salah memang Al memilik Tasya sebagai istrinya.
__ADS_1