My Perfect Bestie, No! Husband!

My Perfect Bestie, No! Husband!
Dilema Radit


__ADS_3


Mendengar kondisi Tasya membuat Radit benar-benar merasa bersalah. Iya ini salahnya karena tetap tukuh, tadinya dia berpikir kalau Tasya bertemu langsung dengan Ibunya dia akan bisa mencoba untuk menerimanya.


Tapi ternyata memang kalau berurusan dengan mental itu sulit dan susah. Dia ingin sekali menemui Tasya tapi Diana bilang kalau nanti saja. Karena Tasya memang ada jadwal konsultasi dengan dokter Lizabeth.


Lidya juga resah sebenarnya, bagaimana pun Tasya adalah putrinya. Dia dapat merasakan kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja, apalagi sekarang Radit nampak terdiam di kursi taman belakang seperti banyak sekali pikiran.


Lydia menghampiri putranya dan duduk di sampingnya. Perlahan dia mengusap punggung anaknya dengan kasih sayang. "Radit, sudah mama bilang kalau kita tidak bisa memaksa Tasya. Mama bisa melihat Tasya, mengetahui Tasya dari kamu juga rasanya mama sudah lega. Biarkan mama pergi dari sini ya?"


Radi memejamkan matanya erat, dia tidak tau harus bagaimana. Tidak mungkin dia menelantarkan ibunya lagi sementara dia sudah memiliki segudang kesuksesan. Tidak mungkin kalau Radit membiarkan orang tuanya hidup dijalanan.


Sebenarnya bisa saja dia menyewa rumah atau memberikan rumah, tapi tetap saja. Tasya tidak akan bisa beradaptasi nantinya. Radit tidak mau Tasya terus membenci ibunya sendiri, meskipun dia juga pernah berada dititik itu.


"Jangan dipikirin, Ma. Itu urusan Radit, ya g terpenting Mama sabar ya? Kondisi Tasya memang gak mudah."


Lydia sedih sekali sebenarnya, tapi dia harus tersenyum di hadapan putranya agar tidak khawatir. Dia tau dan sangat menyadari kesalahannya di masa lalu, dia paham kalau Tasya tidak bisa menerimanya. Mungkin ini juga karma setimpal atas perbuatan di masa lalu.


"Ma, mama sayang sama Tasya?"


Pertanyaan itu terlontar dari mulut Radit tatkala memikirkan apa yang dia pikirkan sekarang. Lydia tentu mengangguk, rasa bersalahnya ini bahkan lebih berkali-kali lipat pada Tasya yang dia tinggalkan saat baru beberapa hari lahir. Tentu dia menyayanginya karena memang banyak sekali kesalahan yang dia perbuat.


"Radit mohon mama jangan menyerah untuk pendekatan sama Tasya ya?" Pinta Radit seraya menggenggam kedua tangan ibunya.


Lydia tersenyum. "Mama tidak akan menyerah, Sayang. Tapi memang ada kalanya kita harus menahan semuanya dulu sampai keadaan membaik. Tasya lebih butuh kamu sekarang, dia sedih pasti karena merasa kamu tidak ada bersamanya."


"Radit salah, Ma?"


Bukan salah sebenarnya, tapi memang Tasya merasa kalau yang dia miliki adalah Radit. Jadi dia pasti merasa kalau abangnya sudah tidak menyayanginya lagi. Mereka berdua hidup bersama sejak kecil, dari apa yang diceritakan Radit, Lydia tau kalau putrinya takut kehilangan kasih sayang Radit.

__ADS_1


"Engga emang waktunya aja belum tepat, jadi nanti malam temui Tasya ya? Mama akan disini bersama Amanda atau kalau perlu ajak Amanda. Tasya pasti senang melihat keponakan barunya, apalagi dia akan menjadi seorang ibu."


"Maa, maafin Radit ya ... "


"Mama yang seharunya meminta maaf kepada kalian, meskipun berjuta kali mama katakan, itu masih belum cukup untuk apa yang kalian lewati."


Lydia memeluk putranya dengan erat, membawanya kedelapan seorang Ibu. Dia mau selalu memeluk kedua anaknya dan mengenalkan pelukan seorang Ibu itu seperti ini. Jadi kalau Tasya belum bisa dia raih, mari dia perbaiki dari Radit dulu. Karena mereka sama-sama anaknya.


.


.


.


Amanda dan Radit memasuki rumah Diana. Terlihat Tasya dan Diana sedang mengobrol di sana. Ya emang di kondisi seperti ini Tasya harus banyak-banyak diajak bicara agar kesehatannya membaik dan komunikasinya berjalan lancar.


Amanda langsung menghampiri Tasya seraya menggendong putri kecilnya. Ya semoga saja Tasya bisa senang melihat bayi yang ada di gendongannya. "Tasyaaaaaa."


Amanda mengangguk dan mendekatkan anaknya pada Tasya. "Cantik dong, kaya Auntynya."


"Namanya siapa?" Tanya Tasya seraya mengusap pipi bayi itu dengan ujung jarinya.


"Zahra." Amanda semakin mendekatkan putrinya pada Tasya. "Aunty mau gendong?"


Tasya mengangguk, dia suka sekali dengan bayi. Jadi dia juga tidak kaku lagi sih kalau menggendong, meskipun tidak lancar juga. Perlahan Amanda menaruh Zahra di gendongan Tasya. Membuat Tasya tersenyum.


"Ini mirip kak Amanda." Tasya terkekeh lalu menciumi pipi keponakannya perlahan.


Diana melihat itu jadi tersenyum, dia jadi membayangkan kalau nanti Tasya melahirkan. Pasti anaknya akan secantik ini juga kalau perempuan dan kalau laki-laki akan mirip dengan Al.

__ADS_1


"Kak nanti anak aku kaya Zahra ga?" Tanya Tasya.


Amanda mengangguk senang karena Tasya mau bicara padanya. "Tentu, nanti anak kamu pasti gemes. Makanya mulai sekarang jaga kesehatannya ya? Makan yang banyak dan rajin minum susu."


"Aku boleh belajar sama kak Amanda juga?" Tanya Tasya.


"Boleh dong." Amanda menganggukkan kepalanya. Sementara Tasya masih anteng menggendong keponakannya.


Ada Radit memang di sana, tapi memang Tasya seperti masih belum mau bicara padanya. Jujur Radit sedih sekali diabaikan oleh adiknya sendiri, tapi dia tidak boleh memaksakan kehendaknya juga pada Tasya. Tasya butuh kesehatan mental yang baik sekarang ini.


Saat Tasya sedang asik menggendong bayi, ternyata dari balik pintu saja Al sudah pulang. Diana yang melihat itu langsung mengajak Amanda dan Radit untuk bicara.


Ya memang yang Tasya perlukan sekarang adalah Al. Jadi mereka memberikan waktu untuk mereka berdua menikmati waktu. Meskipun nanti malamnya juga mereka pasti berduaan lagi.


Al tersenyum melihat istrinya sedang tersenyum sambil menggendong bayi, ini bayangannya ketika nanti anak mereka lahir. Tasya terlihat begitu senang menimang bayi dalam gendongannya.


"Sayang ... "


Tasya yang mendengar itu langsung menatap Al yang kini duduk di sampingnya seraya mengecup puncak kepala Tasya. "Are you okay?"


Tasya mengangguk dan memperlihatkan bayi yang ada di pangkuannya. "Liat cantik banget anaknya Abang."


Al mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum memperhatikan bayi kecil itu. "Lucu, kamu suka?"


"Aku suka, nanti anak kita kaya gini juga gak ya Mas?" Tanya Tasya yang terus membatin dalam hatinya ingin mempunyai anak se-gemas Zahra.


"Iya, kan Mamanya kamu." Al mengusap rambut Tasya dengan lembut dan perhatian.


Dia lebih ke lega sih karena Tasya masih bisa tersenyum. Artinya tidak terlalu parah kekambuhannya. Tapi memang mungkin dia butuh istirahat lebih lama, Al juga sudah mempertimbangkannya untuk mengambil izin lebih lama. Untungnya memang Tasya kompeten sehingga diberikan izin.

__ADS_1


Dari jauh Diana tersenyum melihat anak dan menantunya seperti keluarga kecil begitu. Dia hanya berharap kalau tidak akan terjadi hal yang lebih serius pada Tasya. Semoga mereka selalu dikelilingi kebahagiaan.


__ADS_2