My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 9 - Isi Hati


__ADS_3

Selama 20 tahun aku hidup, hal yang paling aku syukuri adalah menikah dengan Mas Adnan, orang yang sangat mencintaiku dan memperlakukanku dengan baik, tidak pernah berbicara kasar, walaupun terkadang dia suka mengambil keputusan sepihak, tetapi aku tidak pernah bisa marah kepadanya.


Dulu aku tidak pernah membayangkan bisa menikah di umur segini, karena aku dulu hanya memikirkan bagaimana aku hidup dan menjalani hari-hariku tanpa seorang pun di sisiku, karena aku terlalu malu dan takut untuk menjalin sebuah hubungan.


Dulu waktu masih SMA ada beberapa laki-laki yang mendekatiku, tetapi aku tidak tertarik, aku sibuk belajar untuk bisa mempertahankan beasiswaku, hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku bisa terus melanjutkan sekolah. Aku juga pernah memimpikan bisa masuk universitas yang aku inginkan, tetapi aku tidak lolos seleksi untuk beasiswa, jadinya aku mengubur dalam-dalam mimpiku tersebut dan memilih untuk bekerja agar kebutuhanku tercukupi.


Aku sudah bekerja sejak kedua orangtuaku meninggal, dulu aku hanya pegawai toko yang bekerja dari sore sampai malam hari, cukup melelahkan memang harus membagi waktu setiap harinya. Untung saja masih ada rumah peninggalan orangtuaku, jadi aku tidak perlu memikirkan biaya untuk kost dan semacamnya.


Terbiasa sendiri sedari masih muda membuatku bisa memaknai hidup ini dengan lebih baik, aku tidak pernah menyalahkan takdir yang sudah merenggut nyawa kedua orangtuaku, aku bisa hidup di atas kakiku sendiri sampai sekarang, aku masih cukup mampu untuk mencukupi kebutuhanku sehari-hari, meskipun pas-pasan setidaknya aku tidak perlu meminta bantuan orang lain.


Di dalam hidup seseorang pasti selalu ada yang datang dan pergi, dan aku benar-benar bersyukur orang yang datang kali ini adalah sosok seperti Mas Adnan, walaupun dia dari kalangan atas, dia berbeda. Ada rasa minder ketika dia mulai mendekatiku, aku merasa tidak pantas bersanding dengannya, tetapi lagi-lagi dia meyakinkanku, bahwa dia tidak seperti kebanyakan orang yang suka membanding-bandingkan kehidupan sosial seseorang.


Ujian pertama kami adalah saat aku dipertemukan dengan kedua orangtuanya, aku sudah tau jika mereka tidak akan menerimaku dengan baik, tetapi sekali lagi, Mas Adnan terus menyemangati ku mengatakan bahwa karena ini pertama kalinya aku dengan kedua orangtuanya bertemu, jadi belum mengenal satu sama lain, berbeda dengan aku dan Mas Adnan yang sudah mengenal hampir 2 tahun lamanya.


Aku sudah bertekad dengan sungguh sungguh, setelah aku tinggal bersama mereka, aku akan memperlakukan mereka dengan baik agar mereka tidak semakin berpikir yang tidak-tidak terhadapku.


Untuk masalah kuliah, aku sebenarnya mau-mau saja untuk melanjutkan, selagi ada jalan dan masih muda kenapa tidak? Andaikan dulu tidak terhalang biaya mungkin sekarang aku sudah hampir lulus, dulu cita-citaku adalah menjadi psikolog mungkin karena aku yang sangat peka dan sedikit bisa membaca ekspresi orang-orang jadinya aku berpikiran untuk mengambil jurusan psikologi.


Aku akan melihat dulu respon dari kedua orangtuanya Mas Adnan, sebenarnya ayah mertuaku terlihat begitu cuek dan tidak terlalu ingin ikut campur, tetapi ibu mertuaku berbeda, dia yang terlihat secara terang-terangan tidak menyukaiku, mungkin karena dialah yang telah melahirkan Mas Adnan, jadi dia mungkin hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, apalagi Mas Adnan anak laki-laki dan satu-satunya yang mereka punya, tetapi bukan berarti semua yang dipilihkan orang tua selalu terbaik untuk anaknya kan?


Selama hampir 2 tahun aku mengenal sosok Mas Adnan, selain baik dan penyayang dia juga memiliki prinsip yang kuat, jika dia sudah memutuskan ingin sesuatu maka dia harus mendapatkan itu dengan cara apapun. Sedari kecil dia sudah di didik dengan keras mungkin itu yang membuat kepribadiannya kuat dan keras.


Seperti beberapa hari kebelakang ini, dia yang tetep kekeh mempertahankan ku, di saat dia sudah disiapkan calon istri yang sederajat dengannya, yang pantas bersanding dengannya. Aku dulu juga tidak menyangka bisa berpacaran dengannya hampir 2 tahun, aku kira dulu dia akan bosan setelah berhasil mendapatkan ku, dan aku kira juga dia hanya penasaran kepadaku karena dulu aku yang susah untuk dia dapatkan.

__ADS_1


Nyatanya sekarang dialah yang menjadi suamiku, seseorang yang aku yakini akan selalu mendampingiku, menuntunku ketika aku melakukan kesalahan, dan orang pertama yang akan melindungi ku ketika aku mendapatkan masalah. Perjalanan kita masih sangat jauh, di depan sana pasti masih banyak rintangan yang harus kami lalui bersama.


Tidak terasa kami sudah sampai di halaman rumah yang mulai sekarang akan aku tinggali, dan semoga ini kembali menjadi awal yang baik untuk kita semua, dan aku yakin aku pasti bisa melaluinya, karena katanya hidup dengan mertua tidak selalu berjalan mulus.


"Turun yuk udah sampai," kata Mas Adnan dan membantuku melepas seatbelt setelahnya dia turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untukku.


"Aku bisa sendiri Mas, gimana kalo ibu kamu lihat, jadi ga enak akunya," ucapku pelan.


"Kamu kan istri aku, jadi wajar-wajar ada dong aku ngelakuin hal kecil kayak gini, ini juga bukan pertama kalinya kan aku bukain kamu pintu?"


"Tetep aja aku ngerasa ga enak," jawabku pelan.


"Udah ayo masuk dulu," ajaknya dan menggenggam tanganku untuk masuk kedalam rumah. Kali ini dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung saja membukanya dan masuk. Saat masuk, suasana sangat sepi, tidak seperti saat aku pertama kali kesini yang terdapat kedua orang tuanya sedang berbincang-bincang, kali ini sofa itu kosong.


"Tuan sama Nyonya sedang beristirahat di kamarnya Tuan," jawabnya sopan dan tetap menunduk.


"Oh ya udah, kalau gitu aku masuk kamar dulu ya Bik," pamit Mas Adnan, dan mendapatkan anggukan oleh bibi itu.


Menaiki tangga aku melihat ada 2 pintu, dan aku yakin salah satu pintu tersebut adalah kamar suamiku, dia menggandengku menuju salah satunya, dan menyuruhku untuk masuk, kesan pertama saat aku memasuki kamar ini adalah sederhana tetapi elegan. Dan pastinya 3 kali lipat lebih luas dari kamarku yang lama, sekarang dan seterusnya aku akan menempati kamar ini dengannya.


Dia menuntunku menuju ranjang dan menyuruhku duduk, "kalau kamu masih capek istirahat lagi aja yang," ujarnya.


"Udah ga begitu capek kok, tapi aku ngantuk," kataku dan mengelus tangannya yang masih menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Kalau gitu ayo tidur aja, nanti kita turun pas waktu makan malem aja," ajaknya.


"Kamu ga mau ganti baju yang lebih nyaman buat tidur?" Tanyanya. Karena saat ini aku menggunakan celana jeans dan kemeja, dan pakaian yang dia kenakan juga sama sepertiku. "Itu baju kamu udah aku nyuruh bibi buat beresin di disamping baju-baju aku," tambahnya.


"Iya ini mau ganti," jawabku dan berlalu menuju walk in closet di sudut kamar. Lagi-lagi aku dibuat terkagum ketika memasukinya, di dalam ruangan ini terdapat lemari kaca menggantung besar yang di dalamnya terdapat banyak jas dan kemeja Mas Adnan, di bawah lemari terdapat meja kayu besar, yang dibawahnya terdapat laci-laci, meskipun aku penasaran aku tidak berani membukanya karena aku belum izin dengan Mas Adnan.


Di samping kanan kiri meja terdapat lemari besar dan di sudut ruangan terdapat sofa kecil dan meja. Ketika aku kebingungan di mana baju-bajuku diletakkan, aku merasakan ada tangan yang melingkar di perutku, dan aku tidak perlu menebak siapa yang melakukan hal ini padaku.


"Baju-baju kamu ada di lemari yang itu," tunjuknya ke arah lemari yang berada di sisi kanan meja.


"Kamu keluar dulu mas, aku mau ganti baju dulu," perintahku malu-malu.


"Ngapain masih malu-malu kan aku udah lihat semuanya, aku juga mau ganti kok ini, bareng aja," jawabnya. Dia melepaskan pelukannya, dan mulai melepaskan bajunya dan berdiri di depanku, aku masih belum terbiasa dengan pemandangan seperti ini, jadi aku seketika menutup kedua mataku.


Dia terkekeh, "ga usah ditutup kamu juga udah lihat semuanya kan?" Tanyanya menggoda. "Gimana kalau kita lakuin satu ronde disini?" Tambahnya dan menaik turunkan alisnya. "Aku pengen ngerasain sensasi berbeda yang."


"Tapi mas..." sebelum aku menyelesaikan ucapanku dia sudah terlebih dahulu membuka kancing kemejaku. Dan hal itu terjadi begitu saja di sini.


Bersambung


See you on the next chap 🥰


Jangan lupa like dan komen 🤩

__ADS_1


__ADS_2