
Rumah Ayah
Mas Adnan yang biasanya membukakan pintu mobil untukku, kali ini dia tidak melakukannya, tadi sepanjang jalan dia juga hanya diam. Biasanya dia tidak bisa diam ketika di mobil, tapi kali ini dia benar-benar berbeda.
Aku tidak ingin berpikir yang negatif dahulu. Mungkin memang dia sedang kelelahan, atau sedang ada masalah di rumah, karena tiba-tiba dia mengajakku ke rumah utama. Tidak seperti biasanya dia melarang ku untuk ikut ke sini.
Memasuki rumah, entah kenapa di ruang tamu ada beberapa orang, bukan hanya Ayah dan Ibu dengan suasana mencekam. Aku masih mengekori Mas Adnan di belakangnya.
"Berani nampakin diri juga kamu," ucap Ibu. Aku mengerutkan alisku tanda tidak mengerti, apakah maksud Ibu adalah karena sudah 3 bulan ini aku tidak pernah mengunjunginya?
Semua orang yang duduk di sofa menatap ke arahku kecuali Ayah yang sedang meniup kopinya. Yang lebih membingungkan adalah di sini juga ada Celine, Mas Ardi dan juga David.
Aku menarik ujung kaos yang di pakai Mas Adnan, "Mas," cicitku. Tidak ada jawaban yang keluar dari belah bibirnya.
Ibu berdiri dari duduknya, mendekatiku dan Mas Adnan, kemudian berdiri di depanku. "Bisa kamu jelasin maksud dari foto ini," ucapnya tegas sembari memperlihatkan sebuah foto di handphone yang dia pegang.
Aku melihat dengan seksama foto apa itu, seperti mengetahuinya, aku tersentak kecil, di foto itu terdapat laki-laki yang sedang memeluk perempuan. Tetapi di foto tersebut wajah laki-lakinya tidak terlihat, karena foto di ambil dari samping. Sedangkan perempuannya aku sangat mengenalnya. Tak lain tak bukan itu adalah diriku sendiri.
"Ini..."
Di foto itu aku seolah-olah sedang di peluk oleh seorang laki-laki. Tetapi pada kenyataannya itu adalah aku dan Mas Ardi tadi siang. Ketika dia menarik tanganku dan aku tak sengaja menabrak dadanya, tetapi setelah itu memang benar dia melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Mas..." Panggilku menatap Mas Ardi. Dia tersenyum licik tetapi dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab.
Aku berganti menoleh ke arah Mas Adnan yang sedari tadi diam. Ku lihat tangannya mengepal kuat. Ini salah paham, aku segera menjelaskannya
__ADS_1
"Perempuan itu memang aku, tetapi foto itu salah aku tidak berpelukan dengan laki-laki itu. Laki-laki itu adalah Mas Ardi," jelas ku dengan jujur.
"Udah ketahuan selingkuh malah nyeret orang lain," celetuk Celine masih dengan posisi duduknya. Kaki kanannya di silangkan di atas kaki kirinya sembari meniup kuku jari tangannya.
"Mas Ardi!" panggilku keras. Tetapi dia tidak bergeming sama sekali, hanya sekilas menatapku dan kembali fokus ke handphonenya.
"Celine, kamu tadi kan ada di sana saat kejadian itu terjadi," ucapku pada Celine. Karena dia dan Mas Ardi lah yang berada di tempat kejadian.
"Iya," jawabnya santai tanpa memandangku. Dia masih sibuk meniup kuku jarinya. tetapi setidaknya dia sudah mengaku jika dia di sana saat foto itu diambil.
"Tapi saat aku sampai sana, aku udah lihat kamu pelukan sama laki-laki itu," tambahnya tak kalah santai. Bagai tersambar petir di siang hari aku melotot ke arahnya.
"Mana ada, kamu jangan bohong ya, jelas-jelas laki-laki itu Mas Ardi!" sentak ku. Bagaimana bisa dia berbohong seperti itu.
"Kamu itu udah salah malah nyalahin orang balik," ujar Ibu marah.
"Saya tau kalau Celine sama Ardi di sana, saya yang nyuruh mereka buat belanja karena saya mendadak ada kepentingan," jawab Ibu. "Dan apa yang justru mereka dapatkan? Dia malah memergoki kamu yang lagi pelukan sama laki-laki di saat suami kamu lagi pergi ke luar kota," dengusnya.
Aku seperti kehilangan kata-kata. Mendadak aku mengingat sesuatu. HADIAH. Ya, hadiah yang di ucapkan Mas Ardi tadi siang. Aku seketika menatapnya, dan dia hanya tersenyum tipis, seolah-olah tau bahwa aku sudah menyadari maksud dari perkataanya.
Iblis! Jadi mereka sedang berusaha menjebak ku?
Aku bertepuk tangan. "Wah... Inikah HADIAH yang kamu maksud Mas?" ucap ku tajam ke arah Mas Ardi.
Aku tidak boleh terjatuh ke dalam jebakan mereka begitu saja. Kedua orang licik itu menyeringai secara bersamaan.
__ADS_1
"Untuk semua orang yang ada di sini, tak apa jika setelah ini kalian tetap tidak mempercayai apa yang akan aku katakan tetapi aku akan tetap membela diriku sendiri karena di sini aku tidak salah," ucapku memandang orang yang ada di sini bergantian.
"Aku akan mengatakan dengan jujur seperti apa kejadian yang sebenarnya terjadi di foto tersebut," lanjut ku santai. Kali ini aku tidak boleh takut kepada orang-orang di sini termasuk orang-orang yang sudah menjebak ku.
"Saat itu aku sedang di luar supermarket berniat untuk memesan GoCar, tetapi belum sempat memesannya tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dan itu adalah Mas Ardi dan Celine. Mas Ardi menawari untuk mengantarku pulang tetapi aku menolak, setelahnya aku berniat pergi tetapi tanganku di tarik Mas Ardi jadilah aku berbalik dan menabrak dadanya, terlihat seperti foto itu. Dan masalah siapa yang mengambil foto itu aku tidak tahu, mungkin seseorang yang memiliki niat jahat dalam rumah tanggaku," jelas ku panjang lebar.
Tidak ada yang bersuara saat aku berbicara, "Dan untuk Mas Adnan," aku menoleh ke arah Mas Adnan yang sedari tadi diam berdiri di sampingku.
"Tak apa jika kamu tidak mempercayai apa yang aku katakan, itu hak kamu. Setidaknya aku sudah berkata jujur," kataku tegas.
"Untuk Mas Ardi terimakasih hadiahnya. Dan untuk semuanya aku meminta maaf karena sudah membuat keributan. Aku permisi." Setelah mengatakan itu, aku melangkah menjauh dan pergi dari rumah itu. Tidak ada yang menghentikan ku sama sekali termasuk Mas Adnan yang notabennya adalah suamiku sendiri.
Aku berjalan menyusuri area perumahan sampai jalan raya. Sebenarnya aku ingin menangis tetapi masih aku tahan. Aku akan pergi ke rumah lamaku, aku akan menenangkan pikiranku terlebih dahulu.
Aku akhirnya sampai di rumah setelah menaiki bus dan sedikit berjalan kaki. Aku memasuki rumah yang baru satu minggu lalu aku kunjungi saat jadwal membersihkannya.
Ini sudah malam hari, jadi kemungkinan aku akan menginap di sini dan baru pulang besok pagi. Rumah dalam keadaan gelap karena aku hanya menyalakan lampu teras. Aku tidak berniat untuk menyalakan lampu ruang tamu dan segera memasuki kamar untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiranku, meletakkan tangan kananku di atas dahi dan mulai mengulang kejadian dari siang tadi.
Segitu tidak sukanya kah mereka kepadaku? Atau memang segila itukah mereka? Mereka benar-benar berniat untuk menghancurkan rumah tanggaku. Lain kali aku tidak boleh lengah.
Dan tentang respon Mas Adnan aku tidak akan marah kepadanya. Aku akan memahami keadaan dan posisinya. Bayangkan saja saat sedang kelelahan saat bekerja lalu di kejutkan dengan berita seperti itu. Sudah pasti kita tidak bisa berpikir jernih dan hanya kemarahan yang akan keluar. Biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Aku berbaring menyamping memeluk guling. Aku tiba-tiba membayangkan bagaimana jika orangtuaku masih hidup dan kami tinggal bertiga, dan apa yang akan mereka lakukan jika aku melakukan kesalahan. Tak terasa aku meneteskan air mataku. Sudah lama aku tidak mengunjungi makam mereka, mungkin besok pagi sebelum pulang aku akan pergi ke makam mereka terlebih dahulu.
Bersambung
__ADS_1
See you on the next chap 🥰