My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 49 - Jalan -Jalan


__ADS_3

Setelah hari di mana aku memanggil Mas Adnan dengan sebutan Tuan, dia semakin dingin terhadapku. Sekarang tak jarang pula dia tidak makan masakan yang aku buatkan. Tapi yang membuat aku semakin heran adalah sekarang dia menyewa seseorang untuk membersihkan rumah di pagi hari.


Mungkin karena hari itu aku menyebut diriku pembantu sehingga membuatnya sampai menyewa seseorang agar aku tidak perlu berlaku seperti pembantu. Walaupun perlakuannya padaku tidak seperti dulu, tetapi dia tetap mengirimkan uang setiap bulannya kepadaku. Dan percayalah sampai sekarang uang itu belum ku sentuh sama sekali. Lain kali aku akan mencoba bertanya kepada Celine kenapa Mas Adnan masih tidak melepas ku.


Hampir 3 tahun tidak pernah melihat dunia luar cukup membuatku jenuh terus berada di dalam rumah. Aku juga merasa kasihan kepada Ai, di umur yang seharusnya sudah mengenal dan mengeksplor dunia luar justru tidak bisa dia lakukan. Yang dia lakukan sehari-hari hanyalah menonton televisi dan bermain di dalam rumah, terkadang juga bermain di teras.


Semalam aku sudah membuat rencana dan sudah menghubungi David agar dia mengajak Ai bermain di luar. Tak apa jika aku tidak bisa ikut keluar, setidaknya Ai harus merasakannya.


Sekarang aku sedang menyiapkan kebutuhan Ai untuk pergi nanti, 30 menit lagi David akan menjemputnya. "Kenapa Bunda gak ikut Ai sama Papa," celetuk Ai yang sedang aku pakaikan baju.


"Bunda lagi males keluar, Bunda mau santai aja di rumah," jawabku lembut.


Dia memanyunkan bibirnya. Aku yang gemas pun mencubit pelan kedua pipinya. "Jangan sedih gitu dong. Nanti Papa gak jadi ke sini loh," godaku.


"Tapi Ai pengen Bunda ikut," rajuk nya.


Aku tetap menatapnya dengan lembut, "Sayang, dengerin Bunda ya. Kapan-kapan kalau Bunda udah gak males kita jalan-jalan bertiga ya," ujarku memberinya pengertian.


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir mungilnya. Aku memakluminya, karena ini pertama kalinya dia akan melihat dunia luar. Pasti dia merasa takut apalagi aku tidak ada di sisinya, yang notabennya setiap hari selalu bersamanya.


Aku masih berusaha memberinya pengertian dengan kata-kata lembut. Tak berselang lama pintu kamar terbuka, dan masuklah David dengan pakaian kasualnya. "Itu Papa udah dateng," ucapku pada Ai yang masih duduk di pangkuanku dan memelukku.


"Kenapa," ucap David tanpa suara.


"Dia nyuruh aku ikut."


Sorot mata David berganti dingin setelah mendengar ku mengatakan itu, "Biar aku bicara sama Adnan. Biar kamu boleh keluar," ucapnya datar.


"Gak perlu. Nanti biar aku aja yang ngomong sendiri," tolak ku.


"Emang udah gak waras tuh orang."


"Vid!" peringat ku. Bagaimana dia berbicara kasar seperti itu di saat ada Ai di sini. Bisa-bisa nanti Ai penasaran dengan apa yang di ucapkan David.


David seketika mengganti ekspresi wajahnya dan mendekati Ai, "Sayangnya Papa, ayo kita berangkat sekarang," bujuknya dan mengambil Ai dari dari pangkuanku.

__ADS_1


"Mau Bunda," ucap Ai dengan suara parau. Aku hanya bisa menghela napas pelan. Jika bisa aku juga pasti akan ikut pergi dan tidak perlu berbohong.


"Bunda mau buat cookies kesukaan Ai kan Bun," ucap David tiba-tiba. Seperti mengerti ucapannya aku menimpali.


"Iya, nanti kalau Ai pulang udah jadi deh cookies nya," tambahku agar lebih meyakinkan.


Akhirnya dengan segala bujuk rayu dia mau pergi berdua saja dengan David. Aku mengantarnya sampai halaman, "have fun sayang. Jangan ngebut ya Vid," ucapku.


Mereka berdua mengangguk bersamaan. Setelah mobilnya menjauh aku kembali ke dalam rumah.


Aku akan membuatkan cookies untuk Ai agar dia tidak curiga nantinya. Sibuk berkutat di dapur, aku mendengar suara pintu depan terbuka. Aku mengernyitkan dahi, ini baru pukul 10 pagi. Tidak mungkin Mas Adnan atau Celine.


"Dasar parasit," sebuah suara terdengar.


Aku mengalihkan atensi ku ke arah sumber suara. Ternyata itu Ibu yang sedang berkunjung. Aku sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya dan melanjutkan kegiatanku.


"Diajak ngomong orang tua gak ada sopan santunnya," dengusnya. Siapa juga yang mau ngomong sama dia, ucapku di dalam hati.


"Sampai sekarang saya masih gak paham sama pemikiran Adnan. Kenapa dia masih aja mertahanin kamu," ucapnya.


"Ibu ngapain ke sini?" Tanyaku pada akhirnya. "Gak ada orang di rumah," lanjut ku.


Salah lagi kan. Gak di jawab salah, dijawab juga makin salah.


Dia terlihat celingak-celinguk, "mana anak kamu," tanyanya.


"Pergi jalan-jalan sama PAPA nya," jawabku keras dengan menekankan kata PAPA.


Dia mendengus, "kamu emang perempuan gak tau diri ya. Udah selingkuh sampe punya anak, dan selingkuhan kamu dengan seenaknya keluar masuk rumah anak saya."


Aku sudah mulai geram. "Kalau bisa juga saya lebih milih keluar dari neraka berkedok rumah ini," jawabku tak kalah sinis. Setelah mengatakan itu aku memasukkan cookies ke dalam oven. Biarkan Ibu mengoceh sesukanya.


Sudah merasa terabaikan, dia akhirnya melangkah menuju sofa. Entah apa yang akan dia lakukan di sini aku tidak perduli.


30 menit kemudian cookies yang aku panggang sudah matang. Jadi aku segera mengeluarkannya dari dalam oven dan menunggunya dingin, baru aku akan memasukkannya ke dalam toples.

__ADS_1


Sembari menunggu dingin, aku mencuci peralatan yang kotor. Sebenarnya di sini masih ada pekerja yang membersihkan rumah. Tetapi selagi aku masih bisa melakukannya sendiri kenapa harus menunggu dibersihkan.


Setelah dingin, aku segera memasukkannya ke dalam beberapa toples kecil, membawanya ke dalam kamar agar Ai bisa menikmatinya nanti.


Saat akan memasuki kamar, aku mendengar pintu depan kembali terbuka, dan tampaklah Celine memasuki rumah dengan menggerutu pelan.


Tetapi saat sudah dekat dengan Ibu dia merubah wajahnya dengan senyuman, "Ibu kapan datang," ucapnya dengan suara lembut yang di buat-buat.


Aku yang awalnya akan masuk ke dalam kamar, mengurungkan niatku. Tak apa kan jika aku menguping pembicaraan mereka?


"Hampir satu jam Ibu di sini," jawab Ibu.


"Maaf ya Bu, tadi aku ada kerjaan penting jadi harus aku selesaikan dulu," ujar Celine.


"Adnan mana?" Tanya Ibu.


"Mungkin bentar lagi sampai," jawab Celine. Dan benar , setelah mengatakan itu Mas Adnan benar-benar sampai.


Dia melihatku yang masih berdiri di dekat pintu kamar dan memandangku dalam diam, tetapi tak berapa lama kemudian dia menyusul Ibu dan Celine.


"Ibu kenapa tiba-tiba kesini," ucap Mas Adnan. "Aku sampai ninggalin kerjaan gara-gara Ibu suruh pulang," lanjutnya dan akhirnya duduk di depan Ibu.


Aku akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar. Bukan urusanku juga mereka akan membicarakan apa.


Di kamar aku melihat handphoneku yang berbunyi. Ketika membukanya itu ternyata David yang mengirimkan foto Ai kepadaku. Ai terlihat bersenang senang di kebun binatang. Ya, David mengajaknya ke kebun binatang. Katanya setelah dari sana dia akan mengajaknya ke taman bermain. Ai terlihat bahagia sekali, melihatnya bahagia aku juga ikut bahagia.


Saat sedang membereskan mainan Ai, terdengar pintu kamarku di ketuk dari luar dengan keras.


"Raline!"


Aku segera membuka pintu dan terpampang lah wajah Ibu di depan pintu kamar, "masak makan siang sana," perintahnya. Tanpa menjawab aku melangkah begitu saja ke dapur.


Aku hanya memasak 3 menu, dan nasi yang tadi pagi aku masak juga masih. Jadi selesai memasak dan menatanya aku segera meninggalkan dapur dan menuju kamar.


Bersambung

__ADS_1


Maaf kalau kurang nyambung


See you


__ADS_2