My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 15 - Celine


__ADS_3

Sebulan sudah aku tinggal disini. Suka dan duka sudah aku rasakan, suka ketika Mas Adnan di rumah, dan duka ketika hanya ada aku dan Ibu di rumah, apalagi jika ada Celine berkunjung, akhir-akhir ini dia lebih sering berkunjung. Di wajahnya sudah tergambar jelas maksud dan tujuannya kesini.


Terkadang dia datang dan memasak? Bukan memasak sih, lebih tepatnya merecoki aku dan para pelayan yang sedang menyiapkan makanan. Dan kalian tau? Dia akan mengatakan kepada orang rumah bahwa masakan itu adalah hasil jerih payahnya. Padahal jelas-jelas itu adalah masakanku, mungkin ayah dan ibu bisa dia bohongi, tetapi tidak dengan Mas Adnan, lidah Mas Adnan tidak bisa dibohongi.


Selain merecoki aku dan pelayan, dia juga akan merecoki Mas Adnan untuk sekedar mengantarnya pulang atau mengantarnya ke suatu tempat, dan ketika Mas Adnan tidak menurutinya, maka ia akan mengadu kepada ibu. Sungguh penjilat handal.


Celine itu seorang model panggilan, dan kekayaan orang tuanya juga masih di bawah orangtuanya Mas Adnan, tetapi karena dia dan orang tuanya yang pandai mengambil hati ibu mertuaku makanya segitu inginnya ibu menjadikannya menantu.


Hari ini menunya adalah telur ceplok kecap, capcay goreng dan udang krispi, aku yang bertugas membantu menggoreng telur tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangannya yang mengatakan bahwa ia saja yang akan menggoreng telur, karena hari ini kebetulan salah satu pelayan ada yang bertugas memasak sedang sakit jadi aku memperbolehkannya, hitung-hitung membantu.


Dan apa yang terjadi selanjutnya? Di dalam minyak yang panas dia memasukkan 10 sekaligus telur, dan saat aku tegur dia marah-marah mengatakan bahwa menggoreng telur hanyalah masalah kecil, dan aku sudah malas berdebat dengannya jadi aku biarkan saja dia melakukan apapun yang ingin dia lakukan.


Saat akan membalik telur dia kesusahan karena banyaknya telur di wajan, alhasil karena tidak sabaran dan pinggiran telur sudah mulai gosong dia membuang seketika telur tersebut ke dalam tong sampah. Dan kemudian dia mengambil kembali telur dan mencoba menggorengnya.


Dia sudah mencoba menggoreng telur sampai 5 kali dan tidak ada yang berhasil, aku yang sudah sangat jengkel memarahinya.


"Tadi katanya gampang-gampang, masalah kecil, tau-taunya ga bisa masak, lihat udah berapa banyak telur yang ga kemakan, udah sana kamu pergi aja biar aku yang lanjutin."


"Jangan sok ya kamu, aku ini lagi berusaha buat masakin Adnan," dia menjawab tidak terima.


"Kalo sampai Mas Adnan tau kamu buang-buang makanan, bakal dimarahin habis-habisan kamu," ucapku menakut-nakuti. Tidak sepenuhnya menakuti sih, siapapun pasti marah jika melihat banyaknya telur yang di buang.


"Ga bakal lah, kan ada ibu yang siap membela apapun yang aku lakuin," jawabnya percaya diri.


"Pergi atau aku gampar pake ini," ucapku yang sedari tadi masih memegang talenan.


"Awas ya kamu," tunjuknya padaku dengan marah dan melangkah pergi.


Aku lalu melanjutkan acara memasak yang seharusnya sudah selesai dari tadi tetapi malah harus membuang banyak waktu akibat ulah perempuan itu.


15 menit kemudian masakan sudah siap untuk disajikan, aku segera menata seluruh masakan dan membawanya ke meja makan, setelahnya aku naik ke atas untuk melihat Mas Adnan apakah sudah selesai mandi atau belum.


Saat pintu terbuka, aku melihat Celine berada di kamarku dan Mas Adnan! Dia sedang menelisik isi kamar.


"Kenapa kamu bisa masuk kesini!" Marahku.


"Gampang, tinggal buka pintu," jawabnya santai. Aku memang tidak pernah mengunci pintu saat pagi, lagipula Mas Adnan masih berada di dalam, ga mungkin aku menguncinya dari luar kan?


"Ga sopan banget sih kamu masuk kamar orang sembarangan."

__ADS_1


"Kamar ini nantinya juga bakal jadi kamar aku," ucapnya.


"Siapa yang ngizinin kamu buat nempatin kamar ini, ga usah berharap lebih," aku masih di kuasai amarah, aku paling tidak suka jika area privasi dimasuki seseorang tanpa izin."


"Lah ngapain juga aku izin sama kamu, ga penting." Dengusnya.


Bener-bener ga punya etika manusia ini, masuk ke kamar orang di saat istrinya lagi ga ada di kamar, dan hanya ada suaminya di dalam, masih untung Mas Adnan sedang mandi.


"Sana keluar, mumpung Mas Adnan belum lihat kamu, kalau dia lihat kamu, habis kamu sama dia," ucapku tegas. Orang seperti dia memang harus dipertegas, kalau tidak akan makin menjadi.


"Ga usah ngusir kamu, terserah aku mau keluar dari sini atau engga," jawabnya.


"Oke, nanti kalau Mas Adnan udah selesai mandi, kita lihat apa yang yang bakal dia lakuin sama kamu." Setelah aku mengucapkan kata-kata itu pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Mas Adnan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.


Mas Adnan masih belum menyadari kehadiran kami berdua, karena dia sedang menunduk dan mengusap kepalanya yang basah menggunakan handuk kecil.


Celine yang melihat Mas Adnan berpenampilan seperti itu menatap kagum, "wahhhhhh," ucapnya dengan muka memerah.


Aku yang sudah kehabisan kesabaran menarik tangannya dan menyeretnya menuju pintu .


"KELUAR!"


"Sayang, kenapa perempuan ini ada di kamar ini?" Tanyanya dengan nada tinggi dan tatapan bingung.


"Adnan,"panggil Celine pelan. Aku masih mencoba menetralkan emosiku, dadaku naik turun dan aku masih memegang tangannya.


"Kenapa kamu bisa masuk kamar ini," tanya Mas Adnan penuh penekanan.


"Kamu mending ganti baju dulu aja Mas, perempuan ini biar jadi urusan aku," kataku menatap Mas Adnan. "Lihat tuh ilernya udah mau ngetes lihat badan kamu," sarkasku.


Mas Adnan yang menyadari penampilannya saat ini langsung menunjukkan ekspresi terkejut dan berlari kecil menuju walk in closet.


Setelah kepergiannya, aku kembali menatap tajam Celine, "keluar sendiri atau aku seret kamu sampai bawah, biar Ayah sama Ibu tau kalau kamu masuk kamar orang tanpa izin."


Dia mengeluarkan smirknya, "aku ga takut sama ancaman kamu,"


Beberapa saat kami berpandangan, aku dengan pandangan marah, dia dengan pandangan mengejek, "Ibu ga mungkin marah sama aku karena masalah sepele kayak gini, dan Ayah? Ayah bakal nurut sama Ibu."


Hah, benar-benar bebal, kok ada perempuan yang menurunkan harga dirinya hanya demi seorang laki-laki yang sudah beristri. Udah bener-bener hilang urat malunya, padahal dia cantik, berpendidikan tinggi, jika ingin mendapatkan laki-laki seperti Mas Adnan, itu adalah hal yang sangat mudah untuknya bukan?

__ADS_1


Mas Adnan kembali datang menghampiri kami, tetapi dia tidak mengenakan pakaian kerja, hanya celana pendek selutut dan kaos hitam, kembali menatap tajam Celine.


"Masih belum keluar?"


"Adnan kamu harus dengerin aku dulu, aku ga asal masuk kamar kamu kok, tadi istri kamu yang nyuruh aku buat mastiin kamu udah bangun atau belum," kata Celine membela diri.


"Mak lampir," dengusku. Dia menatapku tajam, kemudian menatap Mas Adnan dengan tatapan sedih yang dibuat-buat.


"Kamu harus percaya sama aku ya nan, tadi istri kamu lagi masak, terus pas aku mau bantuin dianya marah-marah katanya aku cuma ganggu, terus dia nyuruh aku buat naik ke atas lihat kamu."


Sungguh kebohongan yang tidak ada habisnya!


"Kalau mau bohong itu pinteran dikit," jawab Mas Adnan. "Dari Raline bangun aku juga udah bangun, dia juga tau kalau aku ngurus kerjaan bentar, ga mungkin dia nyuruh kamu lihat aku udah bangun apa belum.


Skakmat!


Aku tidak akan membenarkan atau menyalakan apa yang dia ucapkan, biarkan dia malu sendiri karena kebohongannya. Celine kembali mengubah ekspresinya, "sebenernya, ibu tadi yang nyuruh aku buat lihat kamu, dan dia juga yang ngasih izin aku buat langsung masuk aja ke kamar kamu," jawabnya menunduk.


Hah, kebohongan baru lagi, jelas-jelas ibu sedari tadi belum keluar kamar sama sekali.


"Kamu kira aku ga tau kalau kamu bohong lagi? Mentang-mentang Ibu selalu belain kamu, kamu jadiin dia kambing hitam," ujar Mas Adnan.


Celine terlihat bingung, karena semua kebohongannya melesat, akhirnya dia menyerah, "kalau gitu aku keluar," jawabnya dan membuka pintu. Cekalan tanganku sudah aku lepas sedari dia memulai kebohongannya. Sedari tadi aku hanya menyilangkan tangan di dada dan menonton drama murahan hasil produksinya.


Setelah dia benar-benar pergi, aku bernafas lega. Aku mendekat ke arah Mas Adnan dan memeluknya.


"Maaf ya mas, aku ga tau kalau dia bakal masuk kamar ini," suaraku teredam di dadanya.


"Iya, aku juga ga nyangka dia berani masuk," jawab Mas Adnan dan mengelus pucuk rambutku. Aku mendongak menatap matanya, "kamu hari ini gak kerja?" Tanyaku.


"Enggak, aku mau ajak kamu jalan-jalan hari ini," jawabnya dengan senyuman.


Aku mengangguk dan melepaskan pelukanku, kembali menatap matanya, " kamu ga akan berpaling dari aku kan Mas?"


"Enggak lah yang, kamu tau kan gimana perjuangan aku buat bisa dapetin kamu?" Jawabnya mantap.


Aku kembali mengangguk, seharusnya tidak ada yang perlu aku takutkan, tetapi melihat Celine yang begitu nekat dan berani rasa percaya diriku sedikit mulai goyah.


Bersambung

__ADS_1


See you on the next chap 🥰


__ADS_2