
Tepat 5 menit sebelum jam kerjaku selesai, Mas Adnan datang menghampiriku. "Udah selesai kan, ayo langsung berangkat," ajaknya.
"Bentar, beresin ini dulu," jawabku. Hari ini tidak begitu banyak pembeli, jadi etalase-etalase barang tidak terlalu berantakan.
Setelah selesai membenahi rak makanan ringan, aku segera menuju meja balik kasir untuk bersiap-siap. "Mau ngomong apa sih, emangnya ga bisa langsung ngomong di sini?"
"Ga bisa, hal penting harus dibicarain di tempat yang enak dan nyaman," jawabnya.
Kita berjalan keluar beriringan, tak lupa mengunci pintu minimarket, karena minimarket akan di buka kembali jam 7 malam dan dijaga oleh pemiliknya sendiri. Aku bekerja hanya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Tetapi setiap hari aku harus datang lebih awal untuk beres-beres dan bersiap sebelum membuka minimarket.
"Di mana kamu parkir mobil? Biasanya di sana ini kok ga ada?" tanyaku dan menunjuk ke arah lahan kosong di samping minimarket tempat dia selalu memarkirkan mobilnya.
"Hari ini aku ga bawa mobil, aku pulang dulu ganti motor sama baju tadi," jawabnya.
"Oh, ya udah ayo berangkat sekarang keburu malem nanti."
"Ini helmnya pake dulu," katanya dan memakaikan helm ke atas kepalaku, tak lupa memasangkan pengaitnya juga.
"Makasih, padahal aku bisa make sendiri tanpa kamu bantuin."
"Ga papa dong, kan biar romantis," dia terkekeh.
Aku pun ikut tertawa, "kebanyakan makan keju kamu tuh."
"Ayo naik, pegangan yang kenceng," perintahnya dan melingkarkan kedua tanganku di atas perutnya.
Sore ini jalanan terlihat begitu ramai, mungkin karena ini hari senin dan waktunya orang-orang kembali ke rumah setelah lelah seharian di tempat kerja. "Mau nyobain kafe yang baru buka di deket kantor aku gak?" tanya Mas Adnan sedikit keras.
"Iya boleh, ngikut kamu aja aku," jawabku.
"Oke."
45 menit kemudian kita sampai di sebuah kafe minimalis dengan suasana asri. Mas Adnan memarkirkan motornya di deret area parkir khusus motor, setelah motor berhenti aku pun lekas turun. Selesai melepas helm dan menaruhnya di atas motor, kita berdua mulai memasuki area kafe yang lumayan ramai, mungkin karena baru 2 hari buka. Terlihat jelas tulisan di dekat pintu masuk yang bertuliskan promo selama 3 hari sejak kafe dibuka. Jadi mungkin banyak orang yang penasaran dan tertarik datang untuk mendapatkan potongan harga.
__ADS_1
Saat masuk hanya ada satu meja kosong yang tersisa, dekat meja kasir. Sebenarnya kafe ini terdiri dari area indoor dan outdoor tetapi karena akan membicarakan sesuatu yang sedikit penting, kita memilih untuk duduk di dalam. Mas Adnan menarik kursi kosong itu dan menyuruhku untuk duduk, dia selalu memperlakukanku seperti anak kecil, tetapi aku masih merasa enggan dan malu ketika diperlakukan seperti ini.
"Mau pesan apa yang, ini kamu pilih-pilih dulu," ucapnya sambil menyerahkan buku menu yang sejak tadi tergeletak di atas meja. "Nanti kalau udah aku panggil pelayan."
"Kalau kamu mau pesan apa? Kamu taukan aku jarang makan di kafe kayak gini, biasanya juga makan di pinggir jalan atau kamu yang bungkus," jawabku.
"Ya sekali-kali dong kamu milih sendiri, masa aku terus yang milih."
"Mm, kalau gitu aku mau Spaghetti Carbonara sama Mojito, kalau kamu mau apa?"
"Aku samain kamu aja makanannya, tapi minumnya aku mau Mocha Latte aja. Bentar aku panggil pelayannya."
Setelah pelayan datang dan mencatat makanan yang kita pesan, pelayan itu berlalu dan menyuruh kita menunggu sedikit lebih lama karena banyaknya pengunjung dan pesanan yang masuk. Aku sih tidak mempermasalahkan hal itu karena aku juga belum terlalu lapar.
Sambil menunggu makanan datang, aku mulai menanyakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan padaku. "Kamu mau ngomongin apa sih sebenarnya, aku udah penasaran banget dari tadi," kataku.
"Sebenernya aku udah nyiapin semua kebutuhan pernikahan kita dari 2 bulan lalu, dan itu udah hampir 80%," jawabnya enteng.
" Hah, gila ya kamu, tiba-tiba udah nyiapin sendiri tanpa diskusi atau beritahu aku dulu," jawabku meninggi. "Kamu tuh kebiasaan suka mutusin apa-apa sendiri."
"Ya tapi kan kamu harus tetep diskusi dulu sama aku. Terus masalah orang tua kamu kemarin aku masih bingung mau gimana. Orang tua kamu udah jelas-jelas gak mau aku jadi menantunya. Walaupun jawaban Ayah kamu yang seakan-akan merestui tapi bagiku itu belum sepenuhnya mereka nerima aku. Mentang-mentang kamu anak satu-satunya bukan berarti semua keinginan kamu harus terpenuhi. Apalagi ini bukan hanya tentang kita berdua, ini juga menyangkut keluarga kamu, apalagi keluarga besar kamu yang mungkin juga berharap kamu punya pendamping yang sepadan," jawabku.
"Kamu tau kan aku tuh cinta dan sayang banget sama kamu, aku bakal lakuin apa aja asalkan bisa bareng terus sama kamu. Masalah orang tua aku itu gampang, kamu kemarin udah denger kan aku ngomong walaupun tanpa restu orang tua aku, aku bakal tetep nikah sama kamu."
"Jangan seenaknya kayak gitu dong, gimanapun mereka yang udah ngurus dan besarin kamu dari kecil, ngasih semua yang kamu butuhkan, yang kamu pingin..." aku berhenti berbicara ketika melihat pelayan berjalan ke arahku.
"Permisi, ini makanan dan minumannya, silahkan dinikmati," ucap pelayan itu dan meletakkan pesanan kami di atas meja.
"Terima kasih ya Kak," jawabku dengan tersenyum, dan pelayan itu berlalu pergi setelah mengucapkan sama-sama.
"Makan dulu aja, nanti kita lanjutin yang tadi," kata Mas Adnan.
Aku tidak menjawab, dan langsung mulai makan. Mungkin karena suasana hatiku yang mulai memburuk, aku enggan untuk berbicara. Mas Adnan yang menyadari perubahan ekspresiku hanya menghela napas pelan dan mulai memakan pesanannya.
__ADS_1
20 menit berlalu tanpa obrolan, hanya suara sendok dan garpu yang berdenting serta suara-suara gaduh dari para pengunjung lain. Aku yang sudah menyelesaikan makanku tetap terdiam menunggu apa yang akan Mas Adnan katakan padaku selanjutnya.
Selang beberapa detik kemudian, Mas Adnan sudah menghabiskan makanannya, lalu menyeka mulutnya dengan tisu yang sudah di sediakan. Dia mulai menatapku dan mencoba mengajakku berbicara kembali. "Aku tau kamu pasti ngerasa gak enak hati sama orang tuaku, tapi aku sama mereka itu beda, aku ga pernah mempermasalahkan kamu dari kalangan mana. Menurutku semua orang sama aja, asalkan dia baik itu udah cukup menurutku, mereka mungkin masih menentang kamu karena mereka belum sepenuhnya mengenal kamu, beda sama aku yang udah kenal kamu selama ini, yang udah tau sifat kamu, perilaku kamu."
Setelah jeda, dia melanjutkan, "Kalau kamu masih belum siap buat nikah dalam waktu dekat aku masih bisa nunggu kamu kok, tapi juga jangan terlalu lama, aku udah begitu berharap dan yakin kamu yang bakal dampingi aku seumur hidup."
"Kamu ga takut jadi anak durhaka?" aku angkat bicara. "Harusnya kamu hormati keputusan orang tua kamu, kamu juga harusnya bersyukur karena kedua orang tau kamu masih ada, ga kayak aku yang udah ditinggal dari remaja, ga ada tempat buat berkeluh kesah. Aku bukannya ga mau nikah sama kamu, tapi pernikahan adalah hal yang sakral, aku cuma mau nikah satu kali seumur hidup, aku takut kalau kita terlalu memaksakan itu justru bakal jadi bumerang buat kita nantinya."
"Kalau emang restu dari kedua orang tuaku yang menurutmu sangat penting, nanti aku bakal ngomong lagi sama mereka. Aku bakal bujuk mereka sampai dia nerima kamu dengan tangan terbuka, tanpa keterpaksaan," jawabnya. "Tapi kamu harus janji dulu, kalau aku berhasil meluluhkan hati mereka dan mereka mau nerima kamu, kamu harus nikah sama aku secepatnya."
"Sebenarnya apa sih motif kamu buat segera nikah? Selain kamu beneran cinta sama aku," tanyaku. "Apakah karena selama pacaran aku selalu nolak kamu ketika kamu ajak ciuman atau berhubungan badan, karena sejak awal ketika menjalin hubungan aku sudah menekankan bakal lakuin hal itu setelah nikah. Apakah karena hal itu?" Tiba-tiba kata-kata tersebut terlintas di pikiranku.
" A..A..Aku..." dia tergagap.
"Aku tahu, aku udah tau jawabannya, kelihatan jelas dari cara ngomong dan ekspresi kamu, mungkin kamu lupa kalau aku bisa nebak sifat dan suasana hati orang hanya dengan melihat ekspresi dan cara ngomongnya." jawabku.
"Enggak gitu yang," katanya memelas dan menundukkan kepala.
"Udah mending kamu anterin aku balik ke minimarket buat ambil sepeda, ga perlu antar sampe rumah."
"Tapi ini udah malem. Aku khawatir kalau kamu pulang sendiri naik sepeda. Mending kamu aku antar aja, besok pagi aku jemput pas mau berangkat kerja, biar kamu ga jalan kaki lagi kayak tadi pagi."
"Gak usah, aku lagi ga mood buat lama-lama sama kamu, aku gak mau nanti yang keluar dari mulut aku malah berakhir nyakitin kamu." kataku.
Akhirnya setelah selesai membayar di kasir dia melangkah keluar menyusul ku yang sudah terlebih dahulu pergi, dia mengalah dan memilih untuk mengantarku kembali ke minimarket.
Setelah sampai di minimarket, dia langsung berpamitan untuk pulang, dan hanya ku jawab dengan gumaman. Aku tahu kalau suasana hatinya juga sedang buruk, jadi biarkan kita sama-sama mendinginkan isi kepala. Semoga besok suasana hati kita kembali membaik.
Aku segera pulang setelah berpamitan dengan pemilik minimarket. Sebenarnya sebelum kami saling mengenal aku sudah terbiasa pulang sendiri dengan menaiki sepeda, tetapi semenjak mengenal Mas Adnan dan menjalin kasih, aku sudah tidak pernah pulang sendiri, karena dia selalu mengantar jemput ku. Karena tadi pagi dia ada urusan mendadak, jadilah aku harus jalan kaki. Malam ini adalah pertama kalinya aku pulang sendiri setelah hampir 2 tahun, dan pertama kalinya aku dan dia berdebat sampai seperti ini.
Bersambung
Udah siap buat masuk konflik?😁
__ADS_1
Semoga suka sama chap ini, see you on the next chap 🥰