
Entah sudah berapa kali aku datang ke tempat orang gila itu. Sampai sekarang aku masih belum menemukan titik terang bagaimana caranya menghapus foto itu. Aku sudah berkali-kali mencoba mengambil handphone itu secara diam-diam, tetapi tidak pernah berhasil.
Libur semester telah usai, aku kembali di sibukkan dengan kegiatan kampus. Mas Adnan juga sedang sibuk sibuknya karena sebentar lagi akan ada peluncuran produk baru dari perusahaan keluarganya. Intensitas kami bertemu sangat kecil. Hanya pagi sebelum dia berangkat ke kantor, saat malam dia selalu pulang larut ketika aku sudah tidur.
Satu setengah tahun menikah tidak ada yang istimewa, atau mungkin belum. Mas Adnan memang tidak menuntut ku ini itu, semuanya masih sama seperti dulu. Tapi akhir-akhir ini mungkin karena komunikasi kita yang kurang membuatku merasa ada yang berbeda.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan masih belum ada tanda-tanda kepulangan Mas Adnan. Malam ini aku berniat untuk menunggunya pulang, sudah lama aku tidak melihat wajahnya sebelum tidur.
Aku menekan cepat remote televisi untuk mencari siaran yang bagus, tetapi sudah sedari tadi aku melakukannya belum juga menemukannya, aku sudah berkali-kali menguap. Aku juga sudah membuat teh hangat dan mengambil cemilan agar tidak mengantuk, tetapi sepertinya itu sia-sia. Pikirku mumpung besok libur aku akan tidur larut, nyatanya aku sudah mengantuk.
Aku sudah tidak tahan, dan memutuskan menekan tombol off pada remote dan beranjak menuju kamar. Mungkin aku bisa mencoba menunggu Mas Adnan besok saja, malam ini aku akan tidur dulu seperti biasanya.
Baru saja merebahkan diri di atas ranjang, samar-samar aku mendengar suara mobil berhenti. Itu sudah pasti Mas Adnan. Rasa kantukku menghilang seketika dan digantikan dengan senyum gembira. Aku menyibak selimut dan segera berlari kecil ke bawah untuk menemui Mas Adnan.
Sampai bawah, senyumanku luntur begitu saja. Ternyata Mas Adnan tidak sendiri, dia datang bersama Celine. "Kok dia bisa di sini Mas?" tanyaku penasaran.
"Loh belum tidur yang," tanyanya balik, kemudian mendekatiku dan mencium keningku.
Aku menatapnya meminta penjelasan kenapa perempuan ini bisa datang ke sini malam-malam begini.
"Malam ini dia nginep di sini dulu ya yang," jawab Mas Adnan santai.
Dia terlihat santai? Itu adalah hal yang sangat mustahil. Masih terekam jelas di otakku bagaimana dulu dia menolak saat Celine datang berkunjung. Kenapa sekarang dia tiba-tiba mengijinkannya menginap di sini? Sebuah tanda tanya besar.
"Kamu tiba-tiba kok ngasih izin dia buat nginep di sini sih Mas," ucapku sewot. Sekarang aku yang merasa tidak terima dia ada di sini. Bukan tanpa alasan aku seperti itu, kalian tau sendiri kan bagaimana watak Celine itu.
"Kenapa kamu yang sewot, ya terserah suami kamu lah, rumah ini juga bukan punya kamu," sambar Celine. Ingin rasanya aku mencakar wajahnya yang sok itu.
"Kali ini aja yang, tadi dia ikut rapat di kantor, tapi pas mau pulang mobil dia mogok," jawab Mas Adnan berniat memberiku pengertian.
__ADS_1
"Tapi dia bisa pesan ojek online atau naik taksi kan Mas, ga harus sampai nginep di sini," ucapku marah. Pokoknya jika ada Celine aku akan susah mengontrol emosi.
"Udah malem banget ini yang, dia juga perempuan mana tega aku biarin dia pulang sendiri," ujar Mas Adnan dengan tatapan yang sulit di artikan.
Lagi-lagi aku dikejutkan dengan perkataan Mas Adnan, sejak kapan dia peduli dengan nenek sihir itu. Aku kehabisan kata-kata, dadaku terasa sesak.
"Terserah kamu," putus ku dan segera berbalik menuju kamar. Moodku hancur seketika, niat menunggu suami pulang malah dikejutkan dengan hal yang sama sekali tidak pernah ada di pikiranku sebelumnya.
Sebelum aku benar-benar berbalik aku melihat Celine menyeringai dan membuat gestur jempol terbalik ke bawah. Dia sedang mengejekku. Hanya aku yang melihatnya karena posisinya berada di belakang Mas Adnan.
Samar-samar saat menaiki tangga aku mendengar Mas Adnan berkata kepada perempuan itu untuk segera beristirahat di kamar tamu. Aku membuka dan menutup pintu kamar dengan keras, melangkah cepat menuju ranjang dan menjatuhkan tubuhku begitu saja di atas ranjang.
Siapa yang tidak sakit hati jika melihat suami pulang dengan perempuan lain di jam segini? Apalagi sampai menyuruhnya menginap, dan lebih parahnya lagi perempuan itu adalah seseorang yang pernah dijodohkan dengannya.
Kenapa Mas Adnan merubah pendiriannya dengan begitu cepat. Dulu saja dia tidak sudi ketika perempuan itu ingin menumpang dengannya, kenapa sekarang berbeda. Apa yang sudah aku lewatkan selama ini.
Terdengar suara kenop pintu di putar, aku segera menutup seluruh tubuhku dengan selimut dan memeluk guling. Jika sudah begini aku merasa sangat malas untuk menatap wajahnya.
Sibuk berpikir tak terasa ranjang terasa bergerak, sepertinya Mas Adnan sudah selesai mandi dan hendak tidur. Aku menunggu momen yang tepat untuk membuka selimut yang membungkus tubuhku.
Setelah beberapa menit sudah tidak ada suara yang terdengar di sampingku jadi aku mengintip sedikit untuk melihat apakah dia sudah tidur betulan atau belum.
Dan ternyata dia sudah tidur dengan posisi memunggungi ku. Aku berdecak pelan, ini adalah pertama kalinya dia tidur dengan posisi seperti itu, karena dia selalu memelukku saat tidur, dan tak pernah melewatkannya sekalipun. Aku memiringkan tubuhku dan memandang punggungnya, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya, terasa dekat tetapi entah kenapa juga terasa jauh secara bersamaan. Aku menarik tanganku kembali, mengurungkan niatku.
Aku merubah posisiku dan ikut memunggunginya juga, membenarkan letak selimut dan memejamkan mataku.
...****************...
Aku sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Hari ini aku memasak lebih, walaupun hatiku agak gondok tetapi aku masih punya hati untuk memberi makan mulut perempuan itu.
__ADS_1
"Emang cocok banget kamu jadi babu," celetuk seorang perempuan. Siapa lagi kalau bukan Celine si nenek sihir.
Aku mengabaikan ucapannya, tidak ada gunanya juga buatku. Susah-susah aku menaikkan moodku kembali pagi ini, lebih baik aku diam daripada kembali anjlok.
"Diajak ngomong bukannya jawab malah diem," marahnya.
Tetap tidak ada kata yang keluar dari mulutku.
"Indahnya pagi ini, bangun di rumah calon suami, pergi ke dapur udah ada pembantu yang masakin," ujarnya keras. Gagal mengajakku berbicara dia memulai dramanya agar aku menanggapi ucapannya.
Tetapi sepertinya dia sudah mulai kesal sendiri karena dia seperti berbicara kepada angin. Dia menghentakkan kakinya dan melangkah pergi.
Aku melanjutkan acara memasak ku. Setengah jam kemudian semua hidangan sudah tertata rapi di meja makan. Aku melepaskan apron yang aku pakai dan berniat ke atas untuk membangunkan Mas Adnan. Mau bagaimanapun dia adalah suamiku dan membangunkannya adalah sudah kewajiban ku sebagai seorang istri yang berbakti.
Tetapi sebelum aku menggapai kenop pintu, pintu sudah terbuka dari dalam, menampakkan Mas Adnan yang sudah rapi dengan setelan kerjanya, tak lupa juga tangan kanannya memegang tas kerjanya.
"Sayang," panggilnya saat melihatku tepat berada di depan pintu. Aku tersenyum ke arahnya, lebih tepatnya senyum palsu.
"Ayo sarapan," ajakku dan berbalik untuk menuruni tangga terlebih dahulu, Mas Adnan mengikuti langkahku.
Sampai ruang makan, terlihat Celine sedang membenarkan letak piring dan gelas di meja makan. Pasti sedang cari muka. Melihat kedatangan kami berdua, dia tersenyum sumringah, ke arah Mas Adnan saja.
"Ayo sarapan Nan, aku tadi bantuin istri kamu masak loh," ucapnya semangat. Aku mengernyitkan dahiku. Oh sudah mulai kembali dramanya, aku tidak akan memprotes ucapannya, buang-buang tenaga.
Aku cepat-cepat menyelesaikan makanku, sedari tadi Celine terus menerus mengajak Mas Adnan mengobrol. Telingaku panas mendengar nada manja yang dibuat-buat olehnya. Dan kalian tau? Mas Adnan menanggapi ucapnya dengan senang hati.
Mereka berdua juga sudah menyelesaikan sarapannya, Mas Adnan berpamitan kepadaku untuk pergi ke kantor. Seperti biasa mencium keningku sebelum pergi. Dan mereka berdua melangkah keluar rumah bersama. Aku tidak mengantarkannya ke teras seperti biasa. Malas.
Bersambung
__ADS_1
See you on the next chap 🥰
Jangan lupa like dan komen 🤩