
"Raline!" Teriak seorang perempuan.
Aku yang sedang membereskan dapur terkejut mendengar suara teriakannya. Dengan tergesa aku mendekat ke arahnya.
"Apa sih teriak malem-malem," ucapku menahan emosi.
"Anak kamu nih, suruh minggir," ucapnya setengah marah sambil menunjuk Ai yang sedang menonton
televisi di ruang tamu.
Aku menghela napas jengah. Perkara gini aja dia teriak segitu kencangnya. Ai sampai terlihat ketakutan mendengar suaranya.
Aku segera mendekati Ai dan mengajaknya ke dapur, karena aku belum selesai membereskan piring bekas makan malam. "Ikut bunda ke dapur yuk," ajak ku lembut. Ai mengangguk lemah dan turun dari sofa. Jam segini memang jamnya kartun kesukaannya jadi tidak heran habis makan tadi dia langsung menyalakan televisi.
Aku memang tidak pernah mengajarinya untuk makan sambil menonton televisi. Waktunya makan ya makan di ruang makan, menonton ya menonton. Jika anak terbiasa makan di sembari menonton maka akan membuat anak itu malas. Karena pasti fokusnya kepada apa yang ditonton dan makannya menjadi lebih lama.
"Tunggu sini bentar ya, nanti kita lanjut nonton di kamar sama Bunda," ucapku sambil membantunya duduk di kursi makan.
Dia mengangguk dan menaruh kepalanya di meja makan, aku sesekali menatapnya dengan senyuman. Setelah semuanya selesai, aku mengajak Ai ke kamar yang kami tempati berdua.
Dulunya kamar ini tidak ada televisinya, tetapi setelah Ai sudah mengerti menonton, aku membelinya untuk di taruh di kamar. Walaupun tak sebesar di ruang tamu, setidaknya masih bisa dibuat untuk menonton.
Sekarang aku menempati kamar yang dulunya adalah kamar tamu. Kenapa bisa? Karena kamar yang dulunya aku tempati sekarang di tempati oleh Mas Adnan dan Celine. Kenapa bisa ditempati Celine? Karena sekarang dia adalah istri keduanya Mas Adnan.
Kaget gak? Pasti kalian udah gak kaget sih. Tapi aku tetep mau cerita kenapa mereka bisa jadi sepasang suami istri.
Kalian pasti sudah tau saat anak yang aku kandung di anggap bukan anaknya Mas Adnan kan? Dan aku dituduh selingkuh karena fotoku bersama David. Semuanya berawal dari situ.
Di saat Ayah menyerahkan semua keputusan kepada Mas Adnan, serta Ibu dan Celine yang menyuruh Mas Adnan untuk bercerai. Dan aku yang sudah siap dia ceraikan asalkan dia percaya anak yang aku kandung ini adalah anaknya.
Akhirnya, keputusan yang keluar dari mulut Mas Adnan adalah:
__ADS_1
Dia tidak mau menceraikanku.
Meskipun dia tidak menceraikanku dia tetap tidak mau menganggap anak yang aku kandung adalah anaknya.
Dia memilih menikahi Celine sebagai istri kedua.
Saat itu aku benar-benar marah besar. Bagaimana bisa dia tidak mau menceraikanku tetapi ingin memadu ku? Lagipula dia tidak mau menganggap anak ini, lalu untuk apa dia tetap mempertahankan ku.
Pernikahan mereka dilakukan secara tertutup. Tak ada orang yang tau kecuali keluarga dan kerabat serta teman dekat mereka berdua. Karena tidak mungkin orang terpandang seperti Mas Adnan mengumumkan pernikahan keduanya, pasti akan banyak orang yang menggunjing.
Entah apa motifnya untuk mempertahankan ku aku juga tidak tahu. Selama hampir 2 tahun ini aku sangat jarang bertegur sapa dengannya. Walaupun satu rumah aku hanya melihatnya saat pagi sebelum dia berangkat ke kantor atau malam saat dia tidak lembur.
Aku di sini bagaikan pembantu untuk mereka berdua. Aku harus menyiapkan makan, membersihkan rumah. Pernah sekali aku tidak menyiapkan sarapan, Celine marah besar dan berakhir menyakiti Ai yang saat itu baru belajar berjalan.
Karena aku tidak mau hal itu terjadi, makannya aku berakhir menuruti keinginannya. Jika kalian berpikir kenapa aku tidak kabur saja, jawabnya adalah tidak bisa. Rumah ini di beri penjagaan ketat agar aku tidak bisa kabur. Selama ini aku tidak pernah keluar rumah. Semua kebutuhan rumah sudah ada yang mengurus sendiri.
Selama ini orang luar yang boleh masuk ke sini adalah David. Entah apa yang dibicarakan oleh Mas Adnan dan David sehingga David diperbolehkan masuk ke rumah ini. Karena hal itu juga yang membuat Ai memanggilnya Papa. Karena dari kecil David lah yang selalu mengajaknya bermain. Dan saat dia sudah bisa berbicara dia memanggil David dengan sebutan Papa.
Bagaimana panggilan untuk Mas Adnan? Ai memanggilnya dengan sebutan Paman. Terkadang aku merasa miris. Bagaimana mungkin Ayah kandungnya sendiri dipanggil dengan sebutan Paman, sedangkan orang asing dipanggil dengan sebutan Papa.
Mas Adnan tidak pernah sekalipun mengajak Ai bermain. Saat melihat Ai saja dia langsung melengos pergi. Selama ini yang di pahami oleh otak kecilnya Ai adalah dia tinggal bersama paman dan tantenya.
Aku sebisa mungkin menjauhkan Ai dari Celine, karena dia bisa saja berbuat nekat. Tadi aku kira yang datang adalah Mas Adnan jadi tetap aku biarkan saja Ai di ruang tamu sendiri.
__ADS_1
"Bunda," terdengar suara Ai saat aku sedang melamun kan kejadian demi kejadian itu.
"Iya sayang."
"Ai ngantuk," ucapnya dengan mengucek matanya yang sudah terlihat sayu. Aku segera mematikan
televisi dan meraih pergelangan tangannya agar berhenti mengucek matanya.
"Kalau gitu Ai tidur sekarang ya," ucapku lembut dan membaringkannya di sampingku. Dia mengangguk dan langsung masuk ke dalam pelukanku. Aku menepuk-nepuk pelan pantatnya dan tak lama kemudian diapun terlelap.
...****************...
Pagi hari menyapa. Aku segera bangun untuk membuat sarapan. Sekarang masih jam 6 pagi dan Ai masih tidur, jadi aku segera bergegas ke dapur.
Di dapur terlihat Mas Adnan sedang meneguk air dari dalam botol. Aku mengalihkan tatapanku dan mendekati kulkas untuk mengambil bahan masakan.
"Anak kamu ajarin sopan santun," tiba-tiba Mas Adnan bercelatuk.
Aku yang sedari tadi tidak berniat untuk menganggapnya berada di sini akhirnya menoleh ke arahnya, "Maksud kamu apa," tanyaku dingin.
"Semalam kata Celine anak kamu tiba-tiba mukul dia," balasnya tak kalah dingin.
Aku tertawa sumbang mendengar ucapannya. Memukul katanya? Bukankah dia yang sudah membuat anakku ketakutan karena teriakannya.
"Urusin aja istri kamu, gak usah pedulikan gimana aku didik anak aku," setelah mengucapkan itu aku menutup pintu kulkas dengan keras dan memulai untuk menyiapkan sarapan.
Aku mendengar dia meremat kuat botol air yang dia genggam, tetapi aku tidak perduli. Setelahnya aku mendengar dia berjalan menjauh.
30 menit kemudian aku sudah selesai membuat sarapan. Setiap harinya aku akan membuat sarapan untuk mereka berdua terlebih dahulu, setelahnya aku akan membuat sarapan untukku dan juga Ai. Selama ini aku selalu makan berdua saja dengan Ai setelah mereka berangkat bekerja. Dan setiap weekend aku membawa makananku ke dalam kamar.
Aku segera menuju kamar untuk melihat Ai apakah sudah bangun atau belum, dan ternyata dia belum bangun. Jadi aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mandi, aku melihat Ai yang sudah duduk di atas ranjang dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
Lucunya anak itu. Dia benar-benar di kirim Tuhan sebagai sumber kekuatanku. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaannya. Walaupun dia tidak mendapatkan kasih sayang dari Ayah kandungnya, setidaknya dia masih merasakan hal itu dari David. Aku sangat berterimakasih kepada David yang tidak menjauhiku walaupun sudah berkali-kali aku menolaknya.
Bersambung
__ADS_1
See you on the next chap 🥰