
Kalian tau? Hari ini adalah tepat satu minggu setelah aku memutuskan untuk menikah dengan Mas Adnan. Saat ini aku sedang berada di atas pelaminan bersamanya menyalami para tamu yang terus berdatangan. Sejak pagi jantungku berdegup dengan kencang. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutku. Rasa senang, sedih, cemas, dan takut berkumpul menjadi satu. Senang karena aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai, sedih karena tidak ada orang tua yang menemaniku di saat hari bahagiaku. Sedih, cemas dan takut karena tatapan tidak bersahabat yang terus dilontarkan oleh Ibu Mas Adnan yang sekarang sudah menjadi Ibu mertuaku.
Meskipun dia tersenyum dan ikut menyalami para tamu, tetapi ketika dia menoleh ke arahku, dia langsung merubah ekspresinya dan mengeluarkan aura permusuhan. Di sampingnya, Ayah hanya diam tanpa ekspresi, dan sedikit melengkungkan garis bibirnya ke atas saat bersalaman dengan tamu.
Baru satu hari resmi menjadi menantu, mereka sudah bersikap seperti itu. Untuk seterusnya aku akan terus bersikap baik kepada mereka, sampai mereka bisa menerimaku dengan baik.
"Kamu pasti capek kan?" tanya Mas Adnan yang berdiri di sampingku.
"Enggak terlalu sih. Kamu pasti yang paling capek, udah ngurus ini itu seminggu ini," jawabku.
"Gak juga. Aku kan mau buat pernikahan yang berkesan buat kamu. Jadi aku mau aku sendiri yang urus."
"Aku mau ikut bantuin juga gak kamu bolehin," ucapku cemberut.
"Kamu kan Ratunya di sini, jadi harus dilayani dan ga boleh capek-capek," jawabnya dengan senyuman.
Aku juga ikut tersenyum. Hari bahagia harus selalu tersenyum agar ke depannya rumah tangga kami
selalu diiringi dengan kebahagiaan.
Tiba-tiba dari samping terdengar suara perempuan menyapa Ibu mertuaku, "Tante apa kabar. Harusnya aku yang berdiri di pelaminan sama Adnan. Malah cuma jadi tamu undangan," ucapnya dengan nada sedih.
"Jangan sedih ya, walaupun bukan kamu yang jadi istri Adnan, tetapi di hati tante kamu akan selalu jadi calon istri terbaik buat Adnan," ucap Ibu sambil melirikku.
Mendengar itu aku langsung menunduk. Mas Adnan yang mengerti langsung menggenggam tanganku dengan erat. Sepertinya ini adalah perempuan yang rencananya akan di jodohkan dengan Mas Adnan. Terlihat dari penampilannya saja, dia adalah wanita berkelas dan berpendidikan tinggi. Sangat berbeda denganku. Tetapi tetap saja aku yang sudah berhasil menikah dengan Mas Adnan.
__ADS_1
Selesai berbincang dengan Ayah dan Ibu mertuaku, perempuan itu berjalan ke arahku dan Mas Adnan. Dia mengulurkan tangan kepada Mas Adnan, "Selamat ya Nan, walaupun kamu nikahnya gak sama aku, tapi aku ikut bahagia buat kamu," ucapnya dengan senyuman.
Mas Adnan mengulurkan tangannya juga, dan menjabat tangannya, "Ya," jawab Mas Adnan singkat dan segera menarik tangannya.
Kemudian perempuan itu melirikku dan berdiri di depanku dengan menyilangkan tangan di dadanya. Tidak seperti Mas Adnan yang di beri selamat dia justru berkata, "Beritahu resepnya dong, gimana caranya bisa melet laki-laki kayak Adnan. Aku yang cantik berkelas gini aja gak dilirik sama dia, kamu yang biasa aja dan kampungan gini kok malah dijadiin istri," ucapnya dengan sombong.
Aku sedikit terkejut dengan ucapannya. Ucapan sederhana tetapi penuh penghinaan. Di awal Ibu mertuaku juga berpikir aku melet Mas Adnan, lalu sekarang perempuan ini berkata seperti itu juga. Apakah di mata orang kaya, orang miskin sepertiku memang di pandang serendah itu?
Ketika aku hendak menjawab, tiba-tiba Mas Adnan lebih dulu berbicara, "sinting, pergi sana," bentaknya.
Perempuan itu kembali tersenyum ketika berhadapan dengan Mas Adnan. Walaupun tatapan Mas Adnan datar dan menusuk, perempuan itu tidak takut sama sekali.
"Jangan gitu dong Nan, kan aku mau tau resepnya, siapa tau nanti aku bisa dapet suami yang kayak kamu juga," dia terkekeh dan kembali menatapku. Menelisik dari atas sampai bawah, "Apa sih yang kamu lihat dari perempuan ini? Ga ada menarik-menariknya sama sekali," cibirnya.
"Udah? Pergi sana," usir Mas Adnan. "Sekali lagi aku denger kamu ngomong jelek tentang dia, aku ga bakal lepasin kamu. Dengerin baik-baik, aku jatuh cinta sama dia karena kebaikannya bukan karena status sosial atau parasnya. Dia beribu-ribu kali lipat lebih baik dari pada perempuan kayak kamu yang cuma bisa merendahkan orang. Gelarnya doang berpendidikan, tapi mulutnya kayak ga pernah di sekolahin," jelas Mas Adnan.
Mas Adnan menatapku dan menggenggam tanganku, "Gak usah dipikirin apa yang diomongin sama perempuan gila tadi. Aku gak akan berpaling. Aku bakal terus selamanya berada di samping kamu."
"Enggak kok Mas. Aku percaya sama kamu. Kamu gak bakalan kayak gitu," ucapku.
Acara masih terus berlanjut. Para tamu terlihat sedang menikmati hidangan yang telah disediakan. Karena ini pernikahan orang kaya dan Mas Adnan adalah anak satu-satunya, acara ini diselenggarakan dengan begitu mewahnya. Para tamu yang diundang pun kebanyakan dari kalangan atas. Aku belum memberi tahu kalian kan? Keluarga besar dari suamiku tidak ada yang datang sama sekali. Ayah dan Ibu mertuaku berada di sini saja hanya untuk formalitas belaka. Menurut mereka dari pada jadi bahan omongan banyak orang, mereka lebih memilih datang walaupun terpaksa. Sungguh drama sekali.
Sekarang sudah pukul 5 sore, yang artinya acara ini sudah berlangsung selama 8 jam lamanya. Aku sudah merasa lelah. Selain lelah karena duduk dan berdiri, aku juga merasa lelah karena terus mendengar beberapa tamu yang membicarakan ku. Membandingkan dengan perempuan yang akan dijodohkan dengan Mas Adnan. Mau sakit hati pun juga tak ada gunanya. Aku dan perempuan itu memang tidak pantas untuk dibandingkan. aku sudah kalah telak. Dari segala aspek semua yang ada di perempuan itu begitu sempurna.
"Eh Jeng, katanya istrinya si Adnan itu cuma kasir minimarket," terdengar suara kembali. Terdapat beberapa ibu-ibu sedang berkumpul di satu meja.
__ADS_1
"Iya Jeng, aku juga denger berita itu. Udah gila kali si Adnan mau-maunya nikah sama perempuan yang beda derajat sama dia," jawab ibu berbaju biru.
"Anak tunggal kaya raya kok jelek banget seleranya," kata ibu yang lain.
"Pak Arya sama Jeng Risti kok mau ya punya menantu miskin gitu."
"Eh kalian ga tau apa, mereka kan sebenernya udah nolak perempuan itu, tapi si Adnan yang ngotot pengen nikahin perempuan itu."
"Bener. Anakku sama anak adiknya Jeng Risti kan satu tempat les. Kemarin kita ketemu terus dia ngomong kalo keluarga besarnya juga gak setuju. Coba lihat, keluarga besar Sanjaya gak ada yang dateng satupun."
Semakin aku mendengar percakapan itu, semakin terasa sakit hatiku. Tapi memang ini resiko yang harus aku tanggung. Beginilah ketika kita menikah dengan orang yang memiliki derajat berbeda. Beruntung Mas Adnan sedang pergi ke kamar mandi, entah apa yang akan dia lakukan jika ikut mendengar perkataan ibu-ibu itu.
Dari kejauhan aku melihat Mas Adnan berjalan ke arahku. Ketika sampai di depanku dia berkata, "Kamu balik dulu aja ke kamar. Acaranya juga hampir selesai, ini tinggal klien-klien penting aku yang di sini. Nanti kalau aku udah selesai aku nyusul kamu ke atas."
Karena acara ini di selenggarakan di sebuah hotel mewah, Mas Adnan sekalian memesan kamar di sini untuk kita berdua. "Gak papa aku pergi dulu? Nanti dikira gak sopan," jawabku.
"Tenang aja. Kamu juga udah kelihatan capek banget. Nanti kalau mereka tanya aku jawab aja kamu naik duluan karena kecapean. Ini card lock buat kamarnya," katanya dan menyerahkan kartu itu kepadaku.
"Ya udah aku naik dulu ya," jawabku dan dia mengangguk kemudian mencium keningku.
Keluar aula pernikahan aku segera menaiki lift menuju atas dan mencari kamar dengan nomor kamar seperti yang tertera di card lock. Ketika sudah ketemu, aku segera menempelkan card lock tersebut dan pintu terbuka. Pertama kali memasuki kamar hotel aku dibuat terkagum dengan desain di atas kasur yang dibuat sedemikian rupa untuk pengantin baru. Seketika aku teringat jika malam ini adalah malam pertama kami. Pipiku memerah dan terasa panas. Malu.
Bersambung
Suka gak sama chapter ini. See you on the next chap 🥰
__ADS_1
Update setiap hari ya😉