My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 20 - Rumah


__ADS_3

Waktu liburan telah usai, jam sudah menunjukkan pukul 12.45 dan sekarang aku sedang memasukkan barang-barang ku kembali ke dalam koper karena mas Adnan memesan tiket pesawat untuk jam 15.00. Hari terakhir ini aku habiskan di dalam kamar penginapan,aku malas keluar, badanku yang rasanya remuk redam, Mas Adnan bermain seperti dirasuki setan, kami baru menyelesaikan permainan semalam saat tengah malam, di saat aku hampir pingsan, dia baru menghentikannya.


Selain karena badanku yang sakit, aku juga takut jika jalan-jalan keluar aku akan bertemu David lagi, jadi aku cari aman saja.


Mas Adnan masih berada di kamar mandi, tadi pagi saat aku bangun dia tidak ada di sampingku, saat ku tanya pergi kemana, dia menjawab jika dia pergi nge-gym katanya untuk memulihkan tenaga karena sudah terkuras semalam. Ha ha ha


Tidak butuh waktu lama untuk menata barang-barang di koper karena aku tidak terlalu banyak membawa pakaian, hanya sekarang ada sedikit barang bawaan tambahan. Kemarin saat aku jalan-jalan aku menyempatkan untuk membeli oleh-oleh untuk Ayah dan Ibu.


Aku menaruh barang bawaan ku di sudut dekat pintu keluar, agar tidak ada yang ketinggalan. Aku kembali melihat ke sekeliling kamar, siapa tau ada barang yang masih terbawa, dan ternyata sudah tidak ada.


Mas Adnan keluar dari kamar mandi, baju kotor yang tadi dia pakai, aku masukkan ke dalam kantong plastik dan menaruhnya di paper bag agar jadi satu dengan baju kotor milikku.


"Tadi kan udah aku suruh duduk aja yang, biar aku yang beresin," ucapnya padaku.


"Ga papa Mas, badanku juga udah ga sesakit tadi pagi kok," jawabku dan tersenyum memperlihatkan gigi ku.


"Kalau kenapa-kenapa ngomong ya, maaf juga untuk semalam, aku udah kelewat batas," ucapnya penuh sesal.


"Aku maafin, kan itu karena aku juga yang mancing kamu duluan," jawabku terkekeh.


Dia mengusap puncak kepalaku dan tersenyum lembut kepadaku.


"Kalau udah siap semua kita check out sekarang aja, nanti nunggu di cafetaria bandara aja," ajaknya dan menggenggam tanganku mengajakku keluar.


Kali ini aku membantu membawa 3 paper bag berisi oleh-oleh dan pakaian kotor, Mas Adnan membawa koper, kami berjalan beriringan menuju lift untuk turun ke bawah menuju resepsionis.


Setelah check out kami keluar penginapan dan sudah ada tour guide yang memandu kami 2 hari kemarin, sekarang dia akan mengantarkan aku dan Mas Adnan menuju bandara.


Sampai bandara, banyak sekali orang-orang, turis, atau pun orang-orang yang mengantarkan keluarganya untuk pergi entah liburan, kerja, atau ke luar negeri.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada tour guide tersebut, kami segera menuju cafetaria, cafetaria cukup ramai juga, setidaknya masih ada tempat duduk yang tersisa.


Aku memesan lemonade dan sandwich, Mas Adnan juga menyamakan pesanannya denganku. Kami baru makan sekali saat Mas Adnan balik dari gym tadi, jadi disini kami sekalian makan.


"Kamu besok kelas pagi apa siang yang," tanya Mas Adnan padaku yang sedang sibuk mengunyah makananku.


"Siang," jawabku setelah menelan makananku.


"Jam berapa."


"Jam setengah satu," jawabku tanpa menatapnya, karena aku sedang menyedot minumanku, sedangkan kedua tanganku masih memegang sandwich, jadi aku hanya mendekatkan mulutku ke arah sedotan.


"Oh, kalau gitu besok siang pas aku istirahat aku pulang dulu buat nganter kamu," ucapnya.


Aku mengangguk, dan melanjutkan makanku. Saat sedang mengunyah aku melihat seseorang

__ADS_1


melambai kepadaku, David! Sungguh bencana bertemu dengannya di sini, untung posisi duduknya membelakangi Mas Adnan, jadi hanya aku yang melihatnya.


Aku mengatur ekspresiku agar Mas Adnan tidak curiga, dan aku mengabaikan kehadirannya di sini. Mungkinkah dia juga akan pulang hari ini? Jangan-jangan kami satu pesawat? Aku berkata di dalam hati dan akhirnya aku tersedak.


Uhukk uhukk


Aku menepuk pelan dadaku, Mas Adnan yang melihatku terbatuk-batuk segera memberiku minum, "pelan-pelan yang, ga ada yang akan ngambil makanan kamu, pesawatnya juga masih lama." Ucapnya penuh rasa khawatir.


Aku segera meminum minuman yang disodorkan padaku, menetralkan nafasku, mencoba tenang, setelah dadaku tidak terasa sakit aku berbicara, "maaf ya mas udah bikin kamu khawatir," ucapku pelan.


"Jangan di ulangi lagi ya, ga baik buat diri kamu sendiri," pintanya padaku dan mengelus tanganku.


Setelah suasana menjadi tenang kembali, dan Mas Adnan sibuk dengan Handphonenya, aku mencoba melihat kembali kursi dimana David berada, dan ternyata orangnya sudah tidak ada, syukurlah.


Setelah menghabiskan makanan kami dan sedikit bersantai kami segera menuju tempat check-in, kemudian menuju tempat pemberangkatan pesawat, aku dan Mas Adnan segera memasuki pesawat, dan 10 menit kemudian pesawat lepas landas mengudara menuju tujuan.


Matahari sudah terbenam, langit pun sudah menghitam, sudah ada sopir rumah yang menjemput kami, jadi tidak perlu menunggu lagi.


Sampai rumah, sudah waktunya makan malam, karena tadi kita sudah mendapatkan jatah makan di pesawat, jadi kita hanya menyapa Ayah dan Ibu yang sedang menikmati makanannya dan langsung menaiki tangga menuju kamar.


Barang-barang bawaanku aku taruh di atas meja dan aku segera merebahkan diri di sofa, memejamkan mataku menikmati aroma kamar yang beberapa hari ini aku tinggalkan.


Mas Adnan menaruh koper di dekat ranjang dan berjalan ke arahku, mendudukkan dirinya di atas kepalaku, lalu membawa kepalaku untuk di taruh di atas pahanya, membenarkan anak rambutku yang sedikit berantakan.


"Tapi badanku lengket banget mas."


Dia mendekat ke arahku dan mengendus telinga dan pipiku, mendaratkan kecupan singkat di bibirku.


"Masih wangi."


"Ga enak tau, tidur keadaan badan lengket, 5 menit lagi aku mau bersih-bersih terus mandi," jawabku.


"Aku mau cuci muka sama gosok gigi aja, kan mandi ku siang."


Aku berdehem pelan, dan menganti posisiku menjadi miring menghadap perutnya dan kembali


memejamkan mataku.


5 menit berlalu aku membuka mata dan duduk, "sana kalau mau cuci muka dulu Mas, aku mau bersihin muka dulu."


Aku beranjak menuju meja rias dan mulai membersihkan wajahku, Mas Adnan bukannya menuju kamar mandi malah rebahan, terlihat dari pantulan kaca.


"Mas," panggilku.


Dia tidak menjawab, tetapi tatapannya mengarah kepadaku, "ya udah aku dulu aja yang make kamar mandi," lanjut ku.

__ADS_1


"Kalau bisa barengan kenapa harus gantian," gumamnya.


"Katanya kamu ga mau mandi."


"Kalau mandinya bareng ya mau lah aku," jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya.


Aku berbalik, menoleh ke arahnya, "ya udah ayo,"ajak ku dan beranjak menuju kamar mandi.


Dia bangun dari posisinya dan mengikuti ku, aku melepas pakaianku dan Mas Adnan juga melakukan hal yang sama, kita berdua berdiri di bawah shower, guyuran air hangat menyapa kulit kami tidak ada hal lebih yang kami lakukan, hanya saling menggosok punggung.


Setelah semua kegiatan di kamar mandi selesai, kami keluar dan segera memakai baju tidur, kemudian aku menuju meja rias untuk melakukan rutinitas skincare malam, Mas Adnan langsung menyandarkan dirinya di atas ranjang.


"Keringin dulu rambut kamu mas, nanti sakit kepala," kataku.


Aku melepaskan handuk kecil yang membungkus rambutku yang basah, sudah tidak ada air yang menetes, kemudian aku menyalakan hair dryer dan mulai mengeringkan rambutku.


"Sini mas aku keringin sekalian rambutnya," suruhku kembali.


Mas Adnan mendekat ke arahku dan duduk di lantai memunggungi ku, aku segera mengeringkan rambutnya agar kita bisa cepat-cepat istirahat.


Aku menyuruhnya berdiri karena rambutnya sudah kering, dan menyuruhnya kembali ke atas ranjang, aku pun juga berdiri menuju ranjang.


Dia sudah berbaring terlebih dahulu, aku menyibak selimut dan tidur di sampingnya, tetapi dia membawaku ke dalam pelukannya, memanggilku pelan, "Sayang."


"Iya.


"Gimana kalau kita hidup sendiri berdua?" Tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya.


"Berdua?" Beoku.


"Iya berdua, jadi kita mulai hidup mandiri di rumah kita sendiri, mau kan?"


"Terus Ayah sama Ibu kita tinggal berdua doang dong?"


"Nanti seminggu sekali kan kita bisa mengunjungi mereka di sini," ucapnya meyakinkanku.


"Mau sih mas, kalau Ayah sama Ibu ga mau kamu tinggal gimana?" Aku mau-mau saja hanya punya rumah sendiri dengan Mas Adnan, tetapi bagaimana dengan tanggapan kedua orang tua Mas Adnan jika anak mereka satu-satunya ga lagi tinggal di rumah ini.


"Besok pagi kita omongin sama mereka ya, sekarang kita tidur dulu." Setelah mengatakan itu dia mencium kening dan bibirku mengucapkan selamat malam dan mengeratkan pelukannya.


Aku juga sudah merasa mengantuk sekali, dan beberapa menit kemudian aku pun jatuh ke alam bawah sadar.


Bersambung


See you on the next chap 🥰

__ADS_1


__ADS_2