
"Aku nanti siang pergi ke luar kota yang. Belum tau balik kapan," ucap Mas Adnan yang sedang bersiap ke kantor.
"Iya, hati-hati di jalan," jawabku tanpa menatapnya karena aku sedang membereskan ranjang.
"Kamu kok biasa aja sih yang."
Aku menghentikan gerakanku saat mendengarnya mengucapkan kalimat tersebut. "Ya terus aku harus jungkir balik gitu?" jawabku sembari menatapnya.
"Ya gak gitu juga," balasnya dan mengusap pelan belakang kepalanya. "Kan kamu aku tinggal sampai gak tau kapan," lanjutnya.
"Ya udah sih Mas. Udah biasa juga kan kamu tinggal lama," ucapku dan kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Kamu sekarang berubah."
"Power Rangers kali bisa berubah," jawabku dan tertawa keras.
"Kamu sekarang gak senempel dulu sama aku. Kamu juga gak seperhatian dulu," jawabnya sembari mendekatiku dengan membawa dasinya. Minta dipasangkan.
Aku meraih dasi di tangannya dan mengikat simpul di kerahnya. "Perasaan kamu aja Mas," jawabku dan menepuk pelan dadanya.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, tatapan matanya mengarah ke bibirku. Saat bibirnya sudah semakin dekat dengan bibirku aku mengalihkan wajahku. "Sana berangkat," ucapku dan melepaskan rengkuhannya.
"Kenapa kamu gak mau aku cium? Semalem juga kamu nolak," ucapnya terlihat marah.
"Semalem kan karena kamu bau, kalau sekarang ini udah jam berapa?"
"Alasan," decihnya dan berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
Dia kira hanya dia yang bisa berubah. Memangnya dia tidak menyadari perlakuannya sekarang bagaimana kepadaku. Memang benar jika sangat mudah melihat kesalahan orang lain tetapi sangat sulit melihat kesalahan diri sendiri.
Oh ya, semalam Celine tidak jadi menginap. Hampir tengah malam, tiba-tiba saja dia pulang. Mas Adnan terlihat tidak setuju jika Celine pulang, tetapi entah apa yang dibicarakan Celine dengan Mas Adnan akhirnya dia setuju.
Semalam aku hanya melihat dari pembatas lantai 2. Niatnya ingin ke bawah membereskan piring kotor, tetapi malah melihat drama picisan mereka.
...----------------...
"Kapan kamu cerain anak saya?" sarkas Ibu.
Ibu? Tentu saja itu suara Ibu siapa lagi yang akan berkata seperti itu jika bukan Ibu dan mungkin saja Celine.
__ADS_1
Bayangkan saja ketika kalian baru pulang dalam keadaan lelah tiba-tiba di todong dengan pertanyaan seperti itu. Apa yang kalian rasakan, atau apa yang akan kalian lakukan?
Sore ini saat aku baru pulang dari kampus dia sudah ada di rumah. Tiba-tiba saja dia sudah berada di ruang tamu saat aku masuk. Mungkin dia mendapatkan kunci cadangan dari Mas Adnan.
"Udah lama Bu," basa-basi ku. Aku sangat lelah hari ini dan ingin cepat istirahat malah harus dihadapkan dengan wajah congkaknya.
"Ditanya orang tua itu dijawab, bukannya malah balik tanya," omelnya.
"Emang kalau saya cerai sama anak Ibu, Ibu bakal dapet apa? Oh iya, dapet menantu si nenek lampir tukang drama itu ya?" jawabku dengan nada mengejek.
"Nenek lampir?! Siapa yang kamu katain nenek lampir?!" bentak Ibu.
"Celine kan?" jawabku malas.
Ibu melotot, "Wanita cantik berpendidikan tinggi seperti Celine kamu katain nenek lampir!"
Aku menahan tawa. "Emang Ibu gak nyadar?" ucapku meremehkan.
"Dasar menantu gak tau diri. Awas aja, setelah Adnan pulang dinas. Saya adukan kamu sama dia, biar dia pisah sama kamu." ucapnya marah.
"Silahkan."
"Ibu kalau mau minum atau nyemil ambil sendiri di dapur ya," ucapku lembut.
Wajahnya semakin memerah karena amarah. "AWAS KAMU!"
Aku cekikikan saat menaiki tangga. Bukankan dia sendiri yan meng-cap ku sebagai menantu yang tidak tau diri? Maka aku akan mewujudkan hal itu untuknya.
Untung saja tadi aku sudah makan saat di kampus. Jadi aku tidak perlu turun dan bertatap muka dengan Ibu kembali.
Aku akan terus bertingkah polos dan tidak tahu apapun di depan mereka. Biarkan mereka berbuat semaunya di belakangku. Setidaknya masih ada Ayah yang mendukungku dan melaporkan apa yang di tau kepadaku.
Oh iya, minggu depan adalah Anniversary kedua kami sebagai suami istri. Aku tidak akan bertanya atau menyinggung hal ini di depan Mas Adnan. Aku akan melihat apakah dia masih ingat atau tidak.
Setelah mandi dan berganti, aku memutuskan untuk tidur.
Aku terbangun saat jam sudah menununjukkan pukul 10 malam. Lama juga aku tertidur, tenggorokanku terasa kering jadi aku akan ke dapur dan melihat apakah Ibu masih di sini atau sudah pulang.
Sampai di lantai bawah, sudah tidak ada tanda-tanda Ibu masih di sini. Dia pasti sudah pulang saat aku tidur tadi. Jika sudah terbangun seperti ini aku akan sulit untuk tidur kembali. Inilah mengapa aku tidak suka tidur saat masih sore, aku akan terbangun di tengah malam.
__ADS_1
Selesai membuat segelas coklat aku berjalan ke arah ruang tamu dan menyalakan televisi. Menonton komedi malam sepertinya tidak begitu buruk. Besok juga aku libur dan juga aku tidak perlu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, jadi akan aku nikmati momen ini dengan baik.
Buat apa memikirkan suami yang sudah tidak memikirkan istrinya sendiri. Sekarang jika ditanya menyesal atau tidak saat aku memutuskan untuk menikah, jawabannya sudah pasti menyesal. Dulu aku terlalu percaya diri dan menganggap laki-laki seperti Mas Adnan tidak akan berubah, ternyata pemikiranku itu salah besar. Semakin bertambah umur, semakin paham apa arti pernikahan yang sesungguhnya itu.
Aku terus tertawa karena ulah salah satu komedian di televisi. Tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda telepon masuk. Tadi aku berpikir itu adalah Mas Adnan tetapi ternyata ini panggilan dari Ayah.
Aku segera mengangkatnya, "Malam Ayah," ucapku pertama kali.
"Ayah udah kirim foto ke kamu, kamu lihat sekarang," ucap Ayah dan langsung mematikan sambungan telepon.
Aku sampai tidak dengar ada pesan masuk karena sibuk tertawa. Tanpa berlama-lama aku segera membuka pesan dari Ayah. Kedua mataku membola sempurna, jadi ini alasannya? Baru saja akan menutup pesan ini, Ayah mengirimkan pesan kembali yang bertuliskan;
Orang suruhan Ayah udah mulai.
Besok Ayah kabari lagi.
Kamu simpen baik-baik foto ini.
Aku segera mengirim balasan dengan mengucapkan terima kasih. Jika tidak ada Ayah mungkin aku tidak akan tau apa yang mereka lakukan sampai sekarang. Ayah bahkan sampai menyewa seseorang.
Tahan tidak tahan aku harus tahan. Sampai waktunya tiba, sampai aku lulus kuliah kata Ayah. Aku hanya cukup bersabar dan bersandiwara seolah-olah tidak tau seperti biasanya.
...----------------...
Tak terasa aku ketiduran di sofa semalam dan televisi masih dalam keadaan menyala. Sekarang sudah jam 9 pagi, aku meregangkan tubuhku dan mematikan televisi. Aku beranjak menuju dapur untuk minum dan membuat sarapan. Sakit hati juga butuh energi.
Aku sedang ingin makan toast, jadi aku membuatnya dengan bahan yang ada saja. Lagi-lagi handphone ku kembali berbunyi, kali ini tanda pesan masuk.
Aku mematikan kompor dan meraih handphone ku. Pesan dari nomor tidak di kenal, berisikan foto seperti yang Ayah kirim semalam. Ini pasti orang suruhan Ayah yang mengirimkan pesan.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak, "Mau heran tapi udah gak heran."
Mas Adnan yang biasanya sering menghubungi dan mengirimkan pesan dari kemarin belum menghubungiku sama sekali. Lalu aku akan menghubunginya lebih dahulu begitu? Tentu saja TIDAK.
Setelah menghabiskan sarapanku aku segera mandi. Aku berencana untuk pergi berbelanja, aku ingin mencoba membuat cookies, jadi aku akan membeli bahan-bahannya terlebih dahulu.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya