My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 43 - Anniversary yang Terlupakan


__ADS_3

"Kamu kok masak banyak banget, ada acara apa yang?" tanya Mas Adnan yang melihatku sedang rempong di dapur pagi ini.


"Pengen aja sih."


"Kamu sampai kerepotan kayak gitu," balasnya masih dengan posisi menyandar di meja bar.


"Bukan masalah besar buat aku," jawabku.


"Aku kan kasian lihat kamu yang repot kayak gitu," lirihnya.


"Udah deh Mas, daripada cuma berdiri di situ dan gak bisa bantu mending duduk aja sana," usir ku dengan masih memotong sayur.


Dia menghela napas berat, "Cuma kita berdua yang makan ngapain juga masak segitu banyaknya."


"Mas!" peringat ku. Dia pun dengan lesu berjalan ke arah ruang tamu. Ini memang baru jam setengah


enam pagi tetapi aku sudah terbangun dari pukul 4 dan langsung memutuskan untuk memasak.


Dia memang tidak ingat atau memang pura-pura tidak ingat. Sekarang sudah tepat satu minggu setelah dia pergi keluar kota. Yang artinya hari ini adalah Anniversary pernikahan kami yang kedua.


Dan aku kali ini memilih untuk memasak banyak makanan, agar bisa aku bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Daripada merayakannya dengan pesta aku lebih suka cara sederhana seperti ini.


Aku tidak akan memberitahunya jika hari ini adalah perayaan pernikahan kami. Jika dia memang mengingatnya biarkan dia ingat, jika dia lupa itu juga bukan masalah besar untukku. Memangnya sekarang apalagi yang bisa diharapkan darinya.


Satu jam berlalu dan aku sudah menyelesaikan semua masakanku. Hanya tinggal menyusunnya di dalam box tempat makan agar mudah untuk membagikannya.


Saat sedang sibuk menata box tersebut di meja makan suara Mas Adnan terdengar kembali. "Loh yang mau kamu apain makanannya?"


"Mau aku bagi," jawabku tanpa menatapnya balik.


"Buat siapa segitu banyaknya?"


"Buat yang membutuhkan." Aku terus mondar mandir mengambil nasi dan lauk pauknya. Aku membungkus hampir 50 box. Nanti aku akan meminta supir Ayah agar mengantarku membagikan makanan. Aku juga sudah meminta izin kepada Ayah, dan sudah di setujui olehnya.


Kenapa tidak mengajak Mas Adnan saja? Buat apa aku mengajaknya yang bahkan tidak ingat hari penting kami.


"Kamu sarapan dulu aja Mas terus ke kantor," aku mengambilkan dia piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya dan menyuruhnya makan di ruang tamu saja.


"Emang ada apa sih yang, kok kamu tiba-tiba bagi-bagi makanan?" tanyanya kembali karena masih penasaran.


"Ya pengen aja. Kemarin aku nemu resep baru, ya udah aku masak sekalian," bohongku. Tak sepenuhnya berbohong sih, aku memang menemukan resep baru kemarin.


Dia hanya mengangguk dan berlalu ke arah ruang tamu dengan sepiring nasi dan sebotol air putih. Aku memperhatikan punggungnya dan menggeleng. Sabar.


Sekarang Mas Adnan sudah berangkat ke kantor dan aku juga sudah siap untuk pergi membagikan makanan. Sopir Ayah sudah ada di depan jadi aku segera bergegas mengambil makanan yang sudah aku susun di dalam kantong besar.


Hampir satu jam aku membagikan makanan ini. Untunglah ada pak sopir yang membantuku, dalam perjalanan pulang aku memberitahu pak sopir jika masih ada 10 box makanan yang ada di bagasi dan aku menyuruhnya untuk membaginya dengan para pelayan dan tukang kebun di rumah Ayah.


Bagaimanapun mereka semua sangat baik kepadaku selama ini.

__ADS_1


Aku meminta pak sopir untuk menurunkan ku di halte busway saja. Hari ini aku harus ke rumah David karena dia sudah balik dari urusan pekerjaannya di luar kota. Awalnya sang sopir menolak karena perintah Ayah agar dia mengantarku kemana saja yang aku inginkan. Tetapi aku akan ke rumah David tidak mungkin aku menyuruh sopir untuk mengantarku ke sana. Jadi aku mencari berbagai alasan agar dia menuruti ku.


Setelah 15 menit kepergian sopir Ayah, aku segera memesan ojek online. Tak butuh waktu lama ojol pesananku sudah sampai. Aku pun segera naik dan meluncur menuju rumah David.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


RUMAH DAVID


"Akhirnya kamu dateng juga," ucapnya dengan mata berbinar ketika melihatku berjalan ke arahnya yang sedang bersantai di ruang tamu.


Aku menaruh kantong plastik berisi nasi box yang tadi aku bawa di atas meja dan aku ikut duduk di sofa di hadapannya.


"Makan ini aja, aku tadi pagi masak banyak," ucapku.


"Terus kamu mau langsung pulang gitu," tanyanya resah.


"Aku temenin sampai kamu selesai makan."


"Pulang nanti malem aja," pintanya.


Aku melihat jam di pergelangan tanganku dan berpikir sejenak. Di rumah juga sepi tidak ada yang bisa aku lakukan, tak apa kan jika aku di sini terlebih dahulu.


"Iya."


Mendengar ku menyetujui usulnya dia tersenyum lebar, "Aku kangen banget sama kamu tau," ucapnya lirih.


"Ya enak gak enak sih," jawabnya. Aku mengangguk tanda mengerti.


Dia terlihat membuka nasi yang tadi aku bawa. "Emang ada acara apa?"


"Anniversary kedua."


Dia menghentikan kunyahannya. "Kenapa kamu kasih aku makanan Anniversary kamu!" sentaknya.


Aku menaikkan sebelah alisku, "Kenapa? Itu juga tadi aku masak buat bagi ke orang-orang. Masih ada lebih ya udah aku kasih kamu."


Dia meletakkan kembali box nasi ke atas meja. "Udahlah gak akan aku makan."


"Ada masalah kah?"


Dia terlihat mulai emosi. "Ya kali kamu ngasih orang yang suka sama kamu makanan dari Anniversary kamu."


"Aku gak ngerayain Anniversary. Itu emang aku niat buat bagi-bagi aja," omel ku. "Lagian Mas Adnan juga lupa kalo hari ini anniversary kami," ucapku memelas.


"Pastilah," timpalnya.


Aku menatapnya tajam. Apa dia juga tau yang dilakukan Mas Adnan di belakangku selama ini?


"Kenapa kamu bisa yakin banget gitu," tanyaku mengorek informasi.

__ADS_1


Dia tersenyum remeh dan mengambil handphone nya di atas meja. Setelah beberapa saat dia mengotak atiknya dia memperlihatkan sebuah foto kepadaku.


"Masih mau mertahanin rumah tangga kamu," ejeknya.


Foto itu hampir sama dengan yang di kirim oleh orang suruhan Ayah. Hanya saja yang di tunjukan David ini adalah foto selfi, sedangkan foto yang di kirim orang suruhan Ayah adalah foto yang di ambil secara tersembunyi.


"Rumah tanggaku itu urusanku. Punya hak apa kamu ngomong kayak gitu." judas ku.


"Raline, Raline," dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Udah berapa lama kamu di bohongin sama suami kamu sendiri? Semua bukti udah ada di depan mata."


"Nanti juga kamu tau," sinis ku. "Dan ada waktunya nanti aku minta bantuan kamu," lanjut ku.


Dia menatapku dengan ekspresi bingung. "Jangan bilang selama ini kamu udah tau," geramnya.


Aku tertawa pelan, "Kamu kira aku bodoh apa."


"Wah. Dan kamu diem aja selama ini? Gila," decaknya.


"Harus main cantik dong."


"Udahlah mending cerain suami kamu aja terus nikah sama aku. Dijamin hidup kamu bahagia," ucapnya.


"Yang ada udah susah-susah keluar dari mulut buaya malah gantian masuk mulut harimau."


Dia tertawa keras, "Setidaknya aku ga pernah mainin cewek."


"Terus?"


"Terus apaan," tanyanya bingung.


"Aku harus salto gitu?"


"Bisa-bisanya masih sempet bercanda," decaknya sebal.


"Kamu pikir aku bakal nangis-nangis gitu."


"Setahuku kamu itu perempuan lembut. Dulu aja sering nangis karena aku deketin. Kenapa sekarang jadi sok kuat gini," ejeknya.


"Kamu kira perempuan kayak aku gak bisa berubah. Keadaan yang merubahku menjadi kuat kayak gini." balasku.


Dia menatapku dengan lamat. "Kalau butuh bantuan langsung kabarin aja."


Aku segera berdiri dari dudukku. "Habisin makanannya, jangan kamu buang. Tenang aja, Itu belanja pake uang aku sendiri."


Dan siang ini aku isi hariku dengan berbincang dengan David. Walaupun terkadang dia clingy tetapi aku masih bisa mengatasinya.


Bersambung


See you on the next chap 🥰

__ADS_1


__ADS_2