My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 1 - Awal Mula


__ADS_3

"Sayang, aku akan segera menikahi kamu." Itu adalah kalimat yang tidak pernah aku bayangkan akan keluar dari mulutnya. Perkenalkan namaku adalah Raline Humaira biasa dipanggil Rara atau Alin, aku hanyalah seorang kasir minimarket di sebuah kota. Aku memiliki kekasih yang 5 tahun lebih tua dariku, namanya Adnan Adhikari, dan kami telah menjalin kasih hampir 2 tahun.


Pertemuan kami sangatlah klasik layaknya sinetron di televisi, dia yang sedang kebingungan karena ban mobilnya pecah di pinggir jalan dan secara kebetulan aku melewatinya ketika hendak menuju minimarket tempatku bekerja dengan menaiki sepeda. Aku yang merasa kasian akhirnya mendekatinya.


"Mas, ban mobilnya pecah ya, tapi jam segini belum ada bengkel yang buka di dekat sini," kataku. Karena ini masih jam tujuh lebih sepuluh menit, dan biasanya bengkel dekat sini buka jam 8 pagi.


"Wah, gitu ya Mbak, gimana nih aku ada rapat penting 15 menit lagi," jawabnya gusar. "Ini temen-temenku juga ga ada yang ngangkat telponnya, nunggu montir langganan pastinya juga bakal lama."


Aku yang seperti mendapatkan ide akhirnya berkata. "Kantornya di mana ya Mas, udah deket apa masih jauh? Kalo udah deket ini pake sepeda aku aja, daripada Masnya telat."


"Udah lumayan deket sih, terus Mbaknya gimana kalo sepedanya saya bawa, Mbaknya kayaknya juga mau berangkat kerja kan?" Tanyanya. Mungkin dia tau jika aku akan berangkat kerja karena melihat seragam yang aku kenakan.


"Ga papa kok Mas, tempat kerjaku udah deket, paling 5 menit jalan kaki udah nyampe, itu udah kelihatan dari sini."


"Gimana kalau Mbaknya saya bonceng sekalian, nanti saya turunin di tempat kerjanya, daripada Mbaknya jalan kaki, kan searah juga, lanjut sepedanya saya pinjem dulu."


"Oh, boleh juga Mas," jawabku sambil tersenyum.


Sore ketika jam kerjaku hampir selesai, dia datang mengembalikan sepedaku, kami lalu berkenalan.


Singkat cerita dia mulai sering datang ke tempat kerjaku, entah pagi sebelum berangkat kerja atau siang ketika jam istirahat. Dua bulan saling mengenal, dia menyatakan perasannya padaku. Aku ragu karena aku dan dia layaknya langit dan bumi, aku juga tidak pernah berharap bisa menjadi kekasihnya, tetapi karena kegigihannya dalam meyakinkanku aku pun luluh dan menerimanya.


Tahun pertama menjalin kasih aku tidak pernah membayangkan bisa membangun rumah tangga bersamanya. Karena terlihat jelas dari status sosial dan level yang berbeda. Aku yang hanya lulusan SMA dan bekerja sebagai seorang kasir bisa menjalin kasih dengan seorang pengusaha terkenal di kota ini saja sudah membuatku minder. Tetapi sekali lagi karena kegigihannya dalam mencuri perhatianku dan meyakinkanku akhirnya aku jatuh juga ke dalam pesonanya.


"Kamu beneran gak salah ngomong gitu?" tanyaku tak percaya. "Aku aja masih ga nyangka bisa pacaran sama kamu, ini tiba-tiba ngajak nikah."


"Enggak sayang, aku kan beneran sayang sama kamu, jadi untuk memperjelas hubungan kita aku mau kita naik ke jenjang yang lebih tinggi."


"Tapikan kamu tau kalau level kita berbeda, orang tua kamu juga belum tau kan kalo kamu pacaran sama seorang kasir minimarket."


"Orang tua aku itu urusanku sayang, kamu cukup ada di sampingku apapun yang terjadi nanti," jawabnya dengan yakin. "Nanti selesai kerja kamu ikut aku ketemu orang tuaku ya, aku bakal ngomong sama mereka kalau anak tunggalnya bakal nikahin gadis manis yang berhasil nyuri hatinya," tambahnya sambil terkekeh.


"Ga ada yang lucu ya," sungutku. "Gimana kalau orang tua kamu ga setuju anaknya nikah sama orang rendah kayak aku? Aku takut tau gak."


"Ga usah takut, kan ada aku, pokoknya nanti kamu cukup di sampingku aja, biar aku yang ngomong sama mereka," ujarnya.


''Ya tapi...."

__ADS_1


"Udah udah ga usah khawatir, kamu lanjut kerja dulu aja, aku juga mau balik ke kantor, nanti jam 5 aku jemput."


"Kamu enak tinggal ngomong, ini aku loh yang ngejalanin," rengek ku. "Kenapa sih tiba-tiba pengen nikah?"


"Ya kayak jawabanku tadi yang, masa masih ga ngerti sih. Ya udah aku balik dulu, semangat kerjanya, ga usah cemberut kek gitu, jadi pengen gigit rasanya."


"Apaan sih," jawabku. "Ya udah sana, semangat juga kerjanya, hati hati dijalan."


"Bye-bye sayang," ucapnya berlalu.


Setelah kepergiannya aku pun melanjutkan pekerjaanku, untung tidak ada pembeli selama percakapan kami tadi.


Masih gak habis pikir kenapa dia tiba-tiba ngajak nikah. Memang udah lumayan lama kita pacaran, sebenarnya aku juga senang mendengar kalimat itu, tapi kembali lagi, aku masih ragu akan respon kedua orang tuanya.


...****************...


3 jam kemudian


"Ini beneran ketemu orang tua kamu? Jangan sekarang lah, aku kucel gini," kataku.


"Beneran dong, gak ada yang salah kok sama penampilan kamu, masih cantik dan selalu cantik."


"Ha ha ha," dia tertawa. "Ya udah ayo berangkat sekarang keburu malem nanti."


Dia pun menggandeng tanganku menuju tempat mobilnya di parkirkan. Selama perjalanan tanganku masih gemetaran, terus menerus merapalkan doa di dalam hati, semoga semuanya berjalan dengan baik. Suara radio mengisi keheningan di dalam mobil.


"Aku tadi udah nelpon Ibu, aku bilang kalau malem ini mau bawa seseorang ke rumah."


"Terus respon Ibu kamu gimana?" Tanyaku penasaran.


"Ya gak gimana-gimana, kan dia gak tau siapa yang bakal aku bawa ke rumah."


"Gimana kalau orang tua kamu ga setuju anak laki-laki satu-satunya mereka nikah sama perempuan yang derajatnya lebih rendah darinya?"


"Jangan merendahkan diri kayak gitu ah, aku gak suka. Orang tua aku ga sejahat itu kok, tenang aja," jawabnya menenangkanku.


Tiga puluh menit kemudian akhirnya kami pun sampai. Mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah yang terlihat besar dan tinggi. Mas Adnan menyalakan klaksonnya, dan seorang penjaga rumah membukakan gerbang, mempersilahkan tuannya untuk masuk.

__ADS_1


Saat sudah sampai di pelataran rumah, rasa gugup ku semakin menjadi, jantung berdetak dengan cepat, rasa mual mulai menyerang, entah kenapa kalau rasa gugup ku makin besar aku akan mulai merasa mual. Mas Adnan mulai membuka pintu mobil, menyuruhku untuk turun, tapi aku masih enggan untuk turun.


"Ayo turun, gak usah takut, semuanya akan berjalan lancar kok," katanya menghiburku.


Dengan sedikit enggan akhirnya aku pun turun, dia menggandengku menuju pintu rumahnya yang tertutup. Dia mulai mengetuk pintu besar itu, dan beberapa detik kemudian seorang pelayan membukakan pintu. Dia tetap menggandeng tanganku untuk memasuki rumahnya yang begitu megah dan besar, aku yang tidak pernah menginjakkan kaki di rumah sebesar ini mulai merasa minder. Dengan penampilan seadanya, hanya memakai kaos putih yang aku lapisi dengan sweater, celana jeans bewarna hitam, serta sepatu putih murah yang aku beli dari pasar. Berbeda dengan Mas Adnan yang masih mengenakan kemeja serta jas, sepatu hitam mengkilat yang aku yakini harganya lebih besar dari gajiku selama sebulan.


Saat masuk, aku melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sudah berumur sedang duduk di sofa. Terlihat berbincang satu sama lain, aku meyakini mereka adalah Ayah dan Ibunya Mas Adnan. Semakin dekat aku semakin gugup, aku hanya bisa berdiri di belakang punggung lebar Mas Adnan, merasa malu untuk bertatap muka dengan kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu, aku pulang," sapa Mas Adnan.


"Ya," jawab Ayahnya singkat.


"Oh, siapa itu yang ada dibelakang kamu," Tanya Ibunya.


"Sayang ayo kenalin diri kamu dulu, jangan malu-malu," ucapnya dengan membawaku berdiri di sampingnya.


Aku yang merasa semakin takut, hanya terdiam, tidak tau akan memulai perkenalan seperti apa. Aku hanya bisa menatap manik hitam Mas Adnan, mencoba memberitahunya lewat tatapan mata. Dia yang akhirnya menyadari aku yang semakin takut dan tidak berani berkata mulai angkat bicara.


"Perkenalkan dia adalah kekasihku, namanya Raline, aku sudah menjalin kasih dengannya hampir dua tahun"


"Udah selama itu dan kamu baru memperkenalkan dia kepada kami?" tanya ibunya sedikit kaget.


"Aku nunggu momen yang tepat, dan sekarang menurut ku udah saatnya, dengan membawanya kesini malam ini, aku ingin memberi tahu kepada kalian berdua kalau aku ingin meningkatkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius," katanya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Tadi sebenarnya Ibu sama Ayah lagi ngobrolin anak rekan kerja Ayah kamu yang rencananya mau kami jodohkan sama kamu," jawab Ibu.


Ayah Mas Adnan yang sejak tadi diam dan hanya menyimak akhirnya ikut berbicara. "Umur berapa?Lulusan mana? Kerja apa?" tanyanya menuntut.


Aku akhirnya memberanikan diri untuk menjawab, mencoba menghilangkan sedikit rasa gugup ku, takut di kira tidak sopan karena tidak mau menjawab. "Umur saya 20 tahun, lulusan SMA ***, kerja sebagai kasir minimarket."


"Hah, apa yang bisa diharapkan dari lulusan SMA dan seorang kasir minimarket," jawab Ibunya sedikit sarkas.


Hatiku mulai tidak menentu, degup jantungku juga mulai berdetak dengan cepat kembali, semakin merasa takut akan respon mereka selanjutnya.


Bersambung


See you on the next chap

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya


__ADS_2