
Sudah tepat satu minggu aku tinggal di sini, selama di sini aku sudah memahami seluk beluk rumah, apa saja makanan kesukaan Ayah dan Ibu, kebiasaan apa yang sering mereka lakukan, sampai jadwal arisan ibu aku sudah tau. Karena seminggu ini aku selalu berada di rumah, membantu para pelayan bersih-bersih dan menyiapkan makanan.
Dan seminggu ini juga tidak ada perubahan apapun, Mas Adnan yang tetap memprioritasku, Ayah yang masih cuek, serta Ibu yang tidak pernah berhenti menyindir dan mencibirku saat ada kesempatan.
Masalah kuliah aku sudah membicarakannya dengan Mas Adnan semalam, dan aku akan melakukannya, dari pada hanya duduk diam di rumah dan telingaku agak capek setiap mendengar ibu mengoceh, harusnya aku tidak boleh begitu, tetapi rasanya sudah benar-benar hampir tidak kuat jika harus mendengarnya setiap hari.
Semua urusan perkuliahan sudah di urus oleh Mas Adnan, satu minggu lagi aku sudah mulai masuk kuliah, dulu aku bercita-cita menjadi psikolog kan? Tapi kali ini aku mengubah keinginanku, entah kenapa aku lebih memilih manajemen bisnis, entah lah aku kepikiran suatu hari nanti untuk membuka usaha sendiri.
"Yang, malem ini ga usah makan di rumah yuk, kita makan malem diluar aja, semenjak nikah kita belum pernah sekalipun makan di luar," ajak Mas Adnan yang saat ini sedang tiduran di atas pahaku, selesai mandi tadi kami memilih bersantai di kamar.
"Boleh juga, aku juga lagi pengen makan sate ayam," jawabku masih terus mengelus rambutnya.
"Ya udah ayo siap-siap dulu," ajak Mas Adnan, dan dia berdiri dari acara tidurannya dan memegang tanganku agar aku berdiri.
Selesai berganti kami turun bersama dan sudah ada Ayah dan Ibu yang sedang duduk berdua di sofa ruang tamu sembari menikmati teh dan kue kering yang tersaji di atas meja.
"Ayah, Ibu kami pamit mau makan di luar," ujar Mas Adnan.
Ayah tidak menanggapi, hanya ibu yang berkata untuk hati-hati. Dia tersenyum ketika menatap Mas Adnan, tetapi ketika menatapku langsung berganti dengan tatapan tajam khasnya.
Aku punya tempat langganan sate ayam sendiri, karena aku sangat suka dengan olahan daging ayam,
jadi setiap tempat enak yang menjualnya aku akan menjadikannya tempat langgananku. Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai ke tempat tujuan kami karena jalanan malam ini tidak terlalu ramai.
__ADS_1
Karena letak penjual sate yang berada di pinggir jalan besar, jadi tempat makan untuk pembelinya lesehan di karpet di atas trotoar, lumayan ramai pembeli untung masih ada tempat yang kosong, jadi kita tidak perlu makan di dalam mobil. Benar kata Mas adnan, sejak menikah aku juga tidak pernah keluar malam, manikmati suasana makan sambil merasakan angin sepoi-sepoi dan kendaraan yang lewat.
"Habis ini pergi nonton yuk yang," ajak Mas Adnan.
"Boleh."
Setelah cukup lama berbincang akhirnya pesanan kami datang juga, bau dari sate yang di bakar sejak tadi sudah membuat cacing-cacing di perutku meronta minta makan. Aku pesan 2 porsi untuk diriku sendiri, sudah lama aku tidak memakannya, aku ingin melepaskan rasa rinduku akan makanan ini.
Selesai makan kami langsung menuju salah satu mall yang ada di kota ini, saat sampai terlihat banyak sekali pemuda dan pemudi yang membawa pasangannya untuk menonton, ada beberapa daftar film yang tayang hari ini, aku dan Mas Adnan memutuskan untuk menonton film horor saja. Setelah mendapatkan tiket dan popcorn, aku harus menunggu 15 menit lagi, karena film tayang jam 20.00 dan sekarang masih jam 19.45.
Selagi menunggu aku melihat sekitar, tiba-tiba pandanganku bertemu dengan seseorang yang aku kenal. Itu adalah perempuan yang akan dijodohkan dengan Mas Adnan, yang sekarang sudah aku ketahui bernama Celine. Saat melihatku dan Mas Adnan dia langsung menghampiri kami.
"Adnan," pekiknya.
"Kamu mau nonton film juga? Nonton apa? Aku juga mau nonton sama temenku, aku ikutan nonton film yang kamu tonton ya," suaranya dibuat mendayu-dayu.
Mas Adnan tidak menanggapi ocehannya sama sekali, dia merangkul pinggangku dan mengajakku pergi ketempat lain. Celine kembali berbicara, "kok ga kamu jawab sih nan, aku kan udah nanya baik-baik," dia memelas.
"Ga penting," setelah menjawab seperti itu Mas Adnan benar-benar melangkah pergi akupun mengikuti langkahnya. Aku menoleh ke belakang dan melihat Celine terlihat menahan rasa marah, tetapi tidak lama kemudian dia melangkah pergi bersama temannya.
Sudah 15 menit terlewati, aku dan Mas Adnan memasuki studio, aku memilih tempat duduk yang terletak di tengah, karena bagian belakang sudah penuh. Saat sudah menemukan tempat duduk, kami menyamankan posisi, aku berada di sebelah kanan Mas Adnan, disebelahku ditempati oleh pasangan juga, lalu kursi di samping Mas Adnan masih kosong.
Saat film sudah akan di tayangkan, dan lampu sudah dimatikan terdengar suara gusrak gursuk di samping Mas Adnan, aku tidak terlalu memperdulikannya, mungkin itu pengunjung lain yang akan mempati tempat duduk itu.
__ADS_1
Film pun di mulai, dari awal duduk, tanganku terus menggenggam tangan Mas Adnan, sebenarnya aku sedikit takut dengan film horor, tetapi aku suka menontonnya karena memicu adrenalin. Setengah jam film di putar, di layar sudah menampilkan adegan-adegan mengerikan, dan entah kenapa orang disamping Mas Adnan sedari tadi tidak bisa diam, selalu bergerak-gerak, tetapi Mas Adnan sama sekali tidak peduli apalagi menoleh, tetapi karena aku merasa terganggu akupun menoleh, karena keadaan gelap dan hanya cahaya layar yang menyorot, aku tidak bisa dengan jelas melihat wajahnya, tetapi aku seperti mengenal postur wajahnya dari samping.
Ketika aku menghadap layar kembali tiba-tiba ada adegan jumpscare, aku takut tak meremas lengan Mas Adnan dengan kuat, dia menenangkanku dengan membawaku kepalaku menghadap dadanya, tetapi orang di sebelah Mas Adnan, berteriak dengan kencang mengagetkan seluruh isi studio, aku ikut terkejut kembali dan menghadapnya, yang ada dihadapanku sekarang ternyata Celine! Pantas saja aku merasa tidak asing, selain berteriak dia juga memegang lengan Mas Adnan, Mas Adnan yang tersadar jika ada yang memegangnya pun ikut menoleh dan menghempaskan tangannya.
"Kenapa kamu bisa duduk disini?!" Sejak kapan kamu disini! Ga usah pegang-pegang," marahnya dengan suara pelan.
"Aku takut nan, aku baru pertama kali nonton film horor," jawabnya memelas.
"Udah tau takut ngapain nonton," Mas Adnan mengabaikannya, dan menoleh ke arahku, "kita tukeran tempat duduk yuk yang, males aku duduk samping dia," katanya dan berdiri untuk bertukar tempat denganku.
Setelah bertukar tempat, Celine menatapku tajam, "ngapain sih kamu mau-mau aja di ajak tukeran tempat duduk!"
"Lah emang kenapa, aku kan juga mikirin ketenangan SUAMI aku, dia ngerasa risih ada di sebelah kamu," aku menekankan kata suami agar dia sadar kalau Mas Adnan sudah mempunyai istri.
"Kamu!" Jari telunjuknya menunjukku. Tetapi didepanku merasa terganggu dan menyuruh kami untuk diam, jadi aku kembali fokus menonton, tetapi Celine berdiri dan keluar dari studio. Aku bodo amat, terserah dia mau keluar sebelum film selesai, udah tau takut film horor kok masih di paksain buat nonton.
Film berdurasi 2 jam 15 menit itupun akhirnya selesai, aku dan Mas Adnan keluar dan memutuskan untuk pulang karena sudah jam setengah 11 malam. Diperjalanan aku sudah merasa mengantuk dan akhirnya akupun tertidur.
Saat terbangun di pagi hari aku sudah berada di atas ranjang, sekarang baru pukul setengah 6 pagi, jadi aku memutuskan untuk mandi dan akan turun untuk membantu pelayan menyiapkan makanan, oh iya, Mas Adnan sampai sekarang tidak tau jika aku ikut membersihkan rumah dan mencuci, semua itu aku rahasiakan darinya, karena kemungkinan dia akan marah jika aku tidak menurutinya ketika dia mengatakan aku tidak boleh ikut mengerjakan tugas pelayan, dan kemungkinan lebih parahnya adalah dia akan menyalahkan ibunya dan berpikir bahwa ibunyalah yang memaksaku untuk melakukan tugas itu, jadi daripada menambah masalah lebih baik dia tidak perlu mengetahuinya.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
__ADS_1