
Hari ini adalah hari bahagia untukku dan dan Mas Adnan. Ya, hari ini adalah tepat satu tahun aku menikah dengannya. Waktu berjalan dengan begitu cepat, banyak hal sudah terlewati, tetapi ada satu hal yang sampai sekarang masih membuat hatiku tidak tenang, yaitu orang tua Mas Adnan yang masih enggan untuk menerimaku.
Khususnya Ibu yang sangat sulit untuk aku luluhkan hatinya, perihal Ayah, dia beberapa hari belakangan ini sudah mau menjawab ketika aku bertanya, walaupun hanya jawaban singkat setidaknya dia sudah mau mengeluarkan suaranya untukku.
Mas Adnan mengajakku untuk pergi liburan keluar kota selama 3 hari, karena hari ini hari sabtu dan senin nanti aku tidak ada kelas karena dosennya sedang berhalangan. Sungguh waktu yang tepat.
Satu tahun menikah, aku belum diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki keturunan, tak apa usia pernikahan kami juga masih muda, aku juga masih sibuk dengan dunia perkuliahan, Mas Adnan juga mengatakan tak perlu buru-buru.
"Udah siap semua kan?" Tanya Mas Adnan.
"Udah."
"Ayo langsung berangkat," ajaknya. Dan kami pun langsung berangkat menuju bandara. Karena jarak kotanya lumayan jauh dari sini, jadi Mas Adnan memutuskan untuk memakai pesawat saja.
Ini adalah pertama kalinya aku naik pesawat, aku sangat senang, karena saat kecil salah satu hal yang aku inginkan adalah bisa naik pesawat, dan Ayah pernah berkata padaku jika dia mempunyai uang lebih, dia akan mengajakku dan Ibu menaiki pesawat. Dan sekarang impian itu tercapai walaupun bukan bersama Ayah dan Ibu.
Aku sangat berterima kasih kepada suamiku ini yang benar-benar tulus mencintaiku, selalu memanjakanku, walaupun aku tidak pernah meinta ini itu, dia seperti tau bahwa aku menginginkan sesuatu.
Perjalanan ke Bandara memakan waktu 30 menit, karena pesawat tujuan kami akan berangkat 15 menit lagi jadi kami langsung check in. Perjalanan ini membutuhkan waktu hampir 4 jam, aku sedikit gugup saat pesawat take off, tetapi saat sudah terbang dan melihat hamparan awan putih, hatiku membuncah.
"Ayah, Ibu anakmu sudah berhasil memenuhi impiannya," ucapku di dalam hati.
Aku menggenggam erat tangan Mas Adnan dengan erat, dan aku memutuskan untuk tidur saja, karena perjalanan masih lama.
Aku tertidur tanpa terusik sama sekali, sangat nyenyak walaupun bukan di atas kasur, mungkin karena ini first class, jadi sangat nyaman. Pesawat sudah landing 10 menit yang lalu, dan sekarang Mas Adnan sedang mengantri untuk mengambil koper di Baggage Reclaim, kami hanya membawa satu koper besar dan satu koper kecil, kata Mas Adnan dia saja yang mengambil kopernya, aku disuruh duduk menunggu di cafetaria Bandara.
Ini pertama kalinya aku keluar kota, jadi semuanya sudah di atur Mas Adnan, dari tempat wisata yang akan dikunjungi, tempat penginapan, sampai tour guide juga sudah di siapkan.
Padahal dia mengajakku liburan baru kemarin sore, tetapi persiapannya seperti sudah dia rencanakan dari jauh hari. Mas Adnan memang penuh kejutan.
Saat kami keluar menuju titik penjemputan, sudah ada tour guide yang menunggu, tour guide itu seorang laki-laki, tidak terlalu tua maupun terlalu muda. Tour guide itu sepertinya mengenal Mas Adnan, dan fakta yang baru aku ketahui adalah tour guide tersebut merupakan salah satu karwayan Mas Adnan yang bekerja di cabang perusahaannya yang berada di sini, dia diminta untuk menjadi tour guide kami selama kami di sini.
Membutuhkan waktu 15 menit untuk menuju tempat penginapan, ketika sudah sampai aku sama sekali tidak diperbolehkan untuk membawa koper, padahal koper tinggal di tarik, bukan di jinjing, tetapi kata Mas nanti aku kelelahan.
__ADS_1
Liburan kali ini juga bermaksud sebagai Honeymoon tipis-tipis kami, Mas Adnan sebenarnya sudah mengajak Honeymoon dari lama, tetapi karena menyesuaikan jadwalku dan jadwalnya jadinya beru sekarang hal ini terealisasikan.
Kami sudah makan siang di pesawat tadi, barang-barang akan aku bereskan nanti, aku merasa lelah, Mas Adnan juga tidak mempermasalahkannya dan mengajakku untuk istirahat saja.
Malam tiba, aku diajak untuk kulineran di sini, karena penginapan dekat dengan pantai, jadi Mas Adnan mengajakku untuk makan seafood, kota ini terkenal dengan kelimpahan hasil lautnya, jadi kuliner yang terkenal di sini ya seafood.
Aku tidak terlalu suka seafood, tetapi karena Mas Adnan terlihat begitu excited jadi aku hanya ikut saja.
Setelah mengisi perut, kami berjalan menyusuri pinggir pantai, angin sepoi-sepoi membelai rambut kami, aku mengeratkan cardigan yang aku kenakan, Mas Adnan yang melihatku kedinginan mengajakku ke cafetaria yang dekat dengan pantai, Mas Adnan memesankan ku coklat panas, sedari tadi dia terus menggosokkan tangannya di tanganku, meniupnya agar terasa hangat.
"Kamu kan ga tahan dingin, tapi kenapa setuju aja waktu aku ajak jalan-jalan pantai?"
"Aku kira ga bakal sedingin ini," jawabku menenangkannya. "Aku ga papa kok, ini udah mulai hangat."
"Ini minum dulu coklatnya, habis ini balik hotel aja ya."
Aku mengangguk sembari meniup cangkir berisi coklat yang aku pegang, rasa hangat langsung menembus tenggorokanku. Saat sedang menikmati coklat dengan ditemani biskuit, ada suara yang memanggil namaku.
"Raline?"
Dan di saat aku sedang bersama Mas Adnan, dia malah muncul, aku tidak mengatakan bahwa aku bertemu dan berbincang dengannya, bisa-bisa Mas Adnan melakukan hal tak terduga kepadanya. Lebih baik aku simpan hal ini untuk diriku sendiri saja.
"Wah kamu lagi liburan di sini juga ya?" Tanyanya sok akrab.
"Siapa yang," tanya Mas Adnan memandangku dan laki-laki itu bergantian.
"Kamu Adnan kan?" Tanya laki-laki itu dan tersenyum ke arah Mas Adnan. "Kenalin aku David sepupunya Celine," laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Mas Adnan tidak membalas uluran tangannya, tetapi malah menatapku, "kamu kenal sama dia yang?"
"Enggak, cuma pernah ketemu sekali pas dia ke rumah sama Celine," jawabku sedikit gugup. Aku takut laki-laki ini akan berkata yang tidak-tidak kepada Mas Adnan, dia sepertinya adalah pria yang nekat.
Karena Mas Adnan tidak menerima uluran tangannya, dia menarik tangannya kembali dan tersenyum, kepadaku, "kalau gitu aku pergi dulu, senang bertemu kamu di sini Raline, see you again."
__ADS_1
Kenapa harus ada kata again? Aku hanya mengangguk kecil dan dia melangkah pergi, melambaikan tangannya ke arah kami. Hah, pertemuan yang tak terduga.
Sedari tadi tatapan Mas Adnan tidak bisa santai, "beneran dia pernah ke rumah? Kapan? Kok aku ga pernah lihat," tanya Mas Adnan penuh selidik.
"Iya, udah lama banget, pas kamu keluar kota," jawabku.
"Kamu ngobrol sama dia?"
"Enggak, cuma lihat doang, dia juga ngobrolnya sama ibu di rumah, aku tau namanya aja baru ini," jawabku percaya diri walaupun ada kebohongan di dalamnya.
"Kalau kamu ketemu lagi sama dia pas lagi gak sama aku, kamu menghindar aja, aku gak suka sama dia," ucap Mas Adnan.
"Iya mas."
Setelah itu kami berjalan kembali menuju penginapan, aku teringat belum membereskan barang bawaan kami, jadi begitu sampai di kamar aku langsung membereskannya.
Semuanya sudah beres, aku menyusul Mas Adnan yang sedang menyender di ranjang, sibuk dengan handphonenya. Aku memeluknya dari samping dan menenggelamkan kepalaku di dadanya, melihat aku dalam posisi ini, dia menaruh handphonenya di meja dan membalas pelukanku.
"Tumben manja," tanyaku.
"Sekali-kali," aku menganti posisiku duduk di pangkuannya, tanganku berada di bahunya. "Ga pengen Mas?" Tanyaku.
"Pengen apa?"
"Olahraga."
Mendengar jawabanku dia langsung mencengkeram pinggangku dan seketika menyerang ku dengan ciumannya. Sekali-kali aku yang berinisiatif untuk mengajak duluan, walaupun sedikit malu, tapi tak apa, agar dia senang.
Tautan bibir kami terlepas, aku dan Mas Adnan sama-sama terengah, "aku yang mimpin ya?" Kataku seduktif. Lalu aku mencumbunya kembali, tanganku melepas pakaiannya dengan tidak sabaran.
Ah... Ini akan menjadi malam yang panjang.
Bersambung
__ADS_1
See you on the next chap 🥰