
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, aku terkesiap dan segera beranjak menuju kamar mandi, ketika aku membuka mata tadi, Mas Adnan sudah tidak ada di sampingku, dan ketika aku melihat sekeliling kamar tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Mungkin dia sudah turun kebawah untuk makan malam bersama ayah dan ibunya.
Aku segera mandi dan membereskan kekacauan yang sudah aku dan Mas Adnan lakukan, tadi setelah sekali bermain di walk in closet, Mas Adnan menggendongku kembali ke arah ranjang, dan melanjutkan kegiatan kami, sungguh kebohongan besar ketika dia mengatakan akan bermain satu ronde saja.
Setelah mandi dan berganti, aku memutuskan untuk naik kembali ke atas ranjang, duduk bersandar di kepala ranjang, menyalakan televisi yang letaknya sejajar dengan posisiku. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar terbuka, Mas Adnan masuk dengan senyuman di wajah tampannya.
"Udah bangun ya?" Dia mendekatiku dan mencium pipiku. "Udah mandi juga ternyata," ucapnya dan mengecup bibirku berkali-kali.
"Kamu dari mana mas?" Tanyaku dan sedikit menjauhkan wajahnya dari wajahku, terlalu dekat seperti ini membuat jantungku tidak berdetak dengan normal, entahlah aku masih belum terbiasa dengan posisi ini.
"Aku dari ruang kerja tadi, ayo turun dan makan malem bareng sama mertua kamu," godanya dan mencolek daguku. Dia pasti tau saat dia mengatakan 'makan malem bareng' aku pasti akan mulai merasa takut.
"Ayo," jawabku mantap. Mulai sekarang aku akan menghilangkan semua rasa takutku terhadap kedua orang tuanya, bagaimanapun sekarang mereka adalah mertuaku, orang yang sekarang harus aku hormati dan kedepannya aku juga akan tinggal bersama mereka disini.
Saat menuruni tangga, yang tadinya dari kamar aku merasa bersemangat entah kenapa saat sudah memijakkan kaki ditangga rasa takutku kembali menghantui. Aku mencengkeram erat lengan Mas Adnan, dia menoleh kepadaku, "tenang," ucapnya berbisik.
Ketika sudah dekat dengan ruang makan, terlihat ayah dan ibu mertuaku sedang berbicara, dan terlihat pelayan sedang menghidangkan masakan di atas meja. Saat sudah sampai di sisi meja, kedua orang yang sedang bercengkrama tadi menghentikan obrolannya dan melihat kita berdua.
"Malam Ayah, Ibu," sapa Mas Adnan.
"Malam," jawab Ayah singkat.
"Malam sayang, ayo duduk," jawab ibu lembut tetapi melirikku sinis.
"Ayo duduk yang," Mas Adnan menyuruhku duduk. Aku memandang singkat bergantian ketiga orang dihadapanku. Posisi saat ini adalah Ayah duduk di ujung meja, dan ibu duduk di sebelah kanan ayah, sedangkan Mas Adnan duduk di sebelah kiri Ayah, jadi secara otomatis aku akan duduk di samping Mas Adnan.
"Ayo duduk yang, kok malah ngelamun," ujar Mas Adnan dan menarik tanganku untuk duduk disampingnya. Aku duduk dengan tenang, menundukkan kepalaku, tidak berani menatap kedepan yang terdapat ibu yang sejak tadi memperhatikanku.
"Karena kamu udah jadi menantu di sini jadi kamu ya harus tau diri dikit, mulai besok kamu bantuin pelayan bersih-bersih sama masak," ucap ibu sarkas.
"Iya bu," jawabku pelan. Baru sehari disini aku sudah mendapatkan nada sarkas dari ibu, akankah kedepannya akan terus seperti ini? Semoga saja aku bisa dengan cepat mengambil hati Ayah dan Ibu.
"Bu, kan udah ada pelayan yang bisa ngerjain itu semua kenapa Raline harus bantuin?" Protes Mas Adnan.
__ADS_1
"Ya ga papa, masa dia cuma numpang hidup disini, walaupun dia istri kamu dia juga harus berkontribusi juga dong buat beres-beres, kebetulan salah satu pelayan kemarin ngundurin diri, kamu jangan manjain dia gitu aja, nanti lama-lama ngelunjak," jawab ibu keras.
"Ga bisa, aku ga akan biarin Raline ngelakuin itu semua, lagi pula sebentar lagi dia juga bakal daftar kuliah," kata Mas Adnan, dan menatapku dengan tatapan lembutnya. Menggengam tanganku dan meletakkannya di atas pahanya.
"Kuliah? Buat apa kuliah, kalau mau kuliah kenapa ga dari dulu aja? Oh iya lupa, kan orang miskin mana mampu," cibirnya. "Baru juga 2 hari nikah sama Adnan kamu udah morotin dia buat bayarin kuliah kamu, seminggu lagi kamu bakal minta apa lagi? Tanah? Aset?"
Aku tidak pernah punya pikiran untuk memanfaatkan bahkan memoroti seseorang, apalagi Mas Adnan yang notabennya adalah suamiku sendiri, dan untuk masalah kuliah ini bukan aku yang menginginkannya, tetapi Mas Adnan sendiri yang menawarkan.
Suasana ruang makan terasa sedikit mencekam, ayah yang sejak tadi hanya diam, Mas Adnan yang wajahnya memerah karena amarah, dan ibu yang selalu melontarkan kata-kata menyakitkan.
"Orang miskin bisanya cuma bikin beban, memanfaatkan kepolosan demi mendapatkan keuntungan, udah ga heran aku sama orang modelan kayak kamu," sarkasnya.
"Mau sampai kapan sih ibu selalu ngejelekin Raline?" nada Mas Adnan mulai meninggi. "Tentang kuliah ini juga aku yang nyuruh dia, bukan atas permintaanya, dia masih muda sayang aja kalau cuma duduk diem di rumah, selagi aku mampu, apapun yang terbaik buat dia juga bakal aku kasih," ucap Mas Adnan. "Ibu kan belum sepenuhnya kenal sama Raline, nanti kalau ibu udah kenal dan deket sama dia ibu juga bakal suka sama kepribadian dia, ga semua orang yang levelnya di bawah kita itu punya sifat yang sama."
"Makan," Ayah yang hanya diam menyimal sedari tadi akhirnya angkat bicara. "Masalah kayak gini ga usah di bawa ke meja makan, bisa bikin selera makan ilang."
Aku mulai mengambilkan makanan di piring Mas Adnan, aku tau semua yang ada di atas meja ini adalah makanan kesukaanya, mungkin ibu menyuruh pelayan untuk memasak ini untuk menyambut kepulangan anaknya. Aku juga mulai mengisi piringku dengan porsi sedikit, walaupun yang tersaji di meja makan terlihat menggiurkan tetapi aku masih sungkan. Mas Adnan melirikku yang hanya mengambil makan sedikit, dan menautkan kedua alisnya, aku tau apa yang akan dia katakan, jadi aku mengelus tanggannya menggeleng. Kami pun mulai menikmati makan malam dengan diam, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
"Kamu naik dulu ya, nanti aku nyusul habis ngomong sama ayah," ucap Mas Adnan, setelah mengecup keningku dia berlalu menyusul kepergian ayah dan ibu.
Ketika aku akan beranjak ke atas, aku melihat 2 pelayan datang untuk membereskan meja makan, aku berisiniatif untuk membantu mereka, tetapi ketika aku akan mengambil piring salah satu pelayan berkata, " ga perlu non, nona naik aja istirahat ini tugas kita."
"Ga papa Bik, aku juga ga ada kerjaan apa-apa," jawabku.
"Biarin dia yang beresin Bik, kalian bisa istirahat dulu," terdengar suara dari belakang, dan itu adalah suara ibu mertuaku.
"Sana beresin, yang bersih jangan sampai saya lihat masih ada noda setitik pun," ucapnya dan berjalan ke arah sofa di ruang tamu.
2 pelayan itu masih berdiri dipojokan, terlihat bingung ingin membantu atau tidak dan aku berkata kepada mereka, "Bibi bisa istirahat duluan, biar aku yang beresin ini, tenang, ini bukan hal besar bagi saya."
"Ya udah kalo gitu kita pergi dulu ya non, maaf malah merepotkan non," jawabnya tak enak hati.
"Ga papa Bik, selamat beristirahat," mereka mengangguk dan berjalan ke arah belakang di mana kamar mereka berada. Setelah kepergian mereka, aku mulai membereskan meja, membawa piring dan gelas kotor ke tempat pencucian, mengelap meja dengan kain basah lalu aku lanjutkan mencuci peralatan makan yang kotor, menaruhnya di tempat penyimpanan setelah selesai di cuci.
__ADS_1
Kalau hanya urusan bersih-bersih dan cuci mencuci aku sudah terbiasa sedari kecil melalukannya sendiri, karena biasanya ayah dan ibuku bekerja sampai malam, jadi aku sudah di ajarkan untuk mencuci piring dan bajuku sendiri.
Setelah sudah tidak ada air yang menetes, aku mulai mengelap satu persatu peralatan yang aku cuci tadi dengan kain bersih dan menaruhnya di laci penyimpanan. Setelah itu aku mengelap tanganku juga dan memutuskan untuk naik ke kamar, karena sudah tidak ada lagi pekerjaan yang harus aku lakukan. Saat melewati ruang tamu ibu menegurku, "udah bersih seperti semula kan?"
"Sudah bu," jawabku dan menatapnya. "Kalau gitu saya naik ke atas dulu ya, ibu juga jangan istirahat malam-malam."
"Ga usah sok perduli kamu," jawabnya. Padahal aku memang perduli, setauku orang yang sudah memasuki kepala 5 memang dianjurkan untuk istirahat lebih awal. "Kalau begitu saya naik dulu bu, selamat malam," pamitku.
Saat baru menaiki 3 anak tangga, terdengar suara Mas Adnan dari belakang, "loh yang, kamu baru naik? Bukannya aku nyuruh kamu naik dari tadi," tanyanya.
"Iya tadi aku..." belum selesai aku mengatakan kenapa aku baru naik suara ibu terlebih dahulu terdengar. "Tadi ibu ngobrol sama dia bentar," ucapnya. Itu adalah alibi belaka agar Mas Adnan tidak mengetahui bahwa aku yang membereskan meja makan, karena ibu pasti tau Mas Adnan akan marah padanya ketika tau bahwa dia yang menyuruhku tadi.
"Bener tadi kamu ngobrol sama ibu," tanya Mas Adnan masih tidak percaya.
"Iya Mas tadi aku ngobrol bentar sama ibu," jawabku mantap, sedari tadi ibu sudah memelototiku agar aku tutup mulut.
"Awal yang bagus dong, sering-sering ya kalian ngobrol bareng," ujar Mas Adnan dengan senyuman dan menatapku dan ibu bergantian.
"Sana kalian istirahat, ibu juga mau istirahat," kata ibu dan melangkah pergi.
"Iya bu, selamat beristirahat juga," ucap Mas Adnan dan di angguki oleh ibu. Mas Adnan naik dan mensejajarkan langkahnya denganku. "Ngobrol apa tadi sama ibu, ibu ga ngomong yang aneh-aneh kan?" Tanyanya penasaran.
"Enggak kok, tadi kita ngomongin masalah perempuan, Mas Adnan ga boleh tau," jawabku dan menjulurkan lidahku di depannya.
"Oh gitu ya sekarang, aku gigit sampe berdarah baru tau rasa kamu," tetapi sebelum dia mendekatkan wajahnya, aku sudah berlari keatas terlebih dahulu dan tertawa.
"Tangkep kalo bisa," tantangku. Tetapi sepertinya aku salah sasaran, sekarang kan aku satu kamar dengannya, sudah pasti dia akan memasuki kamar yang sama denganku. Habislah aku, kataku dalam hati dan menepuk jidatku.
"Kalo ketangkep satu ronde ya yang," teriaknya dari bawah. Kan benar-benar salah taktik aku.
Bersambung
See you on the next chap 🥰
__ADS_1