My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 17 - Sepupu Celine


__ADS_3

Hah


Mas Adnan mengabari bahwa ia harus menginap dan tidak bisa pulang. Selama hampir 2 bulan menikah, baru kali ini dia keluar kota, sedari dulu dia memang sudah sering pergi ke kota satu ke kota lain, untuk mengecek cabang-cabang perusahannya yang ada di sana, itu memang sudah kewajibannya sebagai pewaris tunggal.


Sudah hampir jam makan malam jadi aku memutuskan untuk turun ke dapur untuk membantu memasak.


Saat aku turun, masih ada Celine dan laki-laki itu di ruang tamu, tetapi sekarang juga ada ibu yang sedan berbicara dengan mereka.


"Adnan kemana, bisanya jam 5 udah pulang sampai jam segini kok belum pulang," ucap ibu ketika melihatku.


"Mas Adnan keluar kota tadi pagi bu, dan harus menginap," jawabku sopan.


Sedari aku menjawab laki-laki di sebelah terus memandangku, aku merasa risih dengan pandangannya, dia menaikkan sudut bibirnya ke atas membuatku merinding. Celine menatapku seperti biasa, tajam.


"Cepet sana bantuin pelayan masak," usir ibu.


Aku membungkukkan badan dan berjalan menuju dapur, siapa juga yang mau berlama-lama satu tempat dengan mereka. Saat sampai dapur masakan sudah hampir selesai, jadi aku memutuskan untuk menata piring dan gelas di meja makan saja,


Saat semuanya sudah siap, aku kembali berjalan ke arah ruang tamu untuk memanggil ibu dan tamunya untuk segera makan. Ayah sedari tadi juga tidak terlihat, mungkin belum pulang dari kantor.


"Ibu, makan malam sudah siap," ujarku.


Tanpa menjawab, ibu mengajak kedua tamunya untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Mengandeng tangan Celine mereka berdua berjalan di depan dan laki-laki itu mengikuti dari belakang.


Aku masih berdiri di tempatku, mereka melewati ku begitu saja, tetapi lagi-lagi laki-laki itu menatapku intens sejak dia berdiri dari sofa dan melangkah.


Saat kedua mata kami bertemu aku langsung menunduk, tidak berani untuk melihat lebih jauh, dari wajahnya terlihat seperti bukan orang baik dan punya niat terselubung.


Aku segera menyusul ke meja makan, saat hendak duduk di kursi, tiba-tiba ibu berbicara, "Ngapain kamu ikut duduk, sana makan di dapur bareng pelayan," tegur ibu.


Aku berdiri tanpa memprotes ucapan ibu, karena memang itu sifat aslinya ketika Mas Adnan tidak ada, jadi aku sudah tidak heran.


Tetapi ketika aku akan melangkah pergi, suara laki-laki terdengar, "Ngapain harus di dapur kalau bisa makan disini juga," katanya penasaran.

__ADS_1


"Tante takut nanti selera makan kalian hilang gara-gara makan satu meja sama dia," jawab ibu di iringi senyuman.


"Ga tuh, biasa aja," jawab laki-laki itu kembali, kali ini dia menatapku, "Duduk lagi aja," suruhnya kepadaku.


"Enggak usah, aku bisa makan di belakang kok, lebih nyaman," tolak ku. Memang lebih nyaman makan bersama pelayan dari pada makan bersama mereka, dimana ibu dan Celine yang selalu menatapku sinis.


"Udah kamu makan di sini aja, berterima kasihlah sama sepupunya Celine, karena ngebolihin kamu makan satu meja sama dia," perintah ibu dengan cibiran.


Aku menghela napas panjang dan kembali duduk, aku duduk berjarak dari mereka, ibu yang duduk di tempat yang memang untuknya, Celine duduk di sebelah ibu, dan laki-laki yang katanya sepupunya Celine itu duduk di kursi yang biasanya di tempati Mas Adnan, aku yang seharusnya duduk di kursi sebelahnya, kali ini aku duduk dan memberi jarak satu kursi, dan kursi Ayah dibiarkan kosong.


Ketika sedang menikmati makan malam, ibu bertanya kepada laki-laki itu, "Jadi kamu baru pulang dari luar negeri ya."


"Iya," jawab laki-laki itu singkat.


"Katanya Celine kamu ini model yang udah sering show di luar negeri, hebat banget kamu," puji ibu.


"Dia mah jam terbangnya udah banyak tan, beda sama aku," ucap Celine dan terkekeh.


"Kamu juga hebat kok, jadi model dari jaman sekolah, udah gitu cantik, pinter lagi, ga salah kalau tante milih kamu jadi calon mantu," ucap ibu semakin meninggikan Celine.


"Udah berkali-kali Tante nyuruh Adnan buat nerima perjodohan sama kamu, tapi dianya malah milih perempuan yang ga jelas asal usulnya," jawab ibu. "Mungkin jika sekarang kamu yang jadi mantu tante, bahagia banget pasti tante, ga kayak yang ini bikin darah tinggi terus."


Sedari tadi aku menikmati makanku tanpa menoleh kepada mereka bertiga, toh niatku disini hanya mengisi perut, biarkan mereka berbicara sesuka hatinya.Jika ada Ayah aku jamin mereka tidak akan berani berbicara saat makan, karena ayah sangat melarang hal itu.


Setelah itu, suara mereka tidak terdengar lagi, aku yang sudah menyelesaikan makanku segera beranjak menuju dapur dengan membawa piring bekas makanku. Mereka juga sudah menyelesaikan makannya, dan ibu kembali mengajak mereka ke ruang tamu.


Aku segera membereskan meja dan membawa semua peralatannya ke dapur untuk di cuci, karena aku ada tugas yang harus aku selesaikan malam ini, jadi aku akan melakukan ini dengan cepat.


Semuanya sudah bersih dan beres aku akan kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugasku, tetapi saat sudah sampai di undakan tangga teratas, aku melihat sepupu Celine sedang berdiri tak jauh dari kamarku.


Aku akan menghiraukannya lagi kali ini, aku melanjutkan jalanku, saat sudah dekat dengannya dia berbicara padaku, "Kenapa mau nikah muda,"


"Bukan urusan kamu," jawabku tegas.

__ADS_1


"Kalau aku ketemu kamu dulu, mungkin kamu udah jadi milikku sekarang."


Aku melotot mendengar perkataanya, menatapnya dengan tajam, "Ga waras."


Aku meninggalkannya dan hendak membuka pintu, tetapi sebelum tanganku menggapai gagang pintu, tanganku sudah di cekal olehnya.


"Aku tertarik sama kamu."


"Ga usah aneh-aneh, aku udah punya suami," jawabku penuh penekanan.


"Aku pastiin kamu bakal jadi milik aku," ujarnya penuh percaya diri.


"Jangan harap."


"Ga masalah berharap kalau perempuannya kayak kamu gini, aku suka tantangan."


Aku menyentak tangannya, "Lepas!"


"Ssstt," dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku. "Lagi pula mertua kamu juga ga suka sama kamu, mending kamu sama aku aja, aku udah ga punya orang tua, jadi ga akan ada yang ngelarang aku buat miliki kamu."


Setelah berkata seperti itu, dia mengangkat jarinya dan membawanya ke bibirnya, mengecupnya pelan, "Manis, seperti yang aku bayangkan."


Aku sudah tidak tahan dan mendorongnya menjauh, aku segera membuka pintu dan masuk lalu menguncinya, takut jika dia nekat ikut masuk. Tadi sebelum pintu benar-benar tertutup, aku melihat dia menyeringai kembali.


Aku menetralkan napas dan degup jantungku, setelah tenang, aku berjalan ke arah sofa, dimana di atas meja sudah terdapat bukuku. Aku mulai mengerjakan tugasku.


Tak terasa sekarang sudah jam 9 malam, cukup memakan waktu lama hanya untuk mengerjakan tugas ini, dosen pengampunya sedikit killer, dia tidak suka kesalahan, jadi aku mencoba mengerjakan dengan benar dan teliti.


Aku segera membereskan buku-buku yang berserakan dan menyimpannya, setelah itu aku melangkah menuju ranjang, berbaring dan menyamankan posisiku, melihat handphonku ternyata ada pesan dari Mas Adnan yang mengatakan jangan tidur larut.


Setelah aku membalas pesannya aku memeluk guling bersiap untuk tidur, sebelum benar-benar tertidur, aku kembali memikirkan perkataan laki-laki tadi, sungguh perkataan yang sangat berani, semoga ini adalah pertama dan terkahir kalinya aku bertemu dengan laki-laki itu.


Bersambung

__ADS_1


See you on the next chap 🥰


__ADS_2