My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 33 - Syarat


__ADS_3

Hah


Sedari tadi aku terus menghela napas, berbaring seharian membuat tubuhku terasa pegal. Mas Adnan sedang pergi ke kantor, sedangkan aku sedang libur semester. Berguling-guling ke kiri dan kanan di atas ranjang, mencari posisi nyaman. Menonton televisi tidak ada yang menarik, membaca novel online juga tidak ada cerita yang bisa menarik perhatianku. Benar-benar membosankan, jika seperti ini rasanya aku ingin bekerja kembali.


Sebenarnya hari ini aku harus keluar untuk menemui seseorang, karena hari ini jadwalnya. Aku kembali menghela napas panjang, aku sangat malas, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu jalan keluar satu-satunya.


Terkadang sebuah pikiran jahat terlintas di benakku. Kenapa aku tidak dilahirkan dari keluarga kaya? Jika aku dilahirkan oleh keluarga kaya maka aku bisa melakukan apapun yang ingin aku lakukan, dan aku akan mempunyai kuasa. Tapi itu hanyalah khayalan, sampai kapanpun aku akan selalu menjadi wanita tak berdaya.


Aku segera beranjak untuk berganti baju, tidak mungkin aku keluar hanya dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong. Selesai berganti aku mengabari Mas Adnan bahwa aku akan pergi ke toko buku.


Kesalahpahaman hari itu sudah berakhir begitu saja. Tak ada kata maaf atau penyesalan dari Mas Adnan karena tidak mempercayaiku. Setelah insiden penculikan hari itu siang harinya Mas Adnan pulang dan tiba-tiba mengajakku berbicara, bukan pembicaraan tentang foto itu, dia justru malah menjelaskan kenapa dia tidak pulang beberapa hari.


Aku segera mengambil tasku dan pergi. Aku memesan ojek online untuk mengantarku ke tempat tujuan. Alamat tujuanku kali ini lumayan jauh, terletak di komplek kecil dan jauh dari keramaian.


Setelah turun dan membayar sesuai ongkos aku segera memasuki rumah itu. Aku sudah punya kunci cadangan rumah ini jadi aku tidak perlu meminta seseorang di dalam untuk membukakan pintu untukku.


Pintu terbuka, terlihat satu sosok orang sedang duduk di ruang tamu, ketika mendengar pintu terbuka dia segera menoleh, "Sayang," panggilnya.


Aku memutar bola mataku malas, "Berhenti manggil sayang," ujarku memperingatkannya. Aku berjalan menuju dapur rumah ini, hanya ada dapur kecil tetapi ada alat memasak yang cukup lengkap.


"Mau makan apa?" tanyaku pada orang yang memanggilku dengan sebutan sayang tadi. Tak perlu berteriak karena jarak dapur dan ruang tamu sangat dekat, di sini juga tidak ada ruang makan.


"Masak nanti aja, kamu sini dulu," jawabnya. Aku menghela napas panjang, jika dia seperti itu maka aku tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat dan tidak bisa segera pulang.


Aku tetap tidak beranjak dari posisiku, biarkan saja dia menyuruhku ke sana. Aku tidak akan menurutinya, karena hari ini aku benar-benar malas, terutama malas berinteraksi dengan orang itu.


"Yang," panggilnya kembali masih dengan sebutan itu. Aku sangat malas meladeni orang itu, ibarat di beri jantung dia malah meminta hati juga.


"Sekali lagi kamu manggil aku begitu, aku bakal pulang sekarang juga," tegas ku. Aku mengeluarkan beberapa sayuran dan daging dari kulkas, aku akan memasak apa yang ada di pikiranku saja, tak peduli jika dia menyukainya atau tidak. Bodo amat.


"Berani pulang, langsung aku kirim itu ke suami kamu," ucapnya dan menatapku tajam. Aku juga menatapnya tak kalah tajam. Inilah mengapa aku ingin terlahir dari keluarga kaya, agar aku bisa menolak permintaan orang seperti itu tanpa rasa takut.


Aku kembali berkutat dengan alat memasak, menghiraukan keberadaannya, saat sedang mencuci sayur tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutku. Aku tidak mendengar langkah kaki kenapa orang ini bisa sampai di sini dengan cepat.


"David!" teriakku dan melepaskan tangannya yang melingkari perutku dari belakang.

__ADS_1


David?


Benar orang yang memanggilku sayang adalah David, dia juga yang pemilik rumah ini. Ini juga adalah rumah yang dia gunakan saat berhasil menculik ku.


......................


FLASHBACK


"Kalau kamu mau nurut dan penuhin syarat yang aku ajuin aku bakal lepasin kamu," ucapnya datar.


"Syarat?" cicitku pelan. Pasti syarat yang akan keluar dari mulutnya hanya akan merugikan ku. Tapi hanya itu jalan keluar satu-satunya jika aku ingin keluar dari tempat ini.


"Iya syarat, gampang kok aku yakin kamu bisa," jawabnya dan tersenyum miring.


"Apa?" tanyaku. Aku benar-benar masuk ke kandang buaya. Dan dengan aku yang bertanya seperti itu maka sudah dapat dia pastikan bahwa aku setuju dengan apa yang akan dia katakan.


Dia tersenyum cerah, "Syaratnya cuma 2. Pertama, malam ini kamu harus menginap di sini, dan besok pagi baru boleh pulang, jika kamu setuju, besok pagi aku akan memberikan syarat yang kedua."


Menginap di sini bersamanya? Aku masih punya akal, aku adalah sesorang yang sudah bersuami, tidak mungkin aku menginap di rumah yang entah milik siapa dengan seorang pria yang sangat jelas terobsesi denganku.


"Menolak?" tanyanya. "Tenang aja, aku ga bakal tidur satu ranjang sama kamu kok, tapi kalau kamu mau aku ga bakal nolak sih," lanjutnya dengan senyum mesumnya.


"Iya sayang, jangan takut gitu dong. Aku kan jadi sedih," jawabnya dengan menunjukkan ekpresi sedih yang di buat-buat kemudian dia tertawa. Dia kemudian melepaskan ikatan tanganku dan membuang tali itu ke tempat sampah di dekat pintu.


"Sekarang ayo makan dulu, aku tau kamu belum makan dari sore," ajaknya dan menuntunku untuk berdiri, tetapi aku menolak bantuannya dan berdiri sendiri walaupun dengan tertatih. Aku mengekorinya menuju dapur, bukan karena aku menuruti ucapannya tetapi perutku memang sudah sangat sakit karena belum terisi apapun, dan aku sudah pingsan dalam waktu yang cukup lama.


"Makan dulu, habis itu aku obati tangan kamu," ucapnya dan menyodorkan sepiring nasi beserta lauk pauknya, tak lupa segelas air putih juga. "Kalau aja tadi kamu gak memberontak pasti tangan kamu ga akan lecet kayak gini," tambahnya dan memegang kedua tanganku dan meniupnya.


Aku segera melahap makanan yang dia berikan, tak butuh waktu lama makanan di piring tersebut sudah habis dan aku juga menegak habis air di dalam gelas. Tenggorokanku sangat kering karena berteriak dan sesegukan karena menangis tadi.


David sedari tadi hanya memperhatikanku yang sedang makan. Aku mendelik ke arahnya, dan dia pun terkekeh, "Ayo aku obati tangan kamu," ucapnya seraya berdiri. Lagi-lagi aku mengikuti langkahnya menuju ruang tamu. Dia terlihat mengambil kotak P3K dari laci dekat sofa.


"Mau mandi dulu gak sebelum aku obati," tanyanya dan menatapku lembut.


Aku menolak tawarannya, untuk apa mandi di tempat orang asing, aku tidak bisa membayangkan dia akan berbuat apa saat aku di kamar mandi. "Gak usah, langsung obati aja, aku udah ngantuk."

__ADS_1


Memang benar jika aku sudah mengantuk, entah kenapa setelah makan aku langsung merasa ngantuk. Dia tertawa kecil dan menyuruhku untuk duduk, dia memegang tanganku dan segera mengoleskan obat ke pergelangan tanganku yang luka. "Tahan ya," ucapnya dan meniup luka yang telah dia olesi obat.


Tak butuh waktu lama proses mengobati ini selesai, aku segera menuju kamar untuk tidur. Aku mengunci pintu kamar, agar dia tidak nekat masuk saat aku terlelap, sebelum benar-benar tidur aku hanya berharap semoga Mas Adnan malam ini tidak pulang ke rumah lagi, dan semoga pagi hari segera menyapa.


...****************...


Saat pagi hari aku keluar kamar aku melihatnya sedang duduk di ruang tamu, dia terlihat memandang handphonenya dengan senyuman. Aku mendekatinya, "Aku mau pulang," ucapku.


Dia mendongak, "Sebelum pulang kamu harus lihat ini dulu," ucapnya dan memperlihatkan sebua foto ke hadapanku.


"Gila kamu!"


"Aku gila karena kamu sayang," ujarnya dan tersenyum lebar. Kalian tau foto apa yang dia perlihatkan kepadaku? Itu adalah fotoku yang hanya mengenakan pakaian dalam dan dia yang terlihat merangkulku saat aku tertidur dan dia bertelanjang dada. Dia pasti masuk kamar saat aku sudah tidur lelap. Dia pasti menggunakan kunci cadangan.


"Hapus David! Kurang ajar kamu!" Teriakku di depan wajahnya dan mencoba meraih handphone yang berada di genggamannya. Air mata sudah turun melewati pipiku dengan deras.


"Masih ada satu syarat lagi yang harus kamu lakuin kan?" David berbicara sembari menjauhkan handphonenya dari genggamanku.


"Aku mohon Vid, hapus foto itu," ujarku memohon. Aku mengatupkan kedua tanganku dan berlutut di hadapannya.


"Ga akan aku hapus. Tapi kalau kamu mau ngelakuin syarat yang aku kasih ke kamu, aku janji ga akan ngirim foto ini ke siapapun terutama suami kamu," dia kembali tersenyum miring.


"Apa? Apa yang harus aku lakuin," Aku benar-benar sudah frustasi, aku takut Mas Adnan mengetahui hal ini, jadi aku akan memenuhi syarat yang dia minta. Meskipun tidak dihapus, setidaknya dia sudah berjanji tidak akan membeberkan foto tersebut.


"Setiap hari selasa sebelum jam makan siang kamu harus ke rumah ini buat masakin aku," ujarnya.


Hanya memasak kan? Aku mengangguk dengan patuh. Setidaknya syarat ini tidak begitu berat, walaupun nantinya aku harus mencari alasan kepada Mas Adnan.


"Bagus."


FLASHBACK OFF


Seperti itulah yang sebenarnya terjadi hari itu sehingga aku bisa terjebak dengan iblis ini. Tak tau sampai kapan hal ini akan berlangsung. Tetapi aku juga tidak bisa terus-terusan berbohong kepada suamiku. Aku harus segera mencari cara agar bisa menghapus foto itu agar dia tidak punya lagi alat untuk memerintahku dan mengancam ku.


Bersambung

__ADS_1


See you on the next chap


Jangan lupa like dan komen ya(⁠◔⁠‿⁠◔⁠)


__ADS_2