
Apakah kalian berpikir jika sikapku ini berlebihan? Tak apa jika kalian berpikir demikian. Setiap orang pasti memiliki pemikirannya masing-masing. Tergantung orang itu sendiri mau berpikir ke arah yang baik atau buruk.
Setiap manusia tidak bisa mengendalikan pemikiran orang lain. Begitu juga seperti yang aku rasakan kali ini. Aku tidak bisa mengontrol atau mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh suamiku sendiri. Orang yang sudah bersamaku hampir 4 tahun ini.
Orang yang sedari awal selalu bersikap lembut, tidak pernah sekalipun meninggikan ucapannya ketika berbicara denganku. Orang yang selalu membelaku ketika ada orang yang merendahkan ku.
Entah ini perasaanku saja atau memang beberapa minggu ke belakang ini sikap Mas Adnan berubah. Tidak sampai 180° tetapi sangat terasa.
Itu semua aku rasakan semenjak dia melihat fotoku dan Mas Ardi. Dia memang tidak langsung menuduhku tetapi dari sikapnya yang terlihat tidak percaya ketika aku menjelaskan kepadanya sudah membuktikan bahwa dia percaya dengan omong kosong itu.
Yang semakin membuat dugaanku benar adalah sikapnya yang tiba-tiba berubah terhadap Celine. Dari awal dia adalah orang yang sangat tidak menyukai perempuan itu. Seseorang yang akan langsung marah ketika perempuan itu terlalu banyak bicara atau bersikap manja kepadanya.
Tetapi sekarang? Dia dengan senang hati menanggapi ocehan perempuan itu. Sampai-sampai perempuan itu menjadi model untuk produk terbarunya. Hal ini masih menjadi tanda tanya besar di otakku. Masih sulit untuk menemukan jawabannya. Apakah segampang itu Mas Adnan berpaling?
Aku tau dengan pasti bahwa ini adalah salah satu bentuk ujian di dalam rumah tangga kami. Dan yang perlu aku lakukan adalah mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Saling menurunkan ego kami berdua. Bukankah jika ketika menghadapi persoalan dengan emosi maka tidak akan mendapatkan jalan keluar?
Semakin lama aku berpikir, apakah ini juga balasan karena aku berbohong kepadanya? Berbohong perkara aku yang sering mengunjungi laki-laki lain? Tetapi kebohonganku ini untuk kebaikan kita berdua kan? Apakah jika aku jujur Mas Adnan bisa menerimanya dengan lapang dada? Jika aku meneruskan untuk berbohong ini juga tidak akan menjadi hal yang baik kedepannya. Yang lebih menakutkan adalah jika dia mengetahui hal itu dari orang lain, pasti yang akan hancur nantinya adalah aku sendiri.
Besok pagi aku akan mengajaknya berbicara, meluruskan segala hal yang mengganjal di hatiku beberapa hari ini. Semoga saja besok dia sudah tidak dikuasai oleh emosi.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 malam, aku masih sulit untuk memejamkan mata. Tidak ada tanda-tanda Mas Adnan masuk ke dalam kamar, dia pasti masih emosi.
...****************...
Pagi kembali menyapa. Saat membuka mata aku tidak melihat tanda-tanda Mas Adnan memasuki kamar ini semalam. Pasti dia tidur di ruang kerja atau kamar tamu. Ini adalah pertama kalinya kita 'pisah ranjang'.
Setelah mandi dan berganti aku segera turun untuk memasak. Tapi baru saja sampai di pertengahan tangga, aku mendengar suara perempuan sedang mengobrol. Aku melanjutkan langkah dan mendekati sumber suara tersebut.
Di dapur terlihat Celine dan Ibu sedang menata makanan di atas meja. Menyadari keberadaanku mereka berdua segera menoleh ke arahku, menatapku dengan pandangan berbeda.
"Bagus ya kamu, mentang-mentang udah gak satu rumah sama saya jam segini baru bangun," sarkas Ibu.
__ADS_1
Padahal ini baru jam 6 lewat sedikit, bukankah justru mereka yang terlalu pagi untuk bertamu?
"Maaf Bu, tadi malam saya tidur terlalu larut," jawabku pelan. Aku tidak ingin membantah ucapannya karena aku juga salah karena semalam sulit tidur.
"Untung Celine pinter udah masak dari rumah, gimana kalau dia gak kesini udah pasti Adnan gak sarapan," ucapnya menatap Celine bangga. Celine menampilkan senyum manisnya, senyum yang hanya akan keluar jika dia sedang memulai drama.
"Aku beberapa hari ini belajar masak, terus hari ini kepikiran buat masakin Mas Adnan," ucapnya malu-malu.
"Memang ya kamu itu calon menantu idaman," bangga Ibu.
Aku menunduk mendengar ucapan Ibu. Kenapa mereka harus datang sepagi ini? Padahal aku sudah membulatkan tekad untuk mengajak Mas Adnan meluruskan masalah yang ada. Jika ada mereka berdua sudah dipastikan hal tersebut akan tertunda.
"Ibu," seru Mas Adnan yang terlihat baru bangun tidur. Aku mendongak, rambutnya terlihat masih acak-acakan.
"Anak Ibu," ucap Ibu senang dan menghampiri Mas Adnan dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Kenapa Ibu kesini pagi-pagi?" tanya Mas Adnan.
Celine kembali terlihat malu-malu, "Iya nan, kamu cobain masakan aku ya, aku tadi bangun pagi-pagi buat masakin makanan kesukaan kamu," ucapnya lembut.
"Istri kamu aja kalah sama Celine, masa jam segini baru bangun dan belum masak apa-apa buat suaminya, padahal suaminya mau pergi kerja," sambar Ibu memanas-manasi suasana.
Mas Adnan menatapku singkat dan kembali menatap Celine, " harusnya kamu gak perlu repot-repot," ucap Mas Adnan.
"Gak papa kok Nan, aku juga lagi free hari ini," jawab Celine dengan senyuman.
"Udah ayo langsung sarapan aja, keburu dingin nanti," ajak Ibu dan menarik tangan Mas Adnan pelan menuju ruang makan.
Di sini aku terlihat seperti orang asing. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar saja, daripada harus bersama mereka dengan suasana canggung.
Di kamar aku mendudukkan diri di atas ranjang, menyalakan televisi agar tidak terlalu sepi. Aku ada kelas siang makanya aku ingin mengajak Mas Adnan berbicara pagi, tapi lihatlah rencana hanya tinggal rencana.
__ADS_1
Cukup lama aku berdiam di dalam kamar, tak terasa pintu kamar terbuka dari luar. Mas Adnan tampak masuk dengan tatapan datarnya.
"Ibu udah pulang?" ucapku memberikan diri untuk bertanya.
"Belum," jawabnya singkat dan berlalu ke kamar mandi.
Aku menghela napas, sepertinya dia masih dalam suasana hati yang buruk. Jika begini maka akan semakin sulit untuk mengajaknya berbicara.
Beberapa menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian santai. Apakah dia tidak akan pergi ke kantor hari ini? Sepertinya Dewi Fortuna berpihak kepadaku. Aku mengulum senyum.
"Mas," panggilku.
Dia tidak menjawab dan hanya menoleh ke arahku.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu," kataku sedikit gugup.
"Besok aja, aku mau nemenin Ibu seharian ini, malemnya aku nginep di sana," ujar Mas Adnan masih dengan wajah tanpa ekspresinya.
Aku melengkungkan bibirku ke bawah. Ternyata aku yang terlalu percaya diri. Aku menundukkan kepalaku. Jika tidak segera diluruskan maka akan semakin sulit aku berbicara dengannya. Tapi ini juga akan menjadi pembahasan yang memakan waktu, jadi tidak mungkin aku berbicara sebelum dia pergi.
"Ya udah," jawabku murung. Tanpa menjawab dia segera mengambil dompet dan kunci mobilnya, keluar kamar tanpa berpamitan atau mengecup keningku seperti yang dia lakukan setiap pagi.
Setelah dia keluar aku beranjak menuju jendela kamar, menyibak gorden dan terlihat Ibu dan Celine yang memasuki mobil Mas Adnan. Tak butuh waktu lama mobil melaju menjauhi halaman rumah.
Perasaanku semakin tak menentu. Aku meremat pelan ujung kaos yang aku pakai. Mataku terasa panas, tapi ini salahku juga yang semalam terbawa emosi dan menjawab perkataan Mas Adnan seperti itu. Jika saja aku semalam bisa menahan diri dan menjelaskan dengan lembut dia tidak akan semarah ini. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, dia saja masih dalam masa perawatan untuk menahan emosinya malah kembali aku sulut. Ini akan menjadi lebih berat dari biasanya.
Bersambung
See you on the next chap
Jangan lupa like dan komen
__ADS_1