
Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya. Aku membersihkan rumah saat 2 orang itu sudah berangkat bekerja. Tetapi kali ini ada yang berbeda. Sepertinya Mas Adnan tidak pergi ke kantor, karena mobilnya masih ada di dalam garasi.
Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku ini agar bisa dengan cepat bermain bersama Ai. Hari ini David juga pulang, mungkin nanti dia akan berkunjung ke sini.
Saat ini Ai sedang bermain sendiri di sofa. Ketika aku sedang bersih-bersih rumah maka aku akan menaruhnya di ruang tamu agar bermain. Dulu ketika dia masih bayi aku harus menggendongnya ke sana sini saat aku membersihkan rumah. Syukurlah sekarang dia sudah mulai besar sudah bisa aku tinggal sendiri.
Saat aku sedang mengepel terlihat Mas Adnan turun dari tangga dengan mengenakan baju rumahan. Dia berjalan ke arah ruang tamu, dia pasti tidak tau jika Ai sedang di sana. Tadi dia sempat melihatku sekilas.
Aku tidak berniat memindahkan Ai. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Mas Adnan saat tau Ai sedang bermain di sana. Aku melanjutkan pekerjaanku sekaligus mengawasi gerak gerik Mas Adnan.
Ketika sudah dekat dengan sofa dia hanya berdiri di samping sofa yang di duduki Ai, setelah beberapa saat dia memutuskan untuk duduk di sofa satunya. Ai menyadari keberadaan "pamannya".
"Paman gak kelja (kerja)?" Tanya Ai pelan. Sebenarnya Ai juga sedikit takut dengan Ayah kandungnya sendiri. Karena sikap Mas Adnan yang terlihat mengabaikannya itulah yang membuat Ai seperti itu.
Mas Adnan terlihat menggeleng dan meraih remote televisi. Mencari saluran berita pagi. Ai melanjutkan membongkar pasang mainannya. Tetapi baru beberapa saat dia kembali berbicara.
"Paman. Ayo main sama Ai," ucap Ai dengan menyerahkan satu mainannya. Cukup lama Ai mengulurkan mainnya, tetapi Mas Adnan bahkan masih tidak menoleh. Ai mulai terlihat murung.
"Paman benci sama Ai ya?" Tanyanya pelan. Setelah mendengar kata-kata itu, Mas Adnan menoleh ke arah Ai yang sedang menunduk.
Aku terus saja memperhatikan mereka dari jauh. Mas Adnan hanya memandang Ai dan terlihat akan berdiri, akhirnya dia pergi tanpa menjawab pertanyaan Ai. Aku tadi juga cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Ai. Bagaimana seorang anak yang belum genap 3 tahun sudah memiliki pemikiran seperti itu?
Lama berkutat dengan pekerjaanku akhirnya aku selesai. Walaupun ada 1 orang lagi yang berada di rumah ini, tetapi rasanya begitu sunyi. Sekarang sudah jam 10 pagi, aku menyusul Ai yang sedang bermain sendiri. Dia masih terlihat murung, aku segera duduk di sampingnya.
"Sayang, nanti Papa pulang loh," Ucapku agar dia berhenti murung. Dan benar saja, ketika dia mendengar kata Papa dia segera mendongak.
"Asyik." Ucapnya gembira dan segera naik ke pangkuanku.
Aku mencium seluruh permukaan wajahnya, dan dia pun terkikik. "Nanti ajak Papa main ya," ucapku.
Dia mengangguk dengan semangat. Aku lega melihat dia kembali bersemangat, "lanjut main di kamar aja yuk," ajak ku. Dan dia menyetujui permintaanku. Aku khawatir nanti Mas Adnan akan turun lagi, dan Ai kembali kecewa. Baru kali ini dia berada di rumah selain hari minggu.
Di kamar, Ai membongkar mainannya yang aku taruh di keranjang besar. Semua mainan itu berasal dari David, satu biji pun aku tidak pernah membelikannya mainan. Bukannya tidak mampu, tetapi aku kan tidak bisa keluar rumah.
Setiap David kesini dia selalu membelikan mainan maupun baju baru untuk Ai. Aku merasa sungkan, tetapi David tetaplah David.
__ADS_1
Tak terasa jam makan siang sudah hampir datang. Karena di rumah ada Mas Adnan, aku akan memasak untuknya. Dan tadi David sudah mengabari ku jika dia akan ke sini saat makan siang. Jadi aku akan memasak lebih.
Tak butuh lama makanan sudah siap. Saat bermain tadi Ai malah ketiduran, jadi aku membiarkannya saja.
Tak berselang lama pintu depan terbuka, dan muncullah David dengan 2 kantong besar di tangannya, "mana jagoan aku," tanyanya. Baru juga sampai sudah menanyakan keberadaan Ai. Tapi kedatangannya ke sini memang untuk Ai kan?
"Tidur anaknya," jawabku dan melangkah mendekatinya.
Dia menyerahkan satu paper bag kepadaku, "ini oleh-oleh buat kamu," ucapnya lembut. "Dan yang satu ini buat Ai," lanjutnya dengan memperlihatkan paper bag yang masih berada di tangannya.
"Sana makan dulu," ucapku menyuruhnya untuk duduk di ruang makan.
Tetapi dia menggeleng, "aku mau nyusul Ai tidur aja, aku capek tau," rajuk nya. Kenapa dia tiba-tiba bertingkah seperti itu. Aku merinding sendiri.
Dengan langkah besarnya dia akhirnya masuk ke dalam kamar. Aku akan memberitahu Mas Adnan dulu jika makan malam sudah siap.
Aku menaiki tangga, dan menatap lama pintu kamar yang dulunya aku tempati. Kamar yang penuh kenangan sebelum semua ini terjadi. Aku menghela napas pelan dan mulai mengetuk pintu.
Tok Tok Tok
Butuh beberapa saat untuk mendengar jawabannya. Setelah mendengar jawabannya aku segera turun dan menuju kamarku untuk melihat Ai dan juga David.
"Udah bangun ya," ucapku pertama kali saat melihat Ai sedang bermain bersama David di atas ranjang.
"Tadi dibangunin Papa," jawabnya dengan masih fokus dengan mainannya.
"David!" geram ku. Ai baru saja tertidur selama 1 jam, biasanya dia tidur siang 2 sampai 3 jam.
"Aku kan kangen anak aku," jawab David tanpa rasa bersalah. Aku memutar bola mataku malas, tetapi aku melanjutkan langkahku ke arah mereka dan ikut menaiki ranjang.
Kami bertiga bermain dan bercanda tawa. Aku sangat bahagia jika melihat Ai bisa tertawa lepas seperti ini. Andaikan Ayah kamu mau mengerti dan mendengarkan Bunda pasti kamu akan lebih bahagia karena Ayah kandung kamu sendiri.
"Bunda," panggilnya. Aku segera menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Ai lapel (laper)," ucapnya dengan memegang perut bayinya. Aku tertawa mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Anak Bunda udah laper ya. Ayo kita makan." Sudah 30 menit berlalu, mungkin Mas Adnan sudah selesai makan, jadi aku mengajak mereka berdua untuk ke ruang makan.
Ai meminta gendong David di atas punggungnya, "Bunda, Bunda. Ai lebih tinggi dari Bunda," ucapnya di iringi gelak tawa.
"Jangan gerak-gerak sayang, nanti jatuh," ucapku memperingati.
"Kan udah dipegang kuat sama Papa. Ya kan Pa," adunya kepada David.
"Iya. Biarin aja Bunda kamu. Dia itu iri karena kamu lebih tinggi dari dia," jawab David dengan nada mengejek.
"David!" Ucapku kesal.
"Iya sayang," jawabnya lembut. Aku berniat mencubit pinggangnya tetapi sebelum aku berhasil melakukannya, terdengar suara benda di letakkan dengan keras dari dapur.
Saat aku melihatnya ternyata itu Mas Adnan yang belum menyelesaikan makan siangnya. Dan suara tadi adalah suara dia meletakkan sendok di atas piring. Dia tidak bergeming sama sekali, tetapi wajahnya terlihat seperti menahan amarah.
"David, kamu ajak Ai ke ruang tamu aja dulu. Nanti aku bawa makanannya ke sana," ucapku. David tidak menjawab ku tetapi dia sepertinya mengerti kenapa aku menyuruhnya ke ruang tamu.
Setelah kepergiannya, aku menuju dapur untuk mengambil makan untuk kami bertiga. Tetapi saat melewati Mas Adnan tiba-tiba dia berbicara.
"Kalau saya lagi di rumah, jangan berisik," ucap Mas Adnan datar. Aku segera mengerti maksud dari perkataannya.
"Baik Tuan," jawabku. Dia tersentak kecil saat mendengar ku memangilnya Tuan.
"Tuan?" suaranya terdengar tak percaya mendengar panggilanku terhadapnya.
"Iya. Tuan Adnan," jawabku yakin.
"Saya ini suami kamu, bukan majikan kamu," ucapnya lantang.
Aku terkekeh mendengar jawabannya. "Suami yang sama sekali gak percaya sama istrinya sendiri. Suami yang dengan teganya memadu istrinya. Suami yang gak mau mengakui anak kandungnya sendiri," jawabku tegas. Setelah jeda aku kembali melanjutkan, "Menurut saya, sekarang hubungan kita tidak lebih dari seorang majikan dan pembantu. Saya yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga, dan sebagai gantinya, Tuanku yang terhormat membiarkan saya dan anak saya tinggal di sini. Benarkan?"
Dia sudah tidak bisa menahan emosinya dan berdiri dengan tangan mengepal. Tanpa berkata lebih, dia melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
Thanks buat yang udah baca
__ADS_1
See you