My Rollercoaster Wedding

My Rollercoaster Wedding
CHAPTER 8 - Pulang?


__ADS_3

Tak terasa pagi hari sudah menyapa kembali. Aku lagi-lagi terbangun terlebih dahulu, rasanya aku masih enggan untuk pergi mandi, aku menatap suamiku yang masih tidur dengan lelap, aku tersipu malu, rasanya masih seperti mimpi aku bisa menikah dengannya.


Aku yang terbiasa bangun dan mandi pagi, entah kenapa pagi ini rasanya aku sangat malas hanya untuk sekedar turun dari kasur. Mas Adnan semakin mengeratkan pelukannya, ah aku mengantuk kembali. Tetapi ketika aku akan memejamkan mataku kembali, aku merasakan usapan lembut di atas kepalaku, ketika aku mendongak aku menatap kedua mata Mas Adnan, ternyata dia sudah bangun, "kalo masih ngantuk tidur lagi aja," katanya."


"Mm, males banget aku hari ini," jawabku pelan.


"Ya udah kamu tidur lagi aja, aku mau mandi dulu."


"Jangan mandi dulu, temenin di sini," rengek ku.


"Iya iya aku temenin sampai kamu tidur," jawabnya. Tak berselang lama, aku benar-benar tertidur kembali.


ADNAN POV


Sepertinya aku belum pernah mengatakan bahwa aku sangat beruntung bisa menjadikannya istriku kan? Entah bagaimana jika saat itu aku tidak bertemu dengannya, aku pasti tidak akan bisa menemukan perempuan sebaik dirinya.


Mungkin bagi sebagian orang aku adalah laki-laki bodoh, yang mau saja menikah dengan perempuan seperti dirinya. Tetapi bisa menikahinya adalah sebuah takdir untukku, aku tidak pernah melihat status sosial orang lain, selagi orang itu baik aku akan menerimanya dengan tangan terbuka.


Aku mengelus puncak kepalanya, entah berapa kali aku harus mengucapkan rasa syukur, aku sampai berani menentang kedua orangtuaku sendiri, mungkin nanti lama kelamaan mereka bisa menerimanya dengan baik. Aku akan membawanya tinggal bersamaku dan kedua orangtuaku, agar mereka bisa cepat akrab.


Aku akan benar-benar menjadikannya ratu di rumah, mengetahui kisah hidupnya yang sudah ditinggalkan kedua orangtuanya saat masih muda membuatku tergerak untuk membahagiakannya. Pasti sejak saat itu tidak ada yang benar-benar memanjakannya, dan ketika berpacaran dengannya aku benar-benar mencoba memperlakukannya dengan baik, walaupun dulu aku sedikit memaksa tetapi aku benar-benar jatuh akan pesonanya, aku yang memang di besarkan di keluarga yang penuh aturan, berteman pun hanya dengan orang-orang tertentu, karena ibuku yang sangat mengatur dengan siapa aku boleh berteman.


Di kekang seperti itu dari kecil membuatku sedikit muak, makanya ketika aku bertemu untuk pertama kalinya dengannya, aku benar-benar mendapatkan angin segar, karena kebaikannya kala itu aku benar-benar jatuh sepenuhnya padanya, karena di jaman seperti ini sangat sulit untuk menemukan perempuan yang seperti itu.


"Eghhhh," dia mengerang, aku menenangkannya dengan mengelus lembut punggungnya, tetapi dengan segera dia membuka kedua matanya. "Jam berapa?" Tanyanya.


"Baru jam 10 yang, kok udah bangun lagi?" Tanyaku dengan masih mengelus punggungnya.

__ADS_1


"Iya, udah cukup kok tidurku, mau mandi aja."


"Ya udah ayo mandi bareng, aku juga mau mandi," kataku.


"Tapi jangan macem-macem ya, badanku masih agak sakit."


"Iya, mandi aja," jawabku dan tersenyum. Walaupun aku ingin melakukannya lagi, tetapi karena dia terlihat benar-benar kesakitan, aku tidak akan memaksakan keinginanku. Aku menggendongnya menuju kamar mandi, dan kamipun mandi bersama dengan diselingi candaan.


ADNAN POV End


......................


Segarnya air shower pagi ini membuat tubuhku lebih bugar, aku sangat berterimakasih kepada Mas Adnan, yang benar-benar memperlakukanku dengan baik selain kedua orangtuaku. Kali ini keinginanku hanya ada satu, aku ingin selamanya bersama dengannya sampai tua.


"Siang ini kita Checkout ya?" tanyaku.


"Iya, semua barang barang kamu yang penting dari rumah kamu udah aku suruh pindahin orang ke rumah aku, jadi dari sini kita bisa langsung pulang ke rumahku," jelasnya.


"Ya gapapa lah, emang kamu mau tinggal dimana, kan sekarang kamu istri aku," ucapnya. "Kamu ga usah takut, kan ada aku," tambahnya.


Aku tidak menjawab tetapi mulai berpikir, harusnya ini adalah kesempatan yang bagus buatku agar mereka bisa melihat bahwa aku adalah menantu yang baik, dan melihat kesungguhanku bahwa aku pantas bersanding dengan anaknya, tetapi belum sampai rumah saja, aku sudah merasa takut duluan.


"Oh iya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," Mas Adnan menatapku dengan serius.


"Apa," aku kembali bertanya-tanya, entah kenapa setiap dia berbicara ingin ngomong serius aku selalu deg-degan, takut dia berbicara yang aneh-aneh seperti tempo hari.


"Kamu mau kan daftar kuliah, sekarang kan udah ada aku yang akan menuhin semua keinginan kamu, dan aku juga minta kamu berhenti kerja di minimarket, aku mau kamu ada dan nyambut aku saat aku pergi dan pulang kerja," ucapnya.

__ADS_1


"Kuliah?" ulang ku. Kalau masalah kerjaan tidak masalah aku keluar, tetapi kalau kuliah?


"Iya kuliah, kamu kan masih muda, jadi pikiran kamu masih seger, ga usah mikirin biaya, cukup lakuin aja, terserah kamu mau ngambil prodi apa, tapi aku mau kamu daftar," pintanya.


"Itu aku pikirin dulu ya," jawabku pelan. Satu sisi aku merasa senang karena aku bisa melanjutkan pendidikanku walaupun telat 3 tahun, tetapi dilain sisi aku takut jika aku tambah merepotkannya, apalagi nanti pandangan ibu mertuaku, bagaimana jika dia menganggap aku memanfaatkan anaknya?


"Aku tunggu sampe seminggu ya, aku mohon banget sama kamu, kamu mau nerima tawaran aku yang ini, aku tau kamu pasti ngerasa kamu jadi beban aku, tapi aku ngerasa kamu bukan beban bagi aku, karena kamu sekarang tanggung jawab aku, dan ini juga demi kebaikan kamu sendiri." jelasnya.


Aku hanya mengangguk, aku akan melihat bagaimana perlakukan ayah dan ibu mertuaku padaku selama seminggu ini, dan aku akan memutuskan untuk kuliah atau tidak.


"Ayo siap-siap, bentar lagi waktu makan siang, kita checkout sekalian makan siang di luar aja," ajaknya.


Aku kesini tidak membawa apapun kecuali tas kecil berisi dompet dan handphone, karena semuanya sudah disiapkan di sini, jadi aku hanya mengambil tasku yang berada di sofa dan membawanya.


Setelah checkout, kami segera pergi menuju mobil yang sudah disiapkan, dan kami pun pergi untuk mencari makan.


"Kamu mau makan apa?" Tanyanya.


"Drive true aja ya, aku males keluar mobil, nanti kita makan di dalem mobil aja," kataku.


"Tumben kamu hari ini males, pasti gara-gara kecapekan pas hari pernikahan itu ya," balasnya lembut.


"Iya kayaknya," jawabku pelan.


Setelah mengantri dan mendapatkan makanannya, kami memutuskan untuk mencari tempat yang sejuk dan luas untuk berhenti makan sejenak. Sekitar 30 menit menikmati makanan kami memutuskan untuk pulang, aku kembali merasa takut, tetapi selama perjalanan tanganku terus di genggam oleh Mas Adnan sepertinya dia tahu apa yang aku rasakan.


Bersambung

__ADS_1


Semoga suka, see you on the next chap 🥰


Jangan lupa like dan komen 🤩


__ADS_2