
Hari itu tiba, hari dimana aku akan pindah ke rumah baru, kata Mas Adnan rumah barunya tidak terlalu jauh dari kampus dan kantornya, jadi bisa menghemat waktu kita berdua.
Semua barang-barang ku dan barang milik Mas Adnan sudah di pindahkan ke rumah baru dari kemarin, sekarang kami berdua hanya perlu kesana tanpa membawa apa-apa.
Untuk perabotan rumah barunya 2 hari kemarin aku dan Mas Adnan menyempatkan diri untuk memilihnya sendiri dan langsung meminta kurir untuk mengirimkannya ke rumah kami.
Hari ini Mas Adnan meliburkan dirinya dan aku juga hanya ada kelas sore, jadi siang ini aku dan Mas Adnan akan langsung berangkat ke sana. Ayah beserta Ibu juga akan ikut ke sana bersama kami nanti.
Sekarang kami sedang berada di ruang tamu berbincang-bincang, sebenarnya hanya Mas Adnan dan mertuaku yang berbincang, aku hanya menyimak dan sesekali menyahuti Mas Adnan saat dia bertanya kepadaku.
"Jangan lupa sering kabari ibu ya nan, jangan sampai kamu lupa sama ibumu ini," wanti-wanti Ibu.
"Iya bu, ga mungkin aku lupa sama wanita yang udah ngelahirin aku," jawab Mas Adnan.
"Semenjak kamu nikah aja udah jarang banget ngobrol sama Ayah Ibu kamu, apalagi ini udah ga tinggal serumah gimana Ibu gak takut," dengus ibu.
"Tenang bu, Aku bakal nyempetin main kesini pas libur kok, lagian jarak rumah kita juga ga begitu jauh, Ibu sama Ayah juga bisa main ke rumah kami, ya kan yang?" Jelas Mas Adnan dan menatapku meminta persetujuan.
"Iya bu, Ibu sama Ayah bisa kok main ke rumah kami, malah jauh lebih baik jika kalian mau mampir kesana jika ada waktu, pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk kalian berdua," jawabku sopan.
"Rumah kami katamu? Hanya rumah Adnan bukan rumah kamu, kamu cuma numpang," sarkas Ibu tidak terima.
Aku segera menunduk mendengar respon Ibu.
"Aku suaminya sekarang jadi apapun yang aku miliki itu milik dia juga, ga ada istilah cuma numpang" jawab Mas Adnan tegas.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing, ini adalah suasana canggung yang sangat aku benci, Mas Adnan menepuk pahaku pelan mengajakku naik ke kamar, dia pasti juga merasakan suasana canggung ini.
"Ayah Ibu kami ke kamar dulu untuk istirahat sebentar," pamit Mas Adnan menggandeng tanganku untuk meninggalkan ruang tamu untuk naik ke atas.
Sampai kamar dia mengajakku duduk di sofa, kamar ini sudah kosong, hanya tinggal ranjang, meja rias dan sofa meja yang tersisa, semua barang ku dan Mas Adnan yang ada di walk in closet semuanya sudah di angkut truk pengiriman kemarin.
"Setelah hari ini kamu ga akan denger lagi perkataan menyakitkan dari Ibu," kata Mas Adnan sembari mengelus tanganku.
Aku tersenyum tipis, "Aku udah kebal sama ucapan Ibu Mas, kamu tenang aja."
"Aku masih heran sama Ibu, udah punya menantu yang sempurna kayak kamu, kok masih aja berharap perempuan lain yang jadi menantu dia," ujar Mas Adnan dengan nada tidak suka.
__ADS_1
"Ga ada yang sempurna di dunia ini Mas, ya wajar juga Ibu kayak gitu kan dia udah punya pilihan sebelumnya," jawabku menenangkan.
"Sampai sekarang aku bersyukur banget punya istri kayak kamu," ucapnya dan membawaku ke pelukannya.
"Jutsru aku yang bersyukur banget Mas, perempuan biasa aja yang bisa nikah sama laki-laki kayak kamu." Tidak ada hentinya rasa syukur selalu aku ucapkan karena bisa memiliki suami seperti Mas Adnan. "Terima kasih kepada Tuhan yang sudah mengirimkan laki-laki baik, pekerja keras dan menyayangiku apa adanya ini," lanjut ku.
Mata kami bertatapan dan senyum manis terukir di bibir kami berdua, sepertinya kami sama-sama beruntung memiliki satu sama lain.
Kami berbincang cukup lama, mengingat lagi kenangan kami dari awal sampai sekarang dengan di selingi canda tawa, semoga momen seperti ini tidak hanya berhenti sampai sini.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk makan siang, jadi kami berdua memutuskan untuk turun makan karena setelah makan siang kami akan langsung berangkat, sebelum meninggalkan kamar, aku melihat sekeliling kamar, kamar yang penuh kenangan pengantin baru dan akan aku rindukan.
Makan siang ini berjalan dengan cepat, aku dan Mas Adnan sudah berada di teras untuk menunggu Ayah dan Ibu yang sedang bersiap untuk mengantar kami. Beberapa menit kemudian Ayah dan Ibu sudah berjalan ke arah kami, jadi kami langsung menuju mobil masing-masing.
Ayah dan Ibu menaiki mobilnya sendiri tanpa di dampingi sopir, mengikuti mobil Mas Adnan dari belakang, setelah menempuh waktu sekitar 20 menit mobil Mas Adnan belok ke salah satu rumah yang terletak di kawasan elit.
Mobil berhenti dan terparkir di halaman yang cukup menampung dua mobil, mobil Ayah berhenti di belakang mobil Mas Adnan, Aku dan Mas Adnan keluar dari mobil, Ayah dan Ibu juga melakukan hal yang sama.
Aku terpana melihat rumah ini, ini juga pertama kalinya aku melihat rumah ini tidak sebesar rumah Ibu, berlantai 2 tetapi terlihat sederhana, dihalaman rumah ada taman kecil berisi tanaman hijau dan bunga-bunga sangat asri, terdapat gazebo juga di sudut. Di teras juga terdapat meja kecil dan juga 2 buah kursi, di samping rumah ada garasi yang hanya cukup untuk satu mobil, benar-benar rumah yang cocok untuk keluarga kecil.
"Ayo masuk dulu," ajak Mas Adnan kepada kami.
Berpindah ke ruang makan, ruang makan menyatu dengan dapur, dapur minimalis tetapi terlihat sangat lengkap, terdapat meja bar juga, tidak seperti ruang makan di rumah Ibu yang memiliki meja panjang dan kursi yang banyak, di sini hanya ada meja berbentuk persegi juga 4 buah kursi, di dekat dapur juga ada ruang untuk mencuci dan menjemur baju.
Di lantai satu ini juga ruang kerja Mas Adnan dan 1 kamar tamu yang sudah di lengkapi kamar mandi dalam, mungkin akan di gunakan jikalau Ayah dan Ibu akan menginap.
Menuju lantai 2 di sini ada 2 kamar, 1 kamar utama dan 1 kamar yang masih kosong tanpa barang satupun. Membuka pintu kamar utama, terdapat kasur Queen size diatasnya terdapat figura besar berisi foto pernikahan kami, di samping kanan ada meja rias dan di sebelah kiri ada meja kecil dengan lampu tidur di atasnya.
Ke ruang lain yang masih di kamar ini ada walk in closet yang minimalis juga, tetapi muat untuk semua
barang-barang ku dan Mas Adnan, di pisahkan dengan sekat ada kamar mandi yang cukup besar ada bath up juga, benar-benar rumah impian.
Sedari tadi Ayah dan Ibu mengikuti Mas Adnan, Ayah tetap dengan ekspresi yang seperti biasanya, dan Ibu yang melihat seisi kamar, "Masih gedean kamar kamu yang di rumah," monolog Ibu.
Tidak ada yang menjawab perkataannya, dan kami berempat turun lagi ke bawah untuk berbincang di ruang tamu. Sampai ruang tamu, kami duduk bersama, "Kenapa kamu ga beli rumah yang lebih besar aja sih nan," Ibu mulai berbicara.
"Ini juga udah lebih dari cukup buat kita berdua bu, selagi nyaman," jawab Mas Adnan.
__ADS_1
Rumah yang menurutku sudah cukup besar untuk kami tinggali berdua, tetapi menurut Ibu rumah ini tergolong kecil, memang seperti itulah Ibu.
"Raline juga ga suka rumah yang gede, dia suka yang sederhana kayak gini tapi lengkap," lanjut Mas Adnan.
"Apa-apa karena istri kamu, lama-lama kamu dikendalikan sama dia, di rumah ada Ibu yang mantau dia, kalau di sini bisa seenaknya dia ngatur kamu," jawab ibu menatapku sinis.
"Bu, jangan mulai," tegur Mas Adnan.
"Oh ya, kapan kamu mau ngasih Adnan anak?" ujar Ibu menatapku. "Jangan-jangan kamu mandul," tambahnya.
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Ibu, pertanyaan yaang terselip penghinaan di dalamnya. Di saat aku ingin menjawab, Mas Adnan sudah lebih dulu menjawab.
"Kami ga mau buru-buru untuk masalah anak, Raline masih muda biarin dia raih mimpinya dulu, usia pernikahan kami juga baru berjalan satu tahun, biarkan kami menikmati waktu berdua kami sebelum nantinya kami sibuk ngurusin anak," jawab Mas Adnan dan menggenggam tanganku.
"Sebelum nikah kami sudah cek kesehatan, dan kami berdua sehat secara seksual, Ibu ga usah menyudutkan Raline dengan mengatakan dia mandul," tambah Mas Adnan.
Ibu diam seketika, di saat kami sedang berada di suasana yang sedikit tegang, tiba bel rumah berbunyi. Mas Adnan sama herannya denganku, karena tidak ada yang kami undang ke sini, lalu siapa yang memencet bel?
Mas Adnan berdiri dari duduknya untuk membuka pintu, aku mengikutinya dari belakang, saat pintu terbuka berdiri satu orang perempuan dan laki-laki, itu adalah Celine dan David. Dari mana mereka tau rumah baru kami?
"Ngapain kamu ke sini, dan juga ga ada yang ngundang kamu ke sini," sarkas Mas Adnan. Menatap bergantian kedua orang tersebut dengan tatapan marah.
"Emang bukan kamu yang ngundang, tapi Ibu kamu," jawab Celine tersenyum miring.
"Ini rumah aku, jadi yang berhak nentuin siapa yang boleh ke sini dan enggak itu aku," jawab Mas Adnan.
"Ayolah nan, kita juga udah nyampe sini ya kali mau kamu usir" ucap Celine merayu.
Mas Adnan akan menutup pintu tetapi suara Ibu terdengar dari belakang, "Ibu yang ngundang dia kesini, dia tamu ibu.''
"Bu," teriak Mas Adnan.
Tanpa menghiraukan Mas Adnan Ibu menggandeng tangan Celine dan menyuruhnya masuk di ikuti David di belakangnya. Saat David melewati ku dia mengeluarkan seringai tipis.
Aku menatapnya tajam, Mas Adnan memijat pelipisnya dan aku mengelus lengannya berusaha untuk menenangkannya, dan kami menyusul mereka ke dalam.
Bersambung
__ADS_1
See you on the next chap 🥰